CHAINS : Beyond The Mist of Shattered Illusion

Lyneetra
Chapter #48

The Old Connection

Chapter 3 - Episode 04

Pelajaran kembali berjalan seperti biasa setelah kejadian di koridor.

Guru melanjutkan materi, para siswa membuka buku, dan obrolan tentang tiga denting dari pengeras suara perlahan tenggelam oleh tugas yang harus dikumpulkan sebelum jam pulang. Selvara berusaha mencatat penjelasan di papan, tetapi pikirannya terus kembali pada garis cahaya yang ia lihat menuju menara jam.

Saat bel istirahat berbunyi, Vio menghampirinya sambil membawa dua kotak susu dari kantin.

Ia melirik buku Selvara yang masih terbuka. “Kamu dari tadi menulis judul yang sama. Kalau terus kepikiran, nanti kamu malah nggak paham yang dibahas guru.”

Selvara melihat halaman catatannya. Judul pelajaran memang tertulis dua kali.

Ia menghapus salah satunya. “Aku cuma kehilangan fokus sebentar.”

“Sebentar, tau bengong?, Kamu sampai menulis judulnya dua kali!.” Vio menyodorkan satu kotak susu. “Coba istirahat dulu. Kita belum tahu apa-apa soal cahaya yang kamu lihat tadi.”

Selvara menerima kotak itu. Beberapa siswa di kelas masih membicarakan bunyi aneh dari pengeras suara, tetapi sebagian besar menganggapnya gangguan teknis. Seorang siswa menirukan dentingnya sampai guru yang lewat menyuruhnya berhenti.

“Setidaknya mereka tidak panik,” kata Selvara.

“Belum ada yang menghubungkannya dengan pintu di gedung timur,” ujar Vio. “Buat mereka, paling cuma kabel yang bermasalah.”

Ponsel Selvara bergetar. Theo mengirim pesan ke grup mereka.

Theo: Aku sudah mendapat izin untuk memeriksa denah instalasi lama setelah jam sekolah. Kita bertemu di perpustakaan dan minta petugas arsip membuka berkas tahun 1998.

Vio membaca pesan itu dari layar Selvara. “Jadi sepulang sekolah kita langsung ke perpustakaan?”

“Sepertinya begitu.”

“Semoga denahnya bisa dibaca. Aku tidak mau menghabiskan sore menebak-nebak tulisan tangan yang sudah pudar.”

“Kalau tulisannya sulit dibaca, kita minta bantuan Theo.”

“Bagus. Biar dia juga ikut pusing.”

Selvara tersenyum tipis. Bel tanda masuk kembali berbunyi, dan mereka kembali ke tempat duduk sebelum guru datang. Sisa hari berjalan di antara pelajaran, tugas, dan obrolan singkat tentang hal-hal biasa. Meski begitu, Selvara tetap teringat pada jalur cahaya yang mengarah ke pusat kota.

Sepulang sekolah, mereka berkumpul di perpustakaan. Theo sudah menunggu di dekat meja petugas bersama map tipis berisi salinan dokumen yang ia dapatkan pagi tadi. Lyara datang beberapa menit kemudian dengan catatan dari katalog arsip sekolah.

“Aku menemukan daftar renovasi gedung timur,” kata Lyara sambil membuka bukunya. “Ada beberapa perubahan pada jalur pengeras suara, tapi menara jam tidak disebut.”

Theo merapikan map di tangannya. “Mungkin peta instalasinya menunjukkan lebih banyak. Kita minta izin dulu sebelum membuka dokumen aslinya.”

Petugas perpustakaan mendengarkan penjelasan mereka, lalu mengantar mereka ke ruang penyimpanan arsip. Ruangan itu berada di belakang meja layanan, dengan rak-rak tinggi dan kotak dokumen berlabel tahun. Ia menemukan satu kotak bertanda Asterveil School Renovation, 1998 dan meletakkannya di atas meja.

“Silakan diperiksa di sini. Tolong jangan lepaskan lembaran dari mapnya,” pesannya.

Theo berterima kasih, lalu membuka kotak itu dengan hati-hati. Di dalamnya terdapat beberapa laporan renovasi, daftar material, dan gulungan denah yang tepinya sudah menguning. Lyara membantu membentangkan gulungan tersebut, sementara Vio menahan ujungnya agar tidak menggulung kembali.

Selvara berdiri di sisi meja dan memperhatikan garis-garis pada peta. Sebagian menunjukkan jalur listrik dan pengeras suara di gedung utama. Garis lain menghubungkan gedung timur dengan beberapa titik di sekitar sekolah. Di sudut peta terdapat lambang kecil yang sama dengan simbol pada pintu bawah tanah.

Theo membandingkan kode di peta dengan catatannya. “Ini jalur yang kita temukan di gedung timur.”

Lyara mengikuti garis tipis yang berlanjut melewati batas kompleks sekolah. “Jalurnya terus ke pusat kota.”

Garis itu berakhir pada gambar kecil berbentuk lingkaran, tepat di lokasi menara jam. Di sampingnya tercetak keterangan pendek yang hampir tertutup bekas lipatan kertas.

Selvara mendekat untuk membacanya.

Jalur penghubung lama: tetap aktif setelah renovasi.

Theo mengikuti garis pada peta dengan ujung pensil. Jalur itu berawal dari gedung timur, melewati batas sekolah, lalu terhubung ke sebuah lingkaran kecil di dekat menara jam. Tidak ada keterangan tentang fungsi lingkaran tersebut. Di bagian legenda, simbol yang sama hanya disebut sebagai titik sambungan.

“Berarti jalurnya memang menghubungkan sekolah dengan menara,” kata Vio. Ia masih menahan ujung peta agar tetap terbuka. “Tapi kita belum tahu apakah sambungannya masih utuh.”

“Catatan di sampingnya bilang jalur itu tetap aktif setelah renovasi,” ujar Theo. “Kalau keterangan itu benar, seseorang sengaja membiarkannya terhubung.”

Selvara memeriksa tulisan kecil di samping garis. Tinta pada bagian itu tampak lebih gelap daripada tulisan lain. “Atau jalurnya memang diperlukan untuk fungsi tertentu. Kita belum tahu siapa yang menulis catatan ini, apalagi kapan.”

Theo mengangguk dan mencatat nomor dokumen yang tertera di sudut peta. “Kita perlu membandingkan salinan dari tahun berbeda. Kalau garisnya dihapus dari denah setelah 1998, berarti ada perubahan. Kalau tetap muncul, jalur ini mungkin dianggap sebagai bagian resmi dari sistem.”

“Dan kalau tidak pernah muncul lagi?” tanya Vio.

“Berarti ada yang sengaja tidak memasukkannya ke denah berikutnya,” jawab Lyara. “Tapi satu peta saja belum cukup untuk membuktikan itu.”

Vio melepaskan ujung kertas sebentar untuk mengubah posisi tangannya. Gulungan peta hampir kembali melipat, lalu Selvara cepat menahannya. “Kita bisa minta denah kota dari arsip umum?”

“Bisa,” kata Lyara. “Namun berkas seperti ini mungkin tidak tersedia untuk umum, terutama kalau jalurnya terkait fasilitas kota. Lebih baik kita cari dulu nomor dokumen lain di katalog sekolah. Dari sana, kita mungkin menemukan siapa yang menangani instalasi audio pada masa itu.”

Theo kembali menelusuri peta. “Ada tiga garis yang keluar dari gedung timur. Satu menuju ruang kendali sekolah, satu berhenti di batas halaman, dan yang ini terus sampai menara jam. Mungkin ketiganya punya fungsi berbeda.”

“Yang menuju ruang kendali seharusnya jalur pengeras suara biasa,” kata Selvara. “Tapi tadi teknisi bilang kabel lama sudah diputus.”

“Bisa saja memang sudah diputus dari panel utama,” balas Theo. “Itu belum menjelaskan jalur di bawah gedung. Kita perlu membedakan sambungan fisik yang masih ada dari aliran yang kamu lihat.”

Selvara memandangi garis peta yang berakhir di menara jam. “Cahayanya bergerak dari gedung timur ke sana. Aku tidak tahu apakah yang kulihat mengikuti kabel atau sesuatu yang menggunakan jalur itu.”

“Jadi, kita punya dua hal berbeda yang kebetulan searah,” kata Vio. “Denah menunjukkan sambungan lama, sementara penglihatanmu menunjukkan aliran Resonance. Kita jangan menganggap keduanya pasti sama.”

Selvara menatapnya. “Aku setuju. Tapi bunyi dari pengeras suara muncul setelah jalur itu aktif. Itu hubungan yang perlu kita periksa.”

“Aku tahu,” ujar Vio. “Aku cuma tidak mau kita mendatangi menara karena garisnya terlihat sama, lalu ternyata kita salah membaca tanda.”

Nada bicara Vio terdengar serius. Ia masih duduk dekat meja, tetapi tangannya sudah berhenti memainkan ponsel. Selvara memahami kekhawatirannya. Di lorong bawah, suara yang meniru ibunya sempat membuat Vio kehilangan fokus. Mereka belum tahu apakah sistem itu hanya mengulang suara atau sengaja memilih suara yang bisa memengaruhi orang.

Theo menutup mapnya. “Kita tidak akan pergi ke menara hari ini. Kita kumpulkan dokumen dulu, lalu cari tahu apakah ada orang yang masih bertanggung jawab atas pemeliharaannya.”

Petugas perpustakaan yang sejak tadi bekerja di meja depan menghampiri mereka. Ia mengingatkan bahwa ruang arsip akan segera ditutup. Lyara berterima kasih, lalu mencatat nomor berkas lanjutan yang disebut petugas itu. Mereka menggulung peta kembali dengan hati-hati dan memasukkannya ke kotak semula.

Sebelum menutup kotak, Selvara melihat satu lembar tipis terselip di bawah alas karton. Kertas itu tidak memiliki judul dan hampir menyatu dengan dasar kotak. Ia menariknya perlahan. Pada bagian atas hanya ada nomor yang sama dengan nomor peta, sedangkan di bawahnya terdapat daftar pemeriksaan.

Satu baris diberi tanda silang merah.

Penghubung menara jam: pemeriksaan ditunda sampai bunyi uji berhenti.

Selvara menunjukkan catatan itu kepada yang lain. Theo membaca baris tersebut, lalu melihat tanggal yang tertulis di sisi kanan.

Tanggalnya tercatat pada hari yang sama dengan renovasi gedung timur.

Petugas perpustakaan kembali setelah membereskan beberapa berkas di meja depan. Selvara menunjukkan catatan yang baru mereka temukan dan meminta izin untuk menyalinnya. Petugas itu membaca baris yang diberi tanda silang, lalu mengamati nomor dokumen di sudut kertas.

Lihat selengkapnya