Chapter 3 - Episode 10
Selasa pagi, Selvara menemukan ibunya berdiri di depan lemari dapur sambil memegang dua cangkir.
Yang satu berwarna putih polos, Yang lain bergambar jeruk kecil pada pegangannya, dengan sedikit retak pada lapisan cat di dekat bibir cangkir.
“Ibu mau pakai yang mana?” tanya Selvara.
“Yang putih. Cangkir ini tadi terselip di belakang.”
Ibunya hendak mengembalikan cangkir bergambar jeruk itu ketika Selvara mengulurkan tangan.
Dulu Seryn selalu memilihnya, meski ibunya berkali-kali mengatakan ada cangkir lain yang kondisinya lebih baik. Selvara masih ingat kakaknya memutar pegangan cangkir hingga gambar jeruk menghadap orang yang duduk di seberangnya.
Kalau sedang mengerjakan sesuatu sambil minum, Seryn sering lupa tehnya sampai dingin.
“Masih bisa dipakai,” kata Selvara.
“Masih. Ibu cuma tidak yakin kamu ingat letaknya.”
Selvara menaruh cangkir itu di meja. Ia ingin bertanya mengapa ibunya memindahkannya ke belakang, tetapi mereka sama-sama harus segera berangkat. Ibunya menuangkan teh dan menanyakan apakah Selvara sudah memasukkan tugas kelompok ke tas. Pertanyaan itu membuat Selvara memeriksa ritsletingnya. Tugasnya memang masih tertinggal di meja belajar.
Ketika ia kembali ke dapur, tehnya sudah cukup dingin untuk diminum. Ia menghabiskan sarapan bersama ibunya, lalu mencuci cangkir bergambar jeruk itu sebelum berangkat. Ia mengembalikannya ke rak depan.
Di sekolah, hari berjalan lebih cepat daripada yang Selvara perkirakan. Pelajaran pertama memakai ruang lama mereka untuk pertama kalinya sejak pemeriksaan gedung timur dibatasi pada ruang instalasi. Wali kelas memastikan jalur menuju pintu servis tetap ditutup, lalu menyuruh mereka memindahkan buku-buku dari ruang pengganti. Nadin membawa terlalu banyak barang sekaligus dan kehilangan pegangan pada tumpukan mapnya. Vio menangkap dua sebelum jatuh; sisanya tersebar di lantai dan membuat tiga siswa berhenti untuk membantu.
“Kupikir aku bisa membawa semuanya sekali jalan,” kata Nadin sambil memeriksa apakah ada lembar yang terlipat.
“Kamu hampir berhasil,” ujar Vio. “Kalau jaraknya cuma sampai pintu.”
Nadin tertawa dan menyerahkan separuh mapnya kepada Selvara. Mereka sampai di kelas lama tanpa menjatuhkan apa pun lagi. Di dalam, lemari penyimpanan telah dipindahkan ke dinding lain. Bagian dinding tempat pintu servis ditemukan ditutup papan sementara, dengan tanda yang melarang siswa menyentuhnya. Setelah memilih tempat duduk, Selvara membuka buku pelajaran. Perhatiannya segera tersita oleh tugas yang harus dikumpulkan, lalu oleh guru yang meminta mereka mengerjakan soal berpasangan.
Saat makan siang, Theo menghampiri meja mereka bersama seorang anggota OSIS bernama Mara. Keduanya membawa daftar penggunaan ruangan untuk kegiatan siswa bulan depan. Klub panahan meminta waktu tambahan di area latihan, sementara kelompok lain telah memesan area itu pada hari yang sama untuk persiapan acara sekolah.
“Aku cuma mau memastikan jam latihan kalian,” kata Mara kepada Vio. “Di formulir tertulis sampai pukul lima, tapi catatan tahun lalu bilang selesai setengah lima.”
“Sekarang sampai lima kalau pelatihnya masih ada,” jawab Vio. “Biasanya kami bereskan alat lima belas menit sebelumnya. Kalau kelompok lain perlu masuk, jangan hitung area itu kosong sejak setengah lima.”
Mara menandai kertasnya. Theo meminta Selvara membaca jadwal peminjaman lama karena ia pernah membantu merapikan arsip kegiatan. Selvara menemukan dua pemesanan yang saling menimpa dan menunjukkannya kepada mereka.
“Rapatnya nanti sore?” tanya Selvara.
“Iya,” jawab Mara. “Theo ingin memutuskan jadwal hari ini. Aku masih harus menghubungi pembina dua klub sebelum itu.”
Selvara menawarkan bantuan menelepon salah satu pembina saat istirahat berikutnya. Ia belum kembali menjadi pengurus OSIS, tetapi pekerjaan kecil itu bisa diselesaikan sebelum Vio mulai latihan. Mara berterima kasih dan membawa daftar itu pergi bersama Theo.
Sepulang sekolah, Selvara menepati janjinya untuk menunggu Vio di area latihan panahan. Tempatnya berada di sisi sekolah yang lebih terbuka, jauh dari pintu servis. Angin menggerakkan pita kecil di ujung pagar pembatas. Selvara berdiri di belakang garis penonton sambil membawa buku, tetapi ia segera lebih tertarik melihat latihan daripada membaca.
Vio sedang menyelesaikan tiga tembakan pertamanya. Panah kedua menancap dekat tengah sasaran; panah ketiga sedikit melebar ke kanan. Ia menurunkan busur dan memperhatikan hasilnya sampai pelatih memberi tanda aman untuk mengambil panah. Di sebelahnya, Lani, anggota kelas sepuluh yang baru bergabung, menggosok bagian dalam lengannya.
“Tali busurnya kena lagi?” tanya Vio ketika mereka kembali ke garis tembak.
“Sedikit. Aku sudah mencoba posisi yang Kakak tunjukkan minggu lalu.”
“Coba tanpa panah dulu.” Vio berdiri di sampingnya, menjaga jarak dari arah busur. Ia tidak menyentuh tangan Lani, hanya meminta anak itu menarik dan menahan posisinya sebentar. “Sikumu tadi turun waktu kamu mulai melihat sasaran.”
Lani mencoba lagi. Pada tarikan berikutnya, tali busur tidak menyentuh lengannya. Ia tersenyum, tetapi Vio menyuruhnya mengulang sebelum memasang panah. Selvara melihat tabung panah Vio masih berisi tiga batang untuk giliran berikutnya.
Latihan berlanjut. Vio menunggu Lani menyelesaikan satu tembakan, lalu membantu memperbaiki posisi kakinya. Ketika hasil kedua Lani membaik, keduanya sama-sama melihat ke sasaran cukup lama sampai pelatih memanggil kelompok berikutnya ke garis tembak.
“Vio, seri keduamu belum dicatat,” kata pelatih.
“Belum, Pak. Saya membantu Lani sebentar.”
Pelatih melihat jam. “Waktunya habis. Minggu ini kita perlu hasil dua seri untuk menyusun kelompok latihan berikutnya. Datang sedikit lebih awal besok, saya sisihkan giliran untukmu.”
“Baik, Pak. Maaf.”
Lani langsung menyela setelah pelatih berjalan menjauh. “Kak, besok giliranku bisa dipakai dulu. Aku tadi terlalu lama.”
“Kamu perlu latihan juga,” jawab Vio. Ia melepas pelindung lengannya. “Besok aku datang lebih awal.”
Selvara menghampiri mereka setelah busur diletakkan di rak. Lani berpamitan lebih dulu karena ibunya sudah menunggu di gerbang. Vio memandang sasaran yang mulai dikosongkan anggota klub lain. Tiga panahnya masih berada di tabung.
“Tembakanmu yang kedua tadi bagus,” kata Selvara.
“Yang ketiga melebar. Aku ingin coba sekali lagi setelah memperbaiki posisi bahu.”
“Besok masih ada waktu sebelum latihan mulai.”
“Ada.” Vio memasang tali tasnya di bahu, lalu melihat Selvara masih memperhatikan tabung panah itu. “Aku memang ingin menyelesaikan seriku hari ini. Tapi Lani akhirnya bisa menarik tanpa melukai lengan. Aku senang melihatnya.”
Selvara berjalan bersamanya menuju gerbang. Ia percaya Vio senang. Ia juga melihat temannya beberapa kali menggerakkan bahu, seperti sedang mengingat posisi yang belum sempat dicoba lagi. Di halte, Vio mulai bercerita tentang anggota klub lain yang selalu menghitung hasil tembakan terlalu cepat dan keliru mencatat nilainya sendiri. Selvara tertawa ketika mendengar bagaimana pelatih menyuruh anak itu menghitung ulang sambil berdiri tepat di depan sasaran.
Bus mereka datang sebelum cerita Vio selesai. Selvara naik di belakangnya, membawa buku yang sejak sore belum terbuka. Besok Vio akan datang lebih awal untuk mengambil giliran yang tertunda. Selvara berharap kali ini ia mendapat cukup waktu untuk memikirkan tembakannya sendiri.
Rabu pagi, Vio sudah berada di area latihan ketika Selvara melewati halaman sekolah. Ia datang lebih awal seperti janjinya kepada pelatih. Dari balik pagar pembatas, Selvara melihat Vio menarik busur, menahan posisi sebentar, lalu melepaskan panah. Pelatih mencatat hasilnya di papan kecil. Vio baru menoleh setelah seluruh serinya selesai.
Selvara mengangkat tangan dari jalur pejalan kaki. Vio membalas sambil menunjuk sasarannya, terlalu jauh untuk menunjukkan panah mana yang ingin ia lihat. Selvara mengerti ia akan mendengar ceritanya nanti. Ia melanjutkan langkah ke kelas, tempat Nadin sudah menyalin pekerjaan rumahnya ke kertas yang lebih rapi karena halaman buku aslinya terkena tumpahan minum.
Pada istirahat pertama, Theo menemukan Selvara di dekat mesin fotokopi. Ia sedang menunggu Mara selesai menggandakan daftar peminjaman ruangan. Rapat OSIS kemarin sore belum menghasilkan jadwal akhir. Klub panahan membutuhkan area latihan pada Jumat, sedangkan tim dekorasi acara sekolah sudah memesan tempat yang sama untuk memasang rangka kain.
“Kalau rangkanya belum berdiri Jumat, mereka kehilangan waktu uji coba,” kata Mara sambil mengambil kertas yang keluar dari mesin. “Tapi aku tidak mau menulis klub panahan harus pindah sebelum bicara dengan pelatihnya.”
Selvara membaca tanggal pada kedua formulir. “Rangkanya dipasang Jumat atau mereka ingin mencoba kainnya Jumat?”
“Dipasang Kamis. Jumat mereka mengecek hasilnya.” Mara memisahkan satu lembar yang tercetak terbalik. “Tapi kalau perlu memperbaiki ikatan, mereka tetap harus masuk area itu.”
Theo menerima setengah tumpukan kertas darinya. “Pembina dekorasi bisa meminta waktu Jumat pagi. Klub panahan baru mulai sore.”
“Kalau perbaikannya belum selesai sampai sore, kita kembali ke masalah yang sama,” jawab Mara. Ia tidak terdengar marah kepada Theo; ia hanya lelah memberi jawaban sementara kepada dua kelompok yang sama-sama menunggu kepastian.
Selvara memperhatikan formulir dekorasi lagi. Rangka itu akan berdiri dekat pagar luar, sedangkan garis tembak berada di sisi seberangnya. Ia sempat memikirkan apakah keduanya dapat bekerja bersamaan, lalu teringat anak-anak yang berjalan mengambil panah setiap selesai satu seri. “Lebih baik jangan ada tim dekorasi di area itu selama latihan,” katanya. “Mereka bisa memeriksa rangkanya bersama pembina sebelum klub masuk. Kalau masih ada yang perlu diubah, sepakati waktu lain dari sekarang.”
“Itu yang coba kuatur,” kata Mara. “Pembina dekorasi belum membalas pesan.”
“Beliau ada di ruang seni jam berikutnya,” ujar sebuah suara dari belakang mereka.
Cael berdiri beberapa langkah dari mesin fotokopi dengan map besar di bawah lengan. Ia menunggu ruang di depan mesin kosong agar bisa menggandakan bahan kelasnya. Theo mempersilakannya mendekat.
“Kemarin beliau menyuruh tim dekorasi membawa contoh kain ke ruang seni,” lanjut Cael. “Aku ada di sana untuk mengambil karton. Mungkin kalian bisa bicara langsung sebelum jam makan siang.”
Mara melihat jam. “Aku ada kelas sampai bel kedua.”
“Aku bisa ke sana,” kata Theo. “Aku memang perlu mengantar formulir kegiatan ke ruang guru.”
Selvara menunjuk bagian bawah daftar. “Sekalian tanyakan berapa lama pemeriksaan rangkanya. Kita perlu menulis jam selesai yang jelas untuk kedua klub.”
Theo menandainya dengan pena. Cael meletakkan mapnya di meja mesin fotokopi dan mendapati halaman pertama miliknya sudah menghadap ke arah yang salah. Ia membaliknya sebelum menekan tombol.
“Untung aku melihat kertas Mara tadi,” katanya. “Kalau ini terbalik, satu kelas akan menerima peta tanpa judul.”
“Biasanya orang baru sadar setelah semuanya dibagikan,” kata Mara.
Cael mengawasi kertas pertama keluar. Judulnya berada di sisi yang benar. Ia menyelipkannya ke dalam map, sementara Selvara dan Theo membawa daftar kembali ke ruang OSIS. Selvara sempat memperhatikan Cael memeriksa setiap salinan sebelum membuat berikutnya. Ia tampak seperti siswa lain yang berusaha agar tugas kelompoknya tidak perlu dicetak dua kali.
Siang harinya, Theo kembali dari ruang seni dengan keputusan yang dapat ditulis di papan kegiatan. Pembina dekorasi akan memeriksa rangka bersama dua anggota tim pada Jumat sebelum makan siang. Setelah itu area dikosongkan untuk latihan panahan. Jika perlu perbaikan, mereka akan mengerjakannya pada Sabtu, saat klub tidak memakai tempat tersebut. Pelatih Vio telah menyetujui jadwal itu.
Mara membaca catatan Theo, lalu meminta Selvara memeriksa tanggal pada pengumuman sebelum dicetak. Selvara menemukan satu kesalahan: jadwal pemeriksaan tertulis Kamis, meskipun mereka baru saja menyepakati Jumat. Mara mencoretnya dengan tinta merah.
“Kalau ini telanjur ditempel, dua klub akan datang pada hari yang berbeda dan sama-sama menyalahkan kita,” kata Mara.
“Koreksinya masih di kertas kita,” jawab Selvara. “Cetak setelah Theo selesai menyalinnya.”
Theo memandang Selvara. “Kamu bisa tinggal sampai pengumumannya terpasang? Aku harus ke rapat kelas.”
“Aku bisa membantu Mara sampai selesai.” Selvara mengambil pesan yang masuk di ponselnya. “Vio latihan lagi sore ini. Aku sudah bilang mungkin pulang agak belakangan.”
Mara menarik kursi agar Selvara bisa duduk di depan komputer. Mereka menyusun pengumuman dengan jam mulai dan selesai yang jelas, lalu membawanya ke papan kegiatan. Selvara memegang sisi kertas sementara Mara menempelkan selotip. Pekerjaan itu kecil, tetapi ia senang melihat dua kelompok akhirnya mendapat jadwal yang bisa mereka ikuti. Setelah semua sudut kertas melekat, ia mundur untuk memeriksa apakah tulisannya terbaca dari jalan menuju aula.
Sore itu, Selvara menemukan Vio di luar area latihan dengan rambut yang mulai lepas dari ikatannya. Vio baru selesai membereskan busur dan sedang menunggu Lani mengembalikan pelindung lengan ke tempat penyimpanan. Mereka berjalan bersama menuju gerbang ketika Vio mulai bercerita tentang seri tambahan yang ia ambil pagi tadi.
“Tembakan pertama masih melebar ke kanan,” katanya. “Pak Hadi menyuruhku berhenti memikirkan hasil kemarin dan memperhatikan posisi bahu saja. Tembakan berikutnya masuk lebih dekat ke tengah.”
“Kamu puas?”
“Aku ingin mengulang sekali lagi, tapi aku tahu kapan harus berhenti.” Vio mengangkat bahunya sebentar, lalu menurunkannya. “Hari ini aku benar-benar menyelesaikan giliranku. Lani juga latihan sendiri setelah kuberi saran sekali.”
Lani, yang berjalan beberapa langkah di depan, menoleh. “Aku bisa mendengar kalian, Kak. Saran yang sekali itu cukup keras untuk satu lapangan.”
“Bagus,” balas Vio. “Besok aku tidak perlu mengulanginya.”
Lani tertawa dan berpamitan di gerbang. Ibunya sudah menunggu di seberang jalan. Vio memperhatikan sampai Lani menyeberang dengan aman, lalu mengikuti Selvara menuju halte.
Mereka masih punya waktu sebelum bus datang. Selvara mengusulkan berjalan ke Avenoirs, toko roti yang berada satu blok dari halte berikutnya. Ibunya telah berpesan agar ia membawa pulang roti untuk sarapan. Vio setuju setelah memastikan Selvara tidak akan menyuruhnya memilihkan roti untuk seluruh keluarga tanpa mengetahui selera mereka.
Pintu Avenoirs terbuka dengan denting bel kecil. Udara hangat dan aroma mentega menyambut mereka dari arah rak. Seorang pegawai sedang memasukkan roti yang baru matang ke baki, sementara dua pelanggan berdiri di depan etalase kue. Selvara mengambil penjepit dan nampan. Vio langsung menuju rak roti manis, membaca labelnya satu per satu sebelum memutuskan ingin membeli apa.
Meganne berada di belakang meja kasir. Ia menyapa Selvara, lalu melayani pelanggan yang lebih dulu mengantre. Ketika giliran mereka tiba, ia melihat pilihan Selvara di dalam kantong kertas.
“Ibumu biasanya mengambil roti gandum juga,” katanya.
“Yang di rak tadi sudah habis.”
“Ada satu loyang lagi di belakang. Kalau kamu mau menunggu lima menit, akan kubungkus setelah cukup dingin.”
Selvara menyetujui tawaran itu. Meganne meminta pegawainya menyiapkan roti, lalu kembali menghitung pesanan pelanggan lain. Selvara dan Vio duduk di meja kecil dekat jendela dengan minuman yang mereka beli. Di luar, siswa dari sekolah mereka lewat berdua sambil membicarakan tugas. Sepeda pengantar barang berhenti di depan toko sebelah; pengendaranya masuk membawa dua kotak yang ditumpuk sampai menutupi wajah.
Vio membuka kertas pembungkus rotinya. “Aku hampir memberikan giliran pagiku ke Lani tadi.”
Selvara memandangnya. “Dia memintanya?”
“Tidak. Dia kelihatan gugup karena Pak Hadi mau mencatat hasilnya.” Vio mematahkan roti menjadi dua bagian, tetapi belum memakannya. “Aku sempat berpikir dia akan lebih tenang kalau berlatih dulu.”
“Lalu?”
“Lalu dia bilang mau mencoba dengan waktunya sendiri. Aku malah sudah siap menawarkan waktuku.” Vio tertawa pelan, lebih kepada dirinya sendiri. “Aku baru sadar setelah dia pergi ke garis tembak.”