Chapter 2 - Episode 17
Pagi berikutnya, koridor sekolah sudah ramai sebelum bel pertama. Beberapa siswa berdiri di dekat jendela sambil membahas tugas, sementara yang lain berjalan cepat menuju kelas sebelum guru datang. Selvara ikut melewati keramaian itu dengan tas di satu bahu dan kotak cincin tetap tersimpan di saku bagian dalam.
Sejak meninggalkan sekolah sore kemarin, cincin tersebut tidak bereaksi lagi.
Suara langkah terakhir juga tidak muncul selama perjalanan pulang maupun malam hari, sehingga Selvara sempat berharap kejadian itu berhenti setidaknya untuk sementara.
Harapan itu bertahan sampai jam istirahat kedua.
Selvara baru keluar dari kelas ketika Vio datang dari arah tangga bersama Lyara.
Mereka masih membahas tugas yang diberikan pagi tadi, dan Vio langsung menghampirinya sambil membuka buku yang penuh coretan pensil.
“Kamu udah selesai nomor lima?”
“Belum. Aku baru sampai empat.”
Vio menghela napas lega. “Bagus. Berarti bukan aku doang yang mentok.”
Lyara menatapnya sambil tersenyum. “Tadi di kelas kamu bilang soalnya gampang.”
“Aku bilang kelihatannya gampang. Setelah dikerjain, pendapatku berubah.”
Selvara tertawa kecil. “Cepat sekali revisinya.”
“Daripada mempertahankan pendapat yang salah.”
Mereka berjalan bersama menuju ujung koridor. Suasana sekolah masih seperti biasa; suara peluit guru olahraga terdengar dari halaman, beberapa siswa berlari menuju kantin, dan percakapan dari kelas-kelas yang pintunya terbuka bercampur menjadi satu.
Di tengah semua suara itu, satu langkah terdengar dari belakang mereka.
Tok.
Selvara langsung memperlambat langkah.
Vio ikut menoleh dan Lyara melihat ke arah yang sama, tetapi tidak ada siapa pun yang berjalan cukup dekat untuk menghasilkan suara tersebut. Beberapa siswa memang berada jauh di belakang, hanya saja langkah mereka tidak sesuai dengan bunyi yang baru saja terdengar.
“Yang kemarin?” tanya Vio.
“Sepertinya.”
Langkah kedua terdengar beberapa detik kemudian, ..Tok..
Seorang siswa yang sedang membaca papan pengumuman ikut menoleh. Siswi di dekat jendela juga berhenti berbicara dan melihat ke belakang, seolah mereka mendengar sumber yang sama.
Lyara memperhatikan keduanya. “Mereka dengar juga.”
Selvara mengangguk, tetapi belum sempat menjawab ketika suara lain muncul di antara keramaian koridor.
Kali ini bukan langkah.
Sebuah suara perempuan memanggil namanya dengan pelan.
“Selvara.”
Selvara berhenti.
Bunyinya datang begitu dekat sampai ia sempat mengira seseorang berdiri tepat di belakangnya, tetapi ketika berbalik, yang terlihat hanya siswa lain yang masih berjalan seperti biasa.
Vio langsung membaca perubahan wajahnya. “Ada apa?”
“Ada yang manggil namaku.”
Lyara ikut melihat sekeliling. “Aku nggak dengar.”
“Aku juga nggak,” tambah Vio.
Selvara tidak segera bergerak. Ia mencoba mendengarkan lagi sambil tetap memperhatikan suhu cincin dari luar tas. Tidak ada rasa dingin yang biasa muncul sebelum Mist, dan koridor juga belum menunjukkan perubahan pada cahaya maupun suara di sekitarnya.
Langkah ketiga terdengar dari belakang.
Tok.
Beberapa siswa kembali menoleh.
Lalu suara perempuan itu muncul sekali lagi.
Kali ini bukan namanya.
“Jangan percaya urutannya.”
Selvara langsung mengenali kalimat tersebut.
Tangannya yang masih berada di sisi tas berhenti bergerak.
Vio memperhatikan wajahnya. “Kamu dengar lagi?”
Selvara menatap ujung koridor, lalu mengangguk. “Dia bilang sesuatu.”
“Apa?”
Selvara menurunkan suaranya. “Jangan percaya urutannya.”
Lyara terdiam beberapa saat sebelum ekspresinya berubah. “Itu kalimat dari catatan lama.”
“Iya.”
Frasa itu bukan sesuatu yang biasa terdengar dalam percakapan sekolah. Selvara pernah membacanya pada catatan yang mereka temukan ketika menyelidiki urutan kejadian dan suara berulang. Hanya beberapa orang di kelompok mereka yang tahu kalimat tersebut.
Vio mendekat sedikit. “Ada orang lain yang tahu isi catatan itu?”
“Yang kita kasih lihat cuma orang-orang kita.”
“Berarti suara itu nggak asal ngomong.”
Selvara tidak menyukai kemungkinan tersebut, tetapi ia juga tidak ingin langsung menganggap suara itu memahami isi penyelidikan mereka. Bisa saja ada penjelasan lain yang belum mereka temukan.
“Kita turun dulu,” katanya. “Jangan berdiri di sini sambil nunggu apa yang muncul berikutnya.”
Vio dan Lyara langsung mengikuti.
Mereka berjalan menuju tangga bersama siswa lain yang masih berlalu-lalang. Beberapa orang terlihat membicarakan suara langkah tadi, tetapi tidak ada yang menyebut bisikan atau kalimat yang didengar Selvara.
Saat mencapai bordes, Lyara berjalan lebih dekat di sisinya. “Suara tadi seperti suara orang yang kamu kenal?”
“Nggak. Aku nggak ingat pernah dengar suaranya.”
“Datangnya dari belakang?”
“Yang pertama iya. Yang kedua susah ditentukan karena sudah dekat tangga.”
Vio melihat ke bawah sebelum mereka melanjutkan turun. “Cincinnya masih normal?”
Selvara memeriksanya sekali lagi. “Masih.”
Mereka mencapai lantai satu ketika Theo keluar dari perpustakaan sambil membawa buku di tangan. Ia langsung menyadari ketiganya berjalan lebih cepat daripada siswa lain di sekitar.
“Kalian kenapa?”
“Langkahnya muncul lagi,” jawab Vio. “Terus Selvara dengar suara.”
Theo langsung melihat Selvara. “Suara apa?”
Selvara tidak memanjangkan jawabannya. “Pertama manggil namaku. Setelah itu bilang, ‘Jangan percaya urutannya.’”
Theo berhenti berjalan.
Kali ini reaksinya cukup jelas sehingga Vio tidak perlu menjelaskan hubungan kalimat tersebut dengan penyelidikan mereka.
“Kalimat di catatan biru?”
“Iya.”
Theo menoleh ke arah tangga yang baru mereka lewati. “Vio sama Lyara dengar?”
“Kami cuma dengar langkah,” jawab Lyara.
Theo memasukkan bukunya ke tas. “Kita keluar dulu.”
Mereka melanjutkan menuju lobi tanpa membahasnya lebih jauh di tengah keramaian. Selvara tetap mendengarkan suara di sekitarnya, tetapi bisikan tadi tidak muncul lagi sampai mereka hampir mencapai pintu utama.
Kemudian suara yang sama kembali terdengar dari sisi kanan lobi.
“Dua kali.”
Selvara berhenti.
Theo langsung melihatnya. “Muncul lagi?”
“Iya.”
“Apa katanya?”
“Dua kali.”
Vio menatap Selvara. “Itu juga ada di catatan.”
Selvara mengangguk. Pada lembar lama yang pernah mereka periksa, ada tekanan tulisan yang sebagian masih terbaca: dengar dua kali, lalu catat urutannya.
Sekarang dua bagian dari kalimat itu muncul kembali melalui suara yang hanya ia dengar.
Selvara melihat sekeliling lobi. Tidak ada Mist, cincin tetap normal, dan sebagian besar siswa masih menjalani kegiatan mereka seperti biasa.
Namun seorang siswa laki-laki di dekat pintu utama tiba-tiba berhenti.
Ia menoleh ke kiri, kemudian melihat ke belakang dengan wajah bingung. Temannya bertanya sesuatu, tetapi siswa itu hanya menggeleng sebelum mempercepat langkah menuju halaman.
Theo mengikuti reaksinya dengan pandangan. “Dia dengar sesuatu juga.”
“Belum tentu kalimat yang sama,” kata Selvara.
Vio mengangguk. “Dan aku nggak mau ngejar dia cuma buat nanya.”
“Kita juga nggak perlu.”
Mereka keluar ke halaman dan baru berhenti setelah jarak dari gedung utama cukup jauh. Lyara masih memikirkan suara yang didengar Selvara, sedangkan Theo membuka kembali catatan di ponselnya untuk memastikan susunan tulisan lama yang pernah mereka temukan.
“Kalimat lengkapnya waktu itu kurang lebih ‘dengar dua kali, catat urutannya’,” kata Theo. “Terus ada catatan lain yang bilang jangan percaya urutannya.”
Selvara mengingat kedua bagian tersebut. “Dan sekarang suara itu memilih kata dari dua catatan berbeda.”
“Bisa jadi dia memang mengulang informasi yang pernah kita temukan.”
“Atau sengaja mau bikin kita menghubungkannya.”
Theo mengangguk. “Itu juga mungkin.”
Vio melipat tangan. “Aku lebih khawatir karena dia tahu nama Selvara dulu, baru mulai ngomong soal catatan.”
Lyara memandang Selvara. “Seolah-olah dia memastikan kamu yang dengar.”
Selvara menatap kembali pintu utama sekolah.
Bagian itu memang lebih sulit diabaikan.
Kalau suara tersebut hanya mengulang bunyi lama yang tertinggal di suatu tempat, ia seharusnya tidak perlu memanggil namanya lebih dulu. Kalau kalimat itu sengaja diarahkan kepada Selvara, berarti fenomena yang selama ini mereka amati dari luar mulai memberi respons terhadap orang tertentu.
Cincin di dalam tasnya masih tidak bereaksi.
Mist juga tidak muncul.
Selvara mengembuskan napas pelan sebelum berbalik dari gedung. “Kita kasih tahu Adrian setelah jam sekolah. Untuk sekarang jangan coba jawab kalau suaranya muncul lagi.”
Vio segera mengangguk. “Aku setuju.”
Theo menyimpan ponselnya. “Kalau dia bilang sesuatu yang baru?”
“Dengar saja.” Selvara mulai berjalan bersama mereka menuju area terbuka di sisi halaman. “Tapi jangan diajak bicara sebelum kita tahu sebenarnya siapa yang sedang mencoba bicara sama kita.”
Mereka meninggalkan lobi tanpa kembali mencari sumber suara.
Namun untuk pertama kalinya, fenomena itu membawa sesuatu yang sudah mereka kenal dari penyelidikan lama. Bukan hanya nama Selvara, Ia mengulang kata-kata yang seharusnya tertinggal di dalam arsip.
Sepulang sekolah, Selvara dan yang lain menemui Adrian di ruang OSIS. Ia sudah membaca pesan Theo lebih dulu, jadi mereka tidak perlu mengulang seluruh kejadian dari awal.
Adrian menatap Selvara setelah Theo selesai menunjukkan catatan lama di ponselnya. “Yang kamu dengar persis kalimat itu?”
“Bagian akhirnya. Pertama namaku, lalu ‘jangan percaya urutannya’. Setelah pindah ke lobi, suaranya bilang ‘dua kali’.”
Adrian membaca layar beberapa detik. “Dan Vio sama Lyara cuma dengar langkah?”
Vio mengangguk. “Aku dengar langkahnya jelas. Suaranya nggak.”
Lyara duduk di sebelahnya. “Aku juga.”
Theo memasukkan ponsel ke saku. “Yang bikin beda sekarang, suara itu nggak cuma muncul bareng fenomena. Isinya juga nyambung ke catatan yang pernah kita temukan.”
Adrian mengusap sisi meja dengan ibu jari. “Kalimat itu pernah kalian bahas di tempat lain?”
“Pernah di ruang klub,” jawab Selvara. “Tapi nggak banyak orang.”
“Berarti tetap ada kemungkinan seseorang dengar pembicaraan kalian.”
Selvara mengangguk. “Masih mungkin.”
Vio menoleh. “Tapi kalau ada orang iseng, dia harus tahu kapan suara langkah muncul juga.”
“Itu yang bikin penjelasannya susah,” jawab Adrian.
Selvara tidak ingin memaksa satu jawaban terlalu cepat. Selama beberapa minggu terakhir, terlalu banyak kejadian yang awalnya terlihat saling terhubung, lalu menunjukkan pola berbeda setelah mereka mengamati lebih lama.
Ia memandang Theo. “Catatan lama yang ada kalimat ‘dua kali’ itu asalnya dari mana?”
“Tekanan tulisan di lembar yang kita temukan bersama peta biru.”
“Dan ‘jangan percaya urutannya’ ada di peta.”
Theo mengangguk.
Selvara menyandarkan punggung ke kursi. “Berarti suara tadi mengambil dua bagian dari dua sumber yang berbeda.”
Adrian menatapnya. “Kalau memang sengaja.”
“Iya.”
Vio menghela napas pelan. “Aku nggak suka bagian ‘kalau sengaja’ itu.”
“Karena berarti ada yang milih kata-katanya,” kata Lyara.
Ruangan sempat tenang.
Adrian kemudian melihat jam dan menutup buku kecil di depannya. “Untuk sekarang jangan ada yang cari suara itu. Kalau muncul lagi, catat apa yang kalian dengar setelah keluar dari area.”
Vio langsung menunjuk Theo. “Tuh. Setelah keluar. Bukan sambil berdiri di situ.”
Theo menatapnya. “Aku nggak pernah bilang mau berdiri di situ.”
“Kamu punya wajah yang sering bikin orang curiga.”
Adrian tertawa kecil. “Kali ini aku bela Theo. Dia belum sempat ngusulin hal aneh.”
Selvara tersenyum, tetapi perhatiannya kembali ke catatan lama.
Sebelum mereka meninggalkan ruang OSIS, ia meminta Theo mengirim foto kedua sumber kalimat itu ke grup. Bukan untuk dianalisis saat itu juga, melainkan supaya mereka punya susunan aslinya kalau suara tersebut kembali membawa potongan lain.
Mereka berpisah di depan gedung utama. Adrian masih harus menyelesaikan beberapa urusan, sedangkan Lyara menuju ruang musik untuk mengambil barang. Selvara berjalan bersama Theo dan Vio menuju gerbang.
Hari mulai mendung. Angin dari halaman membawa udara yang lebih sejuk, tetapi tidak ada perubahan suhu mendadak seperti saat Mist muncul.
Mereka sudah hampir melewati taman kecil ketika suara langkah terdengar dari sisi kiri.
Tok.
Selvara langsung mengenal ritmenya.
Vio yang berada di sebelahnya menoleh ke jalur samping. “Lagi.”
Theo melihat ke belakang. “Cincin?”
Selvara menyentuh kotak kain di dalam tas.
Masih normal.
“Belum bereaksi.”
Suara kedua terdengar.
Tok.
Kali ini lebih dekat.
Selvara tidak berhenti berjalan. Mereka terus menuju gerbang sambil tetap memperhatikan area di sekitar.
Lalu suara perempuan itu muncul lagi.
“Dengar dua kali.”
Selvara mengangkat pandangan.
Vio langsung melihat wajahnya. “Dia ngomong?”
“Iya.”
“Apa?”
“Dengar dua kali.”
Theo berjalan lebih dekat. “Sama seperti tekanan tulisan.”
Selvara mengangguk.
Beberapa langkah kemudian, suara itu terdengar lagi.
“Catat urutannya.”
Selvara berhenti sebentar.
Bukan karena ingin mencari sumber suara, melainkan karena kalimat yang sebelumnya hanya tersisa sebagai potongan sekarang muncul lengkap.
Vio menatapnya. “Lanjutannya?”
“Catat urutannya.”
Theo mengembuskan napas pelan. “Berarti dia sedang menyusun kembali catatan lama.”
“Belum tentu semuanya,” jawab Selvara. “Tapi sejauh ini iya.”
Mereka kembali berjalan.
Suara langkah muncul dari belakang.
Tok.
Kemudian dari sisi kanan.
Tok.
Selvara menahan keinginan untuk menoleh ke setiap arah. Kalau suara itu memang mencoba membuat mereka mengikuti urutan tertentu, mengejar setiap sumber justru bisa menyeret mereka ke pola yang belum mereka pahami.
Mereka hampir mencapai gerbang ketika bisikan berikutnya muncul.
“Bukan yang pertama.”
Selvara langsung memperlambat langkah.
Kalimat itu tidak ada dalam catatan yang mereka ingat.
Theo melihat reaksinya. “Ada yang baru?”
“Iya.”
Vio merapatkan tas di bahunya. “Apa katanya?”
“Bukan yang pertama.”
Theo mengernyit. “Yang pertama apa?”
Selvara menggeleng. “Nggak tahu.”
Suara langkah kembali terdengar dari belakang.
Tok.
Kemudian satu lagi dari depan.
Tok.
Beberapa siswa di dekat gerbang ikut melihat sekeliling. Seorang anak kelas dua bahkan berhenti dan bertanya kepada temannya apakah ada orang yang berjalan di belakang mereka.
Selvara tetap bergerak.
Cincin masih belum bereaksi.
Mist belum muncul.
Lalu suara perempuan itu kembali terdengar di dekat telinga kirinya.
“Kedua.”
Selvara berhenti.
Vio ikut berhenti. “Apa lagi?”
“Kedua.”
Theo melihatnya beberapa detik. “Bukan yang pertama. Kedua.”
Selvara mengangguk.
Mereka sudah mendengar kata “dua kali”, lalu “dengar dua kali”, “catat urutannya”, “bukan yang pertama”, dan sekarang “kedua”.
Potongan-potongan itu mulai membentuk sesuatu, tetapi belum cukup jelas untuk disusun tanpa menebak.
Selvara menatap gerbang yang tinggal beberapa meter.
“Kita keluar dulu.”
Mereka melewati batas sekolah.
Suara langkah berhenti.
Bisikan juga tidak muncul lagi.
Selvara baru membuka tas setelah mereka berada cukup jauh dari gerbang. Kotak kain masih bersuhu normal.
Theo berdiri di sampingnya. “Berarti suara ini tetap bisa muncul tanpa reaksi cincin.”
“Dan tanpa Mist,” tambah Vio.
Selvara menutup tas. “Makanya jangan digabung dulu semuanya.”
Theo mengangguk. “Tapi isi suaranya tetap nyambung ke urutan.”
“Itu yang kita pegang.”
Vio melihat sekolah di belakang mereka. “Aku mulai curiga kalimatnya bukan cuma ngulang catatan.”
Selvara juga memikirkan hal yang sama.
Bagian lama yang mereka kenal bisa dijelaskan sebagai pengulangan.
Namun “bukan yang pertama” dan “kedua” membawa arah baru.
Kalimat itu terdengar seperti koreksi.
Mereka berjalan menuju halte tanpa kembali ke gedung.
Malamnya, Selvara membuka foto peta biru dan lembar tekanan tulisan yang dikirim Theo.
Ia membaca ulang bagian yang masih terbaca.
Dengar dua kali. Catat urutannya.
Jangan percaya urutannya.
Selvara lalu menambahkan dua kalimat baru yang ia dengar hari itu di bawah foto, supaya tidak bercampur dengan tulisan lama.
Bukan yang pertama.
Kedua.
Ia menatap susunannya cukup lama sebelum menyadari satu kemungkinan yang tidak nyaman.
Kalau suara itu memang sedang memperbaiki urutan, mungkin masalah mereka sejak awal bukan karena ada kejadian yang hilang.
Mungkin mereka selama ini menempatkan sesuatu sebagai kejadian pertama, padahal seharusnya bukan.
Keesokan harinya, Selvara datang lebih pagi dan langsung mencari Theo sebelum kelas dimulai. Ia menemukannya di dekat perpustakaan, duduk di bangku lorong dengan ponsel di tangan dan tas terbuka di samping.