Chapter 3 - Episode 16
Selasa sore, Pak Hadi mengumpulkan anggota klub panahan di belakang garis tembak untuk menjelaskan latihan persiapan demonstrasi. Sekolah sudah mengizinkan penggunaan lapangan sesuai jadwal, sementara pengambilan perlengkapan tetap dilakukan bersama pendamping. Seleksi akan berlangsung akhir pekan berikutnya.
Setiap calon peserta mendapat kesempatan menjalani satu rangkaian pendek, lalu Pak Hadi akan menentukan latihan tambahan berdasarkan hasil mereka.
Vio berdiri di samping Mika sambil membetulkan pelindung lengannya. Ia sudah mengirim pesan kepada ayahnya bahwa latihan mungkin selesai sedikit lebih lambat.
“Kalau bahu mulai terasa berat, turunkan busur,” kata Pak Hadi ketika giliran Vio mendekat. “Bapak ingin melihat gerakan yang bisa kamu ulang dengan nyaman.”
Vio mengangguk dan mengambil tempat. Tembakan pertamanya masuk agak tinggi, tetapi dua berikutnya berkumpul lebih dekat ke tengah. Ia menurunkan busur setelah anak panah terakhir menancap. Mika mencatat hasil dari belakang garis, sedangkan Lani meminta izin melihat letak ketiga panah sebelum gilirannya dimulai. Pak Hadi menunggu sampai lapangan aman, kemudian mengajak mereka mengambil hasil bersama.
Ketika kembali ke bangku, Vio melihat Selvara berdiri di dekat pintu halaman. Temannya baru selesai membantu Theo memeriksa daftar kebutuhan klub dan akan menunggu sampai latihan berakhir. Vio mengangkat buku skor untuk memperlihatkan hasilnya. Selvara mendekat, membaca angkanya, lalu menanyakan keadaan bahunya. “Masih enak,” jawab Vio. “Tapi aku sudah selesai menembak. Pak Hadi mau melihat giliran yang lain dulu.”
Mika menyelipkan pena ke buku. “Aku ambil botol minum. Punyamu sekalian?”
“Boleh. Ada di kantong samping.”
Vio menyerahkan tasnya, lalu duduk di ujung bangku. Dari sana ia dapat melihat Lani menyiapkan tarikan pertama. Ia baru hendak menanyakan tugas Theo kepada Selvara ketika pandangannya tertahan pada seseorang di luar pagar lapangan.
Seorang siswi berdiri di jalur sempit yang membatasi halaman sekolah dengan deretan pohon. Rambutnya diikat seperti rambut Vio, dan di tangannya ada kotak kecil yang sangat dikenalnya.
Vio segera meraih tas yang dibawa Mika kembali. Kotak pelindung jarinya masih berada di dalam. Ketika ia menoleh ke pagar, siswi itu sudah mengangkat benda di tangannya setinggi dada. Wajahnya terlihat jelas di antara dua batang besi.
“Sel,” kata Vio, menjaga suaranya cukup rendah agar Lani yang sedang membidik tetap tenang. “Lihat orang di luar pagar.”
Selvara mengikuti arah pandangnya. Jemarinya berhenti di tepi buku skor. “Aku melihatnya.”
Mika berdiri di samping bangku, botol minum Vio masih di tangan. Ia menatap siswi tersebut, lalu memandang Vio dengan mulut sedikit terbuka. Vio bangkit dan memanggil Pak Hadi. Pelatih itu segera meminta Lani menurunkan busur dan seluruh anggota menjauh dari garis tembak.
Siswi di luar pagar tersenyum tipis. “Sekarang kamu membawa banyak orang,” katanya. Suaranya terdengar sampai ke bangku, meskipun jalan di belakangnya cukup ramai.
Pak Hadi berjalan ke arah mereka sambil mengeluarkan ponsel. Pada saat yang sama, angin berhenti terasa di kulit Vio. Suara kendaraan meredup, dan warna pagar berubah pucat. Mika menggenggam botol terlalu kuat hingga air meluap dari mulutnya. Di belakang Pak Hadi, lapangan tampak menjauh seperti dilihat melalui kaca buram, sementara siswi di luar pagar tetap berdiri dalam jarak yang sama.
Selvara meraih lengan Vio sebelum temannya melangkah ke arah Pak Hadi. Pelatih itu masih terlihat, tetapi suaranya datang terputus-putus. Ia mengangkat tangan, memberi isyarat agar mereka bergerak ke pintu halaman. Mika langsung menaruh botol di bangku dan mengikuti mereka. Baru beberapa langkah, ujung jalur yang semula menuju pintu memanjang di antara pagar dan dinding penyimpanan. Vio berhenti. Bangku masih berada dekat mereka, sedangkan pintu tampak jauh melewati sudut bangunan.
“Jangan pisah,” kata Selvara. Ia mencoba menelepon Mariel, tetapi panggilan berhenti sebelum nada sambung terdengar. “Kita kembali ke bangku. Pak Hadi tadi bisa melihat kita di sana.”
Mika menoleh ke lapangan. “Aku masih dengar peluitnya.”
“Terus panggil beliau,” jawab Vio. Ia membawa busur di tangan kiri, dengan seluruh anak panah tersimpan di tabung dekat bangku. Mereka berbalik bersama, tetapi siswi berwajah Vio sudah berdiri di sisi bangku tersebut. Pagar yang tadi memisahkan mereka kini berada di belakangnya. Kotak pelindung jari terletak terbuka di atas dudukan, berisi benda yang pernah ditemukan Vio sebelum insiden ruang musik.
“Kamu bisa meletakkan busurnya,” kata siswi itu. “Lalu pergi bersama mereka.”
Vio merasakan tenggorokannya mengering. “Minggir dulu. Kami mau kembali ke lapangan.”
Siswi itu menggeser kotak ke tepi bangku. “Aku meminta kamu berhenti. Kamu malah kembali ke tempat yang sama.”
Mika memanggil Pak Hadi lebih keras. Jawaban terdengar dari arah lapangan, cukup dekat untuk membuat Vio menoleh. Ketika ia kembali melihat bangku, siswi itu sudah bergerak ke arahnya. Selvara mendorong Mika mundur dan mengangkat tangan kanan. Sebuah bidang es kecil terbentuk miring di antara mereka, cukup lebar untuk menghalangi lengan yang terulur.
Benturan membuat Selvara tersentak. Es retak di bagian tengah, dan ia segera melepaskannya sebelum pecahannya mengenai Vio. Siswi itu berhenti sejenak, lalu melihat cincin di tangan Selvara. Dari ujung sepatunya, warna gelap menyebar di lantai menuju kaki bangku.
“Vi, mundur,” kata Selvara. Napasnya lebih cepat setelah menahan benturan. “Aku cuma bisa menahannya sebentar.”
Vio menggeser busur ke dekat dinding agar lengannya bebas. Kehangatan mulai muncul di telapak kanan, terlalu cepat ketika ia melihat warna gelap mencapai sepatu Mika. Ia membuka jemari dan menarik napas, berusaha menjaga rasa panas tetap dekat tangan. Mika mundur sampai punggungnya menyentuh dinding. Matanya bergantian menatap kedua wajah yang sama.
Siswi itu kembali mendekat. Vio ingin berdiri paling depan, tetapi Selvara menahan sikunya. “Di sampingku saja. Kalau kamu menutup jalur ini, Mika susah lewat.”