CHAINS : Beyond The Mist of Shattered Illusion

Lyneetra
Chapter #43

The Rain Changes First

Chapter 2 - Episode 21

Ruangan itu masih sama setelah sosok yang menyerupai Selvara menghilang.

Lampu ruang tengah tetap menyala. Gelas di atas meja masih berada di tempatnya.

Pintu menuju dapur terbuka sedikit, dan jam dinding terus bergerak seolah beberapa menit terakhir tidak terjadi apa-apa.

Selvara berdiri beberapa langkah dari ibunya.

Kalimat terakhirnya masih terasa jelas di kepalanya.

Apa pun yang mencoba mengenakan wajahnya, itu tidak akan mengambil tempatnya.

Ibunya tidak langsung menjawab.

Wajahnya masih tegang, tetapi bukan karena tidak memahami apa yang baru dilihat.

Justru itulah yang membuat keadaan kali ini berbeda.

Selvara bukan satu-satunya orang yang melihatnya.

“Ibu tadi benar-benar lihat?” tanyanya akhirnya.

Ibunya mengangguk pelan. “Iya.”

“Bukan cuma bayangan di kaca?”

“Bukan.”

Selvara menatap lantai sesaat.

Selama ini selalu ada ruang untuk meragukan dirinya sendiri. Pantulan yang terlambat, bentuk yang hanya terlihat dari sudut tertentu, suara yang datang ketika tidak ada orang lain di dekatnya. Ia bisa mencatat semuanya, membandingkan pola, lalu tetap menyisakan kemungkinan bahwa dirinya salah menangkap sesuatu.

Malam ini kemungkinan itu jauh lebih kecil.

Ibunya menarik kursi di dekat meja makan. “Duduk dulu.”

Selvara menurut.

Ibunya duduk di seberang, masih beberapa kali memandang ke arah tempat sosok itu tadi berdiri.

“Dia mirip sekali sama kamu.”

Selvara mengangguk. “Aku tahu.”

“Bukan cuma wajahnya.”

Selvara mengangkat pandangan.

Ibunya tampak memilih kata sebelum melanjutkan.

“Cara berdirinya juga. Cara lihat orang. Bahkan waktu dia jawab Ibu...” Ia berhenti sebentar. “Kalau cuma dilihat sekilas, Ibu mungkin percaya.”

Selvara merapatkan jari-jarinya di atas meja.

Hal itu justru lebih mengganggunya dibanding penampilan sosok tersebut.

“Ibu tahu itu bukan aku dari mana?”

Pertanyaan itu membuat ibunya diam lebih lama.

Selvara menunggu.

“Ada yang salah.”

“Bagian mana?”

“Sulit dijelaskan.”

Ibunya menggeleng kecil, lalu menatap Selvara tepat di mata. “Dia menjawab seperti kamu, tapi rasanya seperti orang yang sudah menyiapkan jawaban paling tepat. Kamu nggak begitu.”

Selvara sedikit mengernyit. “Aku juga sering mikir dulu sebelum jawab.”

“Iya. Tapi kamu tetap bisa kesal, capek, berubah pikiran, atau menjawab sesuatu yang Ibu nggak suka.”

Selvara hampir tersenyum.

Ibunya ikut tersenyum tipis. “Yang tadi terlalu... rapi.”

Kalimat itu membuat Selvara teringat sesuatu.

Bukan hanya malam ini.

Pantulan itu sejak awal selalu menawarkan versi dirinya yang mampu menyelesaikan semuanya. Tidak lelah. Tidak kewalahan. Tidak membuat kesalahan. Tidak membutuhkan orang lain.

Versi Selvara yang tidak pernah terlambat mengambil keputusan.

Versi yang selalu tahu apa yang harus dilakukan.

“Dia mencoba jadi aku yang lebih baik,” kata Selvara pelan.

Ibunya langsung menggeleng. “Kalau harus menghapus kamu supaya bisa dianggap lebih baik, berarti bukan itu.”

Selvara terdiam.

Jawabannya sederhana, tetapi cukup membuat tekanan di dadanya berkurang sedikit.

Ibunya kemudian meraih gelas air di meja dan mendorongnya ke arah Selvara. “Minum dulu.”

Selvara menerima gelas itu. “Ibu nggak takut?”

“Takut.”

Jawaban itu datang tanpa ragu.

Selvara menatapnya.

“Tapi kalau Ibu terlihat terlalu takut, nanti kamu malah sibuk menenangkan Ibu.”

Selvara menurunkan gelasnya perlahan. “Aku mungkin memang bakal begitu.”

“Nah.”

Keduanya terdiam sesaat sebelum Selvara tertawa kecil. Tidak lama, tetapi cukup untuk membuat suasana ruang makan kembali terasa sedikit seperti rumah mereka sendiri.

Ibunya berdiri lebih dulu.

“Malam ini kamu jangan kerjakan apa-apa lagi.”

“Masih ada—”

“Besok.”

Selvara hendak membantah, tetapi ibunya sudah melihatnya dengan ekspresi yang membuat jawaban berikutnya tidak terlalu sulit ditebak.

“Baik.”

“Bagus.”

Ibunya mengambil gelas kosong lain dari meja. “Dan pintu kamar jangan dikunci.”

Selvara mengangkat alis.

“Ibu bukan mau masuk sembarangan. Ibu cuma lebih tenang kalau tahu bisa memanggil kamu.”

Selvara mengangguk. “Iya, Bu.”

Mereka memeriksa rumah sekali lagi sebelum naik. Tidak ada orang lain. Tidak ada jendela terbuka. Tidak ada pintu yang berubah posisi.

Semuanya normal.

Justru karena itulah Selvara tidak berusaha mencari jejak yang mungkin memang tidak ada.

Di kamar, ia meletakkan cincin dan beberapa barang lain di meja, lalu duduk di tepi tempat tidur. Ponselnya menunjukkan beberapa pesan yang belum dibuka.

Vio menanyakan apakah dirinya sudah pulang.

Theo mengirim hasil pencatatan terakhir mengenai RA-01 dan RA-02.

Rikuya hanya menanyakan satu hal.

“Kamu baik-baik saja?”

Selvara berhenti lebih lama pada pesan terakhir.

Ia mulai mengetik jawaban panjang, menghapusnya, lalu menulis ulang.

“Ada sesuatu yang terjadi di rumah. Ibu juga melihatnya. Besok aku cerita.”

Balasan Rikuya datang tidak lama kemudian.

“Baik. Istirahat dulu malam ini.”

Tidak ada rentetan pertanyaan setelah itu.

Selvara kemudian membuka percakapan dengan Vio.

“Aku sudah di rumah. Ada kejadian lagi. Kali ini Ibu melihatnya juga.”

Tiga titik balasan muncul hampir seketika.

“Apa yang dia lihat?”

Selvara memandangi layar sebentar.

“Diriku.”

Balasan Vio tidak langsung datang kali ini.

Selvara menunggu.

“Aku telepon?”

Selvara sempat hampir menjawab iya, tetapi melihat jam.

“Nggak perlu. Besok saja. Ibu ada di rumah.”

“Yakin?”

“Iya.”

“Kalau berubah pikiran, telepon aku. Jam berapa pun.”

Selvara tersenyum kecil.

“Terima kasih.”

Ia meletakkan ponsel.

Beberapa menit kemudian, lampu kamar dimatikan.

Selvara mengira ia akan sulit tidur, tetapi kelelahan beberapa hari terakhir datang lebih cepat daripada pikirannya. Ia hanya sempat memandang pantulan samar kamar di jendela sebelum menarik tirai sampai tertutup penuh.

Tidak ada alasan untuk menatapnya lebih lama.

Sekitar tengah malam, suara hujan membangunkannya.

Awalnya Selvara tidak bergerak. Ia masih setengah tertidur ketika suara air mengenai atap dan kaca terdengar semakin jelas.

Hujan cukup deras.

Ia meraih ponsel di samping tempat tidur.

00.47.

Selvara hampir kembali tidur ketika menyadari sesuatu.

Suara hujan terdengar tidak merata.

Deras selama beberapa detik.

Lalu mengecil.

Kemudian kembali deras dengan cepat.

Bukan sesuatu yang mustahil. Angin bisa mengubah arah, hujan bisa berubah intensitas dalam hitungan detik.

Selvara tetap berbaring.

Beberapa saat kemudian terdengar pola yang sama lagi.

Deras.

Pelan.

Deras.

Ia membuka mata.

Tidak ada suara aneh lain. Tidak ada bisikan. Tidak ada pantulan yang bergerak sendiri.

Hanya hujan.

Selvara bangun, berjalan ke jendela, lalu membuka tirai sedikit.

Lampu jalan menerangi permukaan aspal yang sudah basah. Air turun cukup lebat dan mengalir di pinggir jalan. Tidak ada siapa-siapa di luar.

Ia memperhatikan selama hampir satu menit.

Intensitas hujan kembali berubah.

Namun kali ini Selvara melihat penyebabnya dengan jelas. Angin menggoyangkan pepohonan di seberang rumah, membuat arah air bergeser dan sebagian tetesan mengenai kaca lebih keras.

Selvara mengembuskan napas perlahan.

Normal.

Setidaknya untuk sekarang.

Ia hendak menutup tirai ketika cahaya dari lampu jalan membuatnya memperhatikan sesuatu di genangan dekat trotoar.

Permukaan air bergetar.

Bukan hal aneh ketika hujan turun.

Selvara hampir berpaling.

Lalu hujan mendadak melemah.

Tetesannya tinggal sedikit.

Genangan itu tetap bergetar selama dua detik setelah tetesan terakhir berhenti mengenainya.

Selvara tidak bergerak.

Satu detik.

Dua.

Permukaannya menjadi tenang.

Hujan kembali turun.

Selvara menutup tirai perlahan.

Ia tidak mengambil buku catatan.

Tidak memotret.

Tidak menghubungi siapa pun.

Belum.

Satu kejadian pendek belum cukup untuk memastikan apa pun.

Namun ketika kembali ke tempat tidur, Selvara tidak langsung berbaring.

Ia melihat jam sekali lagi.

00.51.

Empat menit sejak dirinya terbangun.

Empat menit yang seharusnya tidak berarti apa-apa.

Selvara menyimpan waktunya dalam ingatan sebelum mematikan layar.

Besok ia akan melihat apakah ada orang lain yang memperhatikan hujan malam ini.

Kalau tidak, ia akan membiarkannya berlalu.

Kalau iya, barulah ada sesuatu yang perlu dibicarakan.

Untuk malam ini, Selvara menarik selimut kembali dan memejamkan mata.

Di luar, hujan terus turun dengan suara yang perlahan kembali biasa.

Pagi harinya, hujan sudah berhenti.

Selvara membuka tirai setelah bangun dan menemukan jalan di depan rumah masih basah. Beberapa genangan tertinggal di dekat trotoar, daun-daun menempel di aspal, dan udara di luar terlihat lebih dingin daripada biasanya. Tidak ada hal yang langsung menarik perhatian.

Genangan yang ia lihat semalam pun sudah bercampur dengan air lain di sepanjang pinggir jalan.

Selvara berdiri beberapa detik sebelum meninggalkan jendela.

Ia masih mengingat pukul 00.47.

Namun untuk sementara, itu hanya waktu ketika dirinya terbangun karena hujan.

Di lantai bawah, ibunya sedang menyiapkan sarapan.

“Tidurnya gimana?” tanya ibunya begitu Selvara masuk.

“Lumayan.”

“Lumayan itu tidur atau nggak tidur?”

Selvara menarik kursi. “Bangun sebentar tengah malam. Hujannya deras.”

Ibunya meletakkan piring di depannya. “Ibu juga dengar.”

Selvara langsung mengangkat pandangan. “Jam berapa?”

Pertanyaannya datang terlalu cepat sampai ibunya berhenti sejenak.

“Nggak lihat jam. Kenapa?”

Selvara menyadari nada suaranya sendiri, kemudian mengambil sendok. “Nggak kenapa-kenapa. Aku kebangun sekitar jam satu kurang.”

“Ibu cuma sempat bangun karena suara airnya keras sekali, terus tidur lagi.”

“Berubah-ubah nggak suaranya?”

Ibunya berpikir sejenak.

“Kayaknya iya. Kadang keras sekali, terus sebentar seperti mengecil.” Ia melihat Selvara lebih lama. “Kamu memperhatikan hujannya?”

“Sedikit.”

Ibunya tidak langsung menanggapi. Setelah kejadian semalam, wajar jika pertanyaan sekecil itu terdengar lebih penting daripada biasanya.

Selvara melanjutkan sebelum ibunya mulai khawatir. “Aku cuma mau memastikan aku nggak salah dengar.”

“Terus?”

“Belum tahu.”

Ibunya duduk di seberang. “Ada yang kamu lihat?”

Selvara berhenti makan sebentar.

“Genangan di depan rumah masih bergerak sebentar setelah hujannya hampir berhenti.”

Ibunya tidak bereaksi berlebihan. Ia hanya melihat ke arah jendela, lalu kembali menatap Selvara.

“Bisa karena air dari atap?”

“Bisa.”

“Angin?”

“Bisa juga.”

“Berarti belum tentu ada hubungannya dengan yang lain.”

Selvara mengangguk. “Makanya aku belum mau menyimpulkan.”

Ibunya terlihat sedikit lebih tenang mendengarnya.

“Bagus.”

Selvara hampir tersenyum. “Biasanya aku juga begitu.”

“Ibu tahu. Tapi akhir-akhir ini yang harus dipikirkan terlalu banyak.”

Kali ini Selvara tidak membantah.

Setelah sarapan ia bersiap berangkat seperti biasa. Sebelum keluar, ibunya sempat memanggilnya dari ruang tengah.

“Selvara.”

Selvara menoleh.

“Kalau hari ini ada kejadian lagi, kabari Ibu. Nggak perlu menunggu sampai malam.”

Nada ibunya tidak panik. Justru karena disampaikan biasa, permintaan itu terasa lebih serius.

Selvara mengangguk. “Iya, Bu.”


Vio sudah berada di sekolah ketika Selvara datang.

Begitu melihatnya masuk kelas, Vio langsung menutup buku yang sedang dibaca dan menunggu sampai Selvara duduk.

“Aku nggak tanya lewat chat karena kamu bilang mau cerita langsung.”

Selvara menaruh tas di samping meja. “Bagus.”

Vio menatapnya. “Itu pujian?”

“Lumayan.”

“Baik. Aku terima.”

Senyum kecil Vio hanya bertahan sebentar. Setelah Selvara selesai mengeluarkan buku, ia merendahkan suara.

“Sekarang cerita.”

Selvara tidak memulai dari hujan.

Ia menjelaskan apa yang terjadi di rumah malam sebelumnya terlebih dahulu—sosok yang menggunakan wajahnya, cara sosok itu berbicara kepada ibunya, dan fakta bahwa kali ini orang lain melihat hal yang sama.

Vio mendengarkan sampai selesai tanpa menyela.

Ketika Selvara berhenti, Vio menatap meja beberapa saat.

“Jadi Ibumu bisa lihat dia dengan jelas?”

“Iya.”

“Dan dia bicara langsung sama Ibumu?”

Selvara mengangguk.

Wajah Vio berubah lebih serius. “Berarti dia sudah nggak cuma muncul buat kamu.”

“Itu juga yang kupikir.”

“Selama ini kita masih bisa bilang pantulannya berkaitan sama persepsimu atau posisi kamu waktu kejadian.” Vio menarik napas pendek. “Tapi kalau Ibumu melihat orang yang sama di rumah...”

“Ruang kemungkinannya mengecil.”

Vio mengangguk pelan.

Selvara kemudian menceritakan hujan setelah tengah malam.

Reaksi Vio justru berbeda.

“Hujan?”

“Iya.”

“Jam berapa?”

“Sekitar dua belas lewat empat puluh tujuh.”

Vio langsung mengambil ponselnya.

Selvara memperhatikannya. “Kenapa?”

“Aku bangun semalam.”

Sekarang Selvara yang diam.

Vio membuka percakapan keluarganya, menggulir beberapa pesan, kemudian menunjukkan layar.

Ada pesan yang dikirim Vio kepada seseorang di rumah pada pukul 00.49.

Jendelanya sudah ditutup belum? Hujannya masuk.

Selvara membaca sekali lagi.

“Kamu ingat hujannya?”

“Lumayan. Aku kebangun karena air kena kaca.” Vio menaruh ponselnya di meja. “Terus tiba-tiba hampir nggak kedengaran. Aku kira hujannya selesai.”

“Lalu?”

“Deras lagi.”

Selvara menatapnya.

Vio perlahan memahami kenapa pertanyaan itu penting.

“Oh.”

“Iya.”

Mereka tidak melanjutkan selama beberapa detik.

Suara teman-teman di kelas tetap berjalan di sekitar mereka. Ada yang membicarakan tugas, ada yang baru datang dan masih mencari tempat duduk. Percakapan mereka tentang hujan tidak menarik perhatian siapa pun.

“Bisa saja memang cuacanya begitu,” kata Vio akhirnya.

Selvara mengangguk. “Masih bisa.”

“Tapi sekarang setidaknya bukan cuma dari rumahmu.”

“Itu yang perlu kita cek.”

Vio menyandarkan punggung pada kursinya. “Theo?”

“Nanti.”

“Kamu nggak mau langsung bilang?”

“Aku mau tahu dulu apakah dia mencatat sesuatu sendiri. Kalau kita kasih polanya dari awal, nanti dia akan mencarinya dengan pola yang sama.”

Vio berpikir sejenak, lalu mengangguk. “Benar juga.”

Bel masuk terdengar sebelum mereka sempat melanjutkan.

Selvara membuka buku, tetapi percakapan pagi itu tidak benar-benar keluar dari pikirannya.

Dua rumah berbeda.

Waktu yang hampir sama.

Perubahan hujan yang sama.

Masih terlalu sedikit untuk disebut pola.

Namun sudah terlalu tepat untuk diabaikan begitu saja.


Mereka baru bisa menemui Theo saat istirahat.

Rikuya dan Lyara ternyata sudah bersamanya di ruang yang selama beberapa hari terakhir mereka gunakan untuk membandingkan catatan. Tidak ada pertemuan resmi; Theo bahkan masih memegang roti yang belum selesai dimakan ketika Selvara dan Vio masuk.

Lyara lebih dulu melihat wajah mereka.

“Ada apa?”

Selvara menarik kursi. “Aku mau tanya sesuatu dulu sebelum cerita.”

Theo langsung menaruh rotinya kembali ke bungkus. “Tanya apa?”

“Kalian semalam kebangun karena hujan?”

Pertanyaan itu membuat Rikuya mengangkat pandangan dari ponselnya.

Lyara menjawab lebih dulu. “Aku kebangun sebentar.”

“Sekitar jam berapa?”

Lyara mencoba mengingat. “Nggak lihat jam. Tengah malam lewat, mungkin.”

Theo belum menjawab.

Selvara melihatnya. “Kamu?”

“Aku masih bangun.”

“Perhatikan hujannya?”

Theo mengangguk pelan. “Iya.”

Vio yang berdiri di samping meja langsung menatap Selvara.

Theo menyadarinya.

“Kenapa?”

Selvara belum memberikan penjelasan. “Ada yang berubah dari hujannya?”

Theo berpikir beberapa saat.

“Intensitasnya turun sangat cepat beberapa kali.”

“Cepat seperti apa?”

“Bukan perlahan.” Theo meraih ponsel lalu membuka catatan. “Aku sempat kira cuma arah angin karena suara di jendela hilang. Tapi waktu lihat keluar, air yang jatuh memang berkurang.”

Rikuya memandang Theo. “Kamu mencatat hujan?”

“Aku sedang mengerjakan catatan RA-02. Kebetulan waktunya dekat.”

Selvara langsung tertarik. “Kamu punya waktunya?”

Theo menggulir layar.

“Catatan terakhir sebelum aku berhenti kerja... 00.46. Setelah itu ada satu catatan kosong yang timestamp-nya 00.48 karena aku sempat buka file lagi.”

Ruangan mendadak lebih sunyi.

Vio menarik kursi dan duduk.

Lyara melihat mereka bergantian. “Tunggu. Memangnya ada apa dengan jam segitu?”

Selvara akhirnya menjelaskan.

Tidak panjang. Ia menceritakan hujan yang berubah, genangan yang tetap bergetar beberapa detik, kemudian fakta bahwa Vio juga terbangun pada waktu hampir sama. Setelah itu ia menceritakan kejadian sebelum tidur—sosok yang mengenakan wajahnya dan dilihat langsung oleh ibunya.

Bagian terakhir membuat Lyara kehilangan ekspresi ringan yang sejak tadi masih ada.

“Ibumu juga lihat?”

“Iya.”

Rikuya meletakkan ponselnya di meja. “Dengan bentuk yang sama seperti yang pernah kamu ceritakan?”

“Lebih jelas.”

“Dia melakukan sesuatu?”

“Bicara.”

Theo tidak langsung bertanya mengenai isi percakapannya. Ia justru kembali ke waktu.

“Berapa lama setelah itu hujannya mulai?”

“Aku nggak tahu. Aku sudah tidur.”

“Jadi kita belum bisa menghubungkan keduanya.”

“Belum.”

Theo mengangguk kecil. “Bagus.”

Vio mengerutkan kening. “Bagus?”

“Bagus karena kita belum memaksa dua kejadian berbeda jadi satu penyebab.”

Vio akhirnya mengerti. “Oh.”

Rikuya menyandarkan siku pada meja. “Kalau mau cek hujan, kita butuh lokasi.”

“Aku sama Selvara beda wilayah,” kata Vio.

Theo mengangguk. “Itu sudah membantu.”

Lyara mulai memahami arahnya. “Kalau aku juga dengar perubahan yang sama, berarti wilayahnya lebih luas?”

“Kalau waktunya cocok,” jawab Theo.

Selvara menatap Lyara. “Kamu bisa tanya di rumah jam berapa hujannya mulai terdengar aneh?”

“Bisa. Ibu biasanya masih bangun kalau malam.”

Rikuya ikut mengeluarkan ponsel. “Aku juga tanya.”

Theo membuka halaman baru di catatannya.

Selvara melihat tindakannya lalu berkata, “Jangan masukkan ke RA dulu.”

Theo berhenti.

“Pisahkan?”

“Iya. Kita belum tahu ini berhubungan atau cuma cuaca biasa.”

Theo mengangguk, kemudian membuat judul baru.

Rain — 00:47 ±

Tidak ada istilah besar.

Tidak ada kesimpulan.

Hanya satu waktu dan satu fenomena sederhana.

Rikuya menerima balasan terlebih dahulu. Ia membaca pesannya dua kali.

“Ayahku masih bangun semalam.”

Semua orang melihatnya.

“Katanya hujan sempat berhenti hampir mendadak sekitar jam satu kurang, terus turun deras lagi.”

Lyara perlahan meletakkan ponselnya.

“Aku juga dapat jawaban.”

“Gimana?” tanya Vio.

“Ibu bilang sekitar waktu yang sama.”

Theo tidak segera menulis.

Ia melihat Selvara terlebih dahulu.

Selvara memahami pertanyaannya tanpa perlu diucapkan.

Empat lokasi.

Beberapa saksi.

Rentang waktu yang berdekatan.

Kali ini, mengatakan semuanya hanya kebetulan mulai terasa lebih sulit.

“Catat,” kata Selvara.

Theo baru menurunkan pandangannya ke layar.

Di luar ruangan, suara siswa yang sedang istirahat tetap memenuhi lorong.

Tidak ada hujan.

Langit dari jendela terlihat terang.

Namun untuk pertama kalinya sejak malam tadi, Selvara merasa judul catatan baru itu mungkin tidak akan berhenti pada satu baris.

Theo tidak langsung mengembangkan catatan itu menjadi teori. Setelah menulis waktu dan lokasi masing-masing, ia justru menghapus dua kalimat yang sempat dibuatnya sendiri, lalu menyisakan data yang benar-benar mereka punya.

Selvara memperhatikan dari seberang meja.

“Apa yang tadi kamu hapus?”

“Dugaan.”

“Kenapa dihapus?”

Theo mengangkat pandangan. “Karena kalau kubiarkan di atas, nanti kita membaca data berikutnya sambil mencari pembenaran buat dugaan itu.”

Rikuya mengangguk kecil. “Lebih baik.”

Vio memandang layar Theo. “Jadi sekarang isinya apa saja?”

Theo memutar ponselnya sedikit agar lebih mudah dilihat.

Empat lokasi.

Perkiraan waktu.

Perubahan intensitas hujan.

Satu pengamatan terhadap genangan dari Selvara.

Tidak ada kata Mist. Tidak ada RA. Tidak ada pantulan.

Lyara membaca sampai bawah. “Kita perlu tahu hujan seperti itu memang terjadi di seluruh kota atau cuma beberapa wilayah.”

“Betul,” jawab Theo. “Kalau memang ada perubahan angin atau sel hujan yang bergerak cepat, semuanya bisa selesai di situ.”

Vio menyandarkan dagu pada tangan. “Aku suka bagian ‘selesai di situ’.”

Selvara tersenyum kecil. “Aku juga.”

Theo menutup catatan. “Kita nggak perlu bikin ini lebih rumit kalau memang ada penjelasan biasa.”

Bel tanda akhir istirahat terdengar dari lorong.

Rikuya berdiri lebih dulu. “Kalau begitu nanti cek informasi cuaca.”

Theo mengangguk. “Aku cari data yang tercatat. Bukan cuma perkiraan.”

Lyara ikut membereskan barangnya. “Aku bisa tanya beberapa orang kalau mereka kebangun semalam, tapi jangan sampai pertanyaannya malah bikin orang ikut merasa ada yang aneh.”

Selvara melihatnya. “Tanya biasa saja. Misalnya hujannya deras atau nggak.”

“Siap.”

Vio berdiri di samping Selvara. “Aku bisa tanya di rumah juga.”

“Jangan terlalu banyak dulu.”

Vio mengangkat dua tangan sedikit. “Iya. Aku tahu.”

Mereka keluar ruangan dan kembali ke kelas masing-masing.

Sepanjang pelajaran berikutnya, Selvara tidak terlalu memikirkan hujan. Guru memberi materi baru, lalu meminta mereka mengerjakan beberapa soal sebelum jam berakhir. Kesibukan sederhana itu justru membantu. Setelah beberapa hari diisi pantulan, pengulangan waktu, dan sosok yang menggunakan wajahnya sendiri, menghabiskan dua puluh menit hanya untuk memikirkan jawaban pelajaran terasa hampir melegakan.

Saat kelas dibubarkan, Vio menunggu sampai sebagian siswa keluar sebelum mendekat.

“Kamu mau langsung pulang?”

Selvara memasukkan buku ke tas. “Iya. Kenapa?”

“Nggak apa-apa. Aku cuma mau memastikan.”

Selvara berhenti sebentar. “Karena semalam?”

Vio tidak menyangkal. “Sedikit.”

“Aku baik-baik saja.”

“Aku tahu.”

Nada Vio tidak terdengar seperti orang yang sedang meragukan jawaban itu. Ia hanya masih khawatir.

Selvara menutup tas. “Kalau ada apa-apa, aku kabari.”

“Nah. Itu cukup.”

Mereka berjalan bersama sampai gerbang. Di sana rute mereka berpisah.

Sebelum pergi, Vio sempat menoleh lagi.

“Sel.”

“Iya?”

“Kalau hujan lagi malam ini, jangan langsung keluar rumah cuma karena mau cek sesuatu.”

Selvara menatapnya beberapa detik.

“Aku nggak pernah bilang mau keluar.”

“Aku tahu. Aku cuma kenal kamu.”

Selvara hampir tertawa. “Aku nggak akan keluar.”

“Bagus.”

Vio tersenyum, lalu pergi.


Di perjalanan pulang, langit tetap cerah.

Awan tipis bergerak pelan, dan bekas hujan malam sebelumnya hampir tidak terlihat selain beberapa bagian tanah yang masih lembap. Selvara sempat melihat saluran air di tepi jalan ketika turun dari bus.

Tidak ada yang aneh.

Air bergerak mengikuti kemiringan jalan seperti biasa.

Ketika sampai di rumah, ibunya belum pulang. Selvara mengganti pakaian lalu membuka jendela kamar untuk membiarkan udara masuk. Dari sana ia bisa melihat sebagian trotoar depan rumah, termasuk tempat genangan malam tadi berada.

Sekarang tinggal bekas lembap berbentuk tidak beraturan.

Selvara memotretnya.

Bukan karena berharap menemukan sesuatu.

Ia hanya ingin punya titik pembanding kalau hujan turun lagi.

Setelah itu ia benar-benar meninggalkan jendela.

Ia baru selesai mandi ketika ponselnya berbunyi beberapa kali.

Theo.

Aku dapat catatan cuaca malam tadi.

Selvara membuka pesan berikutnya.

Ada hujan cukup luas di beberapa bagian Asterveil. Perubahan intensitas juga tercatat.

Selvara membaca ulang.

Pesan berikutnya datang.

Tapi waktunya tidak semuanya sama.

Selvara langsung membalas.

Maksudnya?

Theo mengirim tangkapan layar data hujan per wilayah yang sudah ia ringkas sendiri.

Beberapa daerah memang mengalami penurunan intensitas sekitar tengah malam.

Namun wilayah rumah Selvara, Vio, Lyara, dan Rikuya tidak seharusnya mengalami penurunan pada menit yang sama.

Setidaknya bukan berdasarkan catatan resmi yang Theo temukan.

Selvara menatap layar cukup lama.

Datanya bisa telat?

Theo menjawab cepat.

Bisa. Sensor cuaca bukan alat sempurna. Aku juga belum tahu resolusi waktunya seakurat apa.

Selvara mengetik:

Jadi belum bisa dipakai sebagai bukti.

Iya.

Beberapa detik kemudian pesan baru muncul.

Tapi ada satu hal lagi.

Selvara menunggu.

Theo mengirim foto grafik.

Ada empat penanda kecil yang dilingkari.

Di empat wilayah kita, ada penurunan singkat dalam rentang yang sangat dekat. Bukan nol hujan, cuma turun.

Selvara memperbesar gambar.

Berapa dekat?

Kurang dari empat menit.

Selvara bersandar pada kursi.

Empat menit.

Angka itu tidak terlalu besar, tetapi cukup untuk membuat pikirannya kembali ke pukul 00.47 sampai 00.51.

Theo mengirim satu pesan terakhir.

Aku belum memasukkan ini ke catatan utama. Masih perlu dicek.

Selvara menjawab:

Bagus. Simpan terpisah dulu.

Sudah.

Ia menutup percakapan.

Beberapa menit kemudian, ibunya pulang.

Selvara turun ke bawah ketika mendengar pintu dibuka. Ibunya meletakkan tas kerja, lalu memperhatikan wajah Selvara.

“Kamu sudah pulang dari tadi?”

“Iya.”

“Sekolah gimana?”

“Biasa.”

Ibunya tersenyum kecil. “Hari yang biasa terdengar bagus sekarang.”

Selvara membantu membawa beberapa barang ke dapur. “Iya.”

Setelah semuanya diletakkan, ibunya membuka kulkas.

“Sudah makan?”

“Belum.”

“Mau Ibu buatkan sesuatu?”

“Aku bantu.”

Mereka menyiapkan makan malam bersama. Selvara tidak langsung membahas hujan. Ia baru menceritakannya ketika mereka sudah duduk dan suasana lebih tenang.

“Teman-temanku juga dengar perubahan hujan semalam.”

Ibunya berhenti mengaduk makanan.

Lihat selengkapnya