Chapter 3 - Episode 05
Selvara masih membaca berita di layar halte ketika Theo dan Lyara keluar dari gerbang sekolah. Hujan telah menipis, tetapi awan di atas pusat kota membuat sore terasa lebih gelap daripada biasanya. Ia menunjukkan nama jalan yang sempat dicatatnya di ponsel. Lokasi terakhir dua anak itu terlihat berada beberapa ruas dari menara jam.
“Beritanya baru tayang?” tanya Theo.
“Di layar halte baru saja muncul,” jawab Selvara. “Mereka hilang sejak kabut turun tadi malam.”
Lyara mencari pengumuman yang sama melalui ponselnya.
Situs layanan kota memuat foto kedua anak itu, keterangan pakaian mereka, dan nomor yang bisa dihubungi jika ada warga yang melihat mereka.
Di bawahnya ada pembaruan singkat: petugas masih memeriksa rekaman kamera di sekitar lokasi terakhir.
Vio membaca pengumuman itu dari samping Lyara. “Orang tua mereka pasti sudah mencari semalaman.”
“Mudah-mudahan rekamannya membantu,” kata Lyara. “Lokasi terakhirnya dekat pusat kota, tapi itu belum berarti mereka menuju menara.”
“Aku tahu.” Selvara menurunkan ponselnya. “Aku cuma ingin kalian melihatnya. Kita sudah menemukan jalur lama yang berakhir di daerah itu.”
Theo memeriksa nama jalan pada peta kota. “Tempat mereka terakhir terlihat cukup ramai.
Ada toko yang buka sampai malam dan halte di ujung jalan. Kalau kabutnya tebal, rekaman dari satu kamera mungkin tidak cukup.”
Di layar halte, berita tentang anak-anak itu berganti menjadi pengumuman perjalanan.
Beberapa rute bus di pusat kota mengalami keterlambatan karena jarak pandang berkurang.
Bus mereka juga terlambat sepuluh menit. Vio mengirim pesan kepada ibunya, lalu bergeser ke sisi halte yang terlindung dari sisa hujan.
“Kita pulang dulu,” kata Theo. “Kalau ada informasi yang benar-benar berguna, kita berikan ke nomor di pengumuman. Petugas sudah mencari mereka.”
Selvara mengangguk. Ia membuka kembali berita itu untuk menyimpan nomor kontak, sementara Lyara memperhatikan foto kedua anak di layar ponselnya. Mereka mengenakan jaket sekolah yang berbeda dari seragam Asterveil School. Salah satu anak membawa tas kecil berwarna biru dengan gantungan berbentuk bintang.
Pengeras suara halte berbunyi. Suara petugas layanan kota mengumumkan keterlambatan bus dan menyarankan penumpang menunggu di area yang terang. Beberapa orang di halte mengangkat kepala untuk mendengarkan. Di tengah pengumuman, suara itu terputus selama beberapa detik.
Selvara menghitungnya tanpa sengaja.
Satu. Dua. Tiga.
Suara mesin kendaraan di jalan tetap terdengar. Hanya pengumuman dari pengeras suara yang menghilang. Ketika siaran kembali, kalimatnya berlanjut dari tengah kata, membuat beberapa penumpang saling bertanya rute mana yang dimaksud.
“Pengeras suaranya juga bermasalah?” ujar Vio.
Theo melihat layar jadwal bus. “Bisa jadi. Yang tadi di sekolah terdengar berbeda.”
Selvara hendak menjawab ketika Lyara menyentuh lengannya. Perempuan itu menunjuk ke layar halte. Berita tentang dua anak yang hilang muncul lagi, kali ini dengan kalimat tambahan di bawah foto: keduanya terakhir terlihat berjalan bersama di Jalan Merrow.
“Di ponselku tertulis Jalan Lorne,” kata Lyara. Ia memperlihatkan pengumuman resmi yang masih terbuka. “Alamatnya berbeda.”
“Mungkin layarnya belum diperbarui,” ujar Theo. “Cek waktu tayangnya.”
Selvara membandingkan kedua tampilan itu. Berita di layar halte menunjukkan waktu pembaruan yang lebih baru daripada halaman di ponsel Lyara. Namun, sebelum ia sempat memotret keterangan tersebut, layar beralih ke jadwal bus.
“Jalan Merrow dan Jalan Lorne berdekatan?” tanya Vio.
“Tidak terlalu jauh,” jawab Theo setelah memeriksa peta. “Ada satu persimpangan di antaranya. Kita jangan memilih salah satu sebelum tahu mana yang benar.”
Lyara menyegarkan halaman resmi di ponselnya. Keterangan lokasi tetap menyebut Jalan Lorne. Ia mencoba membuka berita dari sumber lain, tetapi sambungan internet melambat. Di seberang halte, lampu sebuah toko menyala lebih awal. Kabut tipis mulai turun di antara bangunan, cukup rendah untuk menutupi bagian bawah papan nama jalan.
Bus pertama datang dan berhenti di depan mereka. Pintu terbuka, tetapi nomor rutenya berbeda dari yang mereka tunggu. Beberapa penumpang naik. Selvara mundur agar mereka bisa lewat, lalu melihat pantulan layar halte pada kaca bus yang basah. Foto kedua anak itu muncul lagi di sana, bersamaan dengan tulisan Jalan Merrow.
Ia menoleh ke layar aslinya. Yang tampil justru jadwal keberangkatan.
“Sel?” panggil Vio.
Selvara kembali menatap kaca bus. Pantulan foto itu sudah hilang, tertutup bayangan orang-orang yang naik. “Tadi aku melihat beritanya di kaca, padahal layarnya sudah berganti.”
“Bisa saja pantulannya terlambat tertangkap matamu,” kata Theo, meski ia ikut melihat ke arah layar halte. “Kamu lelah sejak pagi.”
“Mungkin.”
Pintu bus menutup. Saat kendaraan itu berangkat, kabut di seberang jalan terbelah sebentar oleh lampu depannya. Selvara melihat sosok kecil berdiri di dekat papan nama jalan, mengenakan jaket gelap dan membawa tas biru. Ia segera mencari penyeberangan dengan pandangan, tetapi sebuah mobil lewat di antara mereka. Ketika jalan kembali terlihat, sosok itu sudah tidak ada.
Cincin di jari tengah tangan kanannya terasa dingin. Selvara menoleh kepada Vio dan menunjuk tempat yang baru saja dilihatnya.
“Ada anak di seberang tadi. Tasnya mirip yang ada di foto.”
Vio langsung mencari ke arah toko dan halte seberang. “Aku tidak melihatnya. Dia pergi ke mana?”
“Aku kehilangan dia saat mobil lewat.”
Theo sudah membuka nomor kontak pada pengumuman resmi. “Kalau kamu melihat ciri yang cocok, kita laporkan tempat dan waktunya. Biar petugas yang memeriksa kamera di jalan itu.”
Selvara menyebut letak papan nama dan warna tas yang dilihatnya. Theo menelepon nomor tersebut, sementara Lyara tetap mengamati seberang jalan. Kabut di sana masih tipis. Orang-orang berjalan melewati toko seperti biasa, dan tak seorang pun tampak mencari anak yang baru saja berdiri di dekat papan nama jalan.
Dari pengeras suara halte, pengumuman bus kembali terdengar. Di belakang suara petugas, ada suara anak yang sangat pelan. Selvara tidak menangkap seluruh kalimatnya, hanya dua kata sebelum siaran terputus lagi.
“Tunggu aku.”
Selvara menoleh ke pengeras suara di atas halte. Pengumuman telah berhenti, tetapi dua kata itu masih jelas di telinganya. Di sampingnya, Theo sedang berbicara dengan petugas melalui telepon, menyebut lokasi halte dan ciri tas yang dilihat Selvara.
“Kamu dengar suara anak tadi?” tanya Selvara kepada Vio.
Vio menggeleng. “Aku dengar siarannya terputus. Setelah itu cuma ada bunyi dari jalan.”
“Ada yang bilang, ‘Tunggu aku.’ Suaranya pelan sekali, tepat sebelum pengeras suara mati.”
Lyara mendekat dari sisi halte yang menghadap jalan. “Aku mendengar suara lain di belakang pengumuman, tapi kata-katanya tidak jelas. Kukira ada orang bicara dekat speaker.”
Selvara kembali melihat ke seberang. Kabut mulai menutupi bagian bawah papan nama jalan, sementara lampu toko masih terlihat jelas di atasnya. Orang-orang keluar masuk seperti biasa. Tempat anak dengan tas biru itu berdiri sudah kosong.
Theo menutup telepon. “Petugas mencatat laporan kita. Ada patroli tidak jauh dari sini. Mereka minta kita tetap di halte kalau bisa, supaya mereka tahu tepatnya di mana kamu melihat anak itu.”
Selvara menunjukkan pengeras suara. “Aku juga mendengar suara anak dari sana.”
“Kamu yakin suaranya keluar dari pengeras suara?” tanya Theo.
“Aku menghadap ke sana saat mendengarnya. Lyara juga mendengar ada suara lain.”
Theo melihat ke arah Lyara, yang menjawab dengan hati-hati, “Aku mendengar dua suara bertumpuk, tapi tidak bisa memastikan sumber suara yang kedua.”