Chapter 3 - Episode 12
Kamis pagi, Vio tidak langsung menuju kelas.
Ayahnya kembali mengantar ke sekolah, dan kali ini Pak Hadi sudah menunggu bersama wali kelas di dekat ruang guru.
Setelah kejadian di depan papan klub kemarin, latihan di area panahan dihentikan sementara.
Petugas sekolah akan memeriksa jalur di sekitar gedung olahraga sebelum anggota klub kembali menggunakan tempat itu.
Vio menerima keputusan tersebut, meskipun ia merasa sesuatu yang baru berhasil dirapikannya kembali berantakan.
Catatan latihan pekan ini ada di dalam tas.
Pak Hadi seharusnya melihat hasil terakhirnya sebelum memilih anggota demonstrasi.
Sekarang ia tidak tahu kapan mereka akan menembak lagi.
“Penilaian tidak ditutup hari ini,” kata Pak Hadi setelah mendengar pertanyaannya. “Bapak masih punya catatan latihan sebelumnya. Semua anggota akan diberi waktu tambahan kalau lapangan sudah bisa dipakai.”
“Jadi saya masih bisa ikut dipertimbangkan, Pak?”
“Tentu. Penghentian latihan bukan kesalahanmu.”
Vio menunduk pada tali tasnya. Ia tidak bermaksud bertanya apakah dirinya bersalah, tetapi jawaban Pak Hadi menyentuh hal yang sejak semalam sulit ia singkirkan. Siswi itu selalu muncul di dekatnya. Nama yang ditulis di daftar juga namanya.
Sekarang seluruh klub harus mengubah kegiatan, sementara anggota lain tidak pernah melihat wajah yang membuatnya takut.
Ayahnya menunggu sampai pertemuan selesai sebelum mengantar Vio ke koridor kelas. Ia mengatakan ibunya bisa menjemput selepas kegiatan sore. Vio berencana menonton latihan Lyara di ruang musik, sesuai janji kemarin. Wali kelas sudah mengetahui rencana itu dan meminta Vio tetap bersama teman-temannya sampai dijemput.
Di depan kelas, ayahnya berhenti. “Kalau kamu berubah pikiran dan ingin langsung pulang, telepon. Tidak perlu menunggu latihan musik selesai.”
“Saya ingin datang dulu, Yah. Lyara sudah menunggu sejak minggu lalu.”
“Ayah tahu. Tapi Lyara juga bisa mengerti kalau kamu sedang tidak sanggup.”
Vio mengiyakan dan masuk kelas. Ayahnya tidak menunggu untuk melihat apakah ia benar-benar duduk. Ketika Vio menaruh tas, ia sudah berjalan kembali ke arah tangga.
Kabar penghentian latihan sampai kepada anggota klub melalui pesan Pak Hadi. Pada istirahat pertama, Mika datang membawa dua bungkus kerupuk dari kantin. Ia duduk di samping Vio dan menyerahkan salah satunya tanpa bertanya apakah Vio ingin makan.
“Lani tadi mengira pelindung lengan barunya masih ada di lemari klub,” katanya. “Ternyata sudah dia bawa pulang. Dia baru ingat setelah membongkar tas sampai buku-bukunya jatuh.”
Vio membuka bungkus kerupuk. “Kemarin dia hampir membawa pulang yang milik klub juga.”
“Dia sedang mencoba mengingat terlalu banyak hal sekaligus.” Mika membaca ulang pesan pelatih. “Aku akan pulang langsung hari ini. Ibu sudah mengatur jadwal jemput. Kamu ikut latihan musik?”
“Iya. Ibu menjemput setelah itu.”
Mika menaruh ponsel di meja. “Aku kesal latihannya berhenti. Tapi aku lebih kesal kalau kamu mengira harus minta maaf kepada kami semua.”
Vio berhenti mengunyah. Ia belum mengatakan hal itu kepada Mika.
“Kamu tadi melihatku waktu pesan Pak Hadi dibaca,” lanjut Mika. “Aku sudah bisa menebak kamu mau bilang apa.”
“Aku belum bilang apa-apa.”
“Makanya aku bilang duluan.” Mika mengambil kerupuk terakhir dari bungkusnya sendiri. “Kalau area itu belum aman, kami juga tidak mau latihan di sana. Pak Hadi akan mengatur penilaiannya.”
Vio memandang pesan pelatih pada layar ponselnya. Mika memang kecewa. Ia tidak berpura-pura senang kehilangan waktu latihan. Namun, ia juga tidak meminta Vio mengganti sesuatu atau membereskan masalah itu sendiri. Vio menghabiskan kerupuknya dan mulai bercerita tentang percakapan kedua dengan siswi yang menyerupainya.
Mika mendengarkan sampai bagian tentang daftar petugas. “Kamu sudah mencoret namamu sebelum dia muncul.”
“Iya. Dia tahu.”
“Pak Hadi menyimpan daftar itu?”
“Katanya akan dibawa ke ruang guru.”
Mika mengangguk, lalu menyuruh Vio makan siang sebelum bel berikutnya. Mereka kembali ke kantin bersama. Di sana Lyara dan Selvara sudah duduk dengan bekal masing-masing. Vio mengatakan ia tetap ingin datang ke ruang musik, tetapi mungkin tidak ingin berada di sekolah sampai terlalu sore.
“Datang setelah pelajaran selesai,” kata Lyara. “Aku minta pelatih mengulang bagian soloku lebih awal. Kamu bisa pulang setelah mendengarnya.”
“Jangan ubah latihan semua orang cuma karena aku.”
“Urutan latihan kami memang bisa diganti. Itu bukan urutan pertunjukan.” Lyara membuka lembar musiknya untuk menunjukkan bagian yang telah diperbaiki. “Kalau pelatih setuju, aku ingin mencoba saat suaraku belum terlalu lelah.”
Vio membaca tanda pensil di atas kata-kata lagu. Ia ingat komentar yang pernah diberikannya tentang bagian awal yang kurang jelas. Lyara benar-benar mengerjakannya, bahkan ketika mereka masih menunggu hasil pemeriksaan speaker balai seni.
Mereka makan sambil membicarakan lagu itu. Selvara bertanya apakah latihan hari ini memakai piano yang sama dengan minggu lalu. Lyara mengeluh satu tutsnya terkadang berbunyi terlalu keras dan pelatih harus mengingatkan pemain piano untuk menyesuaikan sentuhan. Vio ikut tertawa saat Lyara memperagakan bagaimana satu nada bisa membuat seluruh kelompok menoleh.
Setelah makan, Vio mengirim pesan kepada ibunya tentang waktu jemput. Ia tidak perlu kembali ke area panahan sore ini. Ia akan duduk di ruang musik, mendengar temannya bernyanyi, lalu pulang setelah latihan pertama selesai. Untuk beberapa saat, rencana itu terasa cukup sederhana untuk diikuti.
Seusai pelajaran, Vio berjalan ke ruang musik bersama Lyara. Di depan aula, beberapa anggota paduan suara telah berkumpul sambil menunggu pintu dibuka. Salah seorang membawa kue dalam kotak besar untuk dibagikan setelah latihan. Lyara membantu memegang kotaknya sementara temannya mencari kunci di tas, lalu menaruhnya di meja dekat jendela.
Vio memilih kursi di sisi ruangan, cukup jauh dari piano agar tidak mengganggu. Pelatih musik menyapanya dan mengatakan Lyara sudah meminta bagian solo dicoba lebih awal. Mereka akan berlatih dengan suara alami terlebih dahulu. Mikrofon dan speaker tidak diperlukan untuk ruangan sekecil itu.
Lyara meletakkan map musik di atas piano. Ia minum beberapa teguk air, lalu berdiri bersama kelompoknya untuk pemanasan. Vio menyimak bagaimana suara mereka berubah setelah beberapa latihan napas. Ia tidak mengetahui nama setiap latihan, tetapi ia dapat mendengar kapan suara Lyara mulai lebih lepas. Saat piano memainkan pembukaan lagu, Vio menegakkan duduknya.
Bagian awal yang minggu lalu kurang jelas kini terdengar utuh. Lyara tidak memanjangkan setiap kata; ia hanya memberi tekanan pada bagian yang sebelumnya tenggelam. Vio mengikuti lembar lirik yang dipinjamkan kepadanya. Ketika solo selesai, ia mengangkat ibu jari dari tempat duduknya. Lyara tersenyum, lalu segera kembali memperhatikan arahan pelatih.
Latihan berlangsung hampir satu jam. Sesudahnya, pelatih mengizinkan anggota pulang setelah membereskan kursi dan lembar musik. Lyara ingin mencoba dua baris terakhir sekali lagi bersama pemain piano. Vio tetap duduk untuk mendengarkannya. Ibunya baru akan tiba sekitar lima belas menit lagi.
Setelah percobaan terakhir itu, pemain piano menutup partitur dan berpamitan. Pelatih membawa daftar hadir ke ruang guru yang berada di ujung koridor, sambil meminta Lyara mengembalikan buku lagu ke lemari. Pintu ruang musik tetap terbuka. Beberapa siswa masih lewat di luar, dan Vio dapat mendengar suara sepatu mereka ketika ia membantu mengumpulkan lembar lirik dari kursi.
“Bagian awalnya sudah jelas,” katanya kepada Lyara. “Aku bisa mengikuti kata-katanya tanpa terus melihat kertas.”
“Yang kedua terlalu cepat?”
“Sedikit. Tapi waktu kamu mengulang tadi, lebih enak.”
Lyara menandai bagian itu. “Kalau begitu besok aku mulai dari sana. Aku sudah terlalu lama berlatih dari awal dan kehabisan tenaga sebelum sampai bagian yang sulit.”
Vio mengembalikan lembar lirik ke dalam map. Di dekat pintu, ada bayangan seseorang yang menghalangi cahaya koridor. Ia mengira seorang anggota klub kembali mengambil barang, sampai siswi itu masuk dan berhenti di antara pintu dan meja kue.
Vio mengenali tas pada bahunya sebelum wajahnya terlihat penuh.
Lyara masih membungkuk di depan lemari ketika Vio memanggil namanya. Suaranya keluar lebih kecil daripada yang ia inginkan. Ia mencoba lagi.
“Lyara. Kemari dulu.”
Lyara berbalik. Matanya berpindah dari Vio ke siswi di dekat pintu. Map di tangannya turun perlahan sampai menempel pada sisi tubuh.
Siswi itu memiliki wajah Vio. Seragamnya sama, begitu pula cara tali tasnya jatuh di bahu. Ia memandang lembar musik yang masih berada di tangan Lyara, lalu kursi tempat Vio duduk selama latihan.
“Kamu datang juga,” katanya kepada Vio.
Lyara mundur dari lemari. “Vi, dia siapa?”
“Aku tidak tahu. Itu yang kulihat di lapangan.”
Vio menarik ponsel dari saku. Siswi itu berjalan mendekati pintu, seolah hendak keluar. Vio mengira mereka masih punya kesempatan memanggil pelatih dari koridor. Ia bergerak ke samping Lyara dan berteriak meminta bantuan.
Tidak ada jawaban. Suara langkah yang tadi terdengar di luar pun telah berhenti.
Lyara menunjuk pintu dengan tangan yang memegang map. “Pelatih ada di ruang guru. Aku panggil.”
Ia baru mengambil dua langkah ketika siswi itu berbalik dan meraih pergelangan tangannya. Map musik jatuh. Lyara berusaha melepaskan diri, tetapi pegangan itu tidak mengendur. Vio mendengar bunyi keras ketika sepatu Lyara menyenggol kaki kursi.
“Lepaskan dia!” Vio maju dan memegang lengan siswi itu.
Kulit yang disentuhnya terasa dingin. Ada tekanan keras di bawah telapak tangannya, cukup nyata hingga Vio harus mengerahkan tenaga untuk menarik. Siswi itu menoleh kepadanya dengan ekspresi yang hampir lembut, ekspresi yang biasa Vio pakai saat seseorang mulai panik.
“Aku hanya ingin dia tetap di sini.”
“Dia mau keluar. Lepaskan.”
Lyara menyentakkan tangannya sekali lagi. Siswi itu melepaskan pegangan mendadak, membuat Lyara kehilangan keseimbangan. Vio menangkap bahunya sebelum ia jatuh ke meja. Mereka mundur bersama sampai punggung Lyara menyentuh lemari buku.
Di pergelangan tangan Lyara muncul bekas merah. Ia mengusapnya, lalu memandang siswi di dekat pintu dengan napas memburu. Kini Vio tidak lagi harus menjelaskan bahwa seseorang benar-benar berdiri di depannya. Lyara melihat wajah itu dan telah merasakan tangannya.
Vio mencoba menelepon, tetapi panggilan belum tersambung. Ia menoleh ke pintu yang masih terbuka. Koridor di luar tampak lebih panjang daripada beberapa menit lalu. Pintu ruang guru yang seharusnya terlihat di ujung tidak ada. Di tempatnya, cahaya sore jatuh pada deretan jendela yang tidak dikenalnya.
Lyara mengikuti pandangannya. “Tadi bukan begitu.”
“Aku tahu.” Vio tetap memegang bahu temannya. “Jangan lewat sana dulu.”
Siswi itu berdiri di ambang pintu, menghalangi jalan dengan tubuhnya. Vio menekan layar ponsel untuk mencoba menelepon lagi, sambil menjaga Lyara tetap di sisinya. Di lantai, lembar musik yang terlepas dari map mulai bergeser menuju koridor, meskipun udara di ruangan itu nyaris tidak bergerak. Lembar musik itu berhenti ketika ujungnya menyentuh sepatu gadis di ambang pintu. Ia membungkuk untuk mengambilnya, lalu meratakan sudut kertas yang terlipat dengan ibu jari. Vio mengenali gerakan itu. Ia sendiri sering melakukannya pada lembar tugas sebelum memasukkannya ke dalam map.
Di sebelahnya, Lyara berusaha menarik napas lebih panjang.
“Ponselku di tas,” katanya pelan. “Di kursi dekat piano.”
Vio melihat tas itu. Jaraknya hanya beberapa langkah, tetapi mereka harus melewati sisi meja yang terbuka untuk mencapainya. Gadis di pintu masih memegang lembar musik, seolah sedang menunggu latihan dimulai lagi.
“Aku coba telepon dulu.”
Nama Ibu tetap terpampang di layar. Belum ada nada sambung. Vio menghentikan panggilan, kemudian mengetik pesan dengan ibu jari yang beberapa kali mengenai huruf yang salah.
Masih di ruang musik sama Lyara. Tolong minta guru datang. Jangan tunggu di gerbang.
Pesan itu belum menunjukkan tanda terkirim.
“Punyamu bagaimana?” tanya Lyara.
“Belum masuk.”
Vio memasukkan ponselnya ke saku rok tanpa mengunci layar. Tangannya perlu bebas. Kesadaran sederhana itu membuat ketakutannya terasa lebih nyata daripada koridor yang berubah di depan mereka.
“Kita ke jendela,” bisiknya. “Tetap dekat aku.”
Mereka bergeser menyusuri lemari. Lyara menahan pergelangan tangannya yang memerah, tetapi langkahnya masih mantap. Vio ingin bertanya apakah sakitnya bertambah. Ia juga ingin menoleh setiap saat, memastikan gadis itu belum bergerak. Kedua keinginan tersebut membuatnya hampir tersandung kaki kursi.
Lyara segera menarik siku Vio.
“Hati-hati.”
Kata itu keluar dengan nada yang biasa dipakai Lyara ketika mereka menyeberang jalan. Sesaat Vio teringat betapa dekatnya waktu ketika mereka masih membicarakan bagian lagu yang terlalu cepat. Kotak kue di meja bahkan belum ditutup rapat.
Vio meraih kait jendela. Kait itu terangkat, tetapi bingkainya tidak bergeser ketika didorong. Di balik kaca, halaman sekolah terlihat pucat. Ia masih bisa mengenali pohon dekat jalur pejalan kaki, meski bagian bawah batangnya tertutup kabut.
Vio memukul kaca dengan telapak tangan.
“Tolong! Kami di sini!”
Tidak ada orang yang menoleh. Ia tidak yakin ada orang di halaman itu.
“Geser sedikit,” kata Lyara.
Lyara mencoba bingkai sebelahnya dengan tangan yang tidak terluka. Kaca bergetar di dalam rangka, menimbulkan bunyi pendek yang terdengar sangat keras di ruangan tersebut. Jendelanya tetap tertutup.
Dari arah pintu, suara Vio sendiri terdengar.
“Pergelangan tangannya sakit.”
Vio menoleh. Gadis itu sudah meletakkan lembar musik di kursi paling depan.
“Kamu yang menyakitinya.”
“Aku melepaskannya waktu kamu minta.”