CHAINS : Beyond The Mist of Shattered Illusion

Lyneetra
Chapter #52

The Closed Door

Chapter 3 - Episode 08

Pada Pagi harinya, Selvara tiba di sekolah lebih awal seperti biasa.

Bus yang ia ditumpangi melewati Jalan Lorne dengan lambat.

Dari balik jendela, ia melihat dua kendaraan petugas masih terparkir di dekat pagar besi.

Terlihat seorang pria berjaket hujan yang sedang berbicara dengan petugas sambil menunjuk ke arah menara.

Di belakang mereka, kabut pagi menutupi ujung jalan, tetapi tidak setebal Mist yang dilihat Selvara kemarin.

Ibunya sempat meminta Selvara naik bus lain agar tidak melewati kawasan itu. Selvara menurut ketika diminta tidak turun di sekitar Lorne, tetapi rute bus yang paling dekat dengan sekolah tetap melewati persimpangannya. Ia sudah berjanji akan langsung masuk begitu tiba, dan kali ini ia tidak berniat mengingkari janji itu.

Di gerbang sekolah, petugas keamanan memeriksa kartu siswa lebih teliti. Sebuah pengumuman ditempel di samping papan kegiatan: akses di belakang gudang olahraga tetap ditutup, dan siswa diminta menggunakan koridor utama untuk menuju gedung timur. Di bawah pengumuman itu ada pemberitahuan lain dari pemerintah kota. Satu anak telah ditemukan dan sedang mendapat perawatan. Pencarian anak kedua masih berlangsung.

Selvara membaca kalimat terakhir sampai selesai sebelum masuk.

Vio sudah menunggu di dekat tangga, dengan buku pelajaran terselip di bawah lengan. “Kamu lewat Lorne?”

“Busnya lewat sana. Masih banyak petugas.”

“Aku lihat pengumuman tadi malam.” Vio berjalan bersamanya. “Mereka belum bilang anak yang ditemukan itu bisa cerita apa?”

“Belum. Mungkin memang belum waktunya ditanya.”

Vio menerima jawaban itu tanpa mendesak. Mereka naik ke lantai dua bersama siswa lain yang sedang membicarakan ulangan sejarah. Ada yang mengeluh belum sempat belajar, ada yang sibuk meminjam catatan. Suara mereka membuat pagi itu terasa seperti hari sekolah biasa, setidaknya sampai Selvara melihat pita pembatas di ujung koridor timur.

Theo berdiri di depan ruang OSIS sambil membantu seorang guru mengarahkan siswa yang hendak mengambil jalan pintas. Ketika melihat Selvara dan Vio, ia menunggu sampai guru itu selesai menjelaskan jalur pengganti kepada dua siswa kelas sepuluh.

“Gedung timur masih dipakai, tapi pintu belakangnya ditutup sementara,” katanya. “Kalau kelas kalian pindah ruangan, cek papan di depan tangga.”

“Ada temuan baru?” tanya Vio.

“Belum ada yang diumumkan.” Theo merendahkan suaranya. “Pihak sekolah diminta menjaga akses ke ruangan-ruangan lama. Petugas kota mau memeriksa beberapa bagian bangunan hari ini.”

Selvara teringat garis pada peta lama yang mereka lihat di perpustakaan. Jalur audio dari sayap timur melewati kawasan menara, meski peta itu tidak cukup rinci untuk menunjukkan hubungan pastinya dengan lorong servis. “Mereka memeriksa saluran lama?”

“Mungkin. Bu Ratna baru memberi tahu kami soal pengaturan kelas, bukan soal pemeriksaannya.”

Bel pertama berbunyi sebelum mereka bisa bicara lebih jauh. Theo kembali membantu guru, sementara Selvara dan Vio menuju kelas. Di depan pintu, Vio berhenti sebentar untuk membetulkan buku yang hampir jatuh dari lengannya.

“Setidaknya kali ini orang-orang tahu masih ada satu anak yang dicari,” katanya.

Selvara tahu Vio sedang mengingat layar kota yang kemarin mengumumkan kedua anak telah ditemukan. Ia hanya menjawab, “Iya.”

Pelajaran pertama berlangsung tanpa gangguan. Selvara berusaha mengikuti penjelasan guru tentang perubahan tata kota setelah renovasi besar, topik yang tiba-tiba terasa dekat dengan apa yang terjadi di luar sekolah. Ia mencatat bagian yang diminta, lalu memaksa dirinya kembali ke halaman buku setiap kali pikirannya beralih ke lorong menara. Saat guru meminta contoh bangunan lama yang fungsinya berubah, seorang siswa menyebut bioskop tua dan kelas mulai berdebat apakah bangunan itu masih ada. Selvara ikut mendengarkan. Ia bahkan sempat tertawa ketika dua orang bersikeras menyebut tempat yang berbeda dengan nama yang sama.

Menjelang istirahat, suara ketukan terdengar dari belakang kelas.

Dua kali, berhenti, lalu sekali lagi.

Beberapa siswa menoleh. Bunyi itu datang dari arah lemari penyimpanan yang menempel pada dinding luar. Guru menghentikan penjelasannya dan bertanya apakah ada yang sedang mengetuk meja. Tidak seorang pun mengaku. Selvara melihat siswa di dekat lemari menjauhkan kursinya agar guru bisa memeriksa.

Ketukan itu terdengar lagi, lebih jelas.

Guru membuka lemari. Isinya gulungan kertas, kotak alat peraga, dan beberapa buku yang belum dipakai semester ini. Tidak ada orang di dalamnya. Di belakang lemari, dinding tampak utuh.

“Bisa dari ruangan sebelah?” seorang siswa bertanya.

“Sebelah sini ruang arsip,” jawab guru. Ia menutup lemari dan meminta ketua kelas melanjutkan membaca bahan di papan sementara ia keluar sebentar.

Selvara merasakan dingin menyentuh jari tengah tangan kanannya. Cincin peraknya belum sampai membeku, tetapi permukaannya terasa jauh lebih dingin daripada udara kelas. Ia menarik tangan ke bawah meja. Vio, yang duduk di sampingnya, melihat perubahan pada wajahnya.

“Cincinnya?” bisik Vio.

Selvara mengangguk sekali.

Beberapa menit kemudian guru kembali bersama petugas keamanan. Kelas diminta pindah ke ruang sebelah untuk sisa pelajaran. Tidak ada yang panik, meski bisik-bisik segera memenuhi koridor. Selvara membawa tasnya sambil menjaga jarak dari pintu ruang arsip. Petugas keamanan membuka ruangan itu dengan kunci. Dari tempatnya berdiri, Selvara hanya bisa melihat rak-rak logam dan tumpukan map.

Ketika murid terakhir meninggalkan kelas, ketukan itu terdengar lagi dari balik dinding.

Petugas keamanan langsung meminta mereka terus berjalan. Selvara menurut. Di ujung koridor, ia menoleh sekali dan melihat guru masih berdiri di luar ruang arsip, telepon menempel di telinga, sementara petugas memeriksa dinding di antara kedua ruangan.

Satu jam setelah kelas dipindahkan, kabar tentang ketukan di dinding sudah sampai ke kantin dengan berbagai versi. Ada yang mengatakan seorang siswa terjebak di ruang arsip. Ada pula yang mengaku mendengar suara anak kecil, padahal Selvara berada di kelas saat kejadian dan hanya mendengar ketukan. Ia mengatakan itu kepada Vio saat mereka mengambil makan siang.

“Yang aku dengar juga cuma ketukan,” kata Vio. “Tiga kali. Kalau ada suara lain, aku pasti bilang.”

Mereka memilih meja di dekat jendela. Lyara datang membawa roti dan sebuah kotak susu, lalu meletakkan ponselnya dalam keadaan layar tertutup.

“Aku sudah minta dua orang di kelas kalian berhenti menyebarkan cerita soal anak di balik dinding,” katanya. “Salah satunya bahkan nggak masuk kelas pagi tadi.”

“Dia bilang dapat dari siapa?” tanya Selvara.

“Dari orang yang dapat dari orang lain.” Lyara membuka bungkus rotinya. “Aku capek mendengar kalimat itu.”

Rikuya menyusul beberapa saat kemudian. Ia baru selesai membantu memindahkan perlengkapan latihan dari gudang olahraga ke ruang serbaguna. Lapangan belakang masih ditutup, dan timnya harus berbagi tempat dengan klub lain. Ia duduk sambil memeriksa pesan dari anggota klub.

“Petugas sempat lewat dekat gudang,” katanya. “Mereka masuk lewat pintu servis bersama Pak Damar. Aku nggak lihat apa yang diperiksa. Kami disuruh selesai memindahkan barang dan pergi.”

“Latihannya jadi pindah?” tanya Vio.

“Jadi. Separuh anak protes karena ruang serbaguna sempit.” Rikuya meletakkan ponsel. “Aku bilang pilihannya latihan passing di sana atau pulang. Setelah itu mereka langsung bisa mengatur jarak.”

Percakapan beralih ke jadwal pertandingan yang mungkin harus diubah. Selvara mendengarkan Rikuya menjelaskan siapa yang perlu dihubungi lebih dulu. Baru ketika Theo datang dan menarik kursi kosong, perhatian mereka kembali ke gedung timur.

“Petugas kota sedang memeriksa ruang arsip bersama staf sekolah,” kata Theo. “Kelas di sekitar situ dipindahkan sampai selesai. Itu saja yang boleh kusampaikan sekarang.”

“Ketukannya berasal dari sana?” tanya Lyara.

“Belum diketahui.”

Lyara memasukkan ponsel ke saku. “Baik. Aku juga cuma akan menulis bahwa ruangan itu sedang diperiksa.”

Theo terlihat lega. Mereka masih harus kembali ke kelas, dan untuk beberapa menit berikutnya meja itu diisi hal-hal lain: tugas kelompok Vio yang belum lengkap, pertandingan Rikuya, dan keluhan Lyara karena mesin minuman di dekat aula menelan uangnya. Selvara ikut berbicara. Cincinnya sudah kembali hangat sejak ia meninggalkan koridor, walaupun ingatan tentang ketukan tadi belum hilang.

Sore hari, setelah pelajaran terakhir selesai, sekolah meminta siswa pulang melalui gerbang utama. Selvara, Vio, Lyara, dan Theo turun bersama dari lantai dua. Rikuya sudah lebih dulu menuju ruang serbaguna untuk mengambil tas anggota klub yang tertinggal. Di depan aula, seorang staf mengarahkan arus siswa agar tidak berkumpul dekat tangga gedung timur.

Mereka hampir mencapai halaman ketika pengeras suara sekolah menyala.

“Perhatian. Akses melalui koridor timur telah dibuka kembali. Siswa dapat menggunakan pintu belakang seperti biasa.”

Sejumlah siswa yang baru keluar dari aula langsung berbalik ke arah jalan yang lebih pendek menuju halte. Theo berhenti.

“Pintunya masih ditutup,” katanya.

Dari tempat mereka berdiri, pita pembatas di ujung koridor terlihat jelas. Seorang guru yang menjaga tangga juga tampak terkejut. Ia segera memanggil siswa-siswa yang telanjur berbelok dan mengarahkan mereka kembali ke gerbang utama.

Pengeras suara mengeluarkan desis singkat, lalu diam.

Theo menghampiri staf di depan aula. Selvara tidak mendengar seluruh percakapan mereka, tetapi staf itu segera menggunakan radio untuk menghubungi ruang tata usaha. Di dekat Selvara, Vio memandang papan petunjuk yang masih bertuliskan Koridor timur ditutup sementara.

“Kalimatnya jelas sekali,” ujar Vio. “Orang yang baru keluar kelas bisa saja langsung percaya.”

Selvara belum menjawab ketika dingin menjalar dari cincinnya hingga ke buku-buku jari. Ia memasukkan tangan kanan ke saku jaket. Di ujung halaman, beberapa petugas kota sedang keluar dari pintu samping gedung timur. Salah seorang dari mereka berhenti setelah mendengar radio staf sekolah dan kembali berbicara kepada rekannya.

Theo kembali dengan langkah cepat. “Pengumuman itu bukan dari tata usaha. Mereka sedang mencari asalnya. Kita tetap lewat gerbang utama.”

Mereka mengikuti siswa lain menyeberangi halaman. Guru di tangga sudah berdiri tepat di depan jalan menuju koridor timur, sehingga tak ada lagi yang salah arah. Dari luar, kejadian itu mungkin tampak seperti kekeliruan siaran yang segera dibetulkan. Selvara ingin mempercayainya, tetapi suara dari pengeras tadi muncul ketika pemeriksaan masih berlangsung, dan cincinnya masih terasa dingin di dalam saku.

Di dekat gerbang, Rikuya menyusul mereka sambil membawa dua tas sekaligus. “Aku dengar pengumumannya dari ruang serbaguna. Tadi ada anggota klub mau keluar lewat belakang, untung aku lihat pembatasnya masih terpasang.”

“Kamu bawa tas siapa?” tanya Vio.

“Punya Deni. Dia pulang duluan lalu ingat sepatunya ada di dalam.” Rikuya mengangkat salah satu tas dengan kesal. “Aku bilang besok saja, tapi ternyata aku sendiri yang keburu ambil.”

Vio tertawa singkat. Selvara pun sempat tersenyum. Lalu ponsel Lyara bergetar.

Ada pembaruan resmi dari pemerintah kota. Pencarian anak kedua diperluas ke bangunan dan akses lama di sekitar menara jam. Warga diminta tidak memasuki area yang telah ditutup serta menghubungi petugas jika melihat anak tersebut. Belum ada kabar bahwa ia ditemukan.

Lyara membacanya sampai selesai dan menunjukkan layar kepada yang lain. Theo meminta izin mengambil gambar pengumuman untuk diteruskan ke pengurus kelas, agar mereka punya informasi yang benar saat siswa mulai bertanya tentang pemeriksaan sore itu.

Mereka berpisah di gerbang. Rikuya kembali ke ruang serbaguna untuk menyerahkan tas, Theo menuju ruang OSIS, dan Lyara berjalan bersama Vio ke halte. Selvara tinggal sebentar untuk mengirim pesan kepada ibunya bahwa ia akan segera pulang.

Saat ia mengangkat kepala, petugas kota di ujung halaman sedang memasang pembatas tambahan pada pintu samping gedung timur. Di belakang mereka ada dinding ruang arsip yang tak terlihat dari luar.

Selvara teringat tiga ketukan yang didengarnya pagi tadi. Ia belum tahu apakah bunyi itu berkaitan dengan anak yang masih dicari, dengan saluran lama, atau dengan hal lain sama sekali.

Sebuah bus berhenti di seberang gerbang. Vio memanggilnya dari halte, dan Selvara mempercepat langkah. Sebelum naik, ia membaca sekali lagi pesan resmi di ponsel Lyara.

Pencarian masih berlangsung.  Itulah kabar yang mereka miliki sore itu, dan mereka membiarkan petugas bekerja sementara bus membawa mereka pulang.

Malam itu, Selvara mendengar ibunya menelepon dari ruang makan. Pintu kamarnya terbuka sedikit, cukup untuk menangkap beberapa potong kalimat tentang Jalan Lorne, pagar yang masih dijaga, dan sebuah keluarga yang menunggu kabar. Ibunya tidak menyebut nama siapa pun. Setelah panggilan berakhir, terdengar bunyi gelas diletakkan di meja, lalu rumah kembali sunyi.

Selvara sudah berganti pakaian dan membuka buku pelajaran, tetapi ia masih memikirkan pengumuman dari pengeras suara sekolah. Jika guru yang berjaga di tangga tidak segera memanggil siswa-siswa itu kembali, beberapa orang mungkin sudah mencapai pintu belakang. Ia sendiri hampir percaya karena kalimatnya terdengar seperti pengumuman sekolah yang biasa: singkat, jelas, dan disampaikan pada waktu ketika semua orang ingin pulang.

Ibunya mengetuk pintu sebelum masuk. “Tadi kamu bilang sekolah sempat membuat pengumuman yang salah?”

“Iya. Mereka bilang koridor timur sudah dibuka, padahal masih ditutup.” Selvara menyingkirkan buku dari tepi tempat tidur agar ibunya bisa duduk. “Bu Ratna dan petugas langsung mengarahkan anak-anak ke gerbang utama. Nggak ada yang sampai masuk.”

“Sekolah tahu siapa yang menyiarkannya?”

“Waktu aku pulang, belum.”

Ibunya memperhatikan tangan Selvara yang terletak di atas buku. Cincin perak itu kembali tampak biasa. “Cincinnya bereaksi?”

“Waktu pengumumannya selesai.” Selvara membalik tangan kanannya, mengingat bagaimana dingin tadi sore menjalar sampai ke buku jari. “Aku nggak tahu apa hubungannya.”

“Ibu juga nggak tahu.” Ibunya mengatakannya tanpa tergesa. “Tapi kamu sudah memberi tahu Ibu, dan petugas di sekolah juga menyaksikan kejadian itu. Kalau besok mereka perlu keterangan darimu, jawab yang kamu dengar sendiri.”

Selvara menutup buku yang sejak tadi belum dibacanya. “Ibu kenal keluarga anak yang masih dicari?”

“Tidak dekat. Ibu pernah bertemu pamannya beberapa kali.” Ibunya berhenti sebentar. “Dia ada di Lorne pagi tadi. Orang-orang terus menanyakan apakah benar anak kedua sudah ditemukan, karena kemarin mereka melihat berita di layar kota. Dia harus menjelaskan hal yang sama berkali-kali.”

Selvara teringat dua orang di halte Merrow yang sempat tersenyum lega sebelum petugas membetulkan pengumuman itu. Bagi mereka, kesalahan tersebut berlangsung beberapa menit. Bagi keluarga yang mencari, setiap orang yang datang membawa kabar itu berarti harus mendengar harapan yang sama, lalu mematahkannya lagi.

“Aku harap mereka bisa menemukannya malam ini,” kata Selvara.

“Ibu juga.” Ibunya berdiri dan merapikan selimut yang tersangkut di kaki ranjang. “Kamu masih mau belajar? Ibu simpan makan malam di dapur kalau nanti lapar.”

Selvara mengatakan ia akan menyelesaikan satu bab. Setelah ibunya keluar, ia benar-benar mencoba. Ia membaca dua halaman, mengerjakan beberapa soal, lalu berhenti ketika ponselnya bergetar. Pesan dari Theo masuk ke grup mereka.

Theo: Bu Ratna sudah menyampaikan bahwa pengumuman sore tadi tidak dikeluarkan sekolah. Pemeriksaan pengeras suara dan koridor timur dilanjutkan besok. Kelas yang dipindah tetap di ruang pengganti.

Lyara: Aku kirim pemberitahuan itu ke grup kelas. Ada yang tadi bilang jalurnya dibuka, jadi sekalian kuluruskan.

Vio: Bagus. Tadi aku masih lihat orang tanya pintu belakang bisa dipakai besok atau enggak.

Rikuya: Anak klub sudah kubilang masuk dari depan. Kalau ada yang tetap lewat belakang, berarti dia sengaja cari jalan lebih jauh.

Selvara membaca pesan terakhir dua kali. Ia bisa membayangkan Rikuya mengatakannya sambil membawa tas Deni. Ia membalas bahwa ia sudah sampai rumah, lalu menaruh ponsel di samping buku.

Sekitar pukul sembilan, pesan baru dari Vio datang langsung kepadanya.

Vio: Aku kepikiran ketukan di kelas tadi. Anak yang duduk paling dekat lemari itu langsung geser kursi sebelum guru membukanya. Berarti bukan cuma kita yang dengar dari arah situ.

Selvara: Iya. Guru juga dengar. Mereka pasti tanya ke dia kalau perlu.

Vio: Aku tahu. Cuma rasanya susah berhenti ingat suaranya.

Selvara menunggu sebentar sebelum membalas. Ia pun masih bisa mendengar jeda di antara ketukan itu dengan jelas, tetapi ia tidak ingin membuat Vio semakin takut dengan dugaan yang belum punya dasar.

Selvara: Aku juga masih ingat. Besok kalau kamu mau, kita ketemu di gerbang dan masuk bareng.

Vio: Boleh. Jam biasa, ya. Jangan datang terlalu pagi cuma karena aku bilang begini.

Lihat selengkapnya