CHAINS : Beyond The Mist of Shattered Illusion

Lyneetra
Chapter #44

The Missing Second

Chapter 2 - Episode 22

Pagi berikutnya tidak membawa hujan, perubahan interval, ataupun pesan baru dari Theo.

Selvara justru terbangun karena kendaraan pengangkut sampah lewat terlalu pagi di depan rumah.

Suaranya terdengar sampai ke lantai atas, disusul bunyi pagar tetangga dibuka dan seseorang memanggil dari ujung jalan.

Setelah beberapa hari memperhatikan bagian-bagian ketika suara menghilang, pagi yang berisik seperti itu terasa anehnya menenangkan.

Ia turun setelah selesai bersiap. Ibunya sudah berada di meja makan sambil menuangkan minuman.

“Pagi.”

“Pagi.” Ibunya melihat Selvara menarik kursi. “Tidurnya cukup?”

“Cukup.”

“Nggak bangun gara-gara hujan lagi?”

Selvara mulai mengambil sarapan. “Nggak. Hujannya biasa sampai aku tidur.”

“Syukurlah.”

Ponsel Selvara tergeletak di samping piring, tetapi ia sengaja tidak membukanya. Tidak ada gunanya mengawali setiap pagi dengan memeriksa apakah sesuatu terjadi semalam. Kalau memang ada hal penting, pesan itu tetap akan berada di sana setelah sarapan.

Ibunya tampaknya menyadari kebiasaan baru itu. “Hari ini ada kumpul lagi?”

“Belum tahu. Kalau nggak ada yang perlu dibahas, harusnya nggak.”

“Bagus.”

Selvara menatapnya. “Ibu senang sekali kalau kami nggak kumpul.”

Ibunya tertawa kecil. “Bukan begitu. Ibu lebih senang kalau alasan kalian kumpul cuma buat ngobrol atau makan, bukan karena ada kejadian aneh lagi.”

Selvara tersenyum. “Kalau begitu aku juga.”

Setelah sarapan, ia berpamitan dan berangkat seperti biasa. Perjalanan menuju sekolah berlangsung tanpa sesuatu yang perlu dicatat. Langit terang, jalan mulai ramai, dan ketika Selvara turun dari bus, semua suara kota masih berada di tempatnya: kendaraan yang melintas, percakapan orang di trotoar, bunyi rem bus di halte, sampai penjual yang memanggil pembeli dari seberang jalan.

Vio sudah berada di dekat gerbang. Kali ini ia tidak menunggu Selvara secara khusus, melainkan sedang membeli minuman dari kios kecil ketika melihatnya datang.

“Pagi.”

“Pagi.”

Vio menerima botol minumannya dari penjual. “Aku nggak telat.”

Selvara menatapnya sebentar. “Aku belum bilang apa-apa.”

“Aku mengamankan posisi dulu.”

“Berarti kamu sendiri merasa hampir telat.”

“Masih ada waktu.”

Selvara tertawa kecil, lalu mereka masuk bersama.

Suasana sekolah tidak berbeda dari pagi-pagi sebelumnya. Beberapa siswa mempercepat langkah karena bel sebentar lagi berbunyi, sementara kelompok lain masih berdiri dekat tangga sambil menyelesaikan percakapan. Dari kelas-kelas yang pintunya sudah terbuka terdengar bunyi kursi digeser, buku diletakkan di meja, dan suara orang yang saling memanggil dari ujung ruangan.

Selvara baru menyadari dirinya memperhatikan semua bunyi itu ketika Vio memanggilnya.

“Sel?”

Selvara menoleh. “Hm?”

“Kamu dari tadi perhatiin apa?”

“Nggak ada.”

Vio mengamatinya sejenak, lalu seperti langsung memahami. “Dengerin suara?”

“Sedikit.”

“Normal?”

Selvara mengangguk. “Normal.”

“Bagus.”

Mereka melanjutkan jalan menuju kelas.

Selvara baru meletakkan tas ketika ponselnya bergetar. Theo mengirim satu pesan ke grup kecil mereka.

Tidak ada kejadian malam tadi.

Vio membaca pesan yang sama dari mejanya lalu langsung membalas, Selamat.

Theo: Itu bukan laporan kemenangan.

Lyara ikut masuk. Sedikit boleh.

Rikuya: Saya setuju dengan Lyara.

Selvara tersenyum sebelum menulis, Berarti pagi ini tidak ada yang perlu dibahas.

Theo membalas, Betul.

Vio melihat ke arahnya. “Hari normal.”

“Jangan diumumkan terlalu keras.”

“Aku cuma bilang ke kamu.”

Pelajaran pertama dimulai beberapa menit kemudian. Untuk hampir seluruh pagi, hari mereka benar-benar berjalan senormal yang Vio harapkan. Tidak ada suara yang terputus, tidak ada perubahan cuaca mendadak, dan tidak ada alasan bagi Selvara untuk memeriksa cincin ataupun membuka catatan lama. Perhatiannya bahkan sempat sepenuhnya berpindah ketika guru membagi kelas menjadi beberapa kelompok untuk menyiapkan presentasi minggu depan.

Erian kembali satu kelompok dengannya, bersama dua siswa lain yang lebih dulu berdebat soal pembagian bagian daripada membahas isi tugas.

“Aku pembuka saja,” kata salah satunya.

Temannya langsung menoleh. “Kamu selalu ambil pembuka karena paling pendek.”

“Bukan salahku kalau pembuka memang penting.”

Erian melihat Selvara. “Kita tunggu sampai mereka selesai?”

Selvara menahan senyum. “Kasih lima menit. Kalau masih belum selesai, baru kita bantu.”

Ternyata mereka hanya membutuhkan tiga menit sebelum akhirnya membagi tugas dengan lebih masuk akal.

Jam istirahat pertama pun lewat tanpa kejadian. Selvara makan bersama Vio dan Lyara. Theo sedang membantu seorang guru, sedangkan Rikuya hanya sempat datang untuk mengambil makanan sebelum kembali ke urusan klubnya. Tidak seorang pun membuka pembicaraan tentang RA-02 atau gangguan suara kemarin.

Menjelang istirahat kedua, Theo akhirnya bergabung dengan mereka. Kali ini ia datang tanpa laptop dan langsung menarik kursi.

Vio memperhatikan tangannya. “Akhirnya.”

Theo mengangkat alis. “Apa?”

“Kamu datang tanpa laptop.”

“Aku memang mau makan.”

“Perkembangan yang bagus.”

“Aku biasanya juga makan.”

“Dengan dokumen di sebelah piring.”

Lyara tertawa kecil. Theo hanya menggeleng sambil membuka makanannya.

Percakapan mereka bergerak ke tugas, jadwal kelas, dan hal-hal kecil lain yang tidak ada hubungannya dengan kejadian beberapa hari terakhir. Bahkan ketika siswa di meja sebelah membahas hujan kemarin, tidak ada satu pun dari mereka yang langsung bereaksi. Selvara mulai berpikir mungkin mereka akhirnya mendapat jeda.

Pikiran itu bertahan sampai bel istirahat kedua berbunyi.

Nada pertama dari pengeras suara kantin terdengar normal. Nada kedua menyusul tanpa masalah. Tepat sebelum rangkaian terakhir, suara itu hilang.

Selvara langsung mengangkat kepala.

Bukan hanya bel yang lenyap. Percakapan di meja sebelah ikut hilang, begitu pula bunyi sendok yang menyentuh piring, kaki kursi yang bergeser, dan dengung kipas di langit-langit. Kantin yang penuh siswa mendadak sepenuhnya sunyi.

Kali ini Selvara menyadarinya saat kejadian masih berlangsung.

Segala sesuatu di depannya tetap bergerak. Seorang siswa sedang menarik kursi, tetapi kaki kursi itu tidak menghasilkan bunyi saat bergesekan dengan lantai. Seorang siswi dekat kasir masih berbicara kepada temannya; bibirnya bergerak, ekspresinya berubah, tetapi suaranya tidak terdengar. Beberapa lembar kertas di meja samping masih bergerak tertiup kipas meskipun dengung kipas itu sendiri lenyap.

Selvara tetap sadar. Ia tahu dirinya sedang duduk di kantin, masih ingat apa yang baru dikatakan Theo, dan melihat Vio berada tepat di seberangnya. Tidak ada bagian waktu yang terasa hilang.

Lalu suara kembali sekaligus.

Bel menyelesaikan nada terakhirnya. Kursi kembali berderit, sendok menyentuh piring, kipas berdengung, dan percakapan di sekitar mereka tersambung di tengah kalimat.

Beberapa siswa berhenti bicara.

Bukan semua, tetapi cukup banyak untuk menunjukkan bahwa kali ini kejadian tersebut tidak hanya disadari oleh Selvara dan teman-temannya.

“Apa tadi?” seseorang bertanya dari meja lain.

“Speaker-nya mati?”

“Bukan cuma speaker. Suaramu juga hilang tadi.”

“Serius?”

“Iya. Semuanya kayak diam sebentar.”

Di meja lain, seorang siswi melihat sekeliling dengan wajah bingung sebelum akhirnya tertawa canggung bersama temannya. Sebagian siswa sama sekali tidak memedulikan kejadian itu dan langsung berdiri menuju kelas, seolah yang baru terjadi hanyalah gangguan pengeras suara biasa.

Selvara tidak langsung berbicara kepada teman-temannya. Ia lebih dulu memperhatikan orang lain di kantin. Jika hanya mereka berlima yang sadar, masih ada kemungkinan kebiasaan mengamati fenomena seperti ini membuat mereka lebih peka. Namun siswa yang tidak mengetahui apa pun tentang RA-02 ataupun catatan mereka juga sempat berhenti.

Baru setelah itu Selvara menoleh kepada Theo. Theo sudah memeriksa jam. Pukul 12.47.

Vio menurunkan gelasnya. “Kali ini aku yakin.”

Lyara mengangguk. Ekspresi santainya sudah hilang. “Aku juga.”

Theo tidak langsung membuka catatan atau mulai merekam penjelasan. Ia hanya berkata, “Kita balik ke kelas dulu.”

Selvara setuju. Tidak ada alasan untuk membuat diri mereka menonjol ketika satu kantin baru saja mengalami kejadian yang sama.

Mereka berjalan bersama arus siswa yang mulai meninggalkan kantin. Begitu sampai di lorong, seluruh suara kembali terasa biasa. Langkah kaki memenuhi lantai, pintu kelas dibuka-tutup, dan percakapan siswa bercampur dari berbagai arah.

Theo berjalan di samping Selvara. “Kamu lihat orang lain sadar?”

“Beberapa.”

“Aku juga.”

Vio yang berada di sisi lain menambahkan, “Meja belakang sampai berhenti ngobrol.”

Lyara menoleh kepada mereka. “Berarti bukan cuma kita yang tahu harus memperhatikan.”

Selvara mengangguk. “Mungkin karena kali ini lebih lama.”

“Atau efeknya lebih kuat,” kata Theo.

Mereka sampai di persimpangan lorong dan harus berpisah. Theo baru mengeluarkan ponselnya setelah arus siswa di sekitar mereka berkurang.

“Aku cek RA setelah kelas.”

Selvara mengangguk. “Jangan langsung anggap berubah.”

“Aku tahu.”

Theo dan Lyara menuju kelas mereka, sedangkan Selvara melanjutkan jalan bersama Vio.

Beberapa langkah kemudian, Vio berbicara lebih pelan. “Tadi rasanya beda.”

Selvara memahami maksudnya. Kemarin suara pengumuman hanya terasa seperti kehilangan sebagian kata. Kali ini ia benar-benar berada di dalam rentang waktu ketika dunia kehilangan suaranya sementara segala sesuatu tetap bergerak.

“Iya.”

“Aku tetap sadar sepanjang kejadian.” Vio mencoba menyusun kata-katanya. “Aku lihat orang bergerak, tahu kita masih di kantin, bahkan masih ingat Theo lagi ngomong apa. Cuma... nggak dengar apa-apa.”

Selvara memperlambat langkah sedikit. “Aku juga.”

“Berarti kita nggak kehilangan satu detik.”

“Sepertinya bukan.”

Mereka masuk ke kelas sebelum guru berikutnya datang. Selvara duduk dan membuka buku, tetapi pikirannya belum benar-benar meninggalkan kantin. Sebelumnya mereka hanya memiliki rekaman. Sekarang mereka mengalami keheningan itu secara langsung. Kesadaran tetap berjalan, gerakan tetap berlanjut, dan waktu tidak terasa terpotong.

Yang menghilang hanya suara.

Pelajaran baru berlangsung sekitar sepuluh menit ketika ponsel Selvara bergetar sekali di dalam tas. Ia menunggu sampai guru memberi waktu untuk mengerjakan soal sebelum membukanya.

Pesan itu dari Rikuya.

Tadi jam 12.47 kalian dengar?

Selvara berhenti membaca soal. Rikuya sedang berada di gedung lain ketika kejadian berlangsung.

Ia membalas, Iya. Di kantin.

Jawaban Rikuya datang tidak lama kemudian.

Aku di ruang olahraga.

Selvara langsung mengetik, Sama? Semua suara hilang?

Iya. Kurang dari satu detik. Beberapa orang di sini juga sadar.

Selvara memperlihatkan layar kepada Vio. Vio membaca pesan itu tanpa berkata apa-apa, tetapi ekspresinya sudah cukup.

Sekarang mereka tidak lagi membicarakan satu ruangan, satu pengeras suara, ataupun satu perangkat. Kantin dan ruang olahraga berada di bagian sekolah yang berbeda, dipisahkan beberapa koridor dan halaman.

Selvara membuka grup mereka dan menulis, 12.47. Terkonfirmasi setidaknya di dua area berbeda.

Theo membalas beberapa menit kemudian.

Aku dan Lyara juga dengar dari koridor sisi timur.

Pesan berikutnya segera menyusul.

RA-02 belum dicek.

Selvara menyimpan ponselnya kembali.

Untuk saat ini, angka RA-02 bahkan bukan bagian yang paling penting. Fenomena yang sebelumnya hanya mereka temukan melalui rekaman kini sudah cukup kuat untuk disadari oleh siswa lain di beberapa bagian sekolah pada waktu yang sama.

Selvara kembali melihat papan tulis, tetapi satu kesimpulan sederhana terus bertahan di pikirannya.

Sesuatu tidak mengambil satu detik dari waktu mereka. Mereka tetap bergerak, melihat, berpikir, dan sadar sepanjang kejadian.

Yang hilang hanya suara di dalamnya.

Jam pelajaran setelah istirahat terasa lebih lambat daripada biasanya. Bukan karena materinya sulit, melainkan karena Selvara terus menahan diri untuk tidak memeriksa ponsel setiap beberapa menit. Theo belum mengirim hasil apa pun mengenai RA-02, dan selama belum ada data, Selvara tidak ingin mengisi kekosongan itu dengan dugaan sendiri. Vio beberapa kali terlihat ingin membuka percakapan, tetapi keduanya memilih mengikuti pelajaran sampai selesai.

Suara sekolah juga kembali sepenuhnya normal. Guru menjelaskan materi dari depan kelas, kursi bergeser ketika siswa memperbaiki posisi duduk, dan beberapa orang di belakang masih sempat berbisik sebelum ditegur. Ketika bel pergantian jam berbunyi, Selvara tanpa sadar memperhatikan nada itu sampai selesai.

Vio menyadarinya. “Normal.”

Selvara mengangguk. “Iya.”

Mereka tidak membahasnya lagi.

Pesan dari Theo baru masuk menjelang jam terakhir.

RA-02 pukul 12.47: 24 detik.

Selvara membaca angka itu dua kali.

Bukan dua puluh tiga detik seperti kondisi yang selama ini mereka anggap normal, tetapi juga bukan dua puluh lima seperti dua penyimpangan sebelumnya.

Vio melihat perubahan ekspresinya dan mendekat sedikit. Selvara menunjukkan layar tanpa berkata apa-apa.

“Dua puluh empat?” bisik Vio.

“Iya.”

Pesan berikutnya masuk.

Dua pengamatan setelahnya kembali 23.

Selvara mengetik, Metodenya sama?

Theo membalas cepat. Sama.

Rikuya kemudian ikut masuk ke grup.

Berarti sekarang perubahannya nggak selalu 25.

Theo menjawab, Setidaknya dari catatan kita sekarang.

Lyara menambahkan, Jadi selisihnya bisa satu detik juga.

Selvara menahan diri sebelum mengetik. Angka itu mudah sekali membuat mereka tergoda membentuk kategori baru.

Jangan anggap 24 sebagai pola baru dulu. Baru satu kejadian.

Theo membalas, Setuju.

Guru berikutnya masuk sebelum percakapan mereka berkembang. Selvara menyimpan ponsel dan kembali membuka buku, tetapi satu pertanyaan baru ikut menetap di pikirannya. Jika perubahan RA-02 memang memiliki hubungan dengan gangguan suara, maka hubungan itu tidak sesederhana semakin lama keheningan berlangsung, semakin besar intervalnya bertambah. Mereka belum tahu durasi kejadian pukul 12.47 secara pasti, tetapi dari pengalaman langsung, gangguan tadi terasa lebih jelas daripada sebelumnya.

Ia mencoret satu jawaban yang salah di buku latihan lalu mengerjakan ulang soal tersebut. Untuk sementara, itu jauh lebih berguna daripada mencoba menebak arti satu detik tambahan.

Setelah jam terakhir selesai, mereka berkumpul di ruangan kecil yang beberapa kali digunakan untuk membandingkan catatan. Kali ini Theo sudah berada di sana bersama Rikuya. Lyara datang tidak lama setelah Selvara dan Vio masuk.

Theo membuka laptop dan memutar layarnya ke arah mereka.

Di halaman catatan tertulis:

12.47 — Audio Drop, beberapa area

RA-02 = 24 detik

Disadari oleh beberapa siswa di luar kelompok

Tidak ada perubahan cuaca yang tercatat

Rikuya membaca baris pertama. “Beberapa area lebih aman daripada menulis seluruh sekolah.”

Theo mengangguk. “Aku juga berpikir begitu. Kita belum punya laporan dari semua bagian.”

Selvara menarik kursi. “Ada rekaman?”

“Ada satu dari kantin.”

Theo membuka sebuah video. Salah seorang siswa rupanya sedang merekam suasana meja mereka beberapa saat sebelum bel berbunyi. Video itu tidak dibuat untuk mengabadikan kejadian aneh; kamera hanya mengarah pada beberapa teman yang sedang berbicara dan bercanda.

Suara kantin memenuhi rekaman selama beberapa detik. Lalu audio turun hampir menjadi nol.

Gambar tetap berjalan.

Seorang siswa masih memutar badan. Tangan seseorang tetap bergerak mengambil gelas. Kipas di langit-langit tetap berputar. Setelah keheningan singkat itu lewat, suara kembali di tengah percakapan.

Theo menghentikan video. “Aku ukur beberapa kali. Sekitar 1,3 detik.”

Vio langsung mengangguk kecil. “Pantas lebih terasa.”

Lyara melihat layar lebih dekat. “Yang kemarin berapa?”

“Rekaman pertama sekitar tujuh sampai delapan persepuluh detik. Yang dari pengumuman sore sekitar sembilan persepuluh.”

Theo membuka catatan lain dan menunjukkan urutannya.

14.18 — ±0,8 detik

15.42 — ±0,9 detik

12.47 — ±1,3 detik

Lyara membaca tiga angka itu. “Durasi suaranya terus naik.”

“Dari tiga kejadian, iya,” jawab Theo. “Tapi belum cukup buat bilang akan terus naik.”

Rikuya mengangguk. “Besok bisa saja lebih pendek.”

“Benar.”

Vio menyandarkan tangan di meja. “Setidaknya sekarang kita tahu kenapa siswa lain mulai sadar. Satu koma tiga detik ternyata cukup terasa.”

Selvara melihat kembali video itu. “Apalagi kalau orang sedang bicara.”

Theo memutar bagian yang sama dan menunjuk salah satu siswa. “Yang ini sedang menyelesaikan kalimat. Gerakan mulutnya tetap jalan selama audio hilang.”

“Orangnya sadar?” tanya Lyara.

“Belum tahu. Aku nggak mau tanya langsung kalau nggak perlu.”

Selvara setuju. “Bagus.”

Mereka tidak membutuhkan lebih banyak saksi jika caranya justru membuat orang lain mulai menghubungkan kejadian-kejadian yang seharusnya belum memiliki penjelasan.

Theo kemudian membuka data RA-02.

“Aku cek ulang pengukuran pukul 12.47. Hasilnya tetap dua puluh empat. Sesudah itu kembali dua puluh tiga.”

Rikuya membaca angkanya. “Berarti durasi audio yang lebih panjang justru nggak membuat intervalnya jadi dua puluh lima.”

“Itu yang kita punya sekarang,” jawab Theo.

Lyara memikirkan beberapa saat. “Kalau memang ada hubungan, berarti besar perubahannya nggak berjalan lurus.”

“Bisa,” kata Selvara, “atau kita masih menganggap dua hal berkaitan padahal keduanya cuma muncul dekat.”

Theo menatapnya lalu mengangguk. “Lebih aman begitu.”

Vio melihat tiga halaman catatan yang terbuka di layar. “Jadi kita kembali memisahkan semuanya?”

“Memang belum pernah digabung,” jawab Theo.

Vio menunjuknya. “Kamu tahu maksudku.”

Theo tersenyum tipis. “Iya.”

Selvara memperhatikan catatan mereka. Ada satu hal yang lebih penting daripada selisih angka.

“Sekarang orang lain mulai sadar.”

Percakapan langsung berubah arah.

Rikuya meletakkan ponselnya di meja. “Di ruang olahraga ada dua orang yang ngomongin kejadian tadi sampai selesai latihan.”

Lyara mengangguk. “Di kelasku juga. Ada yang bilang seluruh suara kantin mati sebentar.”

“Mereka pakai kata ‘seluruh suara’?” tanya Theo.

“Iya. Padahal dia sendiri nggak ada di kantin. Dengar dari temannya.”

Vio mengembuskan napas pendek. “Cepat juga pindahnya.”

Selvara tidak terkejut. Sekolah tidak membutuhkan waktu lama untuk mengubah satu kejadian kecil menjadi beberapa versi cerita. Yang penting sekarang bukan menghentikan rumor, melainkan tidak ikut memberinya bahan.

“Jangan luruskan apa pun,” katanya. “Kalau ada yang bilang speaker rusak, biarkan. Kalau ada yang bilang listrik, biarkan juga. Kita belum punya jawaban yang lebih baik.”

Theo mengangguk. “Dan rekamannya jangan dibagikan.”

“Setuju,” kata Rikuya.

Lyara juga mengangguk. “Kalau videonya menyebar, besok semua orang bakal mencari bagian sunyi di setiap rekaman.”

Vio menambahkan, “Atau sengaja diam satu detik di kelas buat bercanda.”

Rikuya menatapnya. “Itu sangat mungkin.”

“Makanya.”

Suasana sedikit lebih ringan setelah itu, tetapi Selvara masih memikirkan saksi-saksi di luar kelompok mereka. Selama fenomena hanya mereka yang perhatikan, ruang gerak mereka masih cukup besar. Mereka bisa membandingkan catatan tanpa banyak orang bertanya. Kalau kejadian semakin mudah disadari, sekolah cepat atau lambat akan melakukan pemeriksaan sendiri.

Theo menutup satu tab. “Aku mau cek jarak waktu antar-kejadian malam ini.”

Vio langsung memandangnya. “Jangan cari pola hanya karena sekarang ada tiga waktu.”

“Aku cuma cek apakah ada interval yang jelas.”

Selvara mengambil tasnya. “Cek boleh. Kalau hasilnya nggak berarti, jangan dipaksa.”

Theo mengangguk. “Jelas.”

Mereka memutuskan pulang setelah itu.

Di halte, Selvara dan Vio berdiri tidak jauh dari dua siswa yang sedang membicarakan kejadian siang tadi.

“Serius, tadi kayak semuanya mati,” kata salah satunya.

Temannya tertawa kecil. “Aku malah nggak sadar.”

“Karena kamu lagi makan.”

“Terus kalau memang seluruh suara hilang, penyebabnya apa?”

“Ya nggak tahu. Mungkin listrik.”

“Masa listrik bikin orang nggak kedengaran ngomong?”

Siswa pertama terdiam, lalu keduanya beralih membahas hal lain ketika bus mereka datang.

Vio melihat Selvara. “Besok versinya tambah banyak.”

“Mungkin.”

“Kamu khawatir?”

Selvara memikirkan jawabannya sebelum menggeleng kecil. “Belum. Selama orang cuma ngobrol, itu wajar.”

“Kalau sekolah mulai ikut periksa?”

“Itu juga wajar.”

Vio mengangguk. “Berarti yang nggak wajar cuma bagian suaranya.”

Selvara tersenyum tipis. “Kurang lebih.”

Bus mereka datang beberapa menit kemudian. Sepanjang perjalanan, mereka sengaja membicarakan hal lain. Vio mengeluhkan bagian presentasinya yang masih terlalu panjang, lalu meminta Selvara membaca drafnya nanti malam. Selvara setuju selama Vio tidak mengirimnya terlalu larut.

Ketika sampai rumah, ibunya sudah pulang.

Selvara baru meletakkan tas ketika ibunya keluar dari ruang tengah sambil membawa ponsel.

“Di sekolah tadi ada apa?”

Selvara berhenti. “Kenapa?”

“Grup orang tua ramai. Katanya ada gangguan suara waktu istirahat.”

Informasi itu ternyata sudah keluar dari lingkungan sekolah.

“Ibu dengar versi yang mana?”

“Katanya pengeras suara sempat mati. Ada juga yang bilang suara di beberapa ruangan hilang sebentar.” Ibunya memperhatikan Selvara. “Kamu juga ngalamin?”

“Iya.”

“Seperti yang kemarin?”

“Mirip, tapi lebih lama. Dan kali ini lebih banyak orang sadar.”

Ibunya tidak langsung bereaksi. Ia mempersilakan Selvara duduk lalu mengambilkan air minum sebelum kembali ke ruang tengah.

“Sekolah pasti periksa besok,” katanya.

“Harusnya begitu.”

“Kalau mereka menemukan kerusakan?”

“Bagus.”

“Kalau nggak?”

Selvara menerima gelas dari ibunya. “Berarti satu penjelasan biasa berkurang.”

Ibunya tersenyum tipis. “Kedengarannya seperti Theo.”

Selvara tertawa kecil. “Kenapa semua orang mulai bilang begitu?”

“Mungkin karena kamu terlalu sering ngobrol sama dia.”

Selvara tidak membalas selain tersenyum.

Ia kemudian menceritakan hasil awal yang mereka punya tanpa masuk terlalu jauh ke detail RA-02. Ibunya mendengarkan sampai selesai, lalu hanya meminta satu hal: jangan sengaja menunggu kejadian berikutnya.

Selvara setuju tanpa perlu berpikir lama.

Mereka memang sudah sampai pada keputusan yang sama sejak awal.

Fenomena itu boleh datang sendiri.

Mereka hanya akan mencatat ketika ia muncul.

Masalahnya, sekarang Selvara mulai curiga mereka tidak perlu menunggu terlalu lama lagi.

Pihak sekolah benar-benar melakukan pemeriksaan keesokan paginya. Beberapa teknisi terlihat keluar-masuk ruang fasilitas sebelum jam pertama, sementara dua pengeras suara di lorong utama sempat diuji berkali-kali. Suara pengumuman pendek terdengar dari satu sisi gedung, berhenti, lalu terdengar lagi dari sisi lain. Bagi sebagian siswa, kegiatan itu justru menjadi hiburan baru sebelum kelas dimulai. Ada yang sengaja menunggu suara terputus lagi, ada yang merekam pengujian dengan ponsel, dan ada pula yang mulai menyebut kejadian kemarin sebagai “detik sunyi” karena istilah itu lebih mudah diingat daripada penjelasan panjang tentang gangguan audio.

Selvara mendengar sebutan itu pertama kali ketika berjalan menuju kelas bersama Vio.

“Cepat juga dapat nama,” kata Vio setelah dua siswa di depan mereka berlalu.

Selvara menggeser tali tas di bahunya. “Namanya lebih cepat menyebar daripada penjelasannya.”

“Kalau dibiarkan beberapa hari, mungkin sudah punya sepuluh teori.”

“Sudah ada berapa sekarang?”

Vio menghitung dengan jari. “Listrik, speaker, jaringan ponsel, petir yang nggak ada, terus tadi aku dengar ada yang bilang gangguan frekuensi.”

Selvara menoleh kepadanya. “Dia tahu frekuensi apa?”

“Nah, itu aku nggak tanya.”

Selvara tertawa kecil. “Bagus.”

Ketika mereka masuk kelas, pembicaraan mengenai kejadian kemarin masih terdengar dari beberapa meja. Erian bahkan sedang menunjukkan video kantin kepada dua temannya, tetapi versi yang ia punya bukan rekaman asli yang mereka analisis. Video itu sudah dipotong dan diberi tulisan besar di bagian atas, seolah satu detik keheningan perlu diperjelas lagi agar orang tahu kapan harus memperhatikannya.

Erian melihat Selvara dan langsung mengangkat ponselnya. “Kamu sudah lihat yang ini?”

Selvara mendekat seperlunya. “Sudah ada yang edit?”

“Entah siapa yang pertama. Sudah beredar dari semalam.”

Vio ikut melihat dari samping. “Bagian sunyinya malah dikasih efek hitam.”

Erian mengangguk. “Makanya aku juga nggak yakin versi ini masih asli.”

“Kalau sudah diedit, jangan dipakai buat membuktikan apa pun,” kata Selvara.

Erian menatapnya sambil tersenyum. “Kamu ngomong kayak orang yang lagi menyelidiki kasus.”

Selvara berhenti sebentar, lalu menjawab dengan nada ringan, “Aku cuma nggak percaya video yang sudah ditambah macam-macam.”

“Itu juga benar.”

Erian menutup videonya dan kembali ke mejanya sebelum percakapan berkembang lebih jauh. Selvara duduk di tempatnya, sementara Vio menarik kursi.

“Hampir.”

Selvara meliriknya. “Aku tahu.”

“Kamu kalau sudah fokus suka lupa orang lain belum tahu sejauh kita.”

“Aku akan lebih hati-hati.”

Vio tidak menambahkan nasihat lain. Ia hanya membuka buku dan menunggu guru datang.

Beberapa menit setelah bel pertama, wali kelas masuk bersama satu lembar pemberitahuan. Ia tidak langsung membuka materi, melainkan berdiri di depan kelas sambil menunggu semua siswa benar-benar tenang.

“Sedikit informasi soal gangguan suara kemarin,” katanya. “Bagian fasilitas sudah memeriksa jaringan pengeras suara, perangkat utama, dan suplai listrik yang berkaitan dengan sistem tersebut. Sampai pagi ini belum ditemukan kerusakan yang menjelaskan kejadian kemarin.”

Kelas langsung mulai ramai.

Seorang siswa di belakang mengangkat tangan. “Berarti bukan speaker, Bu?”

“Belum ada kesimpulan seperti itu. Yang Ibu bilang hanya belum ditemukan kerusakannya.”

“Kalau nanti terjadi lagi?”

“Laporkan waktu dan lokasinya. Jangan dibesar-besarkan, jangan sengaja membuat rekaman palsu, dan jangan menyebarkan informasi yang belum jelas sumbernya.”

Beberapa siswa tertawa kecil ketika bagian rekaman palsu disebut.

Guru itu melihat ke arah mereka. “Ibu serius. Sudah ada video yang diedit dan disebarkan seolah-olah rekaman asli. Kalau mau membantu, cukup ingat waktu dan tempat. Tidak perlu membuat cerita tambahan.”

Selvara menatap Vio sebentar. Itu hampir sama dengan cara mereka bekerja selama ini, hanya dalam bentuk yang jauh lebih sederhana.

Guru kemudian melanjutkan pelajaran, dan suasana kelas perlahan kembali biasa.

Saat istirahat, Theo mengirim pesan singkat ke grup.

Pemeriksaan fasilitas belum menemukan gangguan listrik atau perangkat.

Selvara membalas, Sudah diumumkan di kelas.

Lyara: Di kelasku juga.

Rikuya: Sama.

Vio menulis, Jadi sekarang satu sekolah disuruh catat waktu.

Theo: Itu sebenarnya membantu.

Selvara langsung memahami maksudnya. Jika kejadian berikutnya muncul, mereka mungkin tidak perlu mencari saksi satu per satu. Sekolah sendiri akan mengumpulkan laporan lokasi dan waktu.

Ia membalas, Asal kita tidak bergantung pada rumor.

Theo: Jelas.

Mereka tidak bertemu khusus selama istirahat. Selvara makan bersama Vio dan beberapa teman sekelas, sementara percakapan di meja bergerak dari tugas menuju rencana akhir pekan. Kejadian suara hanya muncul sebentar ketika seseorang mengeluh karena orang tuanya mulai bertanya apakah sekolah mereka mengalami gangguan listrik.

“Kalau memang listriknya mati, setidaknya kelas bisa libur sebentar,” kata salah satu siswa.

Vio langsung menatapnya. “Itu tujuanmu?”

“Sedikit.”

Selvara menahan senyum. “Sayangnya lampunya tetap hidup.”

“Makanya kejadian kemarin nggak memberi manfaat apa-apa.”

Meja mereka tertawa, lalu pembicaraan bergeser ke hal lain.

Lihat selengkapnya