CHAINS : Beyond The Mist of Shattered Illusion

Lyneetra
Chapter #46

The Pull from Above

Chapter 3 - Episode 02

Mesin bus berdengung halus saat kendaraan besar itu kembali merayap di atas aspal yang mengilap basah. Di luar jendela, pemandangan persimpangan jalan perlahan tertinggal, terhalang rintik gerimis yang membentuk garis-garis lengkung di permukaan kaca.

Vio menarik tangannya dari mesin pembayaran otomatis, lalu melangkah menyusul Selvara ke deretan kursi tengah yang masih kosong. Wajahnya menyiratkan rasa penasaran yang tidak ditutup-tutupi. Ia melepas pegangan pada payung kuningnya, membiarkan ujungnya yang basah bersandar di tepi lantai bus.

"Jadi," bisik Vio sambil mencondongkan tubuhnya rapat-rapat, memastikan suaranya tenggelam di antara deru AC dan percakapan penumpang lain. "Coba ulang lagi. Kamu bilang suaranya ditarik?"

Selvara menatap keluar jendela. Garis cahaya kebiruan yang baru saja ia lihat di persimpangan tadi sudah menghilang dari jangkauan pandangannya. Namun, impresi visual itu serat transparan yang membumbung lurus membelah kabut pagi—masih tercetak jelas di dalam ingatannya.

"Selama ini kita menganggap Audio Drop itu cuma pemotongan suara lokal," kata Selvara pelan, menyesuaikan posisi tas sekolah di pangkauannya. "Suara ada, lalu mendadak mati tiga detik, lalu muncul lagi. Tapi saat hening tadi, gelombang Resonance di sekitar halte bergerak ke satu titik fokus."

Vio mengerutkan alisnya, mencoba mencerna istilah itu. "Fokus ke atas?"

"Iya. Seperti ada kehampaan tekanan di atas sana yang menyerap getaran frekuensi di bawahnya," Selvara mengangkat jemari tangan kanannya, menggerakkannya pelan seolah sedang menggambarkan alur benang yang membumbung tinggi. "Suaranya tidak lenyap begitu saja dari realitas. Suara itu dicabut dan dialirkan."

Vio menghembuskan napas panjang. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi bus yang agak keras, menatap langit-langit bus dengan tatapan menerawang.

"Hebat," gumam Vio dengan nada humor kering yang biasa. "Dulu kita cuma mikirin gimana caranya biar nggak telat kumpul laporan OSIS. Sekarang kita malah ngomongin suara yang disedot ke langit Asterveil."

Selvara menyunggingkan senyum tipis. Ia mengerti perasaan temannya. Perubahan dalam hidup mereka terjadi begitu bertahap—dimulai dari kejanggalan absensi, pantulan yang terlambat, hingga hening yang tidak wajar—sampai-sampai fakta bahwa kini ia bisa melihat benang-benang Resonance tidak lagi terasa seperti kejutan yang menakutkan, melainkan sebuah kelanjutan logis yang harus diterima.

Ponsel di saku seragam Selvara bergetar pendek. Ia mengeluarkannya dan membaca pesan masuk di grup.

Theo: Kalian sudah di jalan ke sekolah?

Vio: Sudah di bus sama Selvara. Dan tebak apa? Selvara baru saja nemu update baru soal Audio Drop. Otakku resmi bekerja ekstra sebelum jam pertama.

Theo: Update apa?

Selvara mengambil alih jemarinya untuk mengetik balasan.

Selvara: Aku lihat alur sirkulasi Resonance pas kejadian di halte tadi. Suara yang hilang tidak mati secara acak, tapi ditarik ke atas oleh jalur konduksi vertikal. Nanti kita bahas di ruang OSIS sebelum bel.

Layar ponselnya hening sejenak. Indikator mengetik di bawah nama Theo muncul berturut-turut dengan jeda agak lama, menggambarkan bagaimana pemuda itu sedang memproses informasi baru tersebut dalam kerangka analisanya.

Theo: Konduksi vertikal... Berarti ada nodus penerima. Aku siapkan peta elevasi area sekolah dan distrik sekitarnya.

Lyara: Aku sudah di kelas musik. Nanti aku menyusul ke ruang OSIS kalau latihan instrumen pagi selesai.

Selvara menyimpan ponselnya kembali. Bus melambat saat mendekati halte di depan gerbang utama Asterveil School. Siswa-siswa berseragam rapi mulai bersiap berdiri, merapikan tas dan payung masing-masing.

"Kamu yakin mau ceritakan soal benang cahaya itu ke Theo sekarang?" tanya Vio pelan saat mereka berdiri memegang pegangan tangan bus.

"Kenapa?"

"Theo itu tipe orang yang bakal makin pusing kalau dapat variabel yang cuma bisa dilihat sama kamu," bisik Vio sambil tertawa kecil. "Dia butuh grafik, Sel. Kalimat 'aku melihat benang kebiruan melayang ke langit' bakal bikin dia muter otak seharian buat nyari sensor yang cocok."

Lihat selengkapnya