CHAINS : Beyond The Mist of Shattered Illusion

Lyneetra
Chapter #51

The Passage Between Streets

Chapter 3 - Episode 07

Bus yang ditumpangi Selvara melambat jauh sebelum persimpangan pusat kota. Dari jendela, ia melihat beberapa kendaraan dialihkan ke ruas sebelah. Dua petugas mengatur lalu lintas di dekat Jalan Lorne, sementara sebuah mobil layanan kota berhenti di depan deretan toko yang disebut ibunya semalam.

Selvara mendekat ke jendela. Di belakang toko-toko itu ada pagar besi dengan papan bertuliskan akses ditutup. Gerbangnya hampir luput dari perhatian di antara pintu belakang bangunan dan tumpukan peti milik pedagang. Seorang petugas sedang berbicara dengan pria yang membawa gulungan peta. Keduanya menunjuk ke arah pagar, lalu berjalan ke sisi jalan untuk melihatnya dari sudut lain.

Bus kembali maju sebelum Selvara bisa membaca papan kecil di samping gerbang. Ia mengambil foto melalui kaca. Hasilnya kurang jelas karena hujan meninggalkan bercak di jendela, tetapi posisi toko dan pagar masih terlihat. Ketika bus berbelok, menara jam muncul di atas atap bangunan yang sama. Selvara akhirnya bisa membayangkan jalan yang dimaksud ibunya: dari Jalan Lorne, melewati belakang toko, lalu keluar di Jalan Merrow pada sisi lain menara.

Di sekolah, Theo sudah berada di ruang OSIS ketika Selvara datang. Ia sedang menyelesaikan daftar tugas harian yang tertunda sejak gedung timur ditutup. Selvara meletakkan tasnya, lalu menunjukkan foto gerbang.

“Aku lewat Jalan Lorne tadi pagi. Petugas kota sedang memeriksa pagar di belakang toko. Itu mungkin ujung gang yang diceritakan Ibu.”

Theo memperbesar gambar. “Ada dua petugas di sana?”

“Aku melihat dua di dekat gerbang dan satu yang mengatur kendaraan. Busnya dialihkan, jadi aku cuma lewat sebentar.”

“Berarti informasi dari ibumu sudah sampai kepada tim pencarian, atau mereka menemukannya dari peta sendiri.”

“Yang penting mereka memeriksanya.” Selvara menunjuk letak menara jam di foto. “Aku baru sadar gerbangnya sedekat ini.”

Vio masuk sambil membawa sarapan yang belum sempat ia habiskan. Ia melihat gambar di ponsel Selvara, lalu menggeser kertas tugas OSIS agar tidak terkena remah roti. “Pagar itu tampak seperti belakang toko biasa. Aku mungkin akan melewatinya tanpa sadar.”

“Ibu pernah memakai gangnya sebagai jalan pintas,” kata Selvara. “Aku tidak tahu kapan gerbangnya mulai ditutup.”

“Kalau petugas sudah di sana, mereka bisa menanyakan itu kepada pemilik toko,” ujar Vio. Ia menggigit rotinya, kemudian berhenti. “Maaf. Aku belum sarapan di rumah.”

“Makan saja,” kata Theo. “Lyara masih di perpustakaan. Kita perlu menunggu petugas arsip sebelum bisa melihat peta kemarin.”

Beberapa menit kemudian, Lyara datang membawa kabar bahwa berkas tahun 1998 boleh dibuka lagi setelah jam pelajaran. Petugas perpustakaan sedang mengurus peminjaman kelas dan meminta mereka kembali sore nanti. Lyara juga membawa sketsa sederhana yang ia buat dari ingatan: gedung timur, jalur yang menuju menara jam, dan posisi kedua jalan di sekitarnya.

“Aku menggambar ini semalam, tapi letak gangnya masih perkiraan,” katanya. “Kalau kita cocokkan dengan peta asli, kita bisa tahu apakah jalur audio melewati sisi yang sama atau hanya tampak berdekatan karena skalanya kecil.”

Theo menyimpan foto Selvara bersama sketsa itu. “Sekolah sudah melaporkan kejadian di belakang lapangan basket. Petugas fasilitas akan memeriksa dinding gudang lagi hari ini, setelah kabut hilang.”

“Lapangan masih ditutup?” tanya Vio.

“Bagian belakangnya. Rikuya memindahkan latihan klub ke gedung olahraga.”

Bel pertama terdengar dari koridor. Mereka membereskan meja dan berjalan keluar bersama. Di jembatan menuju kelas, Selvara melihat lapangan basket yang sepi. Pita pembatas masih terpasang di dekat gudang, sementara jalur di belakangnya tampak jelas dalam cahaya pagi. Dinding yang kemarin terlihat memiliki pintu tambahan kini utuh dari ujung ke ujung.

“Kalau orang hanya datang hari ini, mereka tidak akan tahu apa yang kita lihat kemarin,” kata Lyara.

“Guru pembina dan petugas juga mendengar suara Rikuya,” jawab Selvara. “Kita punya saksi selain kelompok kita.”

Vio berhenti sebentar di depan jendela. “Aku memikirkan gang di pusat kota. Kalau gerbangnya tertutup sekarang, itu belum menjelaskan bagaimana kedua anak bisa lewat. Tapi kabut di lapangan membuat bola keluar dari sisi yang salah. Aku jadi sulit menganggap pagar sebagai akhir sebuah jalan.”

Theo memandangnya. “Beri petugas waktu memeriksa gerbang. Kita belum tahu apakah anak-anak itu pernah mendekatinya.”

“Aku tahu.” Vio mulai berjalan lagi. “Aku cuma ingin mereka memeriksa kedua ujung gangnya.”

Selvara memandang menara jam yang terlihat kecil dari sela bangunan sekolah. Pagar di Jalan Lorne telah ditemukan, dan orang-orang yang berwenang sedang bekerja di sana. Sore nanti, peta lama mungkin membantu mereka memahami bagaimana jalan itu pernah terhubung ke Jalan Merrow. Sampai saat itu, Selvara harus menjalani pelajaran seperti siswa lain, sambil menunggu kabar tentang dua anak yang belum juga pulang.

Selvara menghabiskan jam pelajaran terakhir dengan menyelesaikan tugas yang sempat tertunda. Vio duduk dua baris di depannya dan beberapa kali menoleh ketika guru meminta mereka membandingkan jawaban. Mereka masih memikirkan gang di belakang menara jam, tetapi tugas itu harus dikumpulkan sebelum pulang. Selvara baru membuka ponselnya lagi setelah bel berbunyi.

Pesan dari Rikuya sudah masuk ke grup mereka.

Rikuya: Petugas memeriksa belakang gudang pagi ini. Pagar tetap terkunci dan dindingnya utuh. Area itu masih ditutup, jadi latihan kami pindah ke dalam.

Vio membaca pesan tersebut sambil memasukkan buku ke tas. “Berarti mereka belum menemukan jalan lain yang bisa dilewati bola.”

“Belum,” kata Selvara. “Setidaknya tak ada siswa yang masuk ke sana hari ini.”

Mereka bertemu Theo dan Lyara di perpustakaan. Petugas arsip sudah menyiapkan kotak dokumen tahun 1998, juga sebuah atlas kota lama yang diminta Lyara. Sebelum membuka keduanya, petugas mengingatkan bahwa halaman atlas mulai rapuh di bagian lipatan. Theo memindahkan gelas minum mereka ke rak dekat pintu, lalu membantu Lyara membentangkan denah lama.

Pada pemeriksaan sebelumnya, perhatian mereka tertuju pada garis yang menghubungkan gedung timur dengan menara jam. Kali ini Lyara mencari nama jalan di sekelilingnya. Jalan Lorne tampak jelas di sisi utara menara. Jalan Merrow berada di selatan, dipisahkan oleh deretan bangunan kecil yang sebagian namanya sudah tidak ada di peta kota sekarang.

“Di sini,” kata Lyara. Ujung pensilnya berhenti pada dua garis sejajar di belakang bangunan. “Atlas lama menggambar jalan servis dari Lorne sampai Merrow.”

Selvara mendekat. Jalan itu sempit, cukup untuk kendaraan perawatan, dan melewati sisi barat menara. Di tengahnya ada tanda pagar pada kedua ujung, tetapi tidak ada keterangan bahwa jalur tersebut ditutup.

“Ibu bilang beliau pernah lewat dari Lorne dan keluar di Merrow,” ujar Selvara. “Letaknya cocok.”

Theo menaruh ponselnya di samping atlas dan membuka peta kota terbaru. Pada layar, jalan servis itu hanya muncul sebagai dua potongan pendek yang berakhir di belakang toko. Bagian tengahnya tertutup gambar bangunan dan tidak bisa dipilih sebagai rute pejalan kaki.

“Peta baru menganggap jalannya buntu dari kedua sisi,” katanya. “Tapi atlas ini menunjukkan satu jalur utuh. Kita masih perlu tahu kapan aksesnya ditutup.”

Vio membandingkan foto gerbang yang diambil Selvara dari bus dengan gambar pada atlas. “Ini pintu sisi Lorne. Kalau sosok di video bus terlihat beberapa menit setelah kita berangkat, mungkin dia berada dekat pintu Merrow.”

“Mungkin,” jawab Selvara. “Kita harus memastikan posisi bus saat bagian itu direkam.”

Theo membuka video asli yang diterima dari pengunggah pertama. Ia menghentikannya pada gambar jalan di luar pintu bus, lalu menelusuri rute kendaraan di ponselnya. Sebuah toko dengan atap hijau tampak di ujung rekaman. Toko yang sama tercantum pada peta terbaru di dekat Jalan Merrow.

“Bus memang sudah berada di sisi Merrow,” kata Theo. “Tapi dari video ini kita belum bisa memastikan sosok itu berdiri di pintu gang. Pagar dan orangnya tertutup pantulan kaca.”

Vio mengangguk. “Kita bisa memberi petugas letak toko dan waktu rekamannya. Mereka yang punya kamera di sekitar sana.”

Selvara kembali melihat denah jalur audio. Garis dari gedung timur mencapai menara jam melalui sisi yang sama dengan jalan servis, lalu berhenti pada tanda sambungan yang pernah mereka temukan. Pada skala peta itu, garisnya terlalu tebal untuk menunjukkan apakah kabel melintas di dalam gang atau ditanam di bawah jalan sebelahnya.

“Kedua jalur ini berdekatan,” katanya kepada Theo. “Tapi kita jangan menulis bahwa kabelnya berada di bawah gang. Petanya tidak cukup rinci.”

Theo mencatat batasan itu di bawah nomor dokumen. Lyara meminta izin kepada petugas untuk mendapatkan salinan bagian atlas yang menunjukkan jalan servis. Petugas mengatakan perpustakaan dapat membuat salinan, tetapi harus dikerjakan oleh staf agar halaman asli tidak rusak. Mereka menunggu di meja baca sambil menyusun keterangan yang akan dikirim kepada petugas pencarian: nama dua jalan, posisi kedua ujung gang pada atlas lama, serta toko beratap hijau yang tampak dalam video bus.

Rikuya lewat di depan perpustakaan bersama dua anggota klub. Ia berhenti ketika melihat mereka masih berkumpul di sekitar peta. “Kalian menemukan jalan yang dicari?”

“Jalan lama di dekat menara,” jawab Vio. “Kami sedang menyiapkan salinannya untuk petugas.”

“Bagus kalau mereka mendapat peta yang bisa dibaca.” Rikuya melihat ke arah jendela. “Yang di belakang gudang sekolah masih ditutup. Anak-anak klub sudah mulai bertanya kapan bisa memakai lapangan lagi.”

“Apa kamu bilang pada mereka?” tanya Selvara.

“Aku bilang petugas belum selesai memeriksa, jadi kami latihan di dalam. Mereka tidak perlu mendengar tebakanku soal pintu yang muncul kemarin.”

Selvara mengangguk. Rikuya melanjutkan perjalanan setelah mengingatkan dua anggota klubnya agar tidak meninggalkan bola di koridor. Ketika salinan atlas selesai, Theo memeriksa apakah nama jalan dan tanda pagar terbaca jelas. Ia lalu mengirimkannya melalui nomor laporan yang sudah mereka gunakan, bersama penjelasan singkat tentang sumber peta dan keterbatasan gambar dari bus.

Petugas membalas bahwa informasi itu akan diteruskan kepada tim di lokasi. Selvara menyimpan ponselnya. Untuk pertama kalinya, jalan yang diingat ibunya memiliki bentuk dan dua pintu yang bisa dicari di lapangan. Apa yang ada di antara kedua pintu itu masih menjadi urusan petugas yang sedang memeriksanya.

Hujan kembali turun saat mereka meninggalkan perpustakaan. Theo menunggu di bawah atap depan sekolah untuk memastikan salinan atlas telah terkirim dengan ukuran yang masih terbaca. Lyara berdiri di sampingnya sambil memegang map tugas musik yang tidak ingin ia basahi. Vio sudah membuka payung kuningnya, tetapi belum melangkah karena Selvara sedang menelepon ibunya.

“Ibu benar soal gangnya,” kata Selvara setelah panggilan tersambung. “Kami menemukan peta lama. Jalannya memang menghubungkan Lorne dan Merrow.”

“Berarti Ibu belum sepenuhnya lupa jalan kota,” jawab ibunya. “Petugas sudah tahu?”

“Sudah kami kirim. Mereka akan memeriksanya.”

“Bagus. Kamu sendiri pulang lewat rute biasa, ya. Di berita tadi masih ada pengalihan kendaraan dekat menara.”

Selvara berjanji akan menghindari ruas yang ditutup. Setelah panggilan selesai, ia melihat Vio menunggunya di tepi tangga. Mereka berjalan ke halte bersama Theo dan Lyara, melewati lapangan basket yang kosong. Lampu gedung olahraga menyala; dari dalam terdengar bunyi bola dan suara Rikuya menghitung giliran latihan. Di belakang gudang, pita pembatas tampak basah oleh hujan, sementara dindingnya terlihat jelas.

“Kalau kabutnya muncul lagi, aku harap petugas tidak membiarkan siapa pun berlatih di luar,” kata Vio.

Lihat selengkapnya