Chapter 3 - Episode 14
Selasa pagi, Selvara menemukan Lyara berdiri di depan ruang kelas sementara di lantai dasar, memegang map partitur dengan tangan kirinya. Pergelangan yang cedera masih memakai penyangga. Di dalam ruangan, beberapa anggota klub musik menggeser kursi untuk memberi tempat bagi keyboard pinjaman. Kabelnya membentang sampai ke meja guru, tepat di jalur orang masuk.
“Kalau diletakkan begitu, nanti ada yang tersandung,” kata Selvara.
“Itu yang sedang kuusahakan sejak tadi.” Lyara menyerahkan mapnya ketika seorang siswa memanggil dari dalam. “Pegang sebentar, ya. Mereka perlu tahu meja mana yang boleh digeser.”
Selvara ikut masuk dan menaruh map di ambang jendela. Ia membantu mengangkat salah satu ujung meja, sementara Lyara mengarahkan mereka ke sisi dinding. Setelah kabel dipindahkan, tersedia ruang cukup untuk berjalan di antara keyboard dan deretan kursi. Ruangan itu lebih sempit daripada ruang musik lama, tetapi cahaya pagi masuk sampai ke bagian belakang.
Theo datang membawa lembar pembagian ruangan tepat ketika mereka selesai.
“Pembina kalian minta jadwalnya ditempel dekat pintu saja” katanya kepada Lyara. “Rabu sore ruangan ini dipakai kelas tambahan. Latihan kalian mulai setelah mereka selesai.”
Lyara mengambil lembar itu dan membaca jamnya. “Kami bisa menunggu, asal keyboard boleh tetap di sini. Kalau setiap latihan harus dibawa naik turun, yang rajin datang cuma orang yang kebetulan terlambat menghindari tugas angkat barang.”
“Aku tanyakan soal penyimpanannya. Untuk sekarang, gurunya mengizinkan sudut sebelah sana.” Theo menunjuk lemari pendek dekat papan tulis, lalu mengeluarkan denah dari map. “Ini juga perlu ditempel. Petugas meminta jalur keluar tetap terlihat meskipun susunan meja berubah.”
Selvara membantu menahan kertas saat Lyara memasang perekat. Denah itu mencakup lantai dasar dan sambungan menuju gedung lama. Ia mengenali tangga dekat kantin, halaman kecil, serta koridor yang kini dibatasi. Namun, pada bagian ruang musik terdapat garis pintu kedua di sisi yang berseberangan dengan pintu utama.
“Pintu ini menuju ke mana?” tanyanya.
Theo mendekat. “Yang di samping piano?”
Lyara mengikuti arah jari Selvara. “Di sana ada dinding. Rak partitur menempel sepanjang bagian itu.”
“Mungkin gambar lama.” Theo memeriksa sudut bawah kertas. “Aku mengambil salinan yang diberikan bagian sarana. Tanggalnya kepotong waktu difotokopi.”
Selvara menelusuri garis pendek dari pintu tersebut. Jalurnya berakhir di sebuah halaman sempit yang juga terasa asing. Ia pernah melewati sisi luar gedung itu bersama Vio, tetapi yang diingatnya adalah pagar dan tempat petugas menyimpan alat kebersihan.
“Waktu kejadian kemarin, kamu melihat bukaan di sisi itu?” tanyanya kepada Lyara.
Lyara memandangi gambar beberapa saat. “Aku lebih banyak melihat Vio dan pintu yang biasa kami pakai. Lorongnya memang berubah, tapi aku enggak bisa memastikan bentuknya seperti ini.”
Selvara mengangguk dan mengangkat ponsel untuk memotret denah. Lyara menunggunya selesai sebelum menekan sudut kertas yang mulai terlepas.
“Kalau ketemu gambar yang lebih jelas, tunjukkan kepadaku,” katanya. “Mungkin aku bisa mengenali sesuatu. Sekarang malah susah membayangkan posisi pianonya.”
“Aku cari tanggalnya dulu. Bisa saja pintunya sudah lama ditutup.”
Bel persiapan pelajaran berbunyi dari koridor. Theo membereskan map, sedangkan Lyara mengambil kembali partiturnya. Selvara membantu menarik pintu agar kabel di bawah meja tetap aman, lalu berjalan bersama mereka menuju tangga. Sebelum berpisah, ia mengirim foto tersebut kepada Mariel dengan keterangan singkat tentang pintu yang tergambar. Balasan baru masuk ketika ia mencapai kelas: simpan fotonya, dan cari sumber denah melalui petugas perpustakaan.
Saat istirahat siang, Selvara pergi ke perpustakaan bersama Theo. Ia sudah menghabiskan separuh waktu istirahat untuk makan, sehingga mereka hanya punya beberapa menit sebelum pelajaran berikutnya. Di meja layanan, Naira sedang menyusun kartu peminjaman ketika Theo menunjukkan foto denah dari ponsel Selvara.
“Kami mau mencari versi yang tanggalnya masih terbaca,” kata Theo. “Bagian sarana memakai ini untuk pembagian ruangan klub.”
Naira memperbesar gambar, lalu memeriksa tulisan kecil di dekat legenda. “Ini salinan dari buku panduan sekolah. Kode halamannya masih kelihatan.”
“Kamu tahu tahun berapa?”
“Harus lihat bukunya. Sampul beberapa edisi hampir sama.” Naira mengembalikan ponsel, kemudian meminta izin kepada petugas perpustakaan untuk mengambil buku referensi di rak belakang. Selvara dan Theo menunggu di meja baca, memberi tempat bagi dua siswa yang membawa tumpukan buku latihan.
Naira kembali dengan dua buku bersampul biru. Salah satunya memiliki sudut yang dilapisi perekat bening. Ia membuka halaman denah dan memutar buku itu agar mereka bisa membaca.
“Yang ini cocok dengan fotomu. Edisi delapan tahun lalu. Buku satunya lebih baru.”
Pada denah terbaru, garis pintu samping sudah hilang. Halaman kecil tetap tergambar, tetapi aksesnya berasal dari luar gedung. Selvara membandingkan keduanya sambil mengingat penjelasan Lyara.
“Berarti pintunya memang pernah ada.”
“Setidaknya pernah dimasukkan ke denah,” jawab Naira. “Kalau mau memastikan bangunannya, bagian sarana lebih tahu. Kadang gambar dipakai lagi meskipun ruangannya sudah berubah.”
Theo menarik kursi dan duduk. “Aku harus minta mereka mengganti lembar yang tadi. Kalau dipakai sebagai jalur keluar, pintu yang sudah ditutup bakal bikin orang salah arah.”
Selvara memotret halaman kedua beserta tahun terbitnya. Dugaan pertamanya kini punya penjelasan yang cukup sederhana: denah lama terpakai kembali. Meski begitu, gambar tersebut tetap memperlihatkan bagian gedung yang belum pernah ia kenali.
“Boleh lihat halaman sebelum ini?” tanyanya.
Naira membalik kertas. Ada foto kegiatan klub dan keterangan singkat mengenai pemindahan ruang penyimpanan. Di belakang sekelompok siswa, pintu samping ruang musik tampak terbuka. Selvara mendekatkan ponselnya untuk mengambil foto. Dari bukaan itu terlihat dinding pendek dan lantai ubin, hanya beberapa langkah sebelum jalurnya berbelok.
Theo menunggu sampai ia selesai. “Kamu merasa itu seperti lorong yang diceritakan Lyara?”
“Aku belum tahu. Dia perlu melihat fotonya sendiri.”
Mereka mengembalikan buku sebelum bel berbunyi. Naira menyelipkan secarik kertas berisi judul dan tahun terbit ke tangan Selvara agar ia bisa memintanya lagi setelah sekolah.
Sore harinya, Mariel menemui mereka di ruang staf. Lyara datang setelah menyerahkan tugas kepada pembina musik, lalu duduk di samping Selvara untuk melihat foto pada layar.
“Belokannya ke arah lain,” katanya setelah cukup lama memperhatikan. “Yang kulihat kemarin seperti menuju tangga. Di foto ini jalurnya pendek.”