CHAINS : Beyond The Mist of Shattered Illusion

Lyneetra
Chapter #53

Two Versions of the Announcement

Chapter 3 - Episode 09

Pagi setelah anak kedua ditemukan, perjalanan Selvara ke sekolah kembali melewati Jalan Lorne. Pagar besi masih dijaga, tetapi kendaraan yang memenuhi sisi jalan selama beberapa hari terakhir sudah berkurang. Bus melintas tanpa harus memutar. Seorang penumpang di dekat pintu membaca berita tentang penyelamatan itu melalui ponselnya, lalu memberi tahu temannya bahwa kedua anak kini berada bersama keluarga mereka. Selvara tidak tahu apakah itu berarti mereka sudah pulang dari rumah sakit. Pengumuman resmi semalam hanya mengatakan bahwa anak kedua sedang mendapat perawatan.

Ia turun di halte sekolah dan menemukan Vio menunggu di depan toko roti. Vio melambai, lalu berjalan mendekat dengan langkah yang sedikit terburu-buru.

“Aku mau cerita sebelum kita masuk,” katanya. “Tadi malam seseorang mengunggah lagi video dari bus itu.”

“Video suaramu?”

Vio menunjukkan ponselnya. Potongan videonya sama: bagian dalam bus, beberapa penumpang menoleh ke pengeras suara, lalu suara Vio terdengar mengatakan, “Aku melihat mereka.” Namun, keterangan baru di bawah video menyebutnya sebagai rekaman suara salah satu anak yang hilang. Uploader sebelumnya sudah membetulkan keterangan yang keliru. Unggahan ini berasal dari akun lain.

“Ada yang menandai akunku di komentar,” kata Vio. “Aku sudah minta mereka hapus tandanya. Sekarang orang lain bisa masuk ke halamanku cuma karena penasaran.”

Selvara melihat jumlah tayangan yang terus bertambah. “Kamu sudah bilang ke ibumu?”

“Sudah. Ibu bilang jangan membalas satu per satu. Aku juga sudah kirim tautannya ke Theo karena dia punya salinan pesan dari pengunggah pertama yang mengakui suaranya memang suaraku.”

“Kalau kamu mau, aku temani bicara dengan Bu Ratna.”

Vio mematikan layar. “Aku mau masuk kelas dulu. Kalau ada yang mulai tanya di sekolah, baru aku bicara dengan beliau.”

Selvara mengikuti pilihannya. Di gerbang, beberapa siswa sedang membicarakan anak yang ditemukan kemarin. Nada suara mereka lega, meski informasi yang beredar tidak semuanya tepat. Ada yang yakin kedua anak ditemukan di ruang yang sama. Ada pula yang mengatakan anak kedua keluar sendiri lewat sekolah. Vio mendengar itu, tetapi terus berjalan. Mereka tidak punya keterangan yang bisa dipakai untuk membetulkan bagian tersebut.

Rikuya sedang memasang jadwal latihan di papan kegiatan ketika mereka melewati aula. Ia memanggil Vio untuk meminta bantuan menahan salah satu sudut kertas yang terlepas.

“Lapangan belakang belum dibuka,” katanya sambil menekan kembali selotipnya. “Aku hampir menulis tempat latihan yang salah lagi.”

“Setelah dua hari memindahkan bola, kamu masih berharap lapangannya langsung dibuka?” Vio menahan kertas sampai Rikuya selesai.

“Berharap boleh. Aku sudah bilang ke anggota klub bahwa minggu ini kami tetap di ruang serbaguna.” Rikuya memperhatikan wajah Vio. “Kamu kelihatan kesal. Ada yang terjadi?”

Vio memperlihatkan unggahan itu sekilas. Rikuya mengenali videonya sebelum selesai diputar.

“Orang masih menyebarkan keterangan itu?” katanya. “Bukannya sudah diluruskan waktu pertama kali muncul?”

“Akun ini mengunggah ulang tanpa bagian koreksinya.”

Rikuya mengembalikan ponsel. “Kalau ada anak klubku ikut menyebarkan, beri tahu aku. Setidaknya aku bisa minta mereka berhenti.”

“Terima kasih. Aku harap nggak perlu.”

Bel berbunyi. Rikuya kembali ke ruang kelasnya, sementara Selvara dan Vio naik ke lantai dua. Kelas mereka masih menggunakan ruang pengganti. Pintu menuju ruang arsip tetap ditutup, meskipun pita pembatas di bagian luar sudah diganti dengan papan yang lebih rapi.

Selama dua pelajaran pertama, tak ada yang menyinggung video bus di depan Vio. Ia menjawab pertanyaan guru, meminjamkan penghapus kepada Nadin, dan mengeluh pelan karena tinta penanya habis tepat ketika harus menulis banyak. Selvara sempat mengira unggahan itu akan lewat tanpa mengganggu hari mereka.

Saat istirahat, seorang siswa dari kelas lain menghampiri meja mereka di kantin. Ia tampak ragu ketika melihat Vio sedang makan.

“Maaf,” katanya. “Kamu yang ada di video bus itu, ya? Temanku bilang suara yang terdengar itu anak yang ditemukan kemarin.”

Vio menaruh sendoknya. “Itu suaraku. Aku ada di dalam bus waktu rekamannya diputar dari pengeras suara.”

Siswa itu memandangnya, lalu ke ponsel di tangannya. “Jadi keterangan videonya salah?”

“Iya. Pengunggahan yang pertama sudah dibetulkan. Yang kamu lihat ini potongannya saja.”

“Maaf. Aku tadi sempat kirim ke grup.” Ia membuka percakapan di ponselnya. “Aku akan jelaskan sekarang.”

Setelah ia pergi, Vio kembali makan, tetapi hanya beberapa suap. Selvara tidak meminta Vio melupakan kejadian itu. Ia tahu temannya harus mengulang penjelasan yang sama jika unggahan tersebut terus menyebar.

Lyara datang menjelang akhir istirahat. Ia sudah melihat video itu dan langsung duduk di sebelah Vio. “Aku sudah simpan tautan dan tangkapan layarnya. Wajahmu tidak terlihat jelas, tapi beberapa komentar mulai menebak sekolahmu dari seragam penumpang lain.”

“Orang itu tadi bertanya baik-baik,” kata Vio. “Yang bikin aku capek justru keterangan videonya. Semua orang datang membawa cerita yang sudah mereka percaya.”

Lyara menutup ponselnya. “Aku akan bicara dengan Bu Ratna soal akun sekolah yang mulai ditandai. Kamu tidak harus menjawabnya dari akun pribadimu.”

Vio menghabiskan air minumnya sebelum menjawab. “Aku ikut. Kalau sekolah mau membuat pernyataan, aku ingin tahu persis apa yang mereka tulis.”

Selvara bangkit bersama mereka ketika bel berikutnya berbunyi. Di tangga, Vio memasukkan ponsel jauh ke dalam tas. Mereka masih memiliki pelajaran sampai sore, dan kali ini Vio ingin melewatinya tanpa mendengar suaranya sendiri diputar oleh orang yang tidak ia kenal.

Seusai pelajaran siang, Bu Ratna menerima Vio, Selvara, dan Lyara di ruangannya. Theo sudah berada di sana karena ia membantu mengumpulkan tautan unggahan yang menandai akun sekolah. Bu Ratna tidak meminta Vio mengulang seluruh kejadian di bus. Ia sudah membaca laporan yang mereka sampaikan sebelumnya dan hanya memastikan apakah unggahan baru itu memakai rekaman yang sama.

“Bagian suaranya sama,” kata Vio. “Keterangannya yang berubah. Mereka menghapus balasan dari pengunggah pertama, jadi orang yang melihatnya sekarang tidak tahu pernah ada koreksi.”

Bu Ratna meminta Lyara mengirim tautan akun tersebut ke alamat sekolah. Ia lalu menjelaskan bahwa sekolah akan menghubungi pengelola platform dan meluruskan informasi melalui akun resminya, tanpa menyebut nama Vio. Vio membaca draf singkat yang ditunjukkan kepadanya: suara dalam video berasal dari seorang siswa yang menjadi saksi, bukan dari salah satu anak yang sempat hilang. Sekolah meminta publik berhenti menyebarkan identitas siswa tersebut.

“Bagian ini cukup,” kata Vio setelah selesai membaca. “Aku tidak ingin orang mencari tahu kenapa suara itu bisa keluar dari pengeras bus. Kita sendiri belum tahu.”

“Sekolah juga tidak akan menebaknya,” jawab Bu Ratna.

Percakapan hampir selesai ketika seseorang mengetuk pintu. Seorang teknisi masuk bersama guru yang mengajar kelas Selvara saat ketukan di dinding terdengar. Mereka membawa laptop dan meminta Bu Ratna waktu beberapa menit. Teknisi itu menjelaskan bahwa pemeriksaan sistem pengeras suara sekolah telah menghasilkan satu rekaman dari perangkat pengendali. Karena Selvara dan Vio mendengar pengumuman tentang koridor timur, Bu Ratna meminta keduanya tetap tinggal untuk memastikan apakah rekaman itu sesuai dengan yang mereka ingat.

“Kalian boleh mengatakan kalau tidak yakin,” kata Bu Ratna. “Kami tidak mencari jawaban tertentu.”

Teknisi meletakkan laptop di meja dan memutar berkas audio. Terdengar desis pendek, lalu suara perempuan yang biasa membacakan pengumuman sekolah. “Perhatian. Akses melalui koridor timur tetap ditutup. Siswa diminta menggunakan gerbang utama.”

Vio langsung memandang Selvara. Selvara mengenali suara dan bagian awal kalimatnya, tetapi isi pengumuman itu berbeda dari yang mereka dengar di halaman. Ia menunggu sampai berkas selesai sebelum berbicara.

“Waktu itu saya mendengar koridor timur telah dibuka kembali,” katanya. “Lalu siswa boleh menggunakan pintu belakang.”

“Saya juga,” kata Vio. “Beberapa siswa langsung berbalik arah. Guru di tangga memanggil mereka kembali.”

Bu Ratna mencatat jawaban mereka. “Saya berada dekat aula saat itu. Yang terdengar di sana juga ‘dibuka kembali’.”

Teknisi memutar berkasnya sekali lagi. Dalam rekaman itu, koridor tetap ditutup. Ia menunjukkan bahwa berkas berasal dari perangkat yang menyimpan audio terakhir yang dikirim melalui konsol ruang tata usaha. Pengumuman penutupan memang disiapkan sore itu. Menurut catatan perangkat, berkas tersebut diputar pada jam yang berdekatan dengan pengumuman yang didengar siswa.

“Bisa ada dua pengumuman yang berbeda?” tanya Theo.

“Itu salah satu hal yang sedang kami periksa,” jawab teknisi. “Catatan perangkat ini menunjukkan apa yang dikirim dari konsol. Kami masih memeriksa jalur ke speaker di gedung lain dan kemungkinan sumber suara lain.”

Selvara menghargai bahwa teknisi itu tidak memaksa sebuah kesimpulan. Perangkat di meja memutar satu kalimat; telinganya, Vio, Bu Ratna, dan siswa-siswa lain di halaman mendengar kalimat yang berlawanan. Ia teringat bagaimana layar kota pernah mengatakan kedua anak ditemukan sebelum kabar itu benar. Kali ini perbedaan itu ada di dalam sekolah, pada pengumuman yang hampir membuat siswa memasuki jalur tertutup.

Guru yang datang bersama teknisi menyebut Rikuya. “Dia mengatakan mungkin ada rekaman dari latihan klub basket. Waktu pengumuman terdengar, salah satu anggota sedang merekam latihan mereka di ruang serbaguna. Suara speakernya masuk di bagian akhir video.”

“Rikuya belum menyerahkan videonya?” tanya Bu Ratna.

“Anggota klub itu akan menunjukkan berkas aslinya setelah latihan. Kami minta mereka tidak memotongnya lebih dulu.”

Theo melirik jam. “Latihan selesai sekitar setengah lima. Saya bisa membantu menghubungi Rikuya.”

“Biar Bapak yang mengurusnya,” kata guru itu. “Kalian sudah cukup membantu hari ini.”

Bu Ratna menyimpan catatannya. Ia mempersilakan Selvara dan yang lain pulang, lalu meminta Theo menyampaikan bahwa jalur gedung timur tetap ditutup sampai pemberitahuan berikutnya. Vio mengambil tasnya. Sebelum keluar, ia menoleh sekali lagi ke laptop di meja.

“Kalau yang diputar dari konsol itu benar, berarti pengumuman yang kami dengar datang lewat jalan lain?” tanyanya.

“Mungkin,” jawab teknisi. “Kami perlu memeriksa rekaman dari ruang serbaguna dan speakernya dulu.”

Mereka meninggalkan ruangan bersama. Di koridor, Lyara berjalan lebih lambat agar tetap sejajar dengan Vio. Ia tadi tidak berada di halaman saat pengumuman berbunyi, jadi ia tidak menambahkan kesaksian apa pun di depan Bu Ratna.

“Videonya dari latihan Rikuya mungkin membantu,” katanya. “Setidaknya kita bisa tahu apa yang terdengar di ruang lain pada waktu yang sama.”

“Yang membuatku takut,” kata Vio, “orang-orang biasanya mendengar satu versi dan langsung berjalan. Aku juga akan begitu kalau tidak melihat pita pembatasnya.”

Selvara mengingat siswa yang sudah berbelok ke koridor timur. “Karena itu guru di tangga cepat memanggil mereka.”

Di bawah, jam pulang membuat aula ramai lagi. Rikuya belum keluar dari ruang serbaguna, dan Theo kembali ke ruang OSIS untuk menyelesaikan tugasnya. Selvara menemani Vio ke halte. Sepanjang jalan, mereka mendengar suara siswa membicarakan latihan, tugas, dan rencana akhir pekan. Tidak ada pengumuman dari pengeras sekolah. Selvara tetap melihat papan penutupan saat melewatinya, memastikan tulisan itu masih berada di tempat yang sama.

Setelah latihan sore itu, Rikuya meminta anggota klubnya, Deni, menunggu di ruang serbaguna bersama guru olahraga. Deni masih mengenakan seragam latihan dan kelihatan ingin segera pulang. Ia membuka galeri ponsel sambil menjelaskan bahwa video tersebut direkam untuk memeriksa gerakan lemparannya. Kamera diarahkan ke lapangan kecil di dalam ruangan; wajah siswa lain hanya tampak sesekali di pinggir gambar.

Guru olahraga meminta Deni memutar bagian akhirnya. Bola yang dilempar Deni membentur tepi ring. Teman-temannya memberi komentar, lalu suara pengeras sekolah terdengar di belakang mereka.

“Perhatian. Akses melalui koridor timur telah dibuka kembali. Siswa dapat menggunakan pintu belakang seperti biasa.”

Di video itu, seorang anggota klub mengambil tasnya dan berkata ia akan lewat pintu belakang. Rikuya terdengar menyahut dari luar gambar, “Jangan. Pembatasnya masih ada. Keluar lewat depan.”

Deni menghentikan video. “Aku bahkan nggak ingat pengumuman itu masuk rekaman.”

“Karena waktu itu kamu sibuk menyalahkan ring,” kata Rikuya.

“Aku sudah lihat lagi. Bolanya memang terlalu pendek.”

Guru olahraga meminta mereka menyimpan berkas aslinya. Dengan izin Deni, ia menyalinnya untuk diserahkan kepada Bu Ratna. Rikuya ikut memastikan salinan itu bisa diputar sebelum Deni menyimpan kembali ponselnya. Tidak seorang pun di ruangan itu mengusulkan untuk mengunggah videonya.

Ketika mereka keluar dari ruang serbaguna, halaman sekolah hampir kosong. Deni berangkat lebih dulu setelah Rikuya mengingatkannya bahwa gerbang samping masih ditutup. Rikuya mengambil dua botol minum yang tertinggal di bangku, lalu menyerahkannya kepada guru olahraga untuk disimpan sampai besok.

Malam harinya, Theo memberi tahu grup mereka bahwa video latihan telah diserahkan kepada sekolah. Ia tidak mengirim berkasnya. Rikuya baru menjelaskan setelah beberapa anggota grup bertanya apakah suaranya benar-benar terdengar jelas.

Rikuya: Jelas. Aku juga terekam menyuruh anak klub lewat depan. Bu Ratna sudah punya salinan aslinya.

Vio: Terima kasih sudah mengecek. Deni tidak keberatan videonya dipakai?

Rikuya: Dia mengizinkan untuk pemeriksaan sekolah. Dia minta lemparannya jangan ditonton lebih dari yang perlu.

Lyara: Permintaan yang masuk akal.

Selvara membaca percakapan itu dari meja makan. Ibunya sedang memotong buah di dapur dan menanyakan apakah tugas sekolahnya sudah selesai. Selvara menaruh ponsel lalu membantu membawa piring kecil ke meja.

“Tugasnya sudah,” jawabnya. “Ada video dari latihan basket yang merekam pengumuman kemarin. Yang terdengar memang koridor timur dibuka.”

“Berarti ingatan kalian sesuai dengan rekamannya.”

“Iya. Tapi rekaman di perangkat tata usaha menyebut koridor itu tetap ditutup.”

Ibunya meletakkan piring buah di antara mereka. “Sekolah sedang memeriksa perbedaan itu?”

“Teknisi masih mengecek speakernya. Mereka belum bilang penyebabnya.”

Selvara mengambil sepotong buah. Ia ingat Bu Ratna berdiri di ruangannya saat suara dari laptop mengatakan tetap ditutup. Bu Ratna sendiri mendengar kalimat yang berlawanan di halaman. Video Deni membuat kejadian itu lebih mudah dibuktikan, tetapi tidak menjelaskan mengapa dua rekaman dari sore yang sama memberi instruksi berbeda.

Ibunya tidak meminta Selvara menebak. Ia justru mengingatkan bahwa Vio mungkin masih menghadapi unggahan video bus. “Kalau besok ada orang yang menghubunginya lagi, bilang dia boleh minta bantuan guru. Menjawab orang asing satu per satu akan menghabiskan tenaganya.”

“Lyara sudah menemani dia bicara dengan Bu Ratna.”

“Bagus.”

Lihat selengkapnya