CHAINS : Beyond The Mist of Shattered Illusion

Lyneetra
Chapter #50

Where They Were Seen

Chapter 3 - Episode 06

Video dari dalam bus sampai ke kelas Selvara sebelum pelajaran pertama dimulai.

Seorang teman menunjukkan layar ponselnya: pintu bus yang setengah terbuka, jalan basah di luar, lalu suara Vio terdengar dari pengeras.

Teks di atas rekaman menyebut suara itu milik salah satu anak yang sedang dicari.

Selvara menonton sampai selesai. Bagian yang menunjukkan Vio duduk di bus telah dipotong, sehingga siapa pun yang melihat video itu hanya akan mendengar suara tanpa tahu pemiliknya.

“Itu Vio,” kata Selvara. “Dia ada di bus bersamaku kemarin.”

Temannya melihat kembali teks pada video. “Tapi ini bilang suara anak yang hilang.”

“Orang yang merekam sudah menjelaskan sumber suaranya. Video yang kamu terima belum memuat koreksinya.”

Temannya berhenti di tengah gerakan hendak meneruskan pesan. “Aku hapus dulu. Tadi kupikir ini rekaman baru dari lokasi pencarian.”

Selvara berterima kasih. Ia sempat melihat jumlah orang yang telah membagikan ulang video itu, lalu ponsel temannya padam ketika guru masuk.

Sepanjang pelajaran, Selvara beberapa kali teringat kalimat pendek di atas rekaman.

Orang yang menulisnya mungkin hanya menebak, tetapi tebakan itu sudah berubah menjadi petunjuk bagi orang-orang yang sedang menunggu kabar dua anak tersebut.

Saat istirahat, Selvara menemukan Vio, Theo, dan Lyara di kantin. Vio masih mengenakan seragam klub panahan di balik jaket sekolahnya. Ia sedang membuka kotak makan dengan satu tangan, sementara tangan yang lain memegang ponsel. Begitu Selvara duduk, Vio mendorong layar itu ke tengah meja.

“Yang merekam sudah menambahkan keterangan,” katanya. “Dia menulis bahwa itu suaraku. Beberapa orang malah mengunggah ulang versi yang lama.”

“Ada yang menunjukkan video itu di kelasku,” jawab Selvara. “Aku sudah memberi tahu mereka.”

“Di kelasku juga ada yang bertanya.” Vio mengunci ponselnya dan akhirnya mengambil sendok. “Aku tidak keberatan menjawab orang yang datang langsung. Yang membuatku kesal, mereka mendengar tiga kata lalu yakin anak-anak itu ada di bus kami.”

Lyara menarik kotak makan Vio sedikit menjauh dari tepi meja. “Makan dulu. Dari tadi kamu membuka kotaknya, tapi belum menyentuh isinya.”

Vio melihat makan siangnya, seolah baru ingat kenapa ia membawanya ke kantin. “Aku sedang mencoba menjelaskan kepada satu orang bahwa aku masih sekolah di sini. Rasanya mestinya itu cukup untuk membuktikan aku bukan anak yang mereka cari.”

“Itu cukup kalau dia mau mendengarkan,” kata Selvara.

Theo sedang memeriksa pesan dari petugas pencarian. Pengunggah pertama telah menyerahkan file asli beserta waktu perekamannya. “Petugas punya video sebelum diberi tulisan apa pun,” katanya. “Mereka bisa memeriksa bagian jalan yang terlihat di luar bus. Keterangan salah di unggahan lain sudah kulaporkan juga.”

Vio mulai makan. Selvara pergi membeli roti, lalu kembali sebelum Theo menerima panggilan dari nomor petugas yang kemarin mencatat kesaksian mereka. Ia bergeser ke dekat jendela kantin agar suara dari meja-meja lain tidak mengganggu. Selvara melihatnya membuka buku kecil dan menuliskan dua hal sambil mendengarkan.

Ketika Theo kembali, Vio sudah menutup kotak makannya. “Ada kabar?”

“Mereka sudah memastikan bus melewati persimpangan yang terlihat di video,” jawab Theo. “Petugas ingin Selvara menjelaskan lagi di mana dia berdiri saat melihat anak dengan tas biru.”

Selvara meletakkan rotinya. “Kamera toko tidak menangkapnya?”

“Bagian dekat papan nama jalan tertutup penutup toko yang diturunkan waktu hujan. Mereka masih mencari rekaman dari sudut lain.”

Selvara mencoba mengingat kejadian di halte setepat mungkin. Ia berdiri di bawah atap bersama Vio, menghadap seberang. Anak itu tampak di dekat papan nama sebelum bus berhenti di depannya. Setelah kendaraan bergerak, trotoar sudah kosong. Sosok dalam video diambil beberapa menit kemudian, ketika bus melewati persimpangan lain.

“Aku akan jelaskan tempatku berdiri,” katanya. “Tapi aku tidak bisa memastikan sosok dalam video itu anak yang sama. Tasnya kelihatan terang, wajahnya tidak.”

“Itu juga yang petugas minta,” ujar Theo. “Mereka ingin urutan kejadian, bukan tebakan kita.”

Vio menyimpan sendoknya. “Aku akan tulis bagian genangan secara terpisah. Aku dan Selvara melihat dua anak di pantulan air, tetapi waktu kami melihat trotoarnya, tidak ada siapa-siapa.”

“Kamu sudah menjelaskannya dengan jelas,” kata Lyara. “Catat waktu dan tempatnya selagi masih ingat. Kalau petugas bertanya, ceritakan seperti itu.”

Vio membuka kembali catatan di ponselnya. Ia sempat berhenti pada kalimat tentang suara dari pengeras halte, kemudian memisahkannya ke paragraf baru. Selvara membantu mengingat bahwa suara anak terdengar sebelum mobil patroli datang. Mereka tidak menyamakan suara tersebut dengan suara kedua anak dalam berita; tak seorang pun di antara mereka pernah mendengar anak-anak itu berbicara.

Theo memperlihatkan dua foto layar halte yang diambil kemarin. Satu menulis Jalan Merrow, sedangkan pengumuman resmi di ponsel Lyara menyebut Jalan Lorne. “Petugas bilang pencarian saat ini berpusat di Jalan Lorne. Mereka sudah meminta pengelola layar memperbaiki alamat yang lain.”

“Semoga cepat,” kata Vio. “Kalau keluarganya ikut melihat layar itu, mereka bisa mengira pencarian pindah.”

Suara televisi kantin naik ketika tayangannya berganti ke berita lokal. Foto kedua anak muncul di samping pembawa berita. Beberapa siswa menoleh, lalu tetap makan sambil mendengarkan. Pembawa berita menyebut Jalan Lorne sebagai tempat mereka terakhir terlihat.

Selvara mula-mula mengikuti suaranya. Baru ketika Lyara menyentuh lengan Theo, ia membaca tulisan yang melintas di bagian bawah layar: Jalan Merrow. Tulisan itu muncul lagi beberapa detik kemudian, sementara pembawa berita tetap menyebut Jalan Lorne.

Theo memotret layar tanpa berdiri dari kursinya. Di meja belakang, seorang siswa mengulang nama jalan yang didengarnya dari televisi; temannya membaca alamat yang tertulis dan mengoreksinya. Perdebatan kecil mereka berakhir ketika berita beralih ke topik lain.

Vio menatap layar yang kini menayangkan ramalan cuaca. “Dua orang duduk di depan televisi yang sama, tapi pulang membawa alamat berbeda.”

Selvara melihat foto yang baru diambil Theo. Mereka memiliki alamat yang dipakai petugas pencarian dan bukti bahwa informasi lain masih disiarkan. Ia meminta Theo mengirimkan foto itu ke nomor laporan yang sama. Di meja kantin, makanan mereka mulai dingin, sementara di luar sekolah orang-orang mungkin sudah menuju Jalan Merrow karena membaca tulisan di televisi.

Theo mengirim foto layar televisi kepada petugas yang menangani laporan mereka. Setelah itu, mereka meninggalkan kantin karena jam istirahat hampir habis. Selvara berjalan bersama Vio sampai persimpangan koridor, tempat beberapa siswa berkumpul di depan papan pengumuman. Di antara jadwal klub dan daftar kegiatan sekolah, seseorang telah menempelkan cetakan berita tentang kedua anak yang hilang. Alamat di bawah foto mereka tertulis Jalan Merrow.

Vio berhenti membacanya. “Ini diambil dari berita televisi tadi.”

“Sepertinya begitu.” Selvara melihat sumber kecil yang dicetak di bagian bawah halaman. “Kalau ditempel di sini, lebih banyak orang akan mengira alamatnya sudah pasti.”

Seorang siswa di dekat papan berkata bahwa teman-teman klubnya berniat membantu mencari sepulang sekolah. Rikuya, yang berdiri di sampingnya dengan tas basket tersampir di bahu, menanyakan siapa yang mengatur kegiatan itu. Tidak ada yang tahu. Mereka hanya menerima ajakan lewat grup siswa.

“Kalau mau membantu, cari tahu dulu petugas meminta bantuan di mana,” kata Rikuya kepada temannya. “Jangan sampai kalian datang ramai-ramai ke jalan yang salah.”

Siswa itu menunjukkan cetakan di papan. “Bukannya di sini tertulis Merrow?”

“Di pengumuman resmi yang kulihat pagi tadi, alamatnya Lorne.” Rikuya menoleh kepada Selvara dan Vio. “Kalian tahu yang mana?”

“Petugas masih menggunakan Jalan Lorne sebagai lokasi terakhir mereka terlihat,” jawab Selvara. “Merrow muncul di beberapa layar, dan kami sudah melaporkan perbedaannya. Kalau temanmu ingin membantu, minta mereka mengikuti arahan petugas, bukan cetakan ini.”

Rikuya mengambil foto papan pengumuman agar bisa menunjukkan bagian yang keliru kepada guru pembina klub. “Aku akan bicara dengan mereka. Anak-anak klub boleh ingin membantu, tapi kami punya latihan sore dan tak seorang pun sudah menghubungi petugas pencarian.”

Ucapan itu terdengar biasa, seperti Rikuya sedang mengatur jadwal latihan. Selvara justru lega mendengarnya. Di sekitar mereka, kabar anak hilang mulai berubah menjadi rencana perjalanan yang dibuat dari potongan informasi. Rikuya membawa temannya menjauh dari papan sambil menanyakan siapa yang pertama mengirim ajakan tersebut.

Vio memperhatikan cetakan itu sekali lagi. “Kita beri tahu guru yang menempelkan?”

“Kita belum tahu siapa yang menempelkan. Aku akan ke ruang guru sebelum kelas,” kata Selvara.

Seorang guru yang sedang bertugas di koridor mendengarkan penjelasannya dan mencocokkan cetakan dengan pengumuman resmi di ponsel. Beliau melepas halaman itu dari papan. “Terima kasih sudah memberi tahu. Saya akan minta pengumuman yang benar dari pihak sekolah. Untuk sementara, siswa jangan mengatur pencarian sendiri.”

Ketika Selvara kembali ke kelas, Vio sudah berjalan menuju ruangan lain. Keduanya hanya sempat saling melambaikan tangan. Pelajaran berikutnya berlangsung tanpa gangguan, tetapi ponsel Selvara bergetar menjelang akhir jam. Ia baru membacanya setelah guru menutup buku dan mempersilakan siswa beristirahat.

Theo: Petugas membalas. Jalan Lorne adalah lokasi terakhir yang dikonfirmasi dari malam anak-anak itu hilang. Jalan Merrow sedang diperiksa karena video bus, tetapi sosok di rekaman belum teridentifikasi. Keterangan televisi tadi keliru.

Selvara meneruskan pesan itu kepada Vio. Beberapa menit kemudian, balasan Vio masuk.

Vio: Rikuya sudah bilang ke teman klubnya. Mereka batal pergi sendiri. Katanya mereka akan tanya guru kalau memang dibutuhkan bantuan.

Selvara meletakkan ponsel di meja. Kini dua alamat tersebut masuk akal sebagai dua jenis informasi yang berbeda. Kesalahan pada layar mungkin berasal dari seseorang yang menulis berita terlalu cepat. Namun, suara Vio yang muncul di bus dan sosok anak yang hanya terlihat dalam pantulan air tetap belum terjelaskan.

Sore itu, sekolah mengirim pemberitahuan singkat kepada siswa dan orang tua. Isinya meminta mereka menggunakan pengumuman resmi untuk memperoleh kabar pencarian, tidak menyebarkan dugaan tentang lokasi kedua anak, dan melapor jika memiliki informasi yang mereka saksikan sendiri. Selvara membaca pemberitahuan itu di ponselnya saat berjalan menuju ruang OSIS.

Di depan pintu, Theo sedang menerima pesan lain dari petugas. Kali ini tidak ada kabar baru tentang anak-anak tersebut. Petugas hanya meminta mereka menyimpan file video bus dan foto layar asli, lengkap dengan waktu pengambilannya.

Lihat selengkapnya