Chapter 3 - Episode 11
Pada Sabtu pagi, Vio menemani ayah dan adiknya membeli bahan kue.
Mereka berangkat dengan daftar yang ditulis adiknya di belakang kuitansi belanja lama.
Di tengah perjalanan, ayahnya mengingatkan bahwa toko perlengkapan olahraga berada tidak jauh dari pasar.
Vio telah menyebut pelindung jari yang mulai tipis setelah latihan Jumat, jadi mereka sepakat singgah sebelum pulang.
Adiknya mengambil tugas memilih cokelat dan tepung bersama Ayah.
Vio memilih buah untuk dimakan di rumah, lalu mencari mereka di lorong bahan kue.
Adiknya sedang membandingkan dua bungkus cokelat bubuk dengan keterangan yang hampir sama.
“Yang ini warnanya lebih gelap,” katanya sambil menunjukkan kedua bungkus itu. “Tapi harganya juga lebih mahal.”
“Berapa banyak yang dipakai dalam resep?” tanya Vio.
Adiknya melihat catatan di balik kuitansi. “Dua sendok makan.”
Ayah mengambil bungkus yang lebih kecil. “Kalau cuma sebanyak itu, kita bisa mencoba yang ini dulu.
Kalau hasilnya kurang terasa, lain kali ganti.”
Adiknya masih membaca kemasan beberapa detik sebelum memasukkannya ke keranjang.
Vio mengenali sikap itu. Minggu lalu ia sendiri memandangi catatan dua seri panahnya berulang kali sebelum memutuskan apa yang perlu diperbaiki. Adiknya kini memperlakukan kue dengan keseriusan yang sama.
Toko olahraga berada di seberang pasar. Deretan raknya penuh sepatu dan seragam, sedangkan perlengkapan panahan menempati lemari kaca dekat kasir. Vio meminta izin mencoba beberapa ukuran pelindung jari. Yang pertama terlalu longgar ketika ia menekuk tangan. Yang kedua pas, tetapi jahitan di dekat telunjuknya terasa mengganjal.
Ayah menunggu di sampingnya tanpa memilihkan. “Yang lama ukurannya berapa?”
“Sama seperti yang kedua. Modelnya berbeda.” Vio mengenakan ukuran berikutnya dan membuka serta menutup tangannya beberapa kali. “Yang ini lebih nyaman. Aku perlu tahu rasanya waktu menarik busur, tapi setidaknya jariku bisa bergerak.”
Pegawai toko menjelaskan bahan dan cara merawatnya. Vio bertanya apakah ia boleh menukarnya jika setelah dicoba tanpa panah ternyata ukurannya tidak sesuai. Pegawai itu menunjukkan batas waktu pada struk. Ayah membayar setelah Vio memastikan pilihannya.
Di luar toko, adiknya meminta melihat isi kotak kecil yang dipegang Vio. Ia mengamati pelindung jari itu dengan heran. “Cuma sebesar ini, tapi kamu lama sekali memilih.”
“Yang memakainya jariku, bukan jarimu.”
“Aku tahu. Aku cuma kira kita akan beli busur baru.”
“Kalau itu, kita akan berada di toko sampai sore.” Vio menyimpan kotaknya sebelum adiknya tergoda mencoba. “Di rumah nanti kamu bisa lihat bentuknya. Jangan dipakai mengaduk adonan.”
Mereka pulang dengan bus yang cukup ramai. Ayah memegang kantong bahan kue, sedangkan Vio menjaga kotak perlengkapan di pangkuannya. Adiknya berbicara tentang tambahan cokelat yang ingin ditaburkan setelah kue matang. Kali ini Vio tidak ikut menilai setiap langkah resep. Ia mendengarkan, sesekali memberi pendapat ketika ditanya, dan membiarkan adiknya menentukan hasil seperti apa yang ingin ia coba.
Siang harinya, setelah belanjaan disimpan, Vio membuka kotak pelindung jari di meja makan. Ayah duduk di depannya sambil melihat cara ia memasangnya. Vio menggunakan sumpit sebagai pengganti arah tali busur untuk menunjukkan bagian yang paling cepat aus pada pelindung lamanya. Ayah memeriksa bekas gesekan itu, lalu mengembalikan pelindung lama kepadanya.
“Berarti yang baru kamu pakai setelah Pak Hadi melihat ukurannya?”
“Iya. Senin aku bawa dua-duanya. Kalau yang baru tidak cocok, aku masih bisa latihan dengan yang lama.”
“Bagus. Kamu sudah punya cara mengeceknya.”
Vio meletakkan kedua pelindung berdampingan. Sejak namanya masuk pertimbangan demonstrasi, ia beberapa kali membayangkan hasil tembakan yang ingin dicapai. Ia belum memikirkan bagaimana rasanya ikut acara itu dengan perlengkapan yang benar-benar ia pilih sendiri. Hal kecil tersebut membuat keinginannya terasa lebih nyata.
Adiknya memanggil dari dapur ketika mulai membuat kue. Vio datang sebentar untuk mengambil segelas air. Adonan belum selesai dan Ibu baru hendak menyiapkan loyang. Adiknya menunjukkan bubuk cokelat pilihannya, menjelaskan berapa banyak yang akan dipakai, lalu kembali membaca resep. Vio tidak perlu tinggal. Ia membawa airnya ke ruang tengah dan membuka buku tugas untuk hari Senin.
Sore menjelang ketika aroma kue mulai memenuhi rumah. Vio menyelesaikan tugasnya tepat sebelum adiknya meminta semua orang mencicipi hasilnya. Rasa cokelatnya lebih kuat daripada percobaan sebelumnya. Adiknya segera menulis perubahan itu di belakang kuitansi belanja agar tidak lupa. Vio memperhatikan cara ia mencatatnya: ada bagian yang berhasil, ada yang masih ingin diubah, dan tak satu pun membuat adiknya enggan mencoba lagi.
Malamnya, Vio memasukkan pelindung jari baru ke tas klub. Ia juga menyelipkan yang lama di kantong terpisah. Pada hari Senin ia akan meminta Pak Hadi memeriksa ukurannya, lalu mengambil giliran latihan seperti biasa. Ia berharap akhir pekan memberi bahunya cukup istirahat untuk mencoba gerakan yang sudah beberapa hari ia perbaiki.
Senin pagi, Vio sempat mencoba pelindung jari barunya sekali lagi sebelum berangkat. Ia tidak menarik busur di rumah; ia hanya memastikan jahitannya tidak bergeser saat tangan ditekuk. Adiknya yang sedang sarapan meminta melihatnya, lalu mengembalikannya setelah Vio mengatakan pelindung itu harus tetap bersih sampai diperiksa Pak Hadi.
Di sekolah, papan kegiatan sudah menampilkan jadwal acara bulan depan. Poster bergambar gedung yang dikerjakan Ardi terpasang di sebelahnya. Vio berhenti untuk melihat hasilnya. Gambar itu membuat aula dan halaman sekolah tampak mudah dikenali, sementara jam kegiatan dicetak cukup besar untuk dibaca dari tempatnya berdiri. Di bawah jadwal klub panahan, tertulis bahwa anggota demonstrasi akan diumumkan setelah latihan pekan ini.
Mika menyusul dari arah tangga. Ia membawa setumpuk buku yang hampir menyentuh dagunya. Vio mengambil dua dari tumpukan paling atas setelah Mika mengatakan semuanya hendak dikembalikan ke perpustakaan.
“Sudah lihat posternya?” tanya Mika.
“Sudah. Jadwal kita benar.”
“Ardi menunjukkan drafnya ke klub Jumat lalu. Pak Hadi langsung memeriksa apakah garis tembak digambar menghadap penonton.”
“Benar?”
“Di draf pertama, tidak. Makanya sekarang ada pagar pembatasnya.”
Vio melihat poster itu lagi. Area demonstrasi memang dipisahkan dari tempat penonton. Ia tersenyum membayangkan Pak Hadi memperbaiki gambar acara seperti sedang memeriksa latihan mereka. Setelah mengantar Mika ke perpustakaan, Vio masuk kelas. Hari itu cukup padat: kuis pada pelajaran pertama, tugas kelompok sebelum makan siang, dan latihan setelah bel pulang. Ia baru mengingat pelindung jari di tas ketika waktunya berganti pakaian untuk klub.
Pak Hadi memeriksanya sebelum latihan. Ia meminta Vio memasang pelindung itu, menekuk jari, lalu mencoba tarikan tanpa panah. Setelah dua kali percobaan, ia menyuruh Vio memakai pelindung lama untuk seri pertama dan mencoba yang baru pada seri berikutnya.
“Kalau tekanan pada jarimu terasa berbeda, berhenti dan beri tahu Bapak,” katanya. “Kita tidak perlu menunggu sampai hasil tembakannya berubah jauh.”
Vio mengangguk. Ia menjalani seri pertama dengan perlengkapan lamanya. Hasilnya cukup baik, meski satu panah menancap rendah. Pada seri kedua, pelindung baru terasa lebih kaku beberapa tarikan pertama. Ia menurunkan busur sekali untuk mengatur posisi jarinya, lalu meneruskan latihan. Pak Hadi mengamati dari belakang garis sebelum menuliskan sesuatu di catatan penilaiannya.
Seusai latihan, beberapa anggota klub berkumpul di dekat papan nama calon peserta demonstrasi. Pak Hadi meminta mereka menandai siapa yang bersedia ikut jika terpilih. Vio mengambil pena yang diletakkan di bawah daftar itu dan memberi tanda di samping namanya. Mika, yang berdiri di belakangnya, melihatnya tanpa berkomentar. Ia hanya menunggu giliran mengambil pena.
Lani datang belakangan dengan pelindung lengan milik klub yang sudah dikembalikan ke rak. Ia bercerita bahwa Pak Hadi memintanya berlatih menjaga jarak antar-panah, bukan mengejar bagian tengah sasaran. Vio mendengarkan sambil menutup tas perlengkapannya.
“Kamu mau lihat catatanku besok?” tanya Lani. “Aku mencoba menulis apa yang terasa beda setiap tembakan, seperti yang kamu lakukan.”
“Mau. Bawa waktu istirahat saja. Sekarang aku harus menyimpan pelindung baru sebelum lupa.”
Lani pergi bersama Mika. Vio kembali ke lemari perlengkapan di sisi area latihan. Sebagian lampu ruangan sudah dimatikan, tetapi pintu luarnya masih terbuka dan suara anggota klub terdengar dari halaman. Ia menemukan kotak pelindungnya di atas bangku, tepat di tempat ia meninggalkannya sebelum latihan. Ketika memasukkannya ke tas, ia melihat lembar daftar peserta demonstrasi tergeletak di meja kecil dekat pintu. Angin dari halaman telah membalik salah satu sudutnya.
Vio mendekat untuk merapikannya agar tidak jatuh. Tanda di samping namanya masih ada. Di bawah daftar itu, terletak sebuah pelindung jari lain dengan warna dan jahitan yang sama seperti miliknya.
Ia membuka tas. Pelindung barunya ada di dalam kotak, sedangkan yang lama tersimpan di kantong samping. Vio mengambil kembali benda di atas meja. Ukurannya sama. Pada bagian dalam terdapat lekuk kecil dekat telunjuk, persis pada tempat yang tadi sempat terasa kaku ketika ia mencoba tarikan pertama.