Chapter 1 Episode 1 - Remake
Kereta mulai mengurangi kecepatan ketika deretan rumah di sisi rel semakin rapat dan bangunan tinggi Asterveil muncul di belakangnya.
Selvara yang sejak tadi bersandar di dekat jendela mengangkat pandangan dari ponsel. Beberapa titik hujan masih menempel pada kaca, tetapi langit di luar sudah jauh lebih terang dibanding satu jam sebelumnya.
Jalan-jalan yang terlihat dari atas rel masih basah, kendaraan bergerak lebih pelan di beberapa persimpangan, dan orang-orang yang berjalan di trotoar sebagian masih membawa payung meskipun hujan hampir berhenti.
Asterveil sudah dekat dan Ponselnya bergetar lagi.
Pesan dari ibunya masuk ke percakapan yang sejak pagi hanya berisi kabar perjalanan.
“Sudah sampai mana?”
Selvara melihat keluar sebentar sebelum menjawab.
“Sudah masuk Asterveil. Sebentar lagi sampai stasiun.”
Balasan ibunya tidak langsung datang. Selvara meletakkan ponsel di paha, lalu membenarkan posisi tas kecil yang sejak tadi ia peluk karena tidak ingin menaruhnya di rak atas. Satu tas lain berada di kursi sebelah. Tidak terlalu besar, hanya berisi pakaian yang belum lebih dulu dikirim pulang, beberapa buku, charger, dan dokumen kegiatan sekolah.
Beberapa minggu terakhir ia mengikuti kegiatan murid pindahan di luar kota. Programnya selesai dua hari lalu, tetapi sekolah memberinya jeda sampai Senin berikutnya sebelum kembali masuk seperti biasa.
Selvara tidak keberatan.
Setelah beberapa minggu mengikuti jadwal orang lain, berganti ruangan, mengenal siswa baru, dan berkali-kali menjawab pertanyaan yang sama tentang sekolah asalnya, seminggu tanpa agenda tetap terdengar cukup menyenangkan.
Ponselnya kembali bergetar.
Kali ini dari Vio.
“Sudah pulang belum?”
Selvara membuka pesannya.
“Hampir sampai.”
Balasan muncul cepat.
“Serius hari ini?”
“Iya.”
“Kok kamu nggak bilang dari tadi?”
Selvara tersenyum kecil.
“Aku sudah bilang kemarin.”
Ada jeda beberapa detik sebelum Vio membalas.
“Oh.”
Kemudian satu pesan lain menyusul.
“Aku lupa tanggalnya.”
Selvara mengetik sambil menahan senyum.
Selvara menyimpan ponsel sebentar ketika pengumuman dari pengeras suara terdengar di dalam gerbong. Kereta akan segera tiba di Asterveil Central. Beberapa penumpang langsung berdiri dan mulai mengambil barang meskipun kereta masih bergerak.
Ia tetap duduk.
Seorang bapak di barisan depan sibuk menurunkan koper dari rak atas, sementara anak kecil di sebelahnya sudah berdiri di atas kursi untuk melihat peron dari balik jendela. Dua orang di seberang Selvara juga mulai memasukkan botol minum dan kabel pengisi daya ke dalam tas dengan tergesa-gesa.
Selvara baru berdiri ketika kereta benar-benar berjalan pelan.
Ia memasang tas ke bahu, mengambil tas kedua dari kursi, lalu memeriksa sekali lagi bagian bawah tempat duduknya.
Tidak ada yang tertinggal.
Ponselnya bergetar tepat saat peron mulai terlihat.
Ibunya akhirnya membalas.
“Ibu masih di tempat kerja sampai sore. Dari stasiun langsung pulang saja, ya. Kalau capek naik bus dari depan stasiun, jangan jalan jauh-jauh.”
Selvara membaca pesan itu tanpa heran. Sejak awal mereka memang tidak berencana bertemu di stasiun. Jadwal kepulangannya berada di tengah hari kerja, dan Selvara sudah cukup sering menggunakan transportasi kota sendirian.
“Iya. Aku naik bus saja.”
“Sudah makan?”
“Sudah di kereta.”
“Beneran makan atau cuma beli minum?”
Selvara terdiam sebentar.
Ia melihat gelas minuman kosong yang masih berada di tempat sampah kecil dekat kursi.
Kemudian membalas.
“Ada roti.”
Pesan dari ibunya datang tidak sampai setengah menit.
“Berarti belum makan.”
Selvara hampir tertawa.
“Nanti cari makan lagi.”
“Bagus. Sampai rumah kabari Ibu.”
“Iya.”
Kereta berhenti.
Pintu terbuka dan udara lembap dari luar langsung masuk bersama suara stasiun yang jauh lebih ramai. Selvara menunggu penumpang di depan bergerak lebih dulu sebelum ikut turun.
Ia bergeser ke sisi peron setelah menginjak lantai, membenarkan tali tas yang sedikit turun dari bahunya, lalu mengikuti arus orang menuju tangga utama.
Suara roda koper bergesekan dengan lantai. Pengumuman kereta berikutnya terdengar dari pengeras suara, bercampur dengan percakapan penumpang dan bunyi langkah yang terus bergerak dari berbagai arah.
Selvara sudah cukup mengenal Asterveil Central sehingga tidak perlu melihat papan petunjuk setiap beberapa meter. Meski begitu, beberapa bagian terlihat berubah sejak terakhir kali ia benar-benar memperhatikannya.
Toko kecil dekat eskalator sudah memiliki papan nama baru. Mesin tiket di sebelah kiri juga sudah diganti dengan layar yang lebih besar. Di tempat yang dulu hanya berisi mesin penjual minuman, sekarang berdiri kios kecil dengan beberapa kursi tinggi.
Selvara memperlambat langkah ketika melewatinya.
Bukan karena tertarik membeli apa pun. Ia hanya sedang mengingat apa yang dulu ada di sana.
Ponselnya kembali berbunyi.
Vio.
“Kamu dijemput?”
“Nggak. Ibu masih kerja.”
“Pulang sendiri?”
“Iya.”
“Tasnya banyak?”
“Dua.”
“Berat?”
Selvara melihat kedua tas yang ia bawa.
“Masih bisa dibawa.”
Vio membalas dengan cepat.
“Jawaban orang yang tasnya berat.”
“Kamu mau datang bawain?”
Pesan Vio berhenti cukup lama kali ini.
“Jangan kasih ide mendadak. Aku lagi di rumah.”
Selvara tersenyum dan melanjutkan jalan.
“Aku juga nggak minta.”
“Nanti kalau sudah sampai rumah bilang.”
“Kamu sama Ibu kompak.”
“Karena kamu kalau capek suka diam saja.”
Selvara membaca pesan terakhir itu sambil berjalan menuju aula utama. Ia tidak membalas langsung, tetapi sudut bibirnya masih sedikit terangkat ketika menyimpan ponsel kembali.
Arus orang di depan mendadak melambat.
Selvara ikut mengurangi langkah.
Sebuah area promosi berdiri di salah satu sisi aula dan memakan sebagian jalur menuju pintu keluar. Beberapa papan informasi dipasang menghadap penumpang, sementara layar kecil menampilkan gambar kartu perjalanan dan beberapa fasilitas kota.
Ada cukup banyak orang yang berhenti untuk melihat.
Selvara tidak terlalu tertarik.
Ia hanya ingin lewat.
Sebuah tulisan besar di bagian atas booth memperkenalkan layanan baru yang bisa digunakan untuk transportasi dan beberapa fasilitas publik. Di meja depannya terdapat contoh kartu, brosur, dan alat pembaca yang beberapa kali berbunyi ketika didemonstrasikan oleh staf.
Selvara terpaksa berhenti karena seseorang di depannya meletakkan koper tepat di tengah jalur sambil berbicara dengan anggota keluarganya.
Tidak jauh dari sana, seorang laki-laki dewasa sedang menjelaskan layanan tersebut kepada seorang perempuan yang membawa dua anak.
Penampilannya rapi, tetapi tidak terlalu formal. Kemeja berlengan panjangnya dilipat sampai mendekati siku, dan cara bicaranya terdengar lebih seperti seseorang yang sedang membantu daripada orang yang mengejar calon pembeli.
“Kalau kartunya hilang, saldonya ikut hilang?” tanya perempuan itu.
Pria tersebut menggeleng pelan. “Kalau kartunya sudah didaftarkan, Ibu bisa mengajukan penonaktifan lebih dulu. Saldo dan data aksesnya tetap tersimpan, jadi nanti bisa dipindahkan ke kartu pengganti.”
“Berarti data perjalanannya juga tersimpan?”
“Riwayat penggunaan dasarnya, iya.” Ia menunjuk salah satu bagian pada brosur yang sedang dipegang perempuan itu. “Ibu juga bisa melihat riwayatnya sendiri. Kalau ada data yang tidak sesuai, nanti bisa dilaporkan melalui pusat layanan.”
Perempuan itu membaca bagian tersebut sebentar. “Kalau saya belum mau daftar sekarang?”
“Tidak masalah.” Pria itu tersenyum ringan. “Produknya masih dalam tahap pengenalan. Silakan dibaca dulu di rumah. Kalau nanti Ibu merasa cocok, baru digunakan.”
“Oh, begitu.”
“Iya. Tidak perlu terburu-buru.”
Perempuan itu mengangguk, lalu melipat brosurnya. “Baik. Terima kasih penjelasannya.”
“Sama-sama, Bu.”
Selvara sudah hendak melanjutkan jalan ketika salah satu staf di dekat booth mundur sambil membawa beberapa kotak brosur. Ia tidak melihat ke belakang dan hampir mengenai tas Selvara.
“Hati-hati, ada yang lewat.”
Pria tadi menegurnya lebih dulu.
Staf tersebut segera berhenti dan menoleh. “Oh, mohon maaf.”
Selvara menggeser tasnya sedikit. “Nggak apa-apa.”
“Minta maaf, Kak. Saya nggak lihat tadi.”
“Iya, nggak apa-apa.”
Pria itu ikut bergeser satu langkah agar jalur di antara booth dan arus penumpang menjadi lebih lebar. “Silakan lewat.”
Selvara mengangguk kecil. “Terima kasih.”
“Sama-sama.”
Ia kembali berjalan.
Di ujung area promosi, seorang staf perempuan berdiri sambil membagikan brosur kepada penumpang yang lewat. Ketika Selvara mendekat, perempuan itu menawarkan satu lembar kepadanya.
“Mohon maaf, Kak. Kalau berkenan, ini ada informasi mengenai layanan yang sedang kami perkenalkan.”
Selvara sempat melihat brosur tersebut.
“Boleh.”
Staf itu menyerahkannya dengan kedua tangan. “Silakan. Di dalamnya ada informasi penggunaan dan tempat pendaftarannya.”
Selvara menerimanya. “Terima kasih.”
“Sama-sama, Kak.”
Brosur itu masuk ke saku luar tas tanpa dibaca lebih jauh.
Selvara kembali mengikuti jalur menuju pintu keluar. Keramaian stasiun perlahan menutup suara dari area promosi, tetapi sebelum benar-benar menjauh, ia masih mendengar seseorang bertanya dari belakang.
“Kalau nanti sistemnya diperluas, satu kartu ini bisa dipakai untuk layanan lain juga?”
“Rencananya begitu,” jawab pria tadi. “Tapi penerapannya bertahap. Kami tetap harus memastikan setiap layanan siap sebelum disambungkan.”
“Berarti bakal banyak yang harus diatur.”
Pria itu tertawa kecil. “Memang. Tapi kalau jalurnya sudah jelas sejak awal, biasanya lebih mudah dijaga.”
Percakapan berikutnya tenggelam di antara suara pengumuman dan langkah penumpang.
Selvara tidak menoleh lagi. Percakapan berikutnya tenggelam di antara suara pengumuman dan langkah penumpang.
Selvara tidak menoleh lagi.
Ia terus mengikuti arus orang menuju sisi timur stasiun. Brosur yang tadi diberikan staf sudah terselip di saku luar tas bersama tiket perjalanan, dan beberapa langkah kemudian ia bahkan tidak lagi memikirkannya.
Di depan, jalur menuju pintu keluar mulai lebih longgar. Selvara menyesuaikan tas di bahunya sambil berjalan melewati deretan mesin tiket, sebuah kios minuman, dan papan informasi yang menunjukkan beberapa pilihan transportasi dari stasiun.
Ponselnya bergetar.
Vio kembali mengirim pesan.
“Sudah turun?”
Selvara membuka pesan itu sambil berhenti sebentar di sisi jalur agar tidak menghalangi orang lain.
“Sudah.”
“Masih di stasiun?”
“Iya. Baru mau keluar.”
Vio membalas cepat.
“Naik bus?”
“Iya.”
“Kirain mau jalan sekalian.”
Selvara melihat keluar melalui pintu kaca yang masih beberapa meter di depannya. Jalanan di luar terlihat basah, dan langit memang sudah tidak hujan, tetapi awan masih cukup tebal.
“Bawa dua tas.”
“Oh iya.”
Beberapa detik kemudian Vio mengirim pesan lagi.
“Jangan jalan.”
Selvara tersenyum kecil.
“Aku juga nggak niat.”
Ia menyimpan ponsel dan melanjutkan langkah.
Pintu otomatis terbuka ketika ia mendekat. Udara dari luar langsung terasa lebih dingin dan lembap dibanding di dalam stasiun. Area penjemputan cukup ramai; kendaraan datang bergantian, beberapa berhenti sebentar untuk menurunkan penumpang, sementara orang-orang berdiri di bawah atap sambil melihat ponsel atau mencari kendaraan mereka.
Selvara tidak ikut berhenti di sana.
Ia berbelok mengikuti papan menuju halte bus kota yang berada di sisi kanan bangunan.
Di tengah perjalanan, ponselnya kembali berbunyi.
Kali ini dari ibunya.
“Sudah turun dari kereta?”
Selvara membalas sambil berjalan.
“Sudah. Mau ke halte.”
“Bus yang biasa?”
“Iya.”
“Kalau terlalu penuh, tunggu yang berikutnya saja. Tasmu banyak.”
“Cuma dua.”
“Itu tetap banyak kalau dibawa sendiri.”
Selvara melihat kedua tasnya, lalu mengetik, “Masih bisa.”
Balasan ibunya datang beberapa saat kemudian.
“Ya sudah. Hati-hati. Sampai rumah kabari Ibu.”
“Iya.”
Selvara memasukkan ponsel kembali ke tas.
Halte berada tidak jauh dari pintu keluar. Beberapa orang sudah menunggu di sana, sehingga Selvara memilih tempat di ujung bangku yang masih kosong dan menaruh tas besar di dekat kakinya.
Papan elektronik menunjukkan bus yang ia butuhkan akan datang sekitar delapan menit lagi.
Tidak terlalu lama.
Setelah berdiri dan berjalan sejak turun dari kereta, baru ketika duduk Selvara menyadari bahunya mulai pegal. Ia menggoyangkan bahu pelan, lalu menyandarkan punggung ke bangku.
Di seberang jalan, Asterveil kembali terlihat seperti kota yang ia kenal.
Deretan pertokoan memenuhi sisi jalan utama. Seorang petugas sedang menarik air dari depan salah satu toko dengan alat pembersih lantai, beberapa pejalan kaki melangkahi genangan kecil, dan kendaraan mulai bergerak lebih cepat karena hujan sudah berhenti cukup lama.
Selvara melihat semuanya tanpa benar-benar mencari sesuatu.
Beberapa minggu ternyata cukup untuk membuat perubahan kecil terasa lebih mudah terlihat.
Sebuah papan iklan di gedung seberang sudah berganti. Warna sebuah toko berubah. Ada halte tambahan yang tidak ia ingat pernah ada sebelumnya.
Namun secara keseluruhan, Asterveil tetap sama.
Ponselnya kembali berbunyi.
“Sudah dapat bus?”
Vio lagi.
“Belum. Lagi nunggu.”
“Lama?”
“Delapan menit.”
“Lumayan.”
Selvara mengetik, “Kamu memang nggak ada kegiatan?”
“Ada.”
“Apa?”
“Nunggu kamu pulang.”
Selvara menatap layar beberapa detik.
“Dari rumah?”
“Iya.”
“Berguna sekali.”
Vio mengirim stiker kesal sebagai balasan.
Selvara tertawa kecil sendiri sebelum menyimpan ponsel.
Beberapa menit kemudian, bus yang ditunggunya muncul dari ujung jalan. Orang-orang di halte mulai berdiri dan bergerak lebih dekat ke tepi.
Selvara ikut bangkit, memasang kembali tas kecil ke bahu, lalu membawa tas satunya dengan tangan kanan.
Bus berhenti tepat di depan halte.
Ia membiarkan seorang perempuan bersama anaknya naik lebih dulu sebelum mengikuti dari belakang.
“Silakan,” kata perempuan itu ketika menyadari Selvara membawa dua tas.
“Nggak apa-apa, Bu. Ibu dulu saja.”
“Terima kasih.”
Setelah mereka naik, Selvara menyusul.
Ia membayar perjalanan, kemudian bergerak ke bagian tengah bus dan menemukan satu tempat duduk kosong dekat jendela. Tas kecil tetap berada di pangkuannya, sedangkan tas yang lebih besar ia letakkan di lantai di antara kedua kaki agar tidak mengambil ruang penumpang lain.
Pintu bus tertutup.
Beberapa saat kemudian kendaraan mulai bergerak meninggalkan halte.
Selvara melihat bangunan stasiun perlahan bergeser ke belakang dari balik jendela. Area promosi yang tadi dilewatinya sudah tidak terlihat dari posisi itu, tertutup oleh kaca, papan halte, dan orang-orang yang berjalan keluar masuk.
Ia tidak memikirkannya lagi.
Bus meninggalkan kawasan stasiun dan masuk ke jalan utama Asterveil dengan kecepatan yang tidak terlalu tinggi. Selepas hujan, jalanan masih mengilap dan beberapa genangan tertinggal di tepi trotoar. Toko-toko sudah kembali membuka pintu lebar-lebar, orang-orang berjalan tanpa payung, dan lalu lintas perlahan kembali padat setelah sempat melambat ketika hujan turun.
Selvara bersandar sedikit ke kursi.
Sekarang barulah perjalanan pulangnya benar-benar dimulai.
Bus meninggalkan kawasan stasiun dan masuk ke jalan utama Asterveil dengan kecepatan yang tidak terlalu tinggi. Selepas hujan, jalanan masih mengilap dan beberapa genangan tertinggal di tepi trotoar. Toko-toko sudah kembali membuka pintu lebar-lebar, orang-orang berjalan tanpa payung, dan lalu lintas perlahan kembali padat setelah sempat melambat ketika hujan turun.
Selvara bersandar sedikit ke kursi.
Sekarang barulah perjalanan pulangnya benar-benar dimulai.
Beberapa tempat yang mereka lewati masih sama seperti yang ia ingat. Toko buku di dekat persimpangan tetap memakai papan nama lama, warung makan di seberangnya masih memasang daftar menu di kaca depan, sedangkan gedung kosong yang dulu berdiri dekat halte sudah berubah menjadi minimarket. Perubahannya tidak cukup besar untuk membuat kawasan itu terasa asing. Selvara hanya sesekali melihat lebih lama ketika menemukan sesuatu yang baru.
Bus berhenti di halte berikutnya dan beberapa penumpang turun. Seorang perempuan tua masuk dari pintu depan dengan membawa dua kantong belanja, kemudian berdiri sambil mencari tempat duduk.
Selvara hendak bangkit, tetapi seorang laki-laki yang duduk lebih dekat ke pintu sudah lebih dulu berdiri.
“Silakan, Bu.”
“Terima kasih.”
Selvara kembali duduk dan memandang keluar.
Ponselnya bergetar di pangkuan.
Vio.
“Sekarang sudah jalan?”
“Iya.”
“Bagus.”
Selvara menunggu beberapa detik, tetapi tidak ada pesan berikutnya.
“Ada apa sebenarnya?”
Balasan Vio muncul cepat.
“Nggak ada.”
“Kamu dari tadi nanya terus.”
“Aku lagi bosan.”
Selvara tersenyum kecil. “Cari kegiatan.”
“Aku sudah cari.”
“Apa?”
“Chat kamu.”
Selvara menghela napas pendek sambil menahan tawa.
“Kegiatan yang lain.”
“Besok saja.”
Bus berbelok memasuki ruas jalan yang lebih sempit. Dari sana, perjalanan menuju rumah tidak lagi jauh.
Vio kembali mengirim pesan.
“Besok jadi keluar, kan?”
Selvara membaca pesan itu dua kali sebelum menjawab.
“Kamu belum bilang mau ke mana.”
“Belum kepikiran.”
“Terus ngajaknya sudah dari sekarang.”
“Biar kamu nggak bikin alasan besok.”
“Aku baru pulang.”
“Makanya besok, bukan sekarang.”
Selvara akhirnya mengalah.
“Siang saja.”
“Oke.”
“Jangan pagi.”
“Aku juga nggak mau pagi.”
“Bagus.”
Percakapan berhenti setelah itu. Selvara menyimpan ponsel dan kembali melihat jalan.
Bus memasuki kawasan tempat tinggalnya beberapa menit kemudian. Bangunan tinggi mulai berkurang, digantikan rumah-rumah yang berdiri lebih rapat. Beberapa anak bermain di teras rumah karena jalan masih basah, dan di depan toko kecil dekat persimpangan, pemiliknya sedang menarik tenda yang tadi digunakan untuk menahan hujan.
Selvara menekan tombol berhenti.
Ketika bus sampai di halte berikutnya, ia berdiri dan membawa kedua tas menuju pintu.
“Terima kasih,” ucapnya kepada pengemudi sebelum turun.
Udara luar terasa lebih sejuk. Dari halte, rumahnya masih sekitar beberapa menit berjalan kaki.
Selvara memasang tas kecil ke bahu lebih tinggi dan mulai berjalan.
Jalan lingkungan tidak terlalu ramai. Ia melewati deretan rumah yang sudah dikenalnya sejak lama, sebuah bengkel kecil yang pintunya terbuka setengah, lalu toko kelontong di ujung jalan.
Pemilik toko sedang menyusun dus minuman ketika melihatnya.
“Selvara?”
Selvara berhenti.
Perempuan itu tersenyum lebar. “Baru pulang?”
“Iya, Bu.”
“Sudah selesai kegiatan sekolahnya?”
“Sudah. Mulai Senin masuk lagi seperti biasa.”
“Pantas beberapa minggu nggak kelihatan.” Tatapan perempuan itu berpindah ke tas yang dibawa Selvara. “Banyak juga barangnya.”
“Nggak terlalu, Bu.”
“Yakin nggak perlu dibantu?”
Selvara tersenyum kecil. “Nggak usah. Rumah sudah dekat.”
“Ya sudah. Istirahat dulu. Kamu kelihatan capek.”
“Iya. Terima kasih, Bu.”
Selvara melanjutkan jalan.
Tidak sampai lima menit kemudian, pagar rumahnya sudah terlihat.
Ia mengambil kunci dari saku tas dan membuka pagar sendiri. Halaman depan masih sama seperti ketika ia pergi. Beberapa tanaman milik ibunya tumbuh sedikit lebih panjang, dan satu pot yang biasanya berada dekat pintu sudah dipindahkan ke sisi jendela.
Selvara membuka pintu rumah.
Begitu masuk, ia langsung disambut udara yang jauh lebih tenang daripada perjalanan dari stasiun tadi.
“Pulang.”
Tidak ada jawaban.
Selvara sendiri baru menyadari kebiasaannya memanggil setelah kata itu terlanjur keluar.
Ia menutup pintu lalu tertawa kecil pada dirinya sendiri. Ibunya jelas masih bekerja.
Kedua tas diletakkan sebentar di dekat sofa. Selvara melepas sepatu, mengganti sandal rumah, lalu melihat ke arah meja makan.
Sebuah wadah makanan sudah tersedia di sana dengan penutup plastik. Di sampingnya terdapat secarik kertas.
Selvara mendekat dan membacanya.
“Kalau sudah sampai, makan dulu. Tinggal dipanaskan.”
Di bawahnya masih ada satu tulisan tambahan.
“Jangan bilang tadi sudah makan kalau cuma roti.”
Selvara tersenyum.
Ia mengambil ponsel, memotret catatan itu, kemudian mengirimkannya kepada ibunya.
“Sudah sampai.”
Pesannya baru mendapat balasan beberapa menit kemudian.
“Bagus. Perjalanannya aman?”
“Aman.”
“Busnya penuh?”
“Nggak terlalu.”
“Makan dulu. Ibu pulangnya agak sore.”
“Iya.”
Selvara hendak menyimpan ponsel ketika pesan lain masuk.
“Dan tasnya dibawa ke kamar. Jangan ditinggal dekat sofa sampai malam.”
Selvara menoleh ke dua tas yang masih berada tepat di sana.
Ia mengetik pendek.
“Iya.”
Kemudian benar-benar mengangkat keduanya.
Kamar Selvara berada di ujung lorong. Ketika pintunya dibuka, ia sempat berhenti sebentar sebelum masuk.
Tidak ada yang berubah banyak.
Meja belajar masih berada dekat jendela. Rak buku tetap penuh seperti sebelumnya. Sprei sudah diganti, dan tumpukan kertas yang biasa berada di salah satu sisi meja kini tersusun jauh lebih rapi.
Selvara langsung tahu itu pekerjaan ibunya.
Ia meletakkan tas di lantai dan duduk di tepi tempat tidur beberapa saat.
Baru sekarang tubuhnya terasa benar-benar lelah.
Tidak sampai satu menit kemudian, ponselnya kembali berbunyi.
Vio.
“Sudah sampai?”
“Iya.”
“Aman?”
Selvara melihat pesan itu, lalu tertawa kecil.
“Kamu sama Ibu nanyanya sama.”
“Berarti pertanyaannya penting.”
“Aman.”
“Oke.”
Selvara mulai membuka tas besarnya. Pakaian kotor dipisahkan lebih dulu, buku diletakkan di meja, dan beberapa dokumen sekolah ia masukkan ke dalam laci supaya tidak terlipat.
Saat memeriksa saku luar tas kecil, ia menemukan brosur yang tadi diterima di stasiun.
Selvara menariknya keluar.
Bagian depannya menampilkan kartu layanan yang tadi dipromosikan, disertai beberapa informasi singkat mengenai transportasi, registrasi pengguna, dan penggunaan di fasilitas tertentu.
Ia hanya membaca judul besarnya.
Tidak lebih.
Brosur itu kemudian diletakkan bersama tiket kereta dan beberapa struk di sudut meja.
Setelahnya, Selvara kembali membereskan tas sampai sebagian besar barang sudah berpindah tempat.
Perutnya mulai terasa lapar.
Ia meninggalkan kamar, kembali ke dapur, lalu memanaskan makanan yang sudah disiapkan ibunya.
Selvara makan sendiri di meja sambil sesekali membuka ponsel. Grup kelasnya cukup ramai, tetapi sebagian besar pembicaraan hanya soal tugas, jadwal, dan beberapa siswa yang menanyakan kapan ia kembali.
Salah satu pesan menyebut namanya.
“Selvara masuk Senin lagi, kan?”
Orang lain menjawab lebih dulu.
“Harusnya iya.”
Selvara tidak ikut menanggapi.
Ia mematikan layar dan melanjutkan makan.
Untuk beberapa hari ke depan, ia belum ingin memikirkan sekolah terlalu jauh.
Ia baru saja pulang.
Dan kali ini, ia ingin menikmati rumahnya dulu.
Setelah makan, Selvara tidak langsung kembali ke kamar. Ia mencuci piring, mengeringkan bagian meja yang terkena sedikit air, lalu berdiri sebentar di dapur sambil melihat ke arah ruang depan.
Rumah masih sunyi.
Biasanya ia tidak terlalu memikirkan suara-suara kecil di dalam rumah, tetapi setelah beberapa minggu tinggal di tempat lain, semuanya terasa lebih mudah dikenali. Dengung lemari pendingin dari dapur, kendaraan yang sesekali lewat di jalan depan, sampai bunyi jam dinding di ruang tengah yang selama ini hampir tidak pernah ia perhatikan.
Selvara akhirnya kembali ke kamar.
Tas besar sudah jauh lebih kosong, tetapi masih ada beberapa barang kecil yang belum ia bereskan. Ia membuka salah satu kantong samping dan menemukan charger cadangan, dua pena, beberapa kertas catatan, serta satu gantungan kunci yang sempat ia kira hilang sejak beberapa hari lalu.
“Oh, di sini.”
Ia meletakkannya kembali di dekat meja.
Brosur dari stasiun masih berada di tumpukan tiket dan struk. Selvara memindahkannya sedikit agar tidak jatuh, lalu melanjutkan membereskan pakaian.
Tidak ada sesuatu yang perlu dilakukan dengan cepat.
Untuk pertama kalinya setelah beberapa minggu, waktunya tidak diatur oleh jadwal kegiatan.
Selvara menyukai itu.
Ia sempat mencoba membuka salah satu buku yang dibawanya, tetapi baru membaca beberapa halaman sebelum akhirnya menutup kembali. Tubuhnya masih terasa lelah dari perjalanan, dan matanya mulai berat meskipun hari belum terlalu sore.
Ponselnya bergetar.
Vio lagi.
“Kamu lagi apa?”
“Beresin barang.”
“Belum selesai?”
“Baru juga sampai.”
“Kupikir kamu tipe yang langsung rapi.”
Selvara melihat keadaan kamar yang masih dipenuhi beberapa barang di atas tempat tidur.
“Kadang.”
“Berarti nggak.”
Selvara tersenyum kecil.
“Kamu sendiri lagi apa?”
“Nggak ada.”
“Pantas dari tadi chat terus.”
“Sekarang kamu paham.”
Selvara duduk di tepi tempat tidur sambil memegang ponsel dengan satu tangan.
“Besok jadi?”
“Jadi.”
“Jam dua?”
“Iya.”
“Ke mana?”
Balasan Vio tidak langsung muncul.
Beberapa saat kemudian, hanya ada satu pesan.
“Aku pikirin nanti.”
Selvara menghela napas pendek.
“Jangan sampai besok masih belum tahu.”
“Ada banyak tempat.”
“Itu bukan jawaban.”
“Kita ketemu dulu.”
“Di mana?”
“Dekat taman.”
Selvara langsung tahu taman mana yang dimaksud. Letaknya tidak terlalu jauh dari kawasan sekolah dan sering mereka lewati setelah pulang.
“Ya sudah.”
“Bagus.”
Percakapan berhenti beberapa menit sebelum Vio kembali mengirim pesan.
“Oh iya.”
Selvara menunggu.
“Selamat pulang.”
Kali ini Selvara tidak langsung membalas.