Chapter 2 - Episode 19
Pada pagi berikutnya, jalur utama menuju lobi masih ditutup sebagian. Pembatas dari bagian fasilitas membuat siswa harus memutar melalui sisi perpustakaan, dan bahkan sebelum bel pertama berbunyi, penyebab penutupan itu sudah berubah menjadi beberapa versi cerita.
Ada yang bilang pipa di bawah lantai bocor, ada yang yakin salah satu bagian lobi mulai amblas, sementara dua siswa kelas satu yang berjalan beberapa langkah di depan Selvara sedang membicarakan kemungkinan adanya ruang bawah tanah sekolah dengan keyakinan yang terdengar jauh lebih mantap daripada informasi yang sebenarnya mereka punya.
Begitu kedua siswa itu berbelok menuju kelas, Vio berjalan sedikit lebih dekat ke Selvara sambil menahan tawa. “Kalau besok ceritanya berubah jadi ada terowongan rahasia di bawah sekolah, aku sudah nggak akan heran.”
Selvara meliriknya. “Jangan ikut menambah ceritanya.”
“Aku bahkan belum ngomong sama mereka.”
“Itu sebabnya aku ingatkan dari sekarang.”
Vio memasang wajah seolah baru saja dituduh melakukan sesuatu yang belum sempat ia lakukan. Ketika mereka sampai di pintu penghubung koridor, ia menahannya agar Lyara yang berjalan di belakang bisa lewat lebih dulu. “Lihat, Lyara. Sekarang aku sudah dianggap berbahaya buat kestabilan rumor sekolah.”
Lyara melewatinya sambil tersenyum. “Kalau kamu nggak ikut menambah, ya aman.”
Vio menoleh kepadanya. “Kamu juga langsung percaya Selvara?”
“Aku cuma tahu kamu.”
Jawaban itu membuat Selvara tertawa kecil, sedangkan Vio hanya menghela napas sambil mengikuti mereka. Percakapan ringan tersebut bertahan sampai mereka tiba di persimpangan koridor dan harus berpisah menuju kelas masing-masing. Untuk sementara, Route C, RA-01, serta suara dari bawah lantai terasa cukup jauh. Sekolah kembali dipenuhi hal-hal yang jauh lebih biasa: tugas yang belum selesai, buku yang harus dikumpulkan, guru yang sudah datang lebih awal, dan teman-teman sekelas yang mulai saling mengingatkan pekerjaan kelompok.
Selvara baru duduk ketika salah satu anggota kelompok presentasinya menghampiri sambil membawa lembar tugas yang sudah penuh catatan.
“Sel, yang bagian terakhir ini dikumpulkan Jumat, kan? Bukan Senin?”
Selvara menarik lembar itu sedikit mendekat dan memeriksa tanggal di bagian atas. “Jumat. Senin itu kita presentasi.”
Temannya langsung mengangguk. “Oh, iya. Aku kebalik lagi.”
Seorang siswa yang duduk di depan ikut menoleh setelah mendengar percakapan mereka. “Kalau pembagian presentasinya nanti kamu yang atur saja, Sel. Kemarin kita sempat tumpang tindih dua bagian.”
Dua anggota kelompok lain yang sedang membereskan buku ikut menyetujui. Selvara sebenarnya masih harus menyelesaikan bagiannya sendiri, tetapi menyusun urutan materi tidak terasa seperti pekerjaan besar.
“Boleh,” jawabnya sambil meletakkan lembar tugas di samping buku. “Tapi kalian pilih dulu bagian yang mau dibawa. Jangan nanti malam baru semuanya tanya aku dapat bagian apa.”
Temannya tertawa kecil. “Iya, iya. Nanti aku kirim pilihanku.”
Siswa di depan ikut tersenyum. “Kalau Selvara yang susun biasanya memang lebih rapi.”
Ucapan itu tidak terdengar seperti tekanan. Selvara bahkan membalas dengan senyum sebelum membuka buku dan melanjutkan pelajaran. Ia sudah terlalu terbiasa membantu mengatur hal-hal seperti itu untuk menganggapnya aneh.
Namun pada jam istirahat, kalimat yang kurang lebih sama muncul dalam bentuk lain.
Selvara bertemu Vio di bangku dekat halaman. Theo masih membeli minuman di kantin, sedangkan Lyara sedang berbicara dengan salah satu anggota klub musik beberapa meter dari tempat mereka duduk. Begitu Selvara datang, Vio langsung menyerahkan satu kotak minuman kepadanya.
“Ini buat kamu.”
Selvara menerimanya sambil mengangkat alis. “Aku nggak minta.”
“Aku tahu.” Vio duduk di sebelahnya. “Tapi tadi aku lihat kamu cuma beli roti. Rotinya juga belum dimakan.”
Selvara baru teringat bahwa roti itu masih ada di dalam tas. “Nanti aku makan.”
Vio menatapnya sebentar, tetapi tidak langsung mengomel. “Kamu tidur jam berapa semalam?”
“Nggak terlalu malam.”
“Jawaban itu mulai sering banget kamu pakai.”
Selvara membuka sedotan minuman. “Karena memang nggak terlalu malam.”
Vio akhirnya mengangkat kedua tangan kecil sebagai tanda menyerah. “Oke. Aku cuma nanya. Jangan pasang wajah begitu.”
“Aku juga belum marah.”
“Nah, bagus.”
Theo datang tidak lama kemudian sambil membawa dua botol air. Setelah duduk di ujung bangku, ia langsung memberi kabar yang baru diterimanya dari Adrian.
“Kak Adrian bilang pemeriksaan RA-01 dihentikan dulu sampai teknisi tambahan datang. Hari ini nggak ada yang buka jalurnya lagi.”
Selvara sedikit merilekskan bahunya. “Bagus. Setidaknya mereka nggak memaksakan pemeriksaannya.”
Lyara menyusul setelah percakapannya selesai. Begitu duduk, matanya langsung tertuju pada roti yang masih utuh di tangan Selvara.
“Kamu belum makan juga?”
Selvara mengangkat kotak minumannya. “Baru mau mulai.”
Lyara melihat minuman itu, lalu kembali menatapnya. “Minum dulu boleh, tapi rotinya dimakan juga.”
Vio langsung menunjuk Lyara dengan puas. “Nah. Aku sudah bilang dari tadi.”
Selvara menghela napas kecil sambil membuka bungkus rotinya. “Iya, iya. Aku makan sekarang.”
Theo memandang mereka bertiga. “Aku baru datang, tapi rasanya sudah masuk di tengah pembicaraan panjang.”
Vio mengambil camilan dari tas. “Nggak panjang. Kita cuma memastikan Selvara benar-benar makan.”
Selvara menggigit rotinya lalu menatap Vio. “Aku masih bisa mengurus makan sendiri.”
“Bisa, tapi tetap harus diingatkan,” balas Vio dengan santai.
Ucapan itu seharusnya tidak berarti apa-apa. Vio bahkan sudah sibuk membuka bungkus camilannya ketika Selvara tanpa sengaja teringat percakapan pagi tadi. Teman sekelasnya meminta ia mengatur presentasi. Adrian sering menunggu laporannya ketika cincin bereaksi. Theo hampir selalu melihat kepadanya lebih dulu ketika fenomena baru muncul karena Selvara memang yang paling sering merasakan perubahan sebelum orang lain.
Tidak ada seorang pun yang memaksanya melakukan semua itu. Kalau ia menolak, kemungkinan besar mereka akan menerima. Namun dalam banyak keadaan, Selvara sendiri yang lebih dulu berkata bahwa ia bisa mengurusnya.
Pada sore hari setelah pelajaran selesai, ia tetap datang ke ruang OSIS sesuai janji. Pertemuannya ternyata singkat. Adrian hanya perlu memberi tahu bahwa akses lantai sudah kembali ditutup dan Route C tidak akan diperiksa lagi sampai teknisi tambahan tiba.
Setelah menyimpan dokumen ke dalam map, Adrian melihat Selvara yang masih duduk di depan meja. “Besok kamu nggak perlu datang kalau belum ada pemeriksaan baru. Kalau ada hasil, aku kirim saja ke grup.”
Selvara berdiri sambil memasang kembali tas di bahunya. “Tidak apa-apa, Kak. Kalau memang perlu, aku bisa datang.”
Adrian berhenti merapikan map. “Aku tahu kamu bisa datang, Selvara. Tapi aku bilang kamu nggak perlu datang kalau memang belum ada yang harus dilihat.”
Selvara sempat diam sebelum akhirnya mengangguk. “Iya. Baik.”
Vio yang sejak tadi menunggu di dekat pintu tidak ikut menyela. Ia baru membuka pembicaraan setelah mereka keluar dari ruang OSIS dan mulai menuruni tangga.
“Kak Adrian tadi benar.”
Selvara meliriknya. “Tentang apa?”
“Kamu nggak harus ikut setiap kali ada pemeriksaan.” Vio tetap menatap ke depan sambil berjalan. “Kalau memang cuma nunggu kabar, ya biarkan Kak Adrian yang kirim.”
Selvara merapikan tali tasnya. “Aku juga nggak merasa keberatan kalau datang.”
Vio mengangguk pelan. “Aku tahu. Tapi kamu nggak keberatan sama sesuatu bukan berarti kamu harus selalu ambil bagian.”
Selvara ingin langsung mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja. Kalimat itu sudah hampir keluar sebelum ia menyadari betapa sering ia menggunakannya belakangan ini.
Akhirnya ia mengembuskan napas pelan. “Kalau aku mulai capek, nanti aku bilang.”
Vio menoleh kepadanya dan tersenyum sedikit. “Nah, itu saja. Aku cuma mau dengar itu.”
Mereka kemudian melanjutkan perjalanan sampai halte dan berpisah karena harus mengambil jalur bus yang berbeda.
Pada saat Selvara tiba di rumah, langit sudah mulai mendung. Setelah mengganti pakaian dan makan, ia membuka laptop untuk menyelesaikan tugas kelompok. Beberapa anggota kelompok sudah mengirim pilihan materi masing-masing, sehingga Selvara hanya perlu menyusun urutan presentasi agar penjelasan mereka tidak saling bertabrakan. Setelah itu, ia membalas pesan Adrian yang memastikan Route C tetap tidak aktif, lalu membuka foto log terbaru yang dikirim Theo.
Semua masih bisa ia tangani tanpa kesulitan.
Tugas kelompok selesai satu per satu. Pesan Adrian terjawab. Catatan Theo sudah ia baca. Selvara bahkan masih punya cukup waktu untuk mengecek ulang bagiannya sendiri sebelum malam terlalu larut.
Ketika ia berhenti menyentuh laptop selama beberapa saat, layar perlahan meredup. Tampilan yang sebelumnya terang berubah menjadi permukaan gelap, dan pantulan wajah Selvara mulai terlihat samar di sana.
Baru pada saat itu ia menyadari matanya terlihat lelah.
Selvara mengusap wajah sebentar, lalu bersandar pada kursi.
Pantulan di layar tidak ikut bergerak.
Gerakan tangannya berhenti.
Selvara kembali duduk tegak, sementara sosok di layar tetap berada dalam posisi sebelumnya dengan kedua tangan di depan laptop. Ekspresinya tenang, hampir seperti wajah yang biasa Selvara pasang ketika seseorang meminta bantuannya mengurus sesuatu.
Selvara tidak langsung menyentuh layar. Ia hanya menatap pantulan tersebut sambil memastikan apa yang dilihatnya bukan keterlambatan gambar atau perubahan cahaya dari kamar.
Beberapa detik kemudian, bibir pantulan itu bergerak.
“Aku bisa mengurusnya.”
Selvara tetap diam.
Suaranya pelan, tetapi cukup jelas untuk terdengar dari arah laptop.
Tangannya kemudian bergerak ke kotak kain yang terletak di samping perangkat. Ia menyentuh permukaannya dan langsung memastikan satu hal: cincin tetap bersuhu normal.
Pada saat yang sama, sebuah pesan baru masuk. Layar kembali menyala, tampilan gelap menghilang, dan bersama itu pantulan tadi lenyap begitu saja.
Selvara melihat notifikasi yang muncul di sudut layar, tetapi kali ini ia tidak langsung membukanya.
Ia menatap laptop beberapa detik lagi sebelum menutup layarnya.
Untuk malam itu, apa pun isi pesan tersebut bisa menunggu.
Pada malam itu, Selvara tidak langsung kembali membuka laptop setelah menutupnya. Ia membawa gelas kosong ke dapur, membilasnya di wastafel, lalu berdiri sebentar sambil mendengarkan suara televisi dari ruang tengah. Ibunya sedang menonton berita dan sesekali memindahkan saluran ketika pembahasannya mulai terlalu panjang. Dari dapur, Selvara masih bisa mendengar suara sendok beradu dengan piring, dengung lemari pendingin, dan komentar singkat ibunya terhadap berita yang baru saja lewat. Rumah tetap berjalan seperti biasa, tanpa perubahan suhu mendadak atau suara aneh dari lorong. Justru keadaan yang normal itu membuat kejadian pada layar laptop tadi terasa lebih mengganggu karena tidak ada satu pun hal lain yang bisa dipakai untuk menjelaskannya.
Ketika Selvara kembali ke kamar, layar laptop sudah menyala karena notifikasi yang belum ia buka. Pantulannya masih terlihat samar pada bagian gelap di sekitar jendela aplikasi, tetapi kali ini bergerak sesuai dengan tubuhnya ketika ia mendekat. Selvara tidak langsung membuka pesan. Ia lebih dulu mengambil kotak kain tempat cincin disimpan, menyentuh permukaannya beberapa detik, lalu memastikan suhunya tetap normal sebelum meletakkannya kembali di samping laptop.
Baru setelah itu ia membuka pesan dari Theo.
Theo menulis bahwa ia sudah memeriksa ulang log Route C dan tidak menemukan respons baru sejak sore. Selvara membalas bahwa cincin juga tidak bereaksi lagi di rumah. Setelah beberapa detik, ia menambahkan satu pesan lain.
“Tadi ada sesuatu di pantulan layar laptop.”
Balasan Theo datang tidak lama kemudian.
“Gerakannya beda dari kamu?”
Selvara menatap layar sebentar sebelum mengetik kembali. “Iya. Pantulannya nggak ikut bergerak. Setelah itu dia bilang, ‘Aku bisa mengurusnya.’”
Tanda tiga titik muncul di bawah nama Theo, hilang beberapa saat, lalu muncul lagi. Selvara hampir bisa membayangkan Theo sedang menulis terlalu banyak dan kemudian menghapus sebagian sebelum akhirnya mengirim pesan.
“Besok cerita langsung. Malam ini jangan coba munculkan lagi dari layar.”
Selvara tersenyum kecil ketika membacanya. “Aku juga nggak berniat ngetes.”
Tidak lama kemudian, Vio ikut masuk ke percakapan setelah Theo memberi tahu yang lain. Pesannya datang lebih cepat daripada yang Selvara duga.
“Serius, Sel? Itu muncul di rumah?”
Selvara membalas, “Iya. Ibu ada di ruang tengah waktu itu, tapi cuma aku yang lihat.”
Lyara kemudian ikut bertanya, “Cincinnya bereaksi waktu pantulannya muncul?”
“Nggak. Suhunya tetap normal.”
Untuk beberapa saat, tidak ada satu pun dari mereka yang mencoba menyusun teori panjang. Percakapan justru berbelok ketika Vio mengirim pesan lain.
“Besok jangan datang terlalu pagi. Sarapan dulu yang benar.”
Selvara langsung membalas, “Aku selalu sarapan.”
Jawaban Vio muncul beberapa detik kemudian. “Kemarin rotimu masih utuh sampai jam istirahat. Aku punya saksi.”
Selvara tertawa kecil di depan layar. “Itu satu kali.”
“Cukup buat bukti.”
Lyara ikut menambahkan, “Aku saksi kedua.”
Selvara menggeleng sambil tersenyum. Ketegangan yang sejak tadi tertahan di pikirannya sedikit berkurang, dan malam itu ia benar-benar menutup laptop lebih cepat daripada biasanya.
Pada pagi berikutnya, Selvara bertemu Theo di depan perpustakaan sebelum bel pertama berbunyi. Theo tidak langsung membuka ponsel atau menunjukkan catatan seperti biasanya. Begitu melihat Selvara datang, ia berdiri dari bangku dan ikut berjalan bersamanya menuju kelas.
“Kamu tidur cukup?” tanya Theo setelah mereka melewati pintu perpustakaan.
Selvara meliriknya. “Sekarang kamu juga mulai nanya begitu?”
Theo menahan senyum. “Aku cuma memastikan.”
“Cukup. Pantulannya juga nggak muncul lagi setelah laptop aku tutup.”
Theo mengangguk. Mereka terus berjalan melewati koridor yang mulai ramai, lalu baru melanjutkan pembicaraan ketika dua siswa di depan mereka berbelok menuju ruang guru.
“Aku kepikiran kalimat yang pantulan itu bilang,” kata Theo sambil tetap berjalan. “Tapi aku belum mau anggap ini kesimpulan.”
Selvara menoleh kepadanya. “Bagus. Sekarang kamu mulai kasih peringatan dulu sebelum masuk teori.”
Theo tertawa pendek. “Aku belajar. Yang aku pikirkan cuma satu. Kalimat ‘aku bisa mengurusnya’ terdengar dekat sama cara kamu sendiri bicara.”
Selvara tidak langsung menjawab. “Aku memang sering bilang begitu.”
“Nah, itu maksudku.” Theo memasukkan kedua tangan ke saku jaketnya. “Bukan berarti kamu ngomong sendiri lewat layar. Tapi mungkin pantulan itu mengambil sesuatu yang memang sudah ada dari kamu, bukan memilih kalimat secara acak.”
Selvara kembali melihat ke depan. “Jadi bukan sekadar bentuknya yang mirip aku.”
“Bisa jadi.”
“Terus yang diambil apa?”
Theo menggeleng. “Belum tahu. Bisa kebiasaan, tekanan, atau sesuatu yang sering kamu pikirkan. Aku belum punya cukup bukti buat pilih salah satu.”
Selvara mengangguk. Jawaban seperti itu jauh lebih mudah diterima daripada penjelasan yang terlalu cepat menutup kemungkinan lain.
Vio dan Lyara menemukan mereka di persimpangan koridor beberapa menit kemudian. Begitu mendekat, Vio memperhatikan Selvara sebentar dari atas sampai bawah, lalu mengangguk kecil seolah baru selesai mengecek sesuatu.
“Kamu kelihatan masih baik-baik saja.”
Selvara menatapnya datar. “Terima kasih atas pemeriksaan pagi-paginya.”
Lyara tertawa pelan. “Dia dari tadi memang begitu. Sebelum kamu datang, dia sudah tanya dua kali apa kamu kirim pesan lagi semalam.”
Vio langsung menoleh. “Aku cuma memastikan.”
Theo ikut menyahut, “Pemeriksaan visual tetap bukan metode yang kuat.”
Vio menghela napas kecil. “Aku nggak sedang bikin laporan penelitian, Theo.”
Selvara akhirnya ikut tertawa, dan pembicaraan singkat itu membuat suasana pagi terasa lebih ringan daripada yang ia bayangkan saat bangun tadi.
Mereka baru membahas pantulan itu lagi pada jam istirahat, ketika keempatnya duduk di bangku dekat halaman. Tempat itu cukup jauh dari koridor timur dan area Route C, sehingga mereka bisa berbicara tanpa terus menoleh ke arah pembatas fasilitas. Lyara mendengarkan Selvara menceritakan ulang kejadian semalam sampai selesai, mulai dari layar yang meredup, pantulan yang tidak mengikuti gerakannya, sampai kalimat yang terdengar dari arah laptop.
Setelah Selvara selesai, Lyara memegang botol minumnya dengan kedua tangan sambil berpikir beberapa saat. “Yang paling bikin aku kepikiran justru kalimatnya.”
Selvara menatapnya. “Kenapa?”
“Karena terdengar seperti kamu.”
“Suaranya?”
Lyara menggeleng. “Bukan suaranya. Cara berpikirnya. Kamu sering bilang bisa urus sesuatu sendiri kalau orang lain mulai khawatir.”
Vio yang duduk di sisi lain langsung mengangguk. “Iya. Terus biasanya setelah bilang begitu, kamu tetap ambil bagian paling banyak.”
Selvara memandang mereka bergantian. “Sekarang aku sedang diadili?”
Vio segera tersenyum kecil. “Nggak. Aku cuma setuju sama Lyara.”
Theo membuka botol minumnya sebelum ikut bicara. “Kalau fenomena itu memang mengambil tekanan yang sudah ada dari seseorang, bentuk pantulan juga masuk akal. Dia nggak perlu muncul sebagai Mist atau sosok lain kalau yang mau ditunjukkan justru sesuatu dari orang itu sendiri.”
Lyara mengangguk pelan. “Apalagi kalau yang dipantulkan bukan cuma wajah.”
Selvara tidak langsung menjawab. Ia melihat ke halaman sekolah, tempat beberapa siswa berjalan menuju kantin sambil membawa makanan, sedangkan dari lapangan terdengar suara bola memantul dan peluit guru olahraga. Semua tetap terlihat biasa, tetapi pembicaraan itu menyentuh sesuatu yang terlalu mudah ia kenali dalam dirinya sendiri.
Di kelas, teman-temannya sering meminta bantuan untuk menyusun pekerjaan kelompok. Dalam penyelidikan, Adrian dan yang lain hampir selalu melihat kepadanya lebih dulu ketika cincin bereaksi karena Selvara memang yang paling cepat merasakan perubahan. Theo juga sering menunggu pengamatannya sebelum menyusun kemungkinan baru. Tidak ada seorang pun yang sengaja menaruh semuanya di pundaknya, tetapi Selvara sendiri hampir selalu menjadi orang yang berkata bahwa ia masih bisa mengurusnya.
Vio memperhatikan wajahnya beberapa saat sebelum mengubah nada percakapan. “Kalau nanti pantulannya mulai bilang kamu harus bikin jadwal semua orang, baru aku benar-benar protes.”
Selvara tertawa kecil. “Kalau sampai begitu, mungkin aku yang matikan layarnya duluan.”
Lyara ikut tersenyum, tetapi setelah itu ia kembali menatap Selvara dengan nada yang lebih lembut. “Tapi serius, Sel. Kalau ada bagian dari kamu yang mulai capek, bilang saja. Nggak perlu tunggu sampai semuanya menumpuk.”
Selvara menatap Lyara beberapa saat sebelum mengangguk. “Iya. Kalau memang mulai berat, aku bilang.”
Vio tidak menambahkan komentar apa pun. Ia hanya mengangguk sekali, dan justru karena itu Selvara merasa jawabannya kali ini tidak terdengar seperti kalimat yang dipakai untuk menutup pembicaraan.
Pada sore hari, Adrian mengirim kabar bahwa Route C tetap tidak menunjukkan aktivitas baru dan pemeriksaan masih ditunda sampai teknisi tambahan datang. Karena tidak ada alasan untuk berkumpul di ruang OSIS, Selvara langsung pulang dan menggunakan waktu kosong itu untuk menyelesaikan tugas presentasi kelompok.
Ia menyusun urutan materi sesuai pilihan masing-masing anggota, memperbaiki dua bagian yang masih tumpang tindih, lalu mengirim susunan akhirnya ke grup. Setelah itu, ia melihat satu bagian masih kosong karena salah satu anggota kelompok belum menyelesaikan tugasnya.
Secara refleks, Selvara hampir membuka dokumen bagian tersebut.
Tangannya sudah berada di atas tetikus ketika ia teringat percakapan pada siang tadi.
Ia berhenti dan menarik tangannya kembali.
Beberapa menit kemudian, pesan dari anggota kelompok itu masuk.
“Maaf, Sel. Bagian aku belum selesai. Aku kirim malam ini.”
Biasanya Selvara akan langsung menawarkan bantuan agar semuanya cepat selesai. Kali ini ia membaca pesannya sekali lagi sebelum membalas, “Nggak apa-apa. Selesaikan bagianmu dulu. Kalau ada yang benar-benar nggak paham, baru tanya aku.”
Balasan datang tidak lama kemudian. “Siap. Terima kasih, Sel.”
Selvara meletakkan kedua tangannya di meja lalu bersandar pada kursi. Untuk pertama kalinya sejak tugas itu dibagikan, ia membiarkan bagian orang lain tetap menjadi tanggung jawab orang tersebut tanpa merasa perlu langsung turun tangan.
Layar laptop perlahan meredup karena tidak disentuh.
Pantulan Selvara mulai muncul pada permukaan gelapnya.
Kali ini ia tidak bergerak.
Pantulan itu juga diam selama beberapa detik, seolah hanya bayangan biasa. Namun setelah beberapa saat, kepalanya bergerak sedikit ke samping meskipun Selvara tetap menghadap lurus.
Bibir pantulan itu terbuka.
“Aku bisa mengurus semuanya.”
Selvara menatap layar tanpa menjauh. Kalimat itu hampir sama dengan malam sebelumnya, tetapi kali ini ia memahami bagian mana yang sedang disentuh oleh pantulan tersebut. Bukan sekadar kebiasaannya membantu orang lain atau kemampuannya menyelesaikan masalah, melainkan keyakinan kecil yang selama ini selalu ia biarkan tumbuh tanpa banyak dipertanyakan: selama ia masih sanggup berdiri, semuanya masih bisa ia tangani sendiri. Pada pagi berikutnya, Selvara sengaja tidak membuka laptop sebelum berangkat sekolah. Ia hanya memeriksa pesan dari ponsel, memastikan tidak ada kabar mendesak dari Adrian, lalu menyimpan perangkat itu setelah melihat Route C masih belum menunjukkan aktivitas baru. Pantulan yang muncul semalam tetap ada di pikirannya, tetapi Selvara tidak ingin memulai hari dengan menunggu layar menjadi gelap hanya untuk melihat apakah sosok itu akan muncul lagi.
Di sekolah, keadaan justru terasa lebih sibuk daripada dua hari sebelumnya. Presentasi kelompok mereka akan dilakukan pada hari Senin, sehingga saat pelajaran pertama selesai, salah satu anggota kelompok langsung menghampiri meja Selvara sambil membawa tablet.
“Sel, boleh lihat bagian aku sebentar?” tanyanya sambil membuka halaman presentasi. “Aku sudah selesai, tapi rasanya penjelasannya masih berantakan.”
Selvara menerima tabletnya dan membaca beberapa bagian. Materinya sebenarnya sudah cukup lengkap. Hanya urutannya yang masih membuat dua penjelasan terasa terpisah.
“Bagian ini pindahkan ke atas,” kata Selvara sambil menunjuk layar. “Terus yang ini tidak perlu diulang lagi di bawah. Isinya sudah sama.”
Temannya memperhatikan beberapa detik, lalu mengangguk. “Oh, iya. Pantas tadi rasanya muter-muter.”
“Yang lain sudah bagus. Kamu tinggal rapikan dua bagian itu.”
Temannya mengambil kembali tablet tersebut. “Aku kira bakal banyak yang harus diubah.”
Selvara tersenyum kecil. “Nggak sebanyak itu.”
Setelah temannya pergi, Selvara sempat merasa sedikit lega. Ia membantu tanpa mengambil pekerjaan orang lain, dan ternyata tidak ada apa pun yang runtuh hanya karena ia tidak ikut memperbaiki seluruh bagian presentasi.
Namun tidak sampai sepuluh menit kemudian, siswa lain dari kelompok yang sama menghampiri.
“Selvara, kalau nanti pas presentasi aku lupa bagian penutup, kamu bisa bantu sambung, kan?”
Selvara menatapnya sebentar. “Kalau memang lupa di tengah, nanti aku bantu. Tapi kamu tetap pelajari bagiannya dulu.”
“Iya, pasti.” Siswa itu tertawa kecil. “Aku cuma lebih tenang kalau kamu ada.”
Kalimat tersebut terdengar biasa. Bahkan cukup menyenangkan kalau dipikirkan sebagai bentuk kepercayaan. Selvara membalas dengan senyum sebelum temannya kembali ke kursi, tetapi setelah itu ia tidak langsung membuka bukunya.
“Aku lebih tenang kalau kamu ada.”
Entah kenapa kalimat itu tertinggal lebih lama daripada seharusnya.
Pada jam istirahat, Selvara bertemu Vio dan Lyara di dekat kantin. Theo belum terlihat karena masih membantu guru membawa beberapa dokumen ke ruang OSIS. Vio sedang membuka bungkus makanan ketika Selvara duduk di depan mereka.
“Kelompok presentasimu masih sibuk?” tanya Vio sambil menggeser tempat minum agar Selvara punya ruang lebih luas di meja.
“Lumayan. Tapi sudah hampir selesai.”
Lyara menatap Selvara sambil membuka bekal. “Kamu bantu lagi?”
“Cuma lihat urutannya. Aku nggak ambil bagian mereka.”
Vio mengangguk sambil tersenyum. “Nah, bagus. Ada perkembangan.”
Selvara langsung menatapnya. “Kedengarannya seperti aku baru belajar hal penting.”
Vio tertawa. “Ya memang agak penting.”
Lyara ikut tersenyum. “Jangan dengarkan cara Vio ngomongnya. Tapi memang bagus kalau kamu mulai kasih batas.”
Selvara membuka botol minumnya. “Aku masih bantu kalau memang perlu.”
“Tidak ada yang menyuruh kamu berhenti membantu,” kata Lyara dengan nada santai. “Cuma tidak semuanya harus kamu bereskan sendiri.”
Selvara mengangguk sambil mulai makan. Pembicaraan kemudian berpindah ke hal lain, mulai dari tugas minggu depan sampai guru yang salah menulis nomor soal di papan. Untuk beberapa saat, pantulan semalam benar-benar hilang dari pikirannya.
Baru pada sore hari, setelah kelas mulai kosong, perasaan itu kembali.
Selvara masih berada di ruang kelas bersama dua anggota kelompok untuk mengecek urutan presentasi terakhir. Setelah memastikan semua bagian sudah masuk, ia menutup dokumen dan menyerahkan kembali tablet kepada pemiliknya.
“Sudah. Tinggal latihan supaya waktunya nggak lewat.”
Temannya melihat layar sekali lagi. “Sel, kamu yakin bagian aku cukup?”
“Cukup. Jangan ditambah lagi, nanti malah terlalu panjang.”
“Oke.” Temannya memasukkan tablet ke tas, lalu tersenyum lega. “Untung ada kamu. Kalau sendiri, aku pasti masih bongkar semuanya.”
Selvara tertawa kecil. “Jangan dibongkar lagi.”
Beberapa menit kemudian mereka berdua pergi, meninggalkan Selvara sendirian di kelas karena ia masih harus memasukkan buku ke tas. Di luar jendela, langit sudah mulai berubah warna menjelang sore, sedangkan koridor terdengar lebih sepi karena sebagian besar siswa sudah pulang atau berpindah ke kegiatan klub.
Selvara menutup tas, lalu berdiri.
Pada kaca jendela di sampingnya, pantulan tubuhnya terlihat samar di atas pemandangan halaman sekolah.
Selvara langsung berhenti.
Pantulan itu juga berhenti.
Untuk beberapa detik, tidak ada sesuatu yang berbeda. Selvara bahkan hampir menganggap dirinya terlalu waspada setelah kejadian dua malam terakhir.
Kemudian pantulan di kaca menoleh ke arahnya.
Selvara tetap menghadap jendela.
Tubuh aslinya tidak bergerak.
Pantulan itu sekarang memandang langsung kepadanya dari dalam kaca.
Selvara tidak mendekat. Tangannya hanya bergerak ke sisi tas untuk memastikan kotak cincin masih berada di tempatnya. Tidak ada dingin yang muncul.
Bibir pantulan itu bergerak lebih dulu.
“Mereka butuh kamu.”
Suaranya tidak keras, tetapi terdengar jelas di kelas yang sudah kosong.
Selvara menarik napas pelan sebelum menjawab, “Mereka bisa mengurus bagian mereka sendiri.”
Pantulan itu tidak menghilang.
Justru untuk pertama kalinya, ekspresinya berubah sedikit, seolah jawaban Selvara benar-benar didengar.
“Tapi mereka lebih tenang kalau kamu yang urus.”
Selvara menatapnya. Kalimat itu terlalu dekat dengan ucapan temannya pagi tadi untuk dianggap kebetulan sederhana.
“Aku bisa bantu tanpa mengambil semuanya.”
Pantulan di kaca tersenyum tipis.
“Memangnya kamu bisa diam kalau mereka salah?”
Selvara tidak langsung menjawab.
Pertanyaan itu membuatnya teringat beberapa keadaan yang selama ini terasa biasa: tugas kelompok yang akhirnya ia perbaiki sendiri karena lebih cepat, pembicaraan penyelidikan yang ia ikuti meski sudah lelah, serta setiap kali ia tetap datang ke ruang OSIS walaupun Adrian sudah mengatakan cukup menunggu kabar dari grup.
Selvara merapatkan tali tas di bahunya. “Kalau memang salah, ya dibantu. Bukan berarti semuanya harus aku yang selesaikan.”
Pantulan itu masih menatapnya.
“Kamu bilang begitu sekarang.”
Nada suaranya tidak mengejek. Justru terdengar hampir sama dengan Selvara sendiri ketika sedang mengatakan sesuatu yang ia anggap masuk akal.
Kemudian dari koridor terdengar langkah siswa lain yang sedang berjalan mendekati kelas.
Selvara sempat menoleh ke pintu.
Ketika pandangannya kembali ke jendela, pantulan itu sudah mengikuti gerakannya seperti biasa.
Seorang siswa dari kelas sebelah lewat di depan pintu sambil membawa tas besar, lalu mengangguk kecil ketika melihat Selvara masih berada di dalam. “Belum pulang, Sel?”
Selvara mengangkat tasnya. “Ini juga mau pulang.”
Setelah siswa itu pergi, Selvara tidak kembali memeriksa kaca.
Ia langsung keluar dari kelas dan berjalan menuju tangga. Di tengah perjalanan, ia mengirim satu pesan ke grup kecil mereka.
“Aku lihat pantulannya lagi. Kali ini dia jawab waktu aku bicara.”
Theo membalas lebih dulu. “Jangan tes lagi kalau muncul.”
Vio menyusul beberapa detik kemudian. “Kamu sekarang masih di sekolah?”
“Iya. Aku lagi ke gerbang.”
Balasan Vio muncul cepat. “Jangan sendirian di kelas lagi kalau sudah sepi.”
Selvara hampir mengetik bahwa dirinya baik-baik saja, tetapi ia berhenti sebelum kalimat itu selesai.
Setelah menghapusnya, ia mengganti jawabannya.
“Iya. Besok kalau harus tinggal, aku tunggu kalian.”
Vio hanya membalas, “Nah, begitu.”
Selvara menyimpan ponselnya sambil terus berjalan ke arah gerbang.
Pantulan itu kini tidak lagi sekadar mengulang kalimat yang dekat dengan pikirannya.
Ia sudah mulai mendengarkan.
Dan yang lebih membuat Selvara tidak nyaman, sosok itu tahu persis bagian mana dari perkataan orang lain yang perlu diambil untuk membuat jawabannya terasa masuk akal.
Pada pagi berikutnya, Selvara tidak datang lebih awal seperti biasanya. Ia baru melewati gerbang beberapa menit sebelum bel pertama berbunyi, ketika halaman sekolah sudah ramai oleh siswa yang berjalan menuju kelas. Setelah kejadian kemarin, ia memang sengaja tidak berangkat terlalu pagi. Tidak ada alasan untuk berada sendirian di kelas hanya karena terbiasa datang lebih dulu, apalagi Vio sudah berkali-kali mengingatkannya agar tidak menunggu sampai gedung mulai sepi.
Vio ternyata sudah berdiri di dekat tangga bersama Lyara. Begitu melihat Selvara mendekat, ia langsung tersenyum. “Akhirnya datang juga. Kukira kamu bakal sampai duluan lagi.”
Selvara menghampiri mereka sambil merapikan tali tas. “Aku juga bisa datang seperti orang biasa.”
“Bisa, sih,” jawab Vio. Ia sempat melihat jam di ponselnya sebelum menyimpannya lagi. “Cuma belakangan kalau kami datang, kamu biasanya sudah entah di kelas atau jalan ke mana dulu.”
Lyara tersenyum kecil dari samping. “Tadi dia bahkan sempat lihat ke arah koridor. Takut kamu sudah lewat tanpa kelihatan.”
Selvara langsung menoleh kepada Vio. “Jadi sekarang malah kamu yang datang lebih pagi buat ngecek aku?”
Vio terdiam sepersekian detik sebelum tertawa. “Kalau dipikir-pikir, iya juga.”
“Nah.”
“Jangan senang dulu. Aku tetap nggak mau kamu sendirian di kelas sore-sore lagi.”
Selvara hanya menggeleng sambil tersenyum, lalu mereka masuk bersama. Theo bergabung ketika mereka sampai di persimpangan lantai satu. Ia datang dari arah perpustakaan dan langsung menyesuaikan langkah tanpa membuka ponsel seperti biasanya.
“Semalam pantulannya muncul lagi?” tanya Theo setelah mereka mulai menaiki tangga.
“Nggak,” jawab Selvara. “Di rumah juga nggak ada apa-apa.”
Theo mengangguk. “Yang kemarin di kelas, dia benar-benar menjawab setelah kamu bicara?”
“Iya. Bukan sekadar mengulang kalimat yang pernah aku dengar.”
Vio yang berjalan satu anak tangga di belakang mereka ikut menyahut, “Itu yang bikin aku lebih nggak nyaman. Kalau cuma ngulang, masih bisa dibilang kayak rekaman aneh. Sekarang dia sudah menanggapi.”