Chapter 2 - Episode 18
Pagi berikutnya, Selvara masih memikirkan satu baris yang muncul di layar ruang klub kemarin.
Relay route ready.
Bukan karena kalimat itu sulit dipahami, melainkan karena waktunya muncul tidak sesuai dengan pola yang mereka pegang selama ini.
Speaker sudah berbunyi lebih dulu, baru sesudahnya sistem mencatat jalur relay lama sebagai siap.
Dua puluh tiga detik kemudian, langkah kaki terdengar di luar ruangan.
Urutannya tidak sekadar terasa kacau. Mereka benar-benar melihat catatan sistem berpindah posisi terhadap kejadian yang terdengar.
Saat Selvara turun untuk sarapan, ibunya sedang menuangkan air panas ke cangkir.
“Kamu tidur larut lagi?”
Selvara menarik kursi. “Nggak terlalu.”
Ibunya melirik wajahnya sebentar. “Tapi bangunnya kelihatan seperti masih mikirin sesuatu.”
Selvara tersenyum tipis. “Ada urusan sekolah yang belum selesai.”
“Urusan sekolahmu belakangan banyak sekali.”
Nada ibunya ringan, tetapi Selvara tahu itu bukan sekadar komentar lewat.
Ia mengambil roti dari piring dan menjawab dengan jujur sebatas yang bisa ia ceritakan.
“Lagi bantu nyocokin catatan lama sama fasilitas sekolah.”
“Yang gedung lama itu?”
“Iya.”
Ibunya mengangguk sambil duduk di seberang. “Kalau sudah mulai capek, jangan dipaksa selesai dalam sehari.”
Selvara mengangkat roti sedikit. “Aku tahu.”
“Kamu sering bilang begitu.”
Selvara menahan senyum. “Berarti Ibu sudah hafal.”
“Makanya Ibu ingetin lagi.”
Percakapan berhenti ketika ponsel Selvara bergetar di meja.
Pesan dari Adrian.
Jangan ke koridor timur dulu sebelum istirahat. Ada pemeriksaan fasilitas.
Selvara membaca pesan itu sekali lagi, lalu membalas singkat sebelum memasukkan ponselnya ke saku.
Ibunya memperhatikan. “Ada apa?”
“Pemeriksaan sekolah.”
“Bagus. Jadi ada orang dewasa yang kerja juga.”
Selvara tertawa kecil. “Ibu terdengar lega sekali.”
“Ya memang.”
Setibanya di sekolah, Larangan menuju koridor timur ternyata bukan hanya untuk mereka. Salah satu bagian lorong dipasangi pembatas sementara, dan petugas fasilitas sedang membuka panel dinding dekat jalur servis lama.
Tidak ada suasana panik. Siswa lain hanya menganggapnya sebagai perawatan biasa.
Vio sudah menunggu dekat tangga ketika Selvara datang.
“Kak Adrian serius juga.”
Selvara melihat dua petugas yang sedang membawa peralatan. “Lebih bagus begini.”
Vio berjalan di sampingnya. “Theo dari tadi mau lihat panelnya.”
“Terus?”
“Aku bilang jangan berdiri terlalu dekat sampai dikira magang.”
Selvara tertawa. “Dia nurut?”
“Setelah Kak Adrian lihat dia.”
Mereka menemukan Theo dan Lyara di dekat kelas. Theo memang sedang melihat foto panel dari jauh melalui ponselnya, tetapi setidaknya kali ini ia tidak mencoba mendekati area pemeriksaan.
“Kamu dapat apa?” tanya Selvara.
“Belum banyak. Adrian cuma bilang jalur relay lama ternyata masih punya sambungan fisik ke panel sekunder.”
Vio menghela napas kecil. “Nah, baru datang sudah mulai.”
Theo menurunkan ponselnya. “Aku jawab pertanyaan.”
“Aku tahu.”
Lyara tersenyum. “Biarkan dia senang sebentar.”
Selvara melihat ke arah koridor timur. “Sambungannya masih aktif?”
“Belum tahu.”
“Itu yang sedang mereka cek,” tambah Lyara.
Rikuya baru bergabung setelah bel pertama hampir berbunyi. Ia datang dari arah gedung olahraga sambil membawa botol minum.
“Pintu servis belakang juga ditutup.”
Adrian ternyata sudah mengirim pesan kepadanya lebih dulu karena jalur itu sering digunakan anak basket.
“Pelatihmu tahu?” tanya Selvara.
“Dibilang ada pemeriksaan kabel. Jadi latihan sore dipindah ke sisi depan.”
Vio mengangguk puas. “Nah, itu jauh lebih baik daripada kalian tiba-tiba ketemu kabut pas angkut bola.”
Rikuya membuka tutup botolnya. “Aku juga nggak mau ngulang pengalaman kemarin.”
Bel berbunyi tidak lama kemudian dan mereka masuk ke kelas masing-masing.
Sepanjang pagi, cincin Selvara tetap normal.
Ia hampir tidak memikirkan fenomena sampai menjelang istirahat kedua, ketika Adrian mengirim pesan meminta mereka datang ke ruang OSIS setelah makan siang.
Kali ini pesannya hanya satu kalimat.
Petugas nemu sesuatu di panel lama.
Mereka berkumpul sekitar setengah jam kemudian.
Adrian sudah menunggu bersama beberapa foto yang baru diambil pagi itu. Begitu Selvara duduk, ia menggeser ponselnya ke tengah meja.
“Panel sekundernya ternyata masih terhubung.”
Theo langsung melihat foto pertama. “Ke jaringan utama?”
“Bukan langsung. Ada satu jalur lama yang seharusnya sudah diputus waktu renovasi, tapi fisiknya masih nyambung sampai kotak distribusi kecil di belakang dinding.”
Rikuya mengernyit. “Berarti selama ini masih bisa dialiri listrik?”
“Secara teori, iya. Tapi harusnya nggak ada perintah yang masuk ke sana.”
Selvara memperbesar foto berikutnya.
Di dalam panel terdapat beberapa kabel tua, label yang sudah memudar, dan satu modul kecil dengan kode yang tidak ia kenal.
“Apa itu?”
Adrian menggeser foto lebih dekat. “Petugasnya juga nggak langsung tahu. Mereka kira modul relay lama.”
Theo membaca kode pada label. “E-2B?”
“Sebagian tulisannya hilang, tapi awalnya cocok.”
Lyara menatap foto itu. “Kalau modulnya masih ada, berarti status ‘relay route ready’ bisa datang dari sini?”
“Bisa saja.”
Adrian lalu membuka foto terakhir.
Salah satu kabel terlihat memiliki bekas perubahan warna pada lapisan luarnya.
Vio langsung menunjuk. “Itu gosong?”
“Bukan gosong parah. Lebih seperti pernah panas.”
Selvara memandang Adrian. “Baru?”
“Petugasnya nggak bisa pastikan. Tapi bagian debu di sekitarnya terganggu, jadi kemungkinan jalurnya memang sempat aktif belakangan.”
Ruangan tidak langsung dipenuhi komentar.
Bukti itu masih terlalu kecil untuk menjelaskan Mist, langkah kaki, atau suara yang memanggil nama orang. Namun untuk pertama kalinya, sistem lama yang mereka kira tinggal sisa bangunan menunjukkan tanda bahwa sesuatu memang masih berjalan melalui jalur tersebut.
Theo memperhatikan foto modul lebih lama. “Kalau kita bisa dapat model atau fungsi modulnya, mungkin kita tahu apa yang sebenarnya terjadi sebelum bunyi muncul.”
Selvara mengangguk. “Tapi tetap lewat fasilitas. Jangan dibongkar sendiri.”
“Aku nggak akan.”
Vio melihat Theo. “Kamu jawab terlalu cepat.”
Theo menatapnya. “Karena aku sudah tahu kamu mau bilang apa.”
Rikuya tertawa kecil, lalu mencondongkan badan ke foto.
“Aku lebih penasaran sama satu hal. Kalau jalur itu masih aktif, siapa yang nyalain?”
Adrian menjawab lebih dulu. “Itu yang belum ada.”
“Log nggak punya sumber?”
“Nggak.”
Selvara langsung teringat baris kosong pada kejadian-kejadian sebelumnya.
Perintah kedua yang tidak punya sumber.
Aktivasi jalur lama yang muncul tanpa operator.
Dan sekarang satu sambungan fisik yang seharusnya tidak lagi dipakai ternyata masih hidup cukup untuk meninggalkan bekas panas.
Ia menatap foto modul sekali lagi.
“Kalau ini memang bagian pertama,” katanya, “berarti yang kita cari bukan suara. Kita cari kapan jalur ini mulai aktif.”
Theo mengangguk. “Dan apa yang memicunya.”
Adrian menyimpan kembali ponselnya. “Petugas akan matikan sambungan lamanya sore ini.”
Vio terlihat lebih lega. “Bagus.”
Selvara juga menganggap itu keputusan yang benar.
Kalau fenomena tersebut bergantung pada jalur itu, pemutusan sambungan seharusnya memberi mereka jawaban tanpa perlu sengaja memancing kejadian lain.
Namun sekitar satu jam sebelum pulang, ketika Selvara sedang menyalin catatan pelajaran, rasa dingin menyentuh sisi tasnya.
Ia berhenti menulis.
Dinginnya datang perlahan dari kotak kain.
Cincin akhirnya bereaksi lagi.
Selvara mengangkat pandangan ke arah jendela kelas.
Di luar, lorong masih terang dan ramai.
Belum ada Mist.
Tidak ada langkah kaki.
Namun beberapa detik kemudian, seluruh lampu kelas meredup sekali.
Hanya sesaat.
Guru di depan berhenti menulis dan melihat ke atas, lalu melanjutkan setelah lampu kembali normal.
Siswa lain mulai berkomentar pelan.
Selvara menekan kotak kain dari luar tas.
Dinginnya semakin kuat.
Ponselnya bergetar di dalam saku.
Pesan dari Adrian masuk.
Mereka baru putus jalur relay lamanya.
Selvara membaca waktunya.
Pemutusan dilakukan beberapa detik sebelum lampu kelas meredup.
Untuk pertama kalinya, mereka tidak sedang menunggu sistem lama menyala.
Mereka baru saja mematikannya, Dan sesuatu langsung bereaksi.
Selvara tidak langsung membalas pesan Adrian.
Ia lebih dulu memperhatikan keadaan kelas.
Lampu sudah kembali terang. Guru di depan masih menjelaskan materi seperti biasa, dan beberapa siswa hanya sempat mengeluhkan listrik yang berkedip sebelum kembali mencatat. Tidak ada suara langkah, tidak ada kabut, dan lorong di luar jendela masih dipenuhi siswa dari kelas lain yang sedang berganti ruangan.
Satu-satunya hal yang berbeda ada di tasnya.
Dingin dari kotak kain terus bertambah.
Selvara mengambil ponsel di bawah meja dan membalas Adrian.
Cincinnya mulai dingin tepat setelah jalur diputus. Lampu kelas juga sempat redup.
Balasan datang tidak sampai semenit.
Adrian: Di ruang OSIS juga. Jangan keluar dulu sampai jam selesai. Aku cek ke fasilitas.
Selvara menyimpan kembali ponselnya.
Ia sempat melihat jam dinding, lalu mengalihkan perhatian ke papan tulis. Kalau setiap reaksi kecil membuatnya menghitung detik dan menunggu sesuatu muncul, mereka justru akan kembali melakukan hal yang selama ini berusaha mereka hindari.
Dingin di sisi tas bertahan hampir lima menit sebelum perlahan berkurang.
Tidak ada kejadian lain.
Begitu bel pergantian jam berbunyi, Vio sudah berdiri di depan pintu kelas Selvara.
“Kamu juga?”
Selvara baru selesai memasukkan buku. “Lampunya redup?”
Vio mengangguk. “Sekelas. Lyara juga kirim pesan, kelasnya sama.”
Mereka berjalan menuju koridor utama dan menemukan Theo datang dari arah berlawanan.
“Perpustakaan sempat kehilangan daya sebentar,” katanya. “Komputernya nggak mati, cuma lampu dan kipas turun.”
Vio menatapnya. “Kamu langsung nyatet?”
“Aku memang lagi pegang ponsel.”
“Bukan itu yang aku tanya.”
Theo menahan senyum kecil. “Iya.”
Selvara melihat sekeliling. Aktivitas sekolah tidak berubah banyak. Kalau pemutusan relay memang menyebabkan gangguan tadi, dampaknya cukup luas untuk terlihat normal sebagai masalah listrik biasa.
“Adrian lagi cek ke fasilitas,” katanya. “Kita tunggu kabar.”
Lyara bergabung beberapa menit kemudian sambil membawa buku musik di dada.
“Di ruang kelas aku juga sempat redup. Temanku malah bilang sekolah kita harus ganti lampu semua.”
Vio menghela napas. “Andai masalahnya cuma lampu.”
Lyara menatap tas Selvara. “Cincinnya gimana?”
“Sudah mulai normal.”
Theo berhenti berjalan. “Berarti reaksinya paling kuat tepat setelah sambungan diputus?”
“Kurang lebih.”
“Bisa jadi ada sisa arus.”
Selvara mengangguk. “Bisa.”
Vio melihat mereka berdua. “Aku suka bagian kalian masih bilang ‘bisa’.”
Theo menoleh. “Memangnya harus apa?”
“Jangan sampai lima menit lagi berubah jadi teori panjang.”
“Kalau datanya nambah, ya dibahas.”
Vio mengangkat bahu. “Nah, itu.”
Mereka kembali ke kelas masing-masing setelah itu.
Menjelang pulang, Adrian akhirnya mengirim pesan ke grup dan meminta mereka berkumpul di ruang OSIS.
Kali ini Rikuya sudah datang lebih dulu. Ia duduk di dekat jendela dengan tas basket di kaki, sementara Adrian berdiri di samping meja dan masih berbicara lewat telepon dengan seseorang dari bagian fasilitas.
Selvara duduk di sebelah Lyara.
Begitu telepon selesai, Adrian langsung meletakkan ponselnya.
“Jalurnya sudah benar-benar diputus.”
Theo sedikit condong ke depan. “Ada arus sisa?”
“Bukan cuma itu.” Adrian menarik satu lembar foto hasil pemeriksaan. “Waktu mereka lepas sambungan, modul lama sempat aktif sekali.”
Rikuya mengernyit. “Aktif gimana?”
“Lampu indikatornya nyala.”
Vio langsung menatap foto. “Padahal kabelnya lagi diputus?”
“Iya.”
Selvara ikut mendekat. “Ada sumber daya cadangan?”
“Petugasnya bilang nggak seharusnya ada.”
Theo mengambil foto itu. Di sudut modul tua terlihat satu indikator kecil yang tertangkap menyala redup.
“Berapa lama?”
“Katanya cuma beberapa detik.”
Selvara teringat reaksi cincinnya.
“Waktunya cocok sama lampu kelas meredup?”
Adrian mengangguk. “Hampir bersamaan.”
Lyara melihat foto cukup lama. “Kalau jalurnya benar-benar sudah mati sekarang, harusnya kejadian seperti kemarin berhenti, kan?”
Adrian tidak langsung menjawab.
Theo yang lebih dulu berkata, “Kalau sumbernya memang dari relay.”
Selvara melihatnya. “Dan kalau relay cuma bagian dari proses?”
Theo mengangguk tipis.
Rikuya menatap meja. “Berarti kita mungkin baru mematikan salah satu jalurnya, bukan penyebabnya.”
Vio mengusap sisi botol minumnya dengan ibu jari. “Aku tadinya berharap ini selesai cuma karena kabel tua dicabut.”
Selvara tersenyum tipis. “Aku juga.”
Nada mereka tidak terdengar kecewa berlebihan. Setelah semua yang sudah mereka lihat, tidak ada yang benar-benar percaya satu modul tua akan menyelesaikan semuanya.
Adrian membuka log baru di ponselnya. “Ada satu hal lagi.”
Ia memutar layar menghadap mereka.
Setelah jalur relay diputus, sistem tetap mencatat satu status pendek.
Route unavailable.
Lalu, dua puluh tiga detik kemudian:
Secondary path ready.
Theo membaca pelan. “Secondary path?”
“Petugas bilang mereka nggak punya jalur cadangan aktif untuk sistem lama.”
Rikuya menunjuk layar. “Jadi sistemnya nyari jalan lain?”
Adrian mengangguk. “Kalau kita baca log apa adanya, begitu.”
Selvara merasakan tengkuknya sedikit menegang.
Mereka memutus jalur yang selama ini paling jelas terhubung dengan pola lama.
Dua puluh tiga detik kemudian, sesuatu menyiapkan jalur kedua.
“Jalur keduanya ke mana?” tanya Selvara.
“Belum ketemu.”
Adrian membuka foto denah yang kemarin mereka lihat. “Mereka lagi telusuri kabel dari panel utama. Masalahnya, jalur sekunder ini nggak ada di denah renovasi yang sekarang.”
Theo menggeser kursinya mendekat. “Ada di denah lama?”
“Itu juga belum pasti.”
Lyara menatap Selvara. “Kalau jalurnya nggak tercatat, bisa saja lewat bagian gedung yang sudah ditutup.”
Rikuya langsung melihat ke Adrian. “Pintu servis?”
“Belum tahu.”
Selvara tidak menyukai betapa cepat pikirannya ikut mengarah ke sana.
“Kita jangan mulai dari pintu servis cuma karena letaknya cocok.”
Adrian mengangguk. “Makanya belum ada yang pergi ke sana.”
Vio melihat Rikuya. “Termasuk anak basket.”
Rikuya menatapnya balik. “Aku bahkan nggak pegang kunci.”
“Bagus.”
Pembicaraan mereka berhenti ketika satu suara terdengar dari lorong luar.
Tok.
Semua orang langsung diam.
Adrian menoleh ke pintu.
Selvara menyentuh sisi tas.
Kotak cincin dingin lagi.
Kali ini dinginnya muncul bersamaan dengan suara langkah.
Tok.
Suara kedua datang beberapa meter lebih jauh.
Lyara berdiri perlahan. “Mist?”
“Belum kelihatan,” jawab Selvara.
Theo tidak membuka ponsel.
Mereka semua sudah belajar cukup banyak untuk tidak menjadikan setiap kemunculan sebagai percobaan.
Adrian mengambil tasnya. “Kita keluar lewat depan.”
Mereka bergerak bersama.
Begitu pintu OSIS dibuka, koridor masih terang. Beberapa siswa berada jauh di ujung lain, tetapi tidak ada yang berdiri dekat sumber langkah tadi.
Selvara berjalan di tengah kelompok.
Tok.
Langkah ketiga muncul dari belakang.
Vio tidak menoleh kali ini.
Mereka mencapai persimpangan ketika speaker sekolah mengeluarkan bunyi pendek.
Selvara langsung merasakan perubahan pada cincin.
Dinginnya menusuk lebih kuat ke sisi tas.
Lalu, dari koridor timur yang sudah dipasangi pembatas fasilitas, lampu satu per satu meredup.
Bukan seluruh lantai.
Hanya jalur itu.
Adrian berhenti cukup jauh dari pembatas. “Itu bukan jalur relay yang tadi diputus.”
Theo menatap deretan lampu yang semakin gelap. “Berarti secondary path-nya ke sana.”
Mist mulai merembes dari balik pembatas.
Tipis pada awalnya, hampir seperti embun yang terlalu rendah untuk disebut kabut. Dalam beberapa detik, warnanya memucat dan mulai memenuhi bagian bawah koridor.
Selvara mundur satu langkah.
“Jangan dekat.”
Semua orang mengikuti.
Tidak ada sosok yang terlihat.
Namun suara perempuan itu kembali muncul di dekat telinga Selvara.
Kali ini kalimatnya berbeda.
“Jalur pertama sudah ditutup.”
Selvara menahan napas sebentar.
Lyara langsung membaca reaksinya. “Suara itu?”
“Iya.”
“Apa katanya?”
Selvara tetap melihat Mist di balik pembatas.
“Jalur pertama sudah ditutup.”
Theo menatap koridor timur.
Vio tidak bercanda kali ini. “Berarti dia tahu.”
Selvara tidak menjawab.
Bisikan berikutnya datang lebih pelan.
“Yang kedua lebih dekat.”
Selvara langsung menoleh ke Adrian.
“Dia bilang jalur kedua lebih dekat.”
Adrian melihat denah di ponselnya, lalu ke koridor di depan.
Mist yang tadinya hanya berada di balik pembatas mulai keluar beberapa sentimeter ke jalur utama.
Rikuya mundur bersama mereka. “Lebih dekat ke apa?”
Tidak ada yang bisa menjawab.
Dari dalam kabut, satu suara langkah terdengar.
Tok.
Bukan dari ujung koridor.
Dari sisi dinding di sebelah kanan mereka.
Selvara langsung melihat ke arah sana.
Dinding itu memisahkan koridor utama dari salah satu ruang yang sudah lama tidak dipakai.
Theo ikut menoleh. “Kalau suaranya dari balik situ...”
Adrian sudah membuka denah.
Ekspresinya berubah setelah beberapa detik.
“Jalur servis lama lewat di belakang dinding ini.”
Selvara merasakan dingin cincin semakin kuat.
Secondary path tidak berada jauh di dalam gedung lama.
Ia berjalan tepat di balik ruang yang setiap hari mereka lewati.
Mereka tidak mendekati dinding itu.
Adrian meminta semua orang mundur sampai melewati persimpangan, lalu menghubungi bagian fasilitas dari ponselnya. Mist masih merayap tipis dari koridor timur, tetapi belum melewati batas yang mereka tentukan sendiri.
Selvara berdiri di samping Lyara sambil menekan kotak kain dari luar tas.
Cincin masih sangat dingin.
Rikuya melihat dinding yang tadi menjadi sumber langkah. “Kalau jalur servisnya memang ada di belakang situ, berarti kabelnya nggak lewat koridor yang kelihatan.”
Theo mengangguk. “Bisa lewat rongga dinding atau bagian servis lama.”
Vio melihatnya. “Kali ini jangan mulai bayangin bongkar tembok.”
“Aku nggak bilang mau bongkar.”
“Bagus.”
Adrian menutup telepon setelah beberapa saat. “Petugas fasilitas lagi menuju sini. Mereka juga minta kita jangan sentuh apa pun.”
Rikuya mengangkat alis. “Untuk sekali ini semua orang sepakat dari awal.”