CHAINS : Beyond The Mist of Shattered Illusion

Lyneetra
Chapter #59

Room for Everyone

Chapter 3 - Episode 15 

Jumat pagi, Selvara baru selesai memasukkan tugas ke meja guru ketika Theo menghampirinya dengan selembar jadwal. Beberapa perwakilan klub akan berkumpul saat istirahat kedua untuk membicarakan penggunaan ruangan menjelang acara sekolah.

Pemindahan kegiatan musik membuat jadwal yang semula sudah disetujui perlu diperiksa kembali, dan pembina OSIS meminta seseorang membantu mencatat perubahan langsung pada denah. “Kamu sudah melihat ruangan sementaranya,” kata Theo sambil menunjukkan bagian yang diberi lingkaran. “Bisa ikut sebentar? Aku perlu memimpin pembicaraan, jadi mungkin ada permintaan yang terlewat kalau kucatat sendiri.”

Selvara membaca jam pertemuan. Ia masih perlu menemui guru matematika mengenai tugas yang dikembalikan kemarin. Setelah memastikan waktunya cukup, ia mengambil jadwal itu. “Aku bisa sampai sepuluh menit sebelum bel. Setelah itu harus ke ruang guru.” Theo mengangguk dan menjelaskan bahwa pertemuan akan dibatasi pada pembagian ruangan. Selvara menyimpan kertas di antara halaman bukunya, lalu kembali ke tempat duduk sebelum guru masuk. Saat melewati meja Vio, ia melihat temannya sedang menyalin catatan milik Mika dengan buku terbuka memenuhi hampir seluruh meja.

Pertemuan berlangsung di ruang OSIS. Lyara datang bersama seorang anggota klub musik, sementara perwakilan klub lain membawa daftar kebutuhan masing-masing. Selvara duduk di sisi meja panjang dengan denah dan pena. Pembina OSIS membuka pembicaraan, kemudian memberi kesempatan kepada Theo untuk menjelaskan perubahan jadwal. Baru beberapa menit berjalan, seorang siswa di ujung meja mengangkat tangan.

Klubnya harus meninggalkan ruang kelas lebih awal pada hari Rabu, padahal mereka sedang menyiapkan bahan untuk acara sekolah. “Kami sudah memesan waktunya lebih dulu, Bu. Kalau dipotong satu jam, pekerjaan kami dibawa pulang lagi.”

Lyara merapatkan map ke tepi meja sebelum menjawab. “Kami juga baru tahu harus pindah setelah ruang musik ditutup. Kalau ada tempat lain yang cukup untuk keyboard, kami bisa pakai itu. Yang susah kalau alatnya harus dipindahkan setiap selesai latihan.” Siswa tadi menunjuk denah, meminta mereka menggunakan aula. Theo menjelaskan bahwa aula sudah dipesan untuk kegiatan kelas dan pemeriksaan perlengkapan acara.

Pembina lalu meminta setiap klub menyebutkan kebutuhan yang benar-benar harus dikerjakan di sekolah. Selvara mencatat jumlah meja, waktu penggunaan, serta barang yang perlu disimpan.

Ketika pembicaraan kembali mengulang usulan aula, Selvara menggeser denah ke tengah. “Ruang di sebelah ini dipakai sampai jam tiga. Kalau kegiatan musik dimulai setelahnya, ruang kalian bisa tetap digunakan sesuai jadwal awal.” Ia menoleh kepada Lyara. “Keyboard-nya disimpan di kelas sementara, lalu dibawa lewat pintu penghubung. Jaraknya lebih pendek daripada ke aula.” Lyara memeriksa jalur tersebut bersama temannya.

Mereka masih membutuhkan izin menggunakan lemari untuk partitur, tetapi pembagian waktunya dapat dicoba. Siswa yang tadi keberatan meminta agar perubahan itu ditulis sebelum mereka meninggalkan ruangan.

Selvara mulai menyalin kesepakatan ketika Lyara menunjuk jam dinding. Waktunya tinggal beberapa menit sebelum ia harus menemui guru. Theo mengambil lembar catatan dari sisinya. “Bagian sisanya kuteruskan. Kamu sudah menandai ruangan yang perlu diperiksa.” Selvara menunjukkan dua permintaan yang belum mendapat jawaban, kemudian menyerahkan penanya. Ia keluar sambil membawa salinan denah, berjalan cepat menuju ruang guru. Di belakangnya, pembicaraan masih berlangsung, dan kali ini ia sudah tahu siapa yang akan menyelesaikan catatannya.

Selvara baru sampai di kantin menjelang akhir istirahat makan siang. Vio melambaikan tangan dari meja dekat jendela, tempat Rikuya dan Cael sedang makan. Ada satu kursi kosong dengan tas Lyara di atasnya. Vio memindahkan tas itu ke bangku di sampingnya setelah menjelaskan bahwa Lyara sedang membeli minuman. Selvara meletakkan nampan dan langsung membuka bungkus sendok. “Aku kira kalian sudah selesai,” katanya. “Guru matematika meminta aku mengerjakan satu soal lagi sebelum pulang dari ruang guru.”

“Kami hampir selesai, tapi Lyara masih mencari minuman yang dingin,” jawab Vio. Ia menutup buku Mika agar Selvara punya tempat untuk gelas. “Bagaimana rapatnya? Tadi dia datang sambil bilang keyboard akhirnya punya tempat.” Selvara menjelaskan perubahan ruangan sambil mulai makan. Rikuya mendengarkan, lalu menyebut bahwa klub basket juga diminta mengubah jam penggunaan gudang perlengkapan. Mereka akan mengambil bola sebelum kegiatan aula dimulai agar jalur pengangkutan barang tetap lapang. Cael menggeser tempat saus ke tengah ketika Selvara mencarinya di antara nampan.

Lyara kembali dengan dua botol minuman, salah satunya pesanan Vio. Setelah duduk, ia meminta Selvara melihat salinan jadwal yang dikirim Theo. “Ruangannya sudah disetujui, tapi kami perlu mencoba suaranya Senin. Dinding sebelahnya dekat kelas tambahan.” Rikuya menyarankan agar mereka bertanya langsung kepada guru kelas tersebut. Lyara mengangguk sambil mengetik pengingat. Percakapan itu terhenti ketika dua siswa yang melintas di belakang mereka menyebut ruang musik dan pintu yang terkunci. Salah satunya menoleh ke arah Lyara sebelum temannya menarik lengan bajunya untuk terus berjalan.

Vio meletakkan botolnya. “Sudah ada yang bertanya lagi kepadamu?” Lyara membuka tutup minuman dengan tangan kirinya, lalu mendorong botol ke dekat Cael ketika tutupnya terlalu rapat. “Pagi tadi. Aku bilang sekolah masih memeriksa. Setelah itu dia bertanya apakah benar ada orang lain di dalam.” Cael membantu membuka tutup dan mengembalikan botol. “Kamu menjawab?” tanyanya. Lyara mengangguk. “Aku bilang ada yang kami lihat. Aku capek kalau harus menceritakan dari awal setiap orang penasaran.”

“Kalau mereka bertanya waktu kita sedang bersama, kita bisa bantu mengakhiri percakapannya,” kata Rikuya. “Kamu tinggal bilang sudah perlu pergi.” Lyara memandangnya, lalu mengiyakan. Vio meminta hal yang sama, terutama ketika orang mulai menghubungkan kejadian itu dengan jadwal demonstrasi panahan. Selvara menyelesaikan suapan sebelum berkata bahwa informasi dari pemeriksaan akan ia sampaikan langsung kepada mereka. Ia juga meminta mereka memberi tahu jika ingin berhenti membicarakannya. Cael mengangguk sambil membereskan nampannya. “Aku bisa menunggu sampai kalian sendiri mau cerita. Sekarang aku malah ingin tahu siapa yang menyimpan kursi rusak di ruang musik sementara.”

Lyara menunjukkan foto kaki kursi yang dikirim kepada Theo, lalu percakapan kembali pada latihan. Selvara sedang menertawakan cara kursi itu direkam seperti barang bukti ketika ponsel Vio bergetar. Pesan dari Mariel meminta ia datang bersama orang tuanya ke pertemuan berikutnya untuk membicarakan penggunaan Resolink. Vio membacanya dua kali, kemudian memperlihatkan layar kepada Selvara. “Berarti aku mulai belajar pakai alat juga?” Selvara membaca pesan itu sebelum mengembalikannya. “Kita tanyakan nanti. Dia baru menulis mau membicarakannya.”

Vio meneruskan pesan kepada ayahnya, lalu memasukkan ponsel ke tas saat bel berbunyi. Mereka membawa nampan ke tempat pengembalian bersama-sama. Di pintu kantin, Lyara meminta Cael membantu membawa beberapa kursi pada Senin sore, dan Cael menanyakan jamnya sebelum menyanggupi.

Pesan yang diteruskan Vio kepada ayahnya dibalas sebelum pelajaran terakhir selesai. Ayah bisa mengantarnya pada Sabtu pagi, dan Mariel menyetujui waktu tersebut setelah Vio menghubunginya sepulang sekolah. Vio juga meminta Selvara datang. Ia ingin ada teman yang sudah pernah memakai Resolink, terutama jika penjelasan Mariel menyangkut sesuatu yang sulit dibayangkannya. Selvara memastikan kepada ibunya bahwa pagi itu ia bisa berangkat, lalu berjanji menemui mereka di gerbang sekolah.

Pada Sabtu pukul sembilan, ketiganya masuk ke ruang kelas yang digunakan untuk latihan Kamis lalu. Ayah Vio duduk di samping jendela, sementara Mariel meletakkan sebuah kotak kecil di atas meja. Di dalamnya ada perangkat tipis dengan tali pergelangan yang dapat diatur. Vio mendekatkan kursi untuk melihatnya, tetapi menahan tangan sampai Mariel mengeluarkan benda tersebut. “Yang ini milik saya nanti, Bu?” tanyanya. “Saya perlu tahu juga apakah boleh dibawa pulang atau hanya dipakai waktu latihan.”

Lihat selengkapnya