Chapter 3 (The First Resonances) - Episode 01
Selvara menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi ruang OSIS yang dingin, menatap deretan baris laporan di layar laptop Theo tanpa berusaha memperbesar tampilannya lagi.
Di sebelahnya, Vio sedang melipat kertas bekas menjadi segitiga-segitiga kecil yang makin lama makin tinggi tumpukannya di sudut meja. Sementara itu, Lyara duduk agak menyandar di dekat rak buku, memangku tasnya sambil memperhatikan papan pengumuman yang separuh isinya sudah diganti dengan edaran persiapan festival.
"Jadi, kita sepakat membiarkannya tetap terpisah?" tanya Vio tanpa menghentikan jemarinya.
"Harus," sahut Theo langsung. Tangannya bergerak cepat di atas tombol navigasi laptop, menggeser grafik gelombang suara dari rekaman koridor timur ke folder terpisah. "Audio Drop terjadi tanpa penurunan suhu. Cincin Selvara nggak memberi respon dingin sama sekali, dan RA-02 di koridor utama tetap bertahan di angka dua puluh tiga. Kalau aku memaksakan audio drop ini sebagai gejala Mist, analisis kita berikutnya bakal berantakan."
Selvara mengambil gelas air yang tinggal separuh di meja. "Audio drop itu cuma memotong suara lokal. Manusia tetap sadar, rekaman video tetap jalan, cuma audionya yang mendadak hilang. Mist tidak bekerja begitu."
"Tapi skalanya melebar," sela Lyara dari tempatnya duduk. Suaranya tenang, tetapi tatapannya tertuju lurus pada Selvara. "Kemarin cuma di sekolah. Sekarang beberapa rumah sudah kena. Kalau itu bukan bagian dari Mist, berarti ada fenomena lain yang berjalan beriringan di Asterveil."
"Atau fenomena yang sama, tapi kita baru melihat cara kerjanya yang beda," tambah Vio. Ia meletakkan segitiga kertas terakhirnya ke puncak tumpukan. "Setidaknya sekarang kita nggak perlu panik setiap kali kelas mendadak hening selama beberapa detik. Anggap saja ada yang lupa memutar kenop volume di udara."
Theo menggeleng kecil, tetapi tidak membantah. "Logikamu memang asal, Vio, tapi secara praktis ada benarnya. Jangan panik, tapi catat waktunya. Itu batas tindakan kita untuk sekarang."
Pintu ruang OSIS terbuka pelan. Rikuya masuk membawa dua botol minuman dingin dari kantin, melemparkan satu ke arah Theo yang ditangkapnya canggung, lalu menyerahkan sisanya ke Vio.
"Lapangan belakang baru saja kena lagi," kata Rikuya santai, menarik kursi kosong di seberang Selvara. "Tepat saat anak-anak klub panahan mau melepaskan anak panah. Bunyi tali busurnya hilang total, tapi panahnya tetap menancap di target. Cuma sekitar dua detik."
Selvara melirik jam di sudut kanan bawah laptop Theo. "Jam berapa tepatnya?"
"12.51," jawab Rikuya. "Anak-anak cuma mengira telinga mereka yang mendengung sebentar. Nggak ada yang sadar kalau itu Audio Drop."
Theo mengetikkan angka tersebut ke dalam file catatannya. "Empat menit setelah insiden di koridor timur. Tidak ada pola interval yang teratur. Ini murni penyebaran acak."
Selvara menatap jemari tangan kanannya. Cincin perak di jari tengahnya terasa biasa saja—logam dingin standar, tanpa sensasi membekukan yang biasanya menandakan kedatangan Mist di sekitar mereka. Sejak Semi Awakening yang dialaminya beberapa waktu lalu, ia mulai bisa merasakan bagaimana gelombang energi di tubuhnya bergerak. Ringan, seperti arus listrik statis bertegangan sangat rendah yang mengalir dari bahu menuju ujung jari.
Mariel D'Anvers benar. Latihan stabilisasi dasar yang diajarkan gurunya itu—intake, circulation, distribution, output, recovery memang bekerja. Selvara belum bisa mengendalikannya untuk pertarungan nyata, tetapi setidaknya kini ia tahu kapan energinya sedang tenang dan kapan energinya terganggu.
Dan saat ini, energinya sangat tenang.
"Sel?" panggil Vio.
Selvara mendongak. "Iya?"
"Kamu melamun apakah Cincinnya bereaksi?"
"Enggak," Selvara menurunkan tangannya ke bawah meja. "Cuma berpikir. Kalau Audio Drop ini memang terpisah, berarti kita punya dua masalah yang harus dipantau bersamaan. Satu di bawah tanah dan di arsip lama, satu lagi melayang-layang di udara kota."
"Dan dua-duanya bikin pusing," desah Vio sambil menyandarkan dagunya di meja. "Kapan ya sekolah ini cuma sibuk mikirin ujian semester sama bazaar klub?"
"Setelah kamu lulus, mungkin," balas Rikuya pendek.
"Itu doa atau ejekan?"
Selvara tidak ikut terkekeh. Tatapannya beralih ke jendela luar. Di seberang lapangan, gedung sisi timur berdiri kokoh di bawah langit siang Asterveil yang mulai berawan. Jendela-jendela kaca di lantai dua memantulkan cahaya redup.
Di suatu tempat di dalam kota ini, fasilitas lama Project Dawn masih mengendap di bawah tanah, menunggu mereka menggali lebih jauh. Namun untuk saat ini, realitas normal sekolah tetap harus dipertahankan.
Begitu bel masuk pelajaran terakhir berbunyi, Rikuya kembali ke ruang olahraga sementara Vio dan Lyara berjalan berdampingan menuju kelas mereka. Selvara tinggal beberapa menit lebih lama di ruang OSIS bersama Theo untuk mengunci file-file inventaris yang selesai diperiksa.
"Kamu mau bicara dengan Bu Mariel sore ini?" tanya Theo tanpa menoleh, jarinya sigap mematikan daya laptop.
"Iya," Selvara memasukkan buku catatannya ke dalam tas. "Ada beberapa hal soal kendala alur sirkulasi yang mau aku tanyakan. Kadang pas aku coba tahan distribusinya, jari tengahku rasanya sedikit kaku."
"Jangan dipaksa kalau rasanya sakit," pesan Theo. Ia berdiri dan merapikan kemeja seragamnya. "Mariel memang paham soal stabilisasi, tapi bagaimanapun juga kamu masih di tahap awal. Jangan sampai kamu bikin cedera fisik cuma gara-gara mau buru-buru menguasai aliran energi."
"Aku tahu," Selvara mengangguk tipis. "Aku nggak seceroboh itu."
Mereka berdua keluar dan mengunci pintu ruang OSIS. Langkah kaki mereka bergema pelan di sepanjang koridor gedung utama. Beberapa siswa kelas satu masih berdiri di depan loker, mengobrol soal rencana nonton bioskop nanti malam. Suasana sekolah terasa sangat biasa—sangat kontras dengan topik yang baru saja mereka bahas beberapa menit lalu di dalam ruangan.
Di persimpangan tangga, Selvara berpisah dengan Theo. Theo harus menyerahkan berkas laporan kegiatan OSIS ke ruang guru, sementara Selvara melangkah menuju laboratorium persiapan di lantai dasar, tempat Mariel D'Anvers biasanya menghabiskan waktu setelah mengajar.
Saat melewati koridor penghubung antar-gedung, angin sore berembus agak kencang, membawa aroma tanah basah bekas hujan semalam. Selvara memperlambat langkahnya di dekat jendela kaca besar.
Tiba-tiba, tanpa ada peringatan apa pun—penghentian suara terjadi secara instan.
Suara langkah kakinya sendiri di atas ubin menghilang. Suara angin yang memukul daun jendela mendadak bisu. Bahkan suara riuh anak-anak yang berteriak di lapangan basket seberang terputus begitu saja, seolah seseorang baru saja menekan tombol mute pada ruang dan waktu.
Selvara berhenti melangkah secara refleks dan melihat ke arah lapangan. Anak-anak klub basket masih berlari, melompat, dan memantulkan bola. Bola itu memantul di lantai kayu, tetapi tidak ada bunyi dentuman yang dihasilkan. Gerakan mereka fully normal, tetapi ruang di sekitar Selvara telah kehilangan suaranya.
Ia mengangkat tangan kanannya. Cincinnya tetap hangat dalam suhu normal, tanpa rasa dingin menusuk atau Mist tebal yang merembes dari sudut tembok.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.