Chapter 2 - Episode 20
Pada Senin pagi, Selvara baru sampai di kelas ketika salah satu anggota kelompok presentasinya menghampiri meja dengan wajah bingung.
Ia masih memegang buku yang belum sempat dimasukkan ke tas, sementara beberapa siswa lain sibuk memindahkan kursi setelah pelajaran pertama dibatalkan karena guru mereka harus menghadiri rapat.
“Sel, yang bagian kesimpulan jadi diganti lagi?” tanyanya.
Selvara berhenti mengeluarkan buku. “Diganti bagaimana?”
“Kemarin kamu bilang bagian terakhir lebih baik dipendekkan.”
Selvara mengernyit. “Kemarin kita nggak ketemu.”
Temannya ikut terdiam. “Bukan kemarin sore. Tadi pagi.”
Selvara melihat jam dinding, lalu kembali menatapnya. Ia baru masuk ke sekolah sekitar sepuluh menit lalu dan langsung menuju kelas tanpa berhenti di tempat lain.
“Kamu ketemu aku di mana?”
“Dekat tangga belakang.” Temannya menunjuk ke arah luar kelas. “Aku lagi naik, terus kamu bilang bagian terakhir kepanjangan dan minta aku potong dua paragraf.”
Selvara tidak langsung menganggap cerita itu berkaitan dengan pantulan. Koridor pagi cukup ramai, seragam mereka sama, dan dari jarak tertentu orang memang bisa salah mengenali wajah.
“Kamu yakin itu aku?”
Temannya mulai terlihat ragu. “Aku nggak ngobrol lama, sih. Kamu juga langsung jalan lagi.”
“Suara orangnya?”
“Ya... kupikir suara kamu.”
Selvara menutup tasnya perlahan. “Bagian kesimpulannya jangan diubah dulu. Yang kemarin sudah cukup.”
“Oh, oke.” Temannya masih tampak bingung, tetapi akhirnya mengangguk. “Mungkin aku salah lihat.”
“Mungkin.”
Selvara membiarkannya kembali ke tempat duduk, namun setelah itu ia tidak langsung membuka buku.
Beberapa hari terakhir, pantulan hanya muncul ketika ia sendiri sedang memperhatikan kaca, layar, atau permukaan yang bisa memantulkan wajahnya. Sosok itu belum pernah berjalan di koridor dan berbicara kepada orang lain.
Setidaknya belum ada bukti bahwa hal semacam itu terjadi.
Saat jam istirahat, Selvara menceritakan kejadian tersebut kepada Vio, Theo, dan Lyara di dekat taman samping gedung. Ia sengaja tidak memakai kata “Fake” atau “Malice Echo” karena mereka sendiri belum tahu apa yang sebenarnya dilihat teman sekelasnya.
Vio yang tadi sedang membuka botol minum langsung berhenti. “Dia bilang ketemu kamu pagi tadi?”
“Iya. Dekat tangga belakang.”
“Padahal kamu baru datang?”
Selvara mengangguk. “Aku masuk lewat depan dan langsung ke kelas.”
Theo duduk sedikit maju. “Ada kemungkinan dia salah orang. Kalau cuma lihat sebentar, itu masih masuk akal.”
“Aku juga mikir begitu,” jawab Selvara. “Makanya jangan langsung disambung ke pantulan.”
Lyara memandang Selvara beberapa saat sebelum bertanya, “Tapi orang itu bicara soal tugas kelompokmu. Kalau cuma salah lihat orang, kenapa dia tahu soal kesimpulannya?”
“Itu bagian yang bikin aku nggak tahu.”
Vio menutup botolnya. “Ada teman lain yang tahu bagian itu?”
“Semua anggota kelompok tahu kami sempat bahas durasi. Jadi sebenarnya bukan informasi rahasia.”
Theo mengangguk. “Berarti masih ada penjelasan biasa. Bisa saja ada orang lain yang ngomong, terus temanmu salah ingat siapa.”
Vio meliriknya. “Yang penting sekarang jangan sampai kita mulai nanya satu sekolah siapa yang lihat Selvara.”
“Nggak perlu,” kata Selvara. “Kalau cuma satu orang, kita tunggu dulu.”
Pembicaraan berhenti sampai di sana. Mereka masih punya kelas berikutnya, dan Selvara sendiri tidak ingin menghabiskan satu hari hanya untuk mengejar kejadian yang mungkin memang berasal dari salah lihat.
Namun sebelum jam makan siang selesai, kejadian kedua muncul.
Kali ini Lyara yang menemukannya lebih dulu.
Ia datang ke kelas Selvara bersama Vio, lalu berhenti di depan pintu sambil memanggil namanya. Ketika Selvara keluar, Lyara menunjukkan pesan dari salah satu anggota klub musik.
“Dia tadi tanya kenapa kamu masuk ke ruang musik terus pergi lagi tanpa ngomong.”
Selvara membaca pesannya. “Aku bahkan belum ke gedung sana hari ini.”
“Itu yang aku bilang.”
Vio berdiri di samping mereka dan membaca dari layar Lyara. “Dia lihat jelas?”
“Katanya cuma dari belakang,” jawab Lyara. “Tapi orangnya pakai pita rambut yang mirip punya Selvara.”
Selvara tanpa sadar menyentuh rambutnya. Pita yang ia pakai memang cukup sederhana dan bukan benda yang hanya dimiliki dirinya, tetapi dua kesalahan pengenalan dalam satu hari mulai terasa terlalu dekat untuk diabaikan.
“Jam berapa?”
Lyara melihat pesan berikutnya. “Sekitar dua belas lewat sedikit.”
Saat itu Selvara masih berada di kelas bersama guru.
Vio memandang koridor di belakang mereka. “Kalau yang pertama mungkin salah orang, yang kedua juga masih mungkin. Tapi mulai aneh kalau tempatnya beda dan waktunya jelas.”
Theo baru bergabung beberapa menit kemudian setelah dipanggil Vio. Setelah mendengar dua kejadian tersebut, ia tetap menahan kesimpulan.
“Kita punya dua laporan orang melihat seseorang yang mereka kira Selvara. Belum ada yang melihat wajahnya jelas.”
Selvara mengangguk. “Jadi kita pegang itu saja.”
Vio memandang Selvara. “Pantulannya sendiri muncul hari ini?”
“Nggak.”
“Cincin?”
“Normal.”
Lyara memasukkan ponselnya ke tas. “Kalau ada lagi, baru kita bandingkan.”
Mereka berpisah setelah itu karena kelas segera dimulai.
Sore hari, Selvara sempat berharap dua kejadian tadi berhenti sebagai kebetulan yang tidak perlu dibahas lebih jauh. Adrian bahkan mengabarkan bahwa RA-01 dan Route C tidak menunjukkan respons sejak pagi, sehingga untuk sementara mereka juga tidak punya alasan menghubungkan gangguan di sekolah dengan sistem lama di bawah bangunan.
Setelah pelajaran selesai, Selvara keluar bersama Vio. Theo masih harus ke perpustakaan, sedangkan Lyara menuju ruang musik untuk mengambil buku yang tertinggal. Koridor lantai dua sudah mulai sepi, tetapi beberapa siswa masih berjalan di depan mereka menuju tangga utama.
Vio sedang bercerita tentang salah satu tugas yang salah dicetak ketika Selvara melewati jendela panjang di sisi kanan.
Tidak ada sesuatu yang langsung menarik perhatiannya.
Ia bahkan tidak menoleh ke kaca.
Vio yang berhenti lebih dulu.
“Sel.”
Selvara melihatnya. “Kenapa?”
Vio tidak menjawab saat itu juga. Tatapannya tertahan pada kaca di sebelah mereka.
Selvara ikut melihat.
Pantulannya berdiri di sana.
Tubuh asli Selvara masih menghadap Vio, tetapi sosok di kaca menghadap lurus ke arah koridor. Rambut, seragam, pita, dan tasnya sama. Bahkan posisi tali tas di bahunya terlihat sama seperti beberapa menit sebelumnya.
Selvara mundur setengah langkah.
Pantulan itu tidak ikut mundur.
Vio menarik napas pendek. “Oke. Aku lihat.”
Selvara langsung menoleh kepadanya. “Kamu benar-benar lihat dia?”
“Iya.”
Ini pertama kalinya Vio melihat pantulan Selvara bergerak sendiri tanpa Mist menutupi kaca dan tanpa sosok lain berdiri di dalam kabut.
Pantulan tersebut perlahan menoleh ke arah mereka.
Vio tidak mendekat. “Sel, kita pergi saja.”
Selvara mengangguk. “Iya.”
Mereka baru hendak berjalan ketika bibir sosok di kaca bergerak.
Selvara tidak mendengar suara apa pun.
Vio justru membeku sebentar.
Selvara langsung melihatnya. “Kamu dengar?”
Vio menggeleng pelan. “Nggak dengar. Tapi aku bisa baca mulutnya.”
“Apa?”
Vio masih menatap kaca, lalu menjawab tanpa mencoba menebak lebih jauh.
“Dia bilang, ‘Aku yang mereka lihat.’”
Selvara kembali memandang pantulan itu.
Sosok tersebut tersenyum kecil.
Bukan kepada Selvara.
Kepada Vio.
Selvara langsung menarik lengan Vio menjauh dari jendela. “Kita turun.”
Vio tidak membantah. Mereka berjalan menuju tangga tanpa menoleh lagi, lalu baru menghubungi Theo, Lyara, dan Adrian setelah berada di lantai satu yang masih ramai.
Untuk pertama kalinya sejak pantulan itu mulai berbicara, Selvara tidak lagi menjadi satu-satunya orang yang bisa melihatnya.
Dan sosok itu sekarang tahu bahwa Vio juga sedang melihat balik.
Begitu sampai di lantai satu, Selvara dan Vio tidak berhenti di dekat tangga. Mereka terus berjalan sampai menemukan area yang masih ramai oleh siswa yang sedang pulang, lalu baru memperlambat langkah di dekat pintu utama. Selvara segera mengirim pesan ke grup kecil mereka, sedangkan Vio berdiri di sampingnya sambil beberapa kali melihat ke arah lantai dua meskipun jendela tempat sosok itu muncul sudah tidak terlihat dari posisi mereka.
Theo membalas paling cepat dan meminta mereka tetap di tempat. Lyara yang masih berada di ruang musik juga langsung bergerak turun, sementara Adrian mengatakan ia sedang menuju lobi dari ruang OSIS.
Vio baru bicara setelah Selvara menyimpan ponselnya. “Aku serius tadi lihat dia, Sel. Bukan cuma pantulan yang telat gerak.”
“Aku tahu.”
“Dan dia lihat aku balik.”
Selvara menoleh kepadanya. Wajah Vio tidak panik, tetapi jelas belum bisa melepaskan kejadian beberapa menit sebelumnya.
“Kamu dengar suara apa pun?”
Vio menggeleng. “Nggak ada. Mulutnya bergerak saja. Tapi kalimatnya jelas.”
Selvara mengingat senyum tipis yang muncul setelah sosok itu sadar Vio memperhatikannya. “Yang bikin aku lebih kepikiran justru bagian itu.”
“Karena dia tahu aku bisa lihat?”
“Iya.”
Vio memasukkan kedua tangan ke saku jaket. “Berarti sekarang bukan cuma kamu yang bisa masuk ke... apa pun ini.”
Selvara tidak langsung mengiyakan. “Belum tentu masuk. Kamu baru lihat sekali.”
“Ya, semoga cuma sekali.”
Nada Vio cukup ringan untuk membuat Selvara tersenyum kecil, meskipun keduanya tahu kemungkinan itu tidak bisa diandalkan.
Theo datang dari arah perpustakaan beberapa menit kemudian. Ia tidak langsung membuka catatan atau mengeluarkan ponsel. Setelah memastikan Selvara dan Vio masih berada di tempat yang ramai, ia berdiri di depan mereka dan meminta Vio menceritakan kejadian dari awal.
Vio menjelaskan tanpa banyak tambahan. Ia melihat pantulan Selvara bergerak sendiri, menyadari posisi tubuh di kaca tidak sesuai dengan Selvara yang asli, lalu membaca kalimat dari gerakan bibir sosok tersebut. Theo hanya menyela sekali untuk memastikan apakah bentuk pantulannya sama persis dengan Selvara.
“Sama,” jawab Vio. “Bukan mirip. Seragamnya sama, tasnya sama, rambutnya juga sama. Bahkan pita rambutnya kelihatan.”
Theo memandang Selvara. “Itu penting, karena pagi tadi dua orang juga melihat seseorang dengan penampilan yang mirip kamu.”
Selvara mengangguk. “Tapi mereka nggak lihat wajah jelas.”
“Makanya belum bisa dipastikan itu sosok yang sama.”
Lyara tiba tidak lama kemudian dan langsung berdiri di sisi Selvara. “Aku baca pesannya. Vio benar-benar bisa lihat?”
Vio mengangguk. “Sayangnya iya.”
Lyara memandang ke arah tangga sebelum kembali melihat Selvara. “Kamu sendiri masih bisa lihat dia setelah turun?”
“Nggak. Aku nggak cek lagi.”
“Bagus.”
Adrian datang terakhir sambil membawa map tipis dari ruang OSIS. Setelah mendengar cerita Vio, ia mengajak mereka pindah ke ruang OSIS supaya tidak terus berdiri di lobi sambil membicarakan hal yang mulai menarik perhatian siswa lain.
Rikuya belum bisa ikut karena latihan sore, sehingga Adrian hanya mengirim pesan singkat kepadanya agar tidak melewati koridor belakang sendirian jika pulang lebih malam.
Begitu mereka duduk, Adrian langsung bertanya kepada Selvara, “Cincinnya bereaksi tadi?”
Selvara menyentuh sisi tasnya sekali lagi. “Nggak. Dari awal tetap normal.”
Theo mengangguk kecil. “Sama seperti kemunculan pantulan beberapa hari terakhir.”
Vio duduk di sebelah Lyara dan menatap meja. “Kalau begitu, pantulan ini memang beda dari Mist.”
“Belum tentu sepenuhnya terpisah,” jawab Theo. “Tapi setidaknya cincin nggak memberi reaksi yang sama.”
Adrian membuka map yang dibawanya. “RA-01 juga belum merespons sejak tadi siang.”
Selvara menatapnya. “Berarti waktu Vio lihat sosok itu, node-nya diam?”
“Iya.”
Lyara menyandarkan punggung ke kursi. “Jadi untuk sekarang kita jangan paksa hubungan ke RA-01.”
Adrian mengangguk. “Setuju.”
Selvara merasa sedikit lega mendengarnya. Semakin banyak kejadian yang muncul, semakin mudah semuanya ditarik ke satu pusat hanya karena sama-sama aneh. Padahal beberapa pola sudah menunjukkan perilaku berbeda.
Vio kemudian melihat Selvara. “Aku mau tanya satu hal.”
“Apa?”
“Tadi sebelum aku sadar ada yang aneh, kamu sendiri sudah lihat pantulannya?”
Selvara menggeleng. “Nggak. Aku malah lihat kamu berhenti dulu.”
Theo langsung menangkap maksud pertanyaan itu. “Berarti kali ini Vio yang menyadarinya lebih dulu.”
“Iya,” jawab Selvara.
Ruangan menjadi sedikit lebih tenang.
Selama beberapa hari terakhir, sosok tersebut selalu muncul dalam perhatian Selvara lebih dulu. Kali ini urutannya berubah. Vio melihatnya sebelum Selvara sadar ada sesuatu di kaca.
Lyara menatap Vio. “Kamu tadi memang lagi lihat jendelanya?”
“Nggak sengaja. Aku cuma berhenti karena pantulannya aneh.”
“Berarti dia nggak harus menunggu Selvara sadar dulu.”
Theo mengangguk. “Dan itu juga membuka kemungkinan laporan pagi tadi memang bukan salah lihat biasa.”
Selvara menatap meja. “Kalau benar orang lain mulai bisa lihat dia tanpa aku ada di dekat situ, masalahnya berubah.”
Adrian menutup mapnya. “Iya. Makanya besok kita cek laporan yang ada tanpa bikin keributan. Jangan cari orang baru buat ditanya. Kalau ada yang memang ngomong soal kamu muncul di tempat lain, baru kita catat.”
Vio mengangkat tangan kecil. “Aku dukung bagian jangan bikin keributan.”
Selvara menatapnya. “Kamu dari tadi paling serius.”
Vio tersenyum tipis. “Sekali-sekali.”
Percakapan berakhir sebelum terlalu lama. Adrian masih harus menyelesaikan beberapa urusan, sementara mereka semua sepakat tidak kembali ke lantai dua untuk memeriksa jendela yang sama. Selvara pulang bersama Vio dan Lyara sampai halte, lalu mereka berpisah seperti biasa.
Pada malam hari, tidak ada pantulan yang bergerak sendiri di rumah.
Selvara sempat melihat cermin kamar sebelum tidur, tetapi bayangannya mengikuti setiap gerakan. Cincin juga tetap normal. Setelah beberapa menit, ia mematikan lampu meja dan berhenti memikirkan kejadian sore tadi.
Pagi berikutnya, keadaan berubah lagi.
Ketika Selvara baru masuk ke kelas, dua siswa sedang berdiri di dekat mejanya sambil membicarakan sesuatu. Salah satunya langsung menoleh ketika melihat Selvara datang.
“Sel, tadi kamu habis dari ruang guru?”
Selvara berhenti. “Nggak.”
Siswa itu mengerutkan kening. “Serius?”
“Iya. Aku baru sampai.”
Temannya yang berdiri di samping ikut bicara, “Kami lihat kamu keluar dari lorong sana beberapa menit lalu.”
Selvara menaruh tas di kursi tanpa langsung menjawab. “Kalian lihat wajahnya?”
Kedua siswa saling melihat.
“Dari samping,” jawab yang pertama. “Tapi mirip banget.”
“Dia ngomong sesuatu?”
“Nggak. Cuma lewat.”
Selvara mengangguk kecil. “Kalau begitu mungkin kalian salah lihat.”
Mereka tampak masih ragu, tetapi akhirnya kembali ke tempat masing-masing.
Selvara baru duduk ketika ponselnya bergetar.
Pesan dari Vio.
“Aku baru lihat kamu di dekat tangga timur.”
Selvara langsung membuka percakapan.
“Aku di kelas.”
Balasan Vio datang beberapa detik kemudian.
“Aku tahu. Makanya aku kirim pesan.”
Selvara menatap layar cukup lama.
Kali ini tidak ada ruang untuk salah ingat sederhana.
Vio tahu persis Selvara ada di kelas.
Namun beberapa menit sebelumnya, ia tetap melihat seseorang dengan wajah dan penampilan yang sama berjalan di bagian lain sekolah.
Selvara tidak langsung keluar kelas setelah membaca pesan Vio. Ia membalas lebih dulu bahwa dirinya tetap di tempat, lalu meminta Vio jangan mengikuti sosok yang baru dilihatnya. Kalau orang itu memang hanya siswa lain yang kebetulan mirip, mengejarnya akan membuat keadaan semakin aneh. Kalau ternyata berkaitan dengan pantulan, Selvara juga tidak ingin Vio mendekat sendirian.
Balasan Vio muncul tidak lama kemudian. “Aku nggak ngejar. Dia sudah belok sebelum aku sempat lihat lebih jelas.”
Selvara baru berdiri ketika Theo masuk ke kelas dari pintu depan. Rupanya Vio sudah mengirim pesan kepadanya juga.
“Kamu benar dari tadi di sini?” tanya Theo setelah mendekati meja Selvara.
“Iya. Dua anak di kelas juga bilang mereka lihat orang yang mirip aku dekat ruang guru.”
Theo melihat ke arah pintu, lalu kembali kepada Selvara. “Kalau waktunya dekat sama yang dilihat Vio, berarti kemungkinan ada lebih dari satu laporan tentang sosok yang sama.”
“Atau dua orang berbeda yang sama-sama salah lihat.”
“Masih mungkin.”
Selvara memasukkan buku ke tas. “Kita cari Vio dulu. Jangan cari orang yang mirip aku.”
Theo mengangguk. “Itu lebih penting.”
Mereka menemukan Vio di dekat tangga timur bersama Lyara. Vio masih berada di tempat yang cukup ramai dan tampak lega ketika Selvara benar-benar muncul dari arah kelas.
“Ini baru kamu,” katanya sambil menunjuk Selvara kecil-kecil.
Selvara mengangkat alis. “Terima kasih sudah memastikan.”
Vio tertawa pendek. “Setelah pagi ini, aku merasa perlu.”
Lyara berdiri di sampingnya sambil membawa map musik. “Vio tadi lihat dari samping dulu, baru pas orangnya belok dia sempat lihat wajahnya.”
Selvara langsung bertanya, “Sejelas apa?”
Vio memikirkan jawabannya sebentar. “Cukup jelas buat bikin aku berhenti. Rambutnya sama, pita sama, seragamnya juga kelihatan sama. Yang bikin aku langsung curiga, dia jalan ke koridor timur padahal aku tahu kamu harusnya masih di kelas.”
“Dia lihat kamu?”
“Kayaknya nggak. Dia terus jalan.”
Theo menyandarkan bahu sebentar ke pagar tangga. “Berarti untuk sekarang kita punya beberapa orang yang melihat sosok mirip Selvara, tapi belum ada yang berinteraksi langsung selain laporan pertama soal tugas kelompok.”
Selvara mengangguk. “Dan laporan pertama itu juga cuma percakapan singkat.”
Vio memasukkan ponselnya ke saku. “Aku masih lebih suka kalau ternyata ada anak lain yang kebetulan mirip kamu.”
Lyara tersenyum tipis. “Kalau sampai seragam, pita, sama tasnya juga mirip, kebetulannya mulai terlalu banyak.”
“Makanya aku bilang masih lebih suka, bukan lebih percaya.”
Bel masuk terdengar sebelum mereka bisa melanjutkan. Selvara akhirnya kembali ke kelas, sedangkan yang lain menuju ruangan masing-masing. Mereka sepakat tidak menyebarkan pertanyaan ke siswa lain. Kalau ada laporan baru, mereka akan mencatatnya. Kalau tidak, mereka tidak akan membuat seluruh sekolah mulai mencari “Selvara kedua” hanya karena beberapa orang melihat sosok yang belum jelas.
Menjelang siang, Selvara hampir berhasil melupakan kejadian pagi itu. Guru memberikan latihan individu yang cukup menyita perhatian, dan teman-teman sekelasnya juga tidak lagi membahas orang yang mereka lihat dekat ruang guru.
Masalah baru muncul justru setelah jam makan siang.
Salah satu anggota kelompok presentasi menghampiri meja Selvara sambil membawa buku catatan dengan beberapa bagian dicoret.
“Sel, aku sudah ubah bagian ini seperti yang kamu bilang.”
Selvara melihat halaman yang disodorkan. Hampir setengah isi kesimpulan sudah dicoret dan diganti dengan versi yang jauh lebih pendek.
“Aku nggak bilang ubah ini.”
Temannya langsung berhenti tersenyum. “Tadi kamu bilang.”
“Kapan?”
“Di depan kantin. Kamu bilang kesimpulannya masih kepanjangan, terus bagian ini lebih baik dibuang.”
Selvara duduk lebih tegak. “Aku makan di kelas tadi.”
Temannya terdiam cukup lama sampai dua siswa di meja sebelah ikut menoleh.
“Serius?”
“Iya.” Selvara mengambil buku itu dan memeriksa perubahan yang dibuat. “Kamu ngobrol lama sama orangnya?”
“Nggak terlalu. Aku mau ke kantin, terus kamu panggil. Ya aku kira memang kamu.”
“Ada yang aneh waktu dia bicara?”
Temannya mengernyit sambil mencoba mengingat. “Nggak. Cuma...”
Selvara menunggu.
“Cara ngomongnya agak beda.”
“Bedanya bagaimana?”
Temannya memutar pensil di tangan. “Lebih datar mungkin. Aku nggak kepikiran waktu itu karena kupikir kamu lagi buru-buru.”
Selvara mengembalikan buku tersebut. “Bagian yang kamu coret tadi jangan dibuang dulu. Pakai versi sebelum diubah. Nanti kita cek lagi setelah kelas.”
Temannya masih terlihat bingung. “Sel, ini beneran bukan kamu?”
“Bukan.”
Setelah siswa itu kembali ke kursi, Selvara mengambil ponsel dan mengirim satu pesan ke grup.
“Dia mulai bicara ke orang lain lagi. Kali ini nyuruh anggota kelompokku mengubah pekerjaannya.”
Vio langsung membalas, “Kamu di mana?”
“Di kelas.”
“Jangan sendirian.”
Selvara hampir tersenyum membaca respons itu. “Kelasku penuh orang.”
Balasan Vio datang beberapa detik kemudian. “Ya bagus. Tetap di situ dulu.”
Theo baru menjawab setelahnya. “Isi instruksinya masih berkaitan sama hal yang biasa kamu urus.”
Selvara membaca kalimat tersebut dua kali.
Itu benar.
Sosok itu tidak berjalan keliling sekolah melakukan sesuatu secara acak. Setiap kali muncul, ia mengambil bagian yang dekat dengan peran Selvara sendiri: mengatur tugas, memberi arahan, memperbaiki pekerjaan, berada di tempat yang membuat orang lain mengira Selvara sedang membantu sesuatu.
Seolah-olah ia sedang mengambil alih hal-hal yang biasanya Selvara kerjakan.
Saat jam sekolah selesai, Selvara bertemu Vio, Theo, dan Lyara di halaman tengah. Adrian belum meminta mereka datang ke ruang OSIS karena tidak ada perkembangan dari RA-01, jadi mereka memilih membicarakan kejadian baru sambil berjalan menuju gedung depan.
Theo baru selesai mendengar cerita lengkap ketika ia berkata, “Kalau pola ini berlanjut, dia bukan cuma meniru wajah kamu. Dia juga meniru fungsi yang menurut dia harus kamu lakukan.”
Selvara berjalan di sampingnya. “Atau fungsi yang selama ini aku sendiri sering ambil.”
Lyara mengangguk. “Itu lebih cocok sama yang dia lakukan beberapa hari terakhir.”
Vio mengembuskan napas pelan. “Masalahnya sekarang orang lain bisa ketemu dia tanpa tahu itu bukan kamu. Kalau dia mulai kasih instruksi aneh, yang repot kamu juga.”
Selvara hendak menjawab ketika Lyara tiba-tiba berhenti.
“Sel.”
Nada suaranya membuat semuanya ikut berhenti.
Lyara tidak melihat Selvara.
Ia melihat ke seberang halaman.
Koridor gedung lain terlihat jelas dari tempat mereka berdiri karena halaman tengah memisahkan dua sayap bangunan. Beberapa siswa masih berjalan di sana, tetapi salah satu sosok langsung mudah dikenali.
Rambut panjang.
Pita yang sama.
Seragam yang sama.
Tas yang sama.
Selvara berdiri di sisi Vio, tetapi di seberang halaman seseorang yang memiliki penampilan persis dengannya sedang berjalan menuju tangga.
Kali ini bukan satu orang yang melihat.
Mereka berempat melihatnya bersama-sama.
Vio langsung mendekat sedikit ke sisi Selvara. “Oke. Itu jelas bukan salah orang.”
Theo tidak mengambil ponselnya. “Jangan kejar.”
“Aku nggak mau ngejar,” jawab Selvara.
Sosok di seberang terus berjalan sampai hampir mencapai pintu tangga. Sebelum masuk, ia berhenti.