Chapter 3 - Episode 13
Menjelang siang pada hari setelah insiden di ruang musik, Vio sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Dokter tidak menemukan cedera serius selain kelelahan berat, ketegangan otot pada bahu dan lengan, serta tekanan darah yang sempat turun. Lyara juga dipulangkan lebih dahulu setelah pergelangan tangannya diberi penyangga. Bekas genggaman pada kulitnya masih terlihat, tetapi pemeriksaan memastikan tidak ada tulang yang retak.
Ayah mengurus administrasi di lantai bawah sementara Ibu membantu Vio mengganti pakaian. Seragam sekolahnya sudah dimasukkan ke dalam kantong terpisah. Ketika Vio melihat ujung lengan bajunya, ia menemukan noda abu-abu dari lantai ruang musik dan bekas pucat berbentuk tidak beraturan di dekat pergelangan.
“Yang ini tadi sudah ada?” tanyanya.
Ibu mendekat untuk melihat. “Ibu kurang tahu. Bajumu langsung dibawa guru ke rumah sakit.”
Vio mengusap bekas itu dengan ibu jari. Kainnya tidak gosong, tetapi warnanya memudar seperti terlalu lama terkena sinar matahari. Letaknya tepat di sekitar tangan yang kemarin mengeluarkan cahaya.
“Jangan digosok dulu,” kata Ibu. “Kita simpan seperti ini.”
Vio menurunkan lengan. Sejak bangun pagi, ia sudah dua kali mencoba mengingat saat cahaya itu muncul. Ingatannya selalu berhenti pada napas Lyara yang tersendat dan rasa panas yang menjalar sampai bahu. Setelah itu, semuanya menjadi putih.
Mereka meninggalkan rumah sakit beberapa menit kemudian. Di dalam mobil, Ayah menjelaskan bahwa sekolah menutup ruang musik dan koridor di sekitarnya untuk pemeriksaan. Petugas yang masuk ke ruangan mengaku melihat seorang siswi di dekat piano, tetapi tidak menemukan siapa pun setelah Vio dan Lyara dikeluarkan. Pintu dan jendela masih terkunci dari dalam sesuai kondisi terakhir, sedangkan lorong telah kembali ke bentuk semula.
“Sekolah meminta kita datang lagi kalau kamu sudah cukup sehat untuk memberikan keterangan,” kata Ayah.
“Saya sudah cerita semalam.”
“Kamu menceritakannya kepada petugas medis dan guru. Sekolah ingin membuat catatan resmi.”
Vio menyandarkan kepala ke kursi. “Kalau saya harus cerita lagi, saya mau Lyara ada di sana. Kami melihat bagian yang berbeda.”
Ayah meliriknya melalui kaca tengah. “Kita tanyakan kepada dia dan keluarganya. Tidak harus hari ini.”
Mobil berhenti di depan rumah menjelang tengah hari. Adik Vio masih berada di sekolah, sehingga rumah terasa lebih sunyi daripada biasanya. Ibu menyiapkan makanan, sedangkan Vio duduk di ruang tengah dengan kedua kaki terangkat di atas sofa. Ia baru makan beberapa suap ketika bel berbunyi.
Selvara datang bersama Mariel.
Keduanya sudah meminta izin melalui Ayah sebelum datang. Selvara membawa tas sekolah dan kantong roti dari Avenoirs, sementara Mariel hanya membawa map tipis. Ia menyapa kedua orang tua Vio terlebih dahulu, kemudian duduk di kursi yang berhadapan dengan sofa.
“Aku sudah mendengar bagian dasarnya dari Selvara dan Lyara,” kata Mariel. “Aku tidak akan memintamu mengulang seluruh kejadian. Aku hanya perlu memastikan beberapa hal tentang cahaya yang muncul.”
Vio meletakkan mangkuknya di meja. “Lyara benar-benar melihatnya?”
“Dia melihat cahaya dari tanganmu dan merasa bisa bernapas lebih baik setelah itu.”
Berarti kejadian itu bukan hasil ingatan yang kacau akibat pingsan. Kepastian tersebut tidak membuat Vio merasa lebih tenang. Ia membuka telapak tangan kanannya, memeriksa kulit yang masih tampak biasa.
“Saya enggak tahu cara mengeluarkannya.”
“Itu wajar. Kamu baru mengalami Semi Awakening.”
Istilah itu membuat Ayah yang duduk di dekat meja makan ikut menoleh. Selvara tidak tampak terkejut, seolah sudah menduga jawaban tersebut.
“Apa artinya?” tanya Ibu.
“Kemampuannya sudah muncul dan menghasilkan dampak nyata, tetapi aksesnya belum lengkap,” jelas Mariel. “Vio belum memiliki kendali yang aman. Tubuhnya juga belum mampu menanggung penggunaan terlalu lama.”
Vio teringat tepi penglihatannya yang menggelap. “Kalau saya berhenti lebih cepat, Lyara mungkin sesak lagi.”
“Mungkin,” jawab Mariel. “Namun, kalau kamu terus bertahan sampai kehilangan kesadaran, kamu juga tidak bisa membantunya lagi.”
Vio menatap mangkuk makanannya. Ia memahami kalimat itu, tetapi bagian dalam dirinya masih menolaknya. Kemarin ia hanya memiliki satu hal yang berhasil. Melepaskan tangan berarti mempertaruhkan napas Lyara demi keselamatannya sendiri.
Selvara duduk di ujung sofa, meninggalkan jarak agar Vio tidak merasa terkurung.
“Waktu aku pertama kali kehilangan kendali, aku juga mengira bertahan lebih lama akan membuat hasilnya lebih baik,” katanya. “Ternyata setelah tubuhku lewat batas, aku bahkan enggak bisa memilih ke mana energinya pergi.”
Vio mengingat cahaya terakhir yang menyentak keluar ketika gadis itu hendak meraih Lyara. Ia tidak tahu apakah cahaya tersebut melindungi mereka atau hanya meledak karena dirinya sudah tak sanggup menahannya.
“Jadi saya bisa membahayakan orang lain?”
“Kalau dipaksa tanpa kendali, risikonya ada,” jawab Mariel. “Karena itu kita tidak akan mencoba mengeluarkannya hari ini.”
Jawaban tersebut datang sebelum Vio meminta. Ada sedikit kekecewaan yang membuatnya malu. Ia ingin mengetahui bahwa cahaya itu masih ada, tetapi juga takut melihatnya muncul.
Mariel membuka map dan mengeluarkan salinan foto. Gambar pertama memperlihatkan permukaan piano di ruang musik. Pada sisi yang menghadap tempat Vio berdiri, lapisan kayunya memucat membentuk bekas menyerupai sapuan cahaya. Foto kedua menunjukkan lantai dekat kaki piano. Ada garis gelap yang membentang menuju pintu, seolah sesuatu pernah ditarik melewati permukaannya.
“Sekolah menemukan ini pagi tadi,” kata Mariel. “Bekas pada piano kemungkinan berkaitan dengan energimu. Garis di lantai memiliki sifat berbeda dan berhenti di tempat sosok itu berdiri.”
Vio mengambil foto dengan kedua tangan. Posisi benda-benda di dalamnya mengembalikan susunan ruang musik secara utuh ke kepalanya.
“Dia berdiri di sini,” katanya sambil menunjuk ujung garis. “Waktu cahaya keluar, dia mencoba meraih Lyara dari sebelah kanan piano.”
Mariel menandai bagian itu dengan pensil. “Kamu yakin?”
“Iya. Petugas membawa saya lewat sisi kiri. Lyara ada di belakang saya.”
Untuk pertama kalinya sejak terbangun, Vio tidak sedang mencoba memahami dirinya sendiri. Ada bukti yang tertinggal dari dua kekuatan berbeda, dan salah satunya berasal dari sesuatu yang masih belum ditemukan.
Ia mengembalikan foto kepada Mariel.
“Sosok itu masih bisa kembali?”
“Kita belum tahu,” jawab Mariel. “Karena itu kejadian ini tidak boleh dianggap selesai hanya karena kalian sudah keluar.”
Vio merapatkan jari pada selimut. Rasa takut masih ada, tetapi kini memiliki arah yang lebih jelas.
“Kalau begitu saya perlu belajar memakai cahaya itu.”
Ibu hendak menyela, tetapi Vio lebih dahulu menoleh kepadanya.
“Saya enggak mau mencoba sendiri. Saya juga enggak mau sampai pingsan lagi. Tapi kalau dia datang dan ada orang lain di dekat saya, saya enggak bisa cuma berharap cahaya itu muncul sendiri.”
Mariel menutup mapnya. “Kita mulai setelah tubuhmu pulih. Hal pertama yang kamu pelajari bukan cara menghasilkan lebih banyak cahaya. Kamu akan belajar mengenali batas dan menghentikannya.”
Vio menatap tangan kanannya sekali lagi. Kali ini ia tidak mengepalkannya.
“Baik. Tapi setelah itu, saya juga mau tahu apa yang sebenarnya saya lakukan pada Lyara.”
“Itu bagian berikutnya.”
Dari luar terdengar kendaraan sekolah berhenti di ujung jalan. Beberapa detik kemudian, suara adik Vio memanggil dari pagar. Ibu berdiri untuk membukakan pintu, sementara Ayah memindahkan foto-foto dari meja sebelum anak yang lebih kecil itu masuk dan menanyakan semuanya sekaligus.
Vio meraih mangkuknya kembali. Makanannya sudah tidak terlalu hangat, tetapi ia melanjutkannya sampai habis sambil mendengarkan Selvara menjelaskan bahwa roti yang dibawa tidak boleh dibuka sebelum semua orang mendapat bagian.
Sore itu, setelah tubuhnya cukup pulih untuk berjalan tanpa merasa lantai bergeser, Vio datang ke sekolah bersama kedua orang tuanya. Mereka masuk melalui gedung administrasi dan dibawa ke ruang rapat kecil, jauh dari koridor musik yang masih ditutup. Lyara sudah menunggu bersama ibunya. Penyangga ringan membungkus pergelangan tangannya, tetapi ia tampak jauh lebih segar dibandingkan saat berada di rumah sakit.
Begitu Vio duduk di sebelahnya, Lyara menggeser segelas air yang belum dibuka.
“Ini buat kamu. Tadi aku ambil dua.”
“Kamu sendiri sudah minum?”
“Sudah. Ibu sampai menyuruhku menghabiskan satu botol di mobil.”
Vio menerima gelas itu. “Kalau begitu aku percaya.”
Percakapan singkat tersebut mengurangi sedikit ketegangan yang memenuhi ruangan. Kepala sekolah, wali kelas mereka, pembina klub musik, serta petugas yang menolong keduanya duduk di sisi lain meja. Mariel hadir sebagai pendamping atas persetujuan orang tua mereka. Selvara menunggu di luar bersama Theo karena sekolah ingin membatasi jumlah orang selama pencatatan.
Kepala sekolah membuka pembicaraan dengan menjelaskan bahwa kesaksian mereka akan dipakai untuk menentukan langkah keamanan, bukan disebarkan kepada siswa atau pihak luar. Vio tidak sepenuhnya percaya sekolah mampu menjaga semua informasi. Video bus dan pengumuman yang salah sudah mengajarinya bahwa sesuatu dapat berpindah tangan sebelum orang dewasa sempat menyepakati penjelasan. Namun, kali ini Lyara duduk di sampingnya, dan petugas yang memasuki ruangan juga melihat sosok tersebut.
Vio menceritakan kejadian sejak gadis berwajah sama dengannya muncul di pintu. Ketika ingatannya mencapai bagian koridor yang berubah, Lyara melanjutkan dengan menjelaskan bahwa ruang staf menghilang dari pandangan dan digantikan deretan jendela yang tidak pernah ada.
“Jadi pintu ruang musik tetap terbuka?” tanya kepala sekolah.
“Terbuka,” jawab Lyara. “Kami bisa melihat koridor, tapi susunannya berubah.”
Petugas di ujung meja membuka catatannya. “Dari sisi kami, pintunya tertutup. Kami mendengar suara mereka dari balik pintu, tetapi gagangnya tidak bergerak. Setelah beberapa kali didorong, pintunya terbuka sendiri.”
Pembina musik menatapnya. “Saya melihat pintu terbuka sebelum pergi ke ruang staf.”
“Saat kami tiba kembali, pintunya sudah tertutup.”
Perbedaan itu membuat ruangan terdiam. Vio merasakan Lyara menggerakkan kaki di bawah meja. Ia sendiri mengusap sisi gelas dengan ibu jari, lalu memaksa tangannya berhenti ketika rasa hangat muncul samar di telapak.
“Setelah pintunya terbuka, Bapak melihat perempuan itu?” tanya Vio.
Petugas mengangguk. “Saya melihat siswi berseragam berdiri dekat piano. Wajahnya tidak terlihat jelas karena ada cahaya. Setelah kalian dibawa keluar, saya masuk lagi bersama petugas lain. Ruangannya kosong.”
“Jendelanya masih terkunci?”