CHAINS : Beyond The Mist of Shattered Illusion

Lyneetra
Chapter #47

Under the East Wing

Chapter 3 - Episode 03

Bel pertama berbunyi sebelum Selvara sempat melangkah meninggalkan ruang OSIS.

Nada panjangnya menggema di sepanjang koridor, bercampur dengan suara pintu kelas yang dibuka dan langkah siswa yang mulai bergegas menuju ruangan masing-masing.

Theo segera menggulung peta elevasi di atas meja, sementara Lyara mengangkat cangkir tehnya dan memasukkannya ke dalam tas kecil yang ia bawa dari ruang musik.

“Kita tidak punya banyak waktu sebelum pergantian jam pertama,” kata Theo sambil menahan ujung peta agar tidak kembali terbuka.

“Gedung timur sedang digunakan untuk kelas tingkat dua. Kalau kamu menemukan sesuatu, jangan menyentuh bagian apa pun sebelum memberi tahu kami.”

Selvara menatapnya. “Aku hanya akan memeriksa jalur yang tertinggal.”

“Aku tahu. Masalahnya, setiap kali kamu mengatakan hanya akan memeriksa, biasanya ada bagian gedung yang ikut berubah setelahnya.”

Vio menyambar payung kuningnya dari dekat kaki meja, lalu menepuk lengan Theo dengan punggung tangan. “Kamu membuatnya terdengar seperti Selvara sengaja merusak properti sekolah.”

“Aku tidak mengatakan begitu.”

“Kamu mengatakannya dengan cara yang jauh lebih panjang.”

Lyara tersenyum kecil sambil menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. “Kalau jalur itu memang terhubung dengan fasilitas lama, perubahan kecil pada struktur bangunan mungkin bukan sesuatu yang bisa kita cegah. Yang bisa kita lakukan adalah memastikan tidak ada siswa lain di sekitar lokasi.”

Selvara mengangguk. Ia merapikan tas di bahunya, lalu menyentuh cincin perak di jari tengah tangan kanannya. Logam itu masih terasa dingin, tetapi tidak memberi reaksi apa pun. Tidak ada denyut, tidak ada rasa kebas yang menjalar ke telapak tangan, bahkan tidak ada lapisan tipis embun yang biasanya menjadi tanda awal ketika Resonance mulai mendekat.

Ketenangan itu justru membuatnya lebih waspada.

Mereka keluar dari ruang OSIS bersama-sama. Theo dan Lyara bergerak menuju perpustakaan, sedangkan Vio berjalan di samping Selvara sampai ujung koridor.

Dari sana, tangga menuju gedung timur berada di sebelah kanan, melewati jembatan tertutup yang menghubungkan bangunan utama dengan sayap lama sekolah. Jendela-jendela tinggi di sepanjang jembatan dipenuhi titik air hujan. Di balik kaca, halaman tengah tampak pucat, dengan genangan air yang memantulkan langit kelabu.

“Aku ikut sampai lantai dua,” kata Vio.

“Bukankah kamu harus memantau laporan warga?”

“Aku bisa melakukannya dari ponsel. Lagi pula, kalau sesuatu muncul di gedung timur, aku lebih suka ada orang yang bisa memastikan kamu masih berpijak di lantai.”

Selvara meliriknya. “Kamu terdengar seperti Theo.”

“Jangan menghina aku pagi-pagi.”

Mereka melewati jembatan tanpa berbicara lagi. Di depan pintu gedung timur, beberapa siswa keluar sambil membawa buku dan map. Selvara menunggu sampai arus mereka menipis sebelum masuk. Udara di dalam bangunan itu terasa lebih dingin daripada koridor utama. Bau kayu basah dan debu kapur mengendap di antara suara pelajaran yang terdengar samar dari balik pintu kelas.

Cincin di tangan Selvara masih diam.

Ia menaiki tangga menuju lantai dua. Setiap anak tangga di gedung timur memiliki lapisan cat yang lebih kusam daripada bagian sekolah lainnya. Pada dinding sebelah kiri, papan pengumuman lama masih menampilkan beberapa poster kegiatan dari dua tahun sebelumnya. Sebagian kertas sudah menguning, tetapi salah satu poster di bagian bawah tampak jauh lebih baru daripada yang lain.

Selvara berhenti.

Poster itu menampilkan jadwal pemeliharaan sistem audio gedung timur. Tidak ada logo sekolah, nama panitia, atau tanda tangan petugas. Hanya terdapat daftar tanggal dan beberapa kode ruangan yang dicetak dengan huruf kecil. Di bagian paling bawah, satu baris terpotong oleh lapisan poster lain.

Vio berdiri di sampingnya dan memiringkan kepala. “Itu baru?”

“Tintanya belum pudar.”

“Menurutmu siapa yang menempelkannya?”

Selvara mengangkat tangan, tetapi tidak menyentuh poster tersebut. Ia merasakan udara di sekitar kertas bergerak sangat halus, seperti getaran yang muncul dari balik dinding. Cincin peraknya akhirnya memberi reaksi. Rasa dingin menusuk menjalar dari jari tengah menuju pergelangan tangan. Lapisan embun tipis muncul di permukaan logam, membentuk garis yang mengarah ke tangga belakang.

“Sel,” ujar Vio, kali ini tanpa nada bercanda.

“Ada jalur di balik dinding.”

“Jalur menuju mana?”

Selvara menoleh ke ujung koridor. Di sana terdapat pintu besi sempit yang selama ini tertutup oleh rak perlengkapan kebersihan. Pintu itu tidak tercantum dalam denah sekolah yang pernah mereka lihat di ruang OSIS. Celah di bawahnya mengeluarkan aliran udara yang sangat dingin, membawa suara rendah seperti dengung listrik dari lantai bawah.

Selvara melangkah mendekat. Semakin dekat ia berjalan, suara itu semakin jelas. Dengung tersebut tidak berasal dari mesin biasa. Di dalamnya terdapat lapisan bunyi lain, berupa potongan percakapan yang saling bertumpuk dan tidak pernah selesai.

Vio meraih lengan seragamnya. “Kita panggil Theo dulu.”

“Kalau jalurnya aktif, kita perlu tahu apakah alirannya berubah saat kita mendekat.”

“Kamu bisa tahu itu tanpa membuka pintunya.”

Selvara menatap celah pintu tersebut. Dari bawahnya, seutas cahaya kebiruan menyelinap keluar dan bergerak naik di sepanjang permukaan lantai, begitu tipis sampai tampak seperti pantulan air. Jalur itu berhenti tepat di depan sepatunya.

Cincin perak di tangan kanannya berdenyut sekali.

Suara dari balik pintu mendadak berhenti.

Vio menahan napas. “Selvara.”

Dari sisi lain pintu, terdengar bunyi gesekan pelan. Seperti seseorang sedang menarik kuku melewati permukaan logam, perlahan dan teratur, dari bagian atas menuju bawah.

Selvara mundur setengah langkah. Cahaya kebiruan di lantai ikut bergeser, lalu membentuk garis yang mengarah ke tangannya. Dingin mulai menekan tulang jarinya, tetapi belum berubah menjadi rasa sakit.

Ponsel Vio bergetar.

Ia segera melihat layarnya. “Theo mengirim pesan. Mereka menemukan sesuatu di arsip lama.”

“Apa katanya?”

Vio membaca pesan itu dengan wajah yang perlahan kehilangan warna.

“Theo bilang, jalur vertikal yang kamu lihat tidak tercatat sebagai fasilitas sekolah.” Ia mengangkat pandangan kepada Selvara. “Nama sistemnya tercantum dalam dokumen tahun 1998.”

Gesekan dari balik pintu berhenti.

Vio menelan ludah sebelum melanjutkan, “Dan sistem itu disebut sebagai jaringan pengumpul suara.”

Pintu besi di hadapan mereka bergerak terbuka beberapa sentimeter.

Pintu besi itu terbuka sedikit demi sedikit, seolah-olah seseorang di baliknya sedang menarik daun pintu dengan hati-hati agar engselnya tidak menimbulkan suara. Celah yang terbentuk cukup lebar untuk memperlihatkan tangga sempit menuju lantai bawah. Tidak ada lampu di sepanjang dinding, tetapi cahaya kebiruan dari celah-celah lantai menerangi beberapa anak tangga pertama.

Selvara menahan napas. Udara dingin mengalir dari ruang bawah tanah dan menyentuh wajahnya. Bersamaan dengan itu, potongan-potongan suara kembali terdengar dari balik pintu. Ada suara bel sekolah, suara langkah kaki, suara guru yang sedang menjelaskan pelajaran, serta percakapan para siswa yang saling bertumpuk. Semuanya terdengar jauh dan terputus, seperti rekaman yang diputar dari ruangan berbeda.

Vio meraih ponselnya dan membuka kamera. “Aku akan merekam dari sini. Kalau pintunya bergerak lagi, kita mundur.”

“Jangan gunakan lampu kilat.”

“Aku masih ingat kejadian di ruang arsip.”

Selvara menoleh kepadanya. “Kamu masih menyalahkanku karena itu?”

“Aku menyalahkan siapa pun yang membuat tiga puluh map tua beterbangan ke arah kepala kami.”

“Map-map itu bergerak karena tekanan Mist.”

“Dan tekanan itu muncul setelah kamu menyentuh simbol di lantai.”

Selvara tidak membalas. Perhatiannya tertuju pada garis biru yang mengalir menuruni tangga. Jalur itu tidak lagi tampak seperti pantulan cahaya. Di balik permukaannya, terdapat serat-serat tipis yang berdenyut mengikuti suara dari bawah. Setiap kali salah satu suara menghilang, serat tersebut mengencang dan cahaya di sepanjang tangga menjadi sedikit lebih terang.

Cincin di jari tengah tangan kanannya terasa semakin dingin. Lapisan embun yang muncul di permukaannya membentuk pola menyerupai garis melingkar, tetapi Selvara belum pernah melihat bentuk itu sebelumnya. Ia mengangkat tangannya mendekati cahaya tanpa menyentuhnya.

Dengung dari bawah berubah menjadi nada rendah yang bergetar di dalam tulang.

“Selvara, jangan turun sendirian,” ujar Vio.

“Aku tidak akan turun jauh.”

“Kalimat itu juga pernah kamu gunakan sebelum masuk ke ruang bawah aula.”

“Kali ini berbeda.”

“Semua tempat berbahaya selalu terdengar berbeda sebelum kita memasukinya.”

Selvara memandang ke arah bawah tangga. Di balik suara yang bertumpuk, ia mendengar satu bunyi lain yang jauh lebih pelan. Suara itu tidak berasal dari sistem audio atau percakapan yang tersimpan di dalam jalur konduksi. Seseorang sedang mengetuk permukaan logam dari bawah, tiga kali dengan jarak yang sama.

Tok. Tok. Tok.

Selvara melangkah melewati ambang pintu.

Dingin langsung merambat dari telapak kaki menuju lututnya. Ia tidak melihat adanya perubahan pada tubuhnya, tetapi setiap suara di dalam gedung mendadak terdengar semakin jelas. Derit sepatu di koridor lantai dua, suara halaman buku yang dibalik dari ruang kelas, bahkan napas Vio di belakangnya terdengar seperti berada tepat di samping telinga.

Vio ikut masuk dan menutup pintu tanpa menguncinya. “Aku mulai menyesal membawa payung, karena benda itu tidak bisa dipakai untuk memukul sistem bawah tanah.”

“Payungmu bisa digunakan untuk memberi tanda kalau kita perlu keluar.”

“Jadi sekarang payungku berubah menjadi bendera darurat.”

“Untuk sementara.”

Tangga itu berakhir di sebuah lorong pendek dengan dinding beton tua. Cat abu-abu di permukaannya mengelupas dalam bidang-bidang tipis, memperlihatkan lapisan hitam di bawahnya. Tidak ada tanda fasilitas sekolah di sana. Tidak ada nomor ruangan, papan petunjuk, atau kabel listrik yang terlihat. Hanya terdapat deretan lingkaran kecil pada dinding sebelah kanan, tersusun dari lantai sampai langit-langit.

Selvara mendekati salah satunya. Lingkaran tersebut berukuran sebesar telapak tangan dan dikelilingi garis-garis tipis yang mengarah ke bagian tengah. Bentuknya mengingatkan pada lambang yang mereka temukan di ruang arsip, tetapi simbol di sini lebih sederhana dan tampak seperti bagian dari sistem yang jauh lebih besar.

Ponsel Vio kembali bergetar. Pesan baru dari Theo muncul di layar.

Theo: Jangan lanjutkan ke bawah. Kami menemukan catatan bahwa jaringan itu terhubung dengan ruang pemeliharaan lama di bawah gedung timur. Tidak ada informasi mengenai kondisi sistemnya.

Vio menunjukkan layar itu kepada Selvara. “Theo meminta kita berhenti.”

“Dia tahu kita sudah berada di sini?”

“Dia mungkin menduga.”

“Berarti dia tahu kita tidak akan langsung kembali.”

“Sel, kali ini aku serius. Kita belum tahu apakah sistem ini hanya menyimpan suara atau melakukan sesuatu terhadap orang yang mendekat.”

Selvara menatap lingkaran-lingkaran di dinding. Salah satunya berdenyut mengikuti ketukan yang terdengar dari bawah. Tiga kali. Jeda. Tiga kali lagi.

Ia menekan tombol panggil Theo.

Sambungan tidak segera terhubung. Layar ponselnya hanya menampilkan tanda pencarian jaringan. Di gedung atas, sinyal masih cukup kuat untuk mengirim pesan, tetapi di lorong bawah tanah ini indikatornya turun perlahan sampai hanya tersisa satu garis.

“Tidak ada jaringan,” kata Vio.

Selvara menyimpan ponselnya. “Kita kembali ke pintu.”

Mereka berbalik hampir bersamaan.

Pintu besi di ujung lorong sudah tertutup.

Vio segera mendekatinya dan memutar gagang pintu. Gagang itu bergerak, tetapi daun pintu tidak bergeser. Ia menariknya dua kali dengan tenaga yang lebih besar, kemudian menempelkan telapak tangan ke permukaannya untuk merasakan getaran dari sisi lain.

“Pintunya terkunci dari luar.”

Selvara berdiri beberapa langkah di belakangnya. Cahaya biru yang tadi mengalir menuju ruang bawah tanah kini berhenti di bawah tubuh mereka. Serat-seratnya menyebar ke kedua sisi lorong, menyentuh lingkaran-lingkaran pada dinding. Satu per satu lingkaran itu menyala, membentuk jalur yang mengarah ke bagian bawah.

Dengung dari ruang pemeliharaan berubah menjadi suara manusia.

“Selvara.”

Vio menoleh cepat. “Kamu dengar itu?”

Suara tersebut terdengar lagi, kali ini lebih jelas.

“Selvara Anthiersa.”

Cincin di tangan kanan Selvara memancarkan rasa dingin yang menusuk. Lapisan tipis es terbentuk di sekitar logamnya, menyebar ke kulit tanpa melukai. Dari ujung lorong, udara bergerak naik membawa bau tanah basah dan besi tua.

Selvara mengangkat tangan kanannya. “Ada sesuatu di bawah sana yang mengenal namaku.”

“Kalau begitu, kita benar-benar harus pergi.”

“Pintu keluar tertutup.”

“Cari cara membukanya.”

Ketukan dari bawah terdengar untuk ketiga kalinya, tetapi kali ini jumlahnya berubah. Bukan tiga ketukan, melainkan satu rangkaian panjang yang menyerupai seseorang sedang mengetuk dari balik dinding dengan seluruh jemarinya.

Lingkaran terakhir menyala.

Pada saat yang sama, suara dari dalam sistem audio berhenti seluruhnya. Lorong menjadi begitu sunyi sampai Selvara dapat mendengar denyut jantungnya sendiri. Dari lantai di antara dirinya dan Vio, sebuah garis retak terbuka perlahan. Cahaya kebiruan muncul dari dalamnya, disusul hembusan udara yang membawa gema suara sekolah.

Lihat selengkapnya