Chapter 2 - Episode 16
Hari Senin berjalan lebih tenang sampai jam makan siang.
Selvara bahkan sempat lupa memeriksa cincin di dalam tas karena sejak pagi suhunya tetap biasa, sementara Vio lebih sibuk mengeluh soal tugas matematika yang harus dikumpulkan sebelum pulang.
“Aku ngerti caranya sampai nomor tujuh. Masuk nomor delapan, angkanya tiba-tiba kayak nggak mau kerja sama.”
Theo yang duduk di depan mereka menarik lembar soal Vio sedikit lebih dekat. “Angkanya nggak salah. Kamu yang pindahin tanda minusnya.”
Vio melihat lagi pekerjaannya, lalu mengetuk meja pelan dengan ujung pensil. “Oh.”
Selvara ikut membaca bagian yang salah dan menahan senyum. “Tadi kamu sudah nyalahin soalnya hampir lima menit.”
“Aku cuma sedang mempertimbangkan semua kemungkinan.”
Theo mengembalikan kertasnya. “Kemungkinannya satu. Salah hitung.”
Vio menatapnya sebentar sebelum kembali menghapus jawaban. “Kadang aku lupa kenapa aku masih minta bantuan kamu.”
“Karena tetap selesai.”
“Sayangnya benar.”
Percakapan mereka berhenti ketika guru masuk lebih cepat, dan sisa siang berlalu tanpa kejadian lain. Menjelang pulang, Selvara masih harus mengantar satu map ke ruang OSIS. Vio ikut karena kelas mereka selesai bersamaan, sedangkan Theo lebih dulu menuju perpustakaan untuk mengembalikan buku.
Adrian sedang berdiri di depan lemari arsip ketika mereka datang. Ia menerima map dari Selvara, memeriksa labelnya, lalu meletakkannya bersama dokumen lain.
“Yang ini sudah lengkap. Terima kasih.”
“Masih ada yang perlu dibantu, Kak?”
“Sudah cukup. Kalian pulang saja sebelum sekolah makin sepi.”
Vio langsung mengangkat tasnya sedikit. “Saya setuju bagian pulangnya.”
Adrian tertawa kecil. “Sekali-sekali cepat juga kalau disuruh.”
Selvara baru hendak mengikuti Vio keluar ketika dingin dari dalam tas menyentuh sisi pinggangnya.
Ia langsung berhenti.
Bukan rasa menusuk seperti beberapa kejadian sebelumnya, tetapi cukup jelas untuk membuatnya kembali memegang tali tas.
Vio yang sudah sampai dekat pintu menoleh. “Cincinnya mulai dingin lagi?”
“Baru terasa.”
Adrian mendengar percakapan mereka dan langsung menutup lemari arsip. “Kalau begitu jangan lewat koridor timur. Kita keluar lewat tangga utama.”
Selvara mengangguk. “Mist-nya belum kelihatan.”
“Justru lebih baik kita nggak nunggu.”
Kali ini tidak ada alasan untuk bertahan. Mereka bertiga meninggalkan ruang OSIS dan berjalan ke arah tangga utama, melewati beberapa siswa yang masih membereskan kegiatan kelas.
Dingin dari dalam tas tetap ada, tetapi belum bertambah.
Vio berjalan di sisi Selvara sambil sesekali memperhatikan ujung koridor. “Kalau sampai luar nggak muncul apa-apa, aku nggak bakal kecewa.”
“Aku juga.”
Mereka hampir mencapai tangga ketika Adrian tiba-tiba berhenti.
Selvara ikut menahan langkah.
“Ada apa, Kak?”
Adrian tidak langsung menjawab. Ia melihat ke belakang, ke koridor yang baru mereka lewati.
“Aku dengar langkah.”
Vio memandang arah yang sama. “Dari belakang?”
“Iya. Kayaknya satu orang.”
Beberapa detik berlalu, Suara itu terdengar lagi.
Tak..Tak..Tak., Seperti suara langkah kaki yang terdengar pelan dari ujung koridor.
Selvara langsung mengenali ritmenya.
Bukan karena sama persis, tetapi jedanya mengingatkan pada suara yang mengikuti mereka dari tangga beberapa hari sebelumnya.
Adrian merendahkan suaranya. “Kalian dengar juga?”
Vio tidak bercanda kali ini. “Dengar.”
Koridor di belakang mereka kosong. Beberapa pintu kelas masih terbuka, tetapi tidak ada siswa yang berjalan ke arah mereka.
Selvara merasakan dingin cincin meningkat.
“Jangan tunggu di sini.”
Mereka kembali berjalan.
Suara langkah muncul lagi setelah beberapa detik, kali ini sedikit lebih dekat.
Tak...Tak..Tak.
Vio mempercepat langkah tanpa perlu diminta. “Aku mulai nggak suka suara sepatu orang.”
Selvara meliriknya singkat. “Yang ini juga belum tentu sepatu.”
“Itu malah lebih buruk.”
Adrian tetap berada di belakang mereka agar bisa memeriksa jarak tanpa membuat Selvara atau Vio berjalan paling akhir sendirian. “Tangga utama masih bersih. Kita turun langsung sampai lantai satu.”
Mereka mulai menuruni tangga..Belum ada kemunculan Mist.
Cahaya dari jendela tetap seperti biasa dan Suara-suara siswa dari lantai bawah masih terdengar jelas.
Vio tidak menoleh lagi. “Kak, itu masih ikut, kan?”
Adrian melihat ke atas sekali. “Masih. Tapi nggak ada siapa-siapa.”
Dingin dari cincin makin kuat sampai terasa menembus kotak kain. Selvara menjaga tangannya tetap jauh dari sisi tas dan terus turun.
Begitu mereka mencapai lantai satu, suara langkah berhenti.
Ketiganya tetap berjalan sampai keluar dari area tangga.
Vio baru berani melihat ke belakang setelah mereka berada dekat lobi. “Hilang?”
Adrian memperhatikan belokan tangga beberapa detik. “Untuk sekarang nggak kedengaran.”
Selvara tidak langsung lega. Dingin pada cincin belum turun.
Ia melihat kaca panjang di dekat pintu aula.
Permukaannya masih normal.
Lalu cahaya pada ujung tangga mulai pucat.
Mist keluar pelan dari belokan lantai dua dan turun mengikuti pagar besi.
Adrian langsung mengangkat tangan kecil sebagai tanda agar mereka terus bergerak. “Jangan berhenti.”
Mereka berjalan menuju pintu depan tanpa menunggu kabut mencapai lantai satu. Siswa lain masih lalu-lalang di lobi dan tidak satu pun menoleh ke arah tangga.
Vio bergerak lebih dekat ke Selvara. “Berarti langkahnya muncul dulu, baru Mist.”
Selvara mengangguk sambil tetap berjalan. “Kali ini begitu.”
Adrian melihat pintu utama yang tinggal beberapa meter lagi. “Kita bahas setelah keluar.”
Mist menyentuh lantai satu ketika mereka hampir sampai ke pintu.
Suara dari belakang mulai meredup.
Selvara sempat mendengar satu langkah terakhir.
Tak.
Jauh lebih dekat daripada sebelumnya.
Ia langsung menoleh.
Di antara kabut tipis dekat tangga, ada bentuk gelap setinggi manusia.
Belum jelas.
Belum sepenuhnya terbentuk.
Namun sosok itu berdiri di tempat yang beberapa detik sebelumnya kosong.
“Keluar,” kata Selvara.
Vio sudah lebih dulu menarik pintu.
Mereka bertiga melewati pintu utama dan terus berjalan sampai berada di halaman depan sekolah. Suara kendaraan dari jalan langsung terdengar lebih jelas, sementara dingin pada cincin perlahan berkurang di dalam tas.
Adrian berhenti dekat pos keamanan dan menatap gedung.
“Kalian pernah lihat bentuknya tanpa kaca?”
Selvara masih mengatur napas. “Belum sejelas tadi.”
Vio memeluk tasnya lebih dekat. “Yang dulu paling cuma suara langkah di tangga. Tadi aku juga sempat lihat bentuk hitamnya.”
Adrian menoleh kepadanya. “Jadi bukan cuma Selvara.”
“Aku lihat juga, Kak.”
Selvara memperhatikan pintu utama. Dari halaman, bagian dalam lobi terlihat normal. Mist tidak keluar melewati pintu dan sosok tadi sudah tidak terlihat.
Adrian mengusap tengkuknya sebentar. “Kalau begitu kita jangan lagi anggap kaca sebagai tempat utamanya muncul.”
Selvara setuju, tetapi pikirannya masih tertahan pada urutan kejadian tadi. Cincin dingin lebih dulu, langkah muncul sebelum Mist, lalu bentuk gelap terbentuk langsung di dalam kabut tanpa bantuan pantulan.
Vio menangkap cara Selvara terus melihat gedung. “Jangan kepikiran buat masuk lagi.”
Selvara menoleh kepadanya. “Aku nggak ada niat.”
“Bagus. Soalnya tadi aku sudah siap narik kamu kalau sampai balik.”
Adrian tertawa pendek meskipun wajahnya masih tegang. “Yang itu saya percaya.”
Suasana sedikit mencair, cukup untuk membuat ketiganya berhenti memandangi pintu seperti menunggu sesuatu keluar.
Beberapa menit kemudian Theo datang dari arah perpustakaan. Ia langsung mempercepat langkah setelah melihat mereka berkumpul di dekat pos keamanan.
“Kalian kenapa sudah di luar?”
Vio menunjuk gedung dengan dagu. “Langkahnya muncul lagi. Kali ini sekalian ada bentuknya.”
Theo berhenti di samping mereka. “Di kaca?”
Selvara menggeleng. “Langsung di dalam Mist.”
Theo tidak langsung mengeluarkan ponsel atau membuka catatan. Ia melihat Selvara lebih dulu. “Tanganmu nggak kena?”
“Kotaknya masih nahan dinginnya.”
“Syukurlah.”
Baru setelah itu mereka menjelaskan kejadian tadi secara singkat. Theo mendengarkan tanpa memotong sampai Adrian selesai menyebut bagian ketika sosok tersebut muncul di dekat tangga.
“Kalau begitu sekarang jalurnya makin jelas,” kata Theo. “Pantulan mungkin cuma salah satu tempat dia bisa muncul.”
Vio melihatnya. “Tolong jangan bilang ‘makin jelas’ seolah ini kabar bagus.”
Theo menahan senyum. “Aku nggak bilang bagus.”
“Ya, tapi mukamu terlalu tenang.”
“Aku lagi mikir.”
“Itu masalahnya.”
Selvara tertawa kecil sebelum percakapan itu berkembang terlalu panjang. “Kita pulang dulu. Besok baru dibahas kalau memang perlu.”
Tidak ada yang keberatan.
Mereka meninggalkan sekolah bersama, dan selama perjalanan menuju halte, cincin Selvara kembali pada suhu biasa.
Namun kali ini ia tidak terlalu memperhatikan kaca toko atau jendela kendaraan yang mereka lewati.
Perhatiannya justru tertahan pada suara langkah di belakang.
Karena sekarang mereka tahu, makhluk itu tidak selalu membutuhkan pantulan untuk muncul.
Pada Selasa sore, Selvara datang ke ruang klub lebih dulu daripada yang lain. Ia membuka jendela sedikit untuk membiarkan udara masuk, lalu meletakkan tas di kursi dekat meja panjang. Kotak kain berisi cincin masih berada di saku bagian dalam tas. Sejak kejadian di tangga kemarin, cincin itu belum bereaksi lagi.
Lyara datang beberapa menit kemudian sambil membawa map tipis dari perpustakaan musik. Ia meletakkannya di meja dan menarik kursi di sebelah Selvara. “Theo bilang dia masih di perpustakaan. Vio katanya habis dari koperasi.”
Selvara mengangguk dan melanjutkan membaca satu halaman catatan yang sebelumnya diberikan Adrian. Isinya bukan laporan baru, hanya salinan beberapa keluhan lama tentang suara langkah di koridor dan tangga. Sebagian besar sudah berumur beberapa tahun, dengan keterangan seperti petugas tidak menemukan siapa pun ketika area diperiksa.
Lyara membaca bagian yang sama dari samping. “Kalau cuma suara langkah, dulu orang mungkin memang nggak bakal mikir sejauh kita.”
“Apalagi kalau muncul sekali terus hilang.”
“Yang sekarang malah datang berkali-kali.”
Selvara menutup map itu. “Dan kemarin ada bentuknya.”
Lyara mengusap ujung kertas dengan ibu jari, lalu melihat Selvara. “Vio bilang sosoknya berdiri di dalam Mist.”
“Iya. Adrian juga lihat.”
“Berarti sekarang bukan cuma kita berempat yang bisa lihat.”
“Itu yang bikin aku kepikiran.”
Lyara menunggu.
Selvara menyandarkan punggung ke kursi. “Kenapa Adrian baru bisa lihat kemarin? Sebelumnya dia beberapa kali ada dekat kita waktu Mist muncul.”
Lyara sedikit mengernyit. “Mungkin karena kemarin dia lebih dekat?”
“Mungkin.”
Pintu ruang klub terbuka sebelum pembicaraan mereka berlanjut. Vio masuk membawa dua botol air dan langsung menaruh salah satunya di depan Selvara.
“Aku beliin sekalian. Tadi antreannya panjang banget.”
Selvara melihat botol itu. “Aku belum bilang mau.”
“Makanya aku beli air putih. Paling aman.”
Lyara menahan senyum. “Kalau ternyata dia nggak haus?”
Vio sudah duduk. “Nanti juga haus.”
Selvara membuka botol tersebut. “Baiklah. Terima kasih.”
“Nah.”
Theo datang tidak lama setelahnya. Ia masih membawa buku perpustakaan dan langsung duduk di ujung meja. Selvara mendorong salinan catatan lama ke arahnya.
“Aku lihat lagi bagian soal langkah kaki.”
Theo membaca beberapa baris. “Yang tahun lama?”
“Iya. Ada beberapa lokasi, tapi semuanya cuma suara. Nggak ada yang nulis soal Mist atau sosok.”
Theo mengangguk pelan. “Bisa jadi memang cuma kejadian biasa. Gedung sekolah gampang bikin suara mantul.”
“Bisa,” jawab Selvara. “Aku juga nggak mau semua suara langkah sekarang dianggap aneh.”
Vio membuka botolnya. “Bagus. Soalnya kalau mulai curiga sama semua langkah kaki, pulang sekolah bakal capek sendiri.”
Lyara menatapnya. “Kemarin kamu yang paling cepat lari.”
“Itu namanya keputusan sehat.”
Theo hampir tersenyum, tetapi perhatiannya kembali ke kertas. “Yang lebih penting tetap Adrian. Dia baru lihat Mist setelah beberapa kali terlibat langsung sama kejadian kita.”
Selvara mengangguk. “Aku juga mikir begitu.”
“Kalau ada hubungan dengan seberapa sering seseorang berada dekat fenomenanya, kita belum punya cukup orang buat dibandingkan.”
Vio menaruh botolnya. “Jangan cari orang buat dijadikan percobaan.”
“Aku nggak bilang begitu.”
“Wajahmu tadi udah hampir bilang.”
Theo menatapnya sebentar. “Aku cuma baca kertas.”
“Bagus. Lanjut baca kertas.”
Selvara tersenyum kecil, lalu mengambil kembali salah satu lembar catatan. “Kita nggak perlu mengetes siapa pun. Kalau nanti kejadian lagi dan ada orang lain di sekitar, kita cukup lihat mereka bereaksi atau nggak.”
Lyara mengangguk. “Lebih aman.”
Mereka tidak membahasnya lebih jauh. Selvara memasukkan salinan catatan ke dalam map dan meletakkannya di sisi meja. Ia baru hendak membuka buku tugas ketika rasa dingin menyentuh sisi tasnya.
Gerakannya berhenti.
Vio yang duduk paling dekat langsung memperhatikan. “Cincinnya?”
Selvara memasukkan tangan ke saku tas dan menyentuh kotak kain dari luar.
Dingin.
“Mulai dingin.”
Theo menutup bukunya. “Mist?”
Lyara melihat jendela dan pintu. “Belum kelihatan.”
Selvara berdiri dan menyampirkan tas ke bahu. “Kita keluar dulu.”
Mereka langsung meninggalkan ruang klub.
Koridor masih ramai oleh beberapa siswa yang baru selesai kegiatan. Dua anak kelas satu berjalan sambil membawa raket, sedangkan seorang guru keluar dari ruang administrasi di ujung lorong.
Selvara menuruni tangga bersama yang lain.
Cincin tetap dingin di dalam tas.
Vio berjalan di sebelahnya. “Makin dingin?”
“Sedikit bertambah.”
“Langkah kaki?”
Selvara mendengarkan beberapa detik.
Yang terdengar hanya suara sepatu mereka dan siswa lain di depan.
“Belum ada.”
Mereka mencapai lantai satu.
Theo melihat ke arah pintu utama. “Kalau nggak ada perubahan, kita langsung keluar.”
Selvara mengangguk.
Mereka baru melewati papan pengumuman ketika seorang siswa laki-laki yang berjalan beberapa meter di depan mendadak berhenti.
Selvara ikut memperlambat langkah.
Anak itu menoleh ke belakang.
Koridor di belakangnya kosong selain kelompok mereka.
Ia berdiri beberapa detik, lalu kembali berjalan.
Vio melihat Selvara.
Selvara tidak mengatakan apa pun dulu.
Beberapa langkah kemudian, siswa itu menoleh lagi.
Kali ini Lyara juga memperhatikannya.
Theo menurunkan suara. “Dia dengar sesuatu.”
“Kayaknya.”
Selvara memandang lantai di belakang mereka.
Mist belum terlihat.
Siswa tersebut berjalan lebih cepat menuju pintu keluar.
Mereka tetap mengikuti arah yang sama.
Saat mencapai dekat lobi, suara langkah lain terdengar.
Tok.
Selvara berhenti.
Suara itu berasal dari belakang.
Tok.
Vio langsung menoleh. “Itu.”
Koridor masih kosong.
Namun siswa laki-laki di depan mereka ikut menoleh pada saat yang sama.
Selvara memperhatikan reaksinya.
Anak itu benar-benar mendengarnya.
Tok.
Suara ketiga terdengar lebih dekat.
Siswa tersebut tidak menunggu lagi. Ia langsung berjalan cepat keluar melalui pintu utama.
Theo melihat Selvara. “Dia dengar langkahnya.”
“Iya.”
Cincin di dalam tas semakin dingin.
Mist muncul dari tikungan koridor.
Kabut pucat merambat rendah di sepanjang lantai, mengikuti jalur yang sebelumnya kosong. Suara dari area belakang mulai meredup saat Mist mendekat.
“Keluar,” kata Selvara.
Mereka langsung bergerak menuju pintu utama.
Vio membukanya lebih dulu, lalu Lyara dan Theo keluar. Selvara berada paling belakang.
Sebelum melewati pintu, ia melihat kembali ke koridor.
Mist sudah mencapai lobi.
Sosok gelap muncul samar di bagian tengahnya.
Bentuk itu baru terlihat dari bahu ke atas ketika seorang siswi yang masih berdiri dekat papan pengumuman mendadak memeluk bukunya lebih erat.
Matanya mengarah tepat ke Mist.
Selvara memperhatikannya satu detik.
Siswi itu mundur.
Berarti dia juga melihat sesuatu.
Selvara langsung keluar dan menahan pintu agar siswi tersebut bisa mengikuti.
“Ayo keluar.”
Siswi itu tidak bertanya. Ia langsung berlari melewati pintu.
Begitu berada di luar, Selvara menutup pintu kembali.
Vio berdiri beberapa langkah dari sana bersama Theo dan Lyara. Siswa laki-laki yang tadi berada di depan sudah berjalan jauh menuju gerbang.
Siswi yang baru keluar menarik napas cepat sambil terus melihat pintu.
Lyara mendekatinya. “Kamu nggak apa-apa?”
Siswi itu mengangguk, lalu menunjuk ke dalam gedung. “Tadi... ada orang di dalam kabut itu?”
Selvara dan Theo saling melihat.
Vio langsung berhenti memainkan tutup botol di tangannya.
Selvara kembali menatap siswi tersebut. “Kamu lihat bentuk orang?”
“Iya. Gelap banget. Aku kira awalnya guru atau siapa, tapi...” Ia melihat kembali ke pintu. “Badannya aneh.”
Selvara tidak menambahkan penjelasan apa pun. “Kamu dengar langkah kaki juga?”
Siswi itu mengangguk. “Sebelum kabutnya muncul.”
Theo memperhatikan koridor melalui kaca pintu dari jarak aman. “Sekarang Mist-nya masih ada.”
Siswi itu menoleh cepat. “Mist?”
Selvara baru menyadari pilihan kata Theo.
Namun siswi itu tidak terlihat bingung dengan maksudnya.
Ia menunjuk ke dalam. “Kabut itu?”
“Iya,” jawab Theo.