CHAINS : Beyond The Mist of Shattered Illusion

Lyneetra
Chapter #61

Lights in the Mist

Chapter 3 - Episode 17

Menjelang malam, hujan di halaman sekolah berubah menjadi rintik rapat. Dari jendela gedung olahraga, Selvara melihat cahaya kendaraan bergerak perlahan di balik pagar. Beberapa orang tua sudah diperbolehkan masuk bergantian setelah petugas memeriksa jalan dari pos keamanan. Anggota klub yang lebih dahulu selesai diperiksa berangkat bersama guru pendamping melalui pintu utama. Selvara, Vio, dan Mika menunggu sampai balutan luka mereka diganti dan orang tua masing-masing dihubungi.

Ibu Selvara sudah berada di pos. Melalui telepon, ia meminta Selvara tetap bersama Mariel sampai petugas menjemput. Selvara menjawab sambil memperhatikan kain putih di pergelangannya. Luka itu terasa perih setiap kali ia menekuk tangan. Ketika panggilan selesai, Vio memperlihatkan pesan ayahnya yang sedang menunggu di tempat sama. Mika meminjam ponsel Pak Hadi untuk mengabari keluarganya karena baterai miliknya habis.

“Kita lewat koridor depan,” kata petugas yang baru kembali dari pintu utama. “Mobil bisa berhenti dekat tangga. Kalian cukup berjalan sampai lobi.”

Pak Hadi membawa tas Mika dan Vio, sedangkan Mariel mengambil tas Selvara. Mereka mengikuti petugas melewati lorong penghubung. Lampu masih menyala, dan air yang menetes dari pakaian meninggalkan jejak pada ubin. Selvara berjalan di sisi Mariel, sementara Vio menjaga jarak cukup dekat dengan Mika agar bisa membantunya jika lututnya kembali sakit.

Kabut tipis terlihat di balik kaca sepanjang koridor. Pada malam dingin seperti itu, bagian bawah jendela sering tertutup embun sampai halaman sulit dilihat. Namun, ketika mereka mendekati lobi, Selvara mendapati lapisan putih berada di sisi dalam kaca. Ia menyentuh dinding dengan tangan kiri. Permukaannya basah, dan air merembes dari sambungan yang beberapa menit sebelumnya dilewati guru pendamping.

“Bu, lantainya mulai tertutup,” katanya.

Mariel meminta mereka berhenti. Petugas mengangkat lampu ke arah pintu lobi. Cahaya jatuh pada ujung lorong, memperlihatkan daun pintu terbuka dan tiga anak tangga di baliknya. Ia melangkah mendekat, lalu berhenti begitu sorot lampu mencapai dinding sebelah kanan.

“Di depan lobi ada lima anak tangga,” katanya. “Dan pegangan besinya ada di kedua sisi.”

Selvara memandang lebih teliti. Di samping tangga terdapat jendela tinggi dan sebuah rak rendah. Sebagian pot di atasnya pecah, dengan tanah tercecer sampai ke tepi anak tangga. Ia mengenali susunan itu sebelum sempat mencari foto di ponsel.

“Ini jalur lama dekat ruang musik,” katanya kepada Mariel. “Yang diperlihatkan petugas sarana.”

Vio menoleh ke belakang. Lorong yang mereka lewati masih terlihat, tetapi pintu gedung olahraga kini tertutup kabut. Pak Hadi segera meminta mereka mundur. Ia menjaga ketiga siswa tetap di antara dirinya dan Mariel, sementara petugas mencoba menghubungi pos melalui radio.

Jawaban datang bercampur desis. Seseorang di pos mengatakan pintu lobi sudah terbuka dan guru pendamping sedang menunggu mereka. Petugas memandang tangga di depan, kemudian menyebut warna dinding dan letak rak pot. Suara di radio terdiam sebelum meminta mereka tetap di tempat.

Dari bawah tangga terdengar langkah tergesa.

“Selvara?”

Suara itu menyerupai suara Ibu. Selvara hampir menjawab, tetapi Mariel menahan bahunya. Ponsel di tangan kirinya mulai bergetar. Nama Ibu muncul pada layar, sementara panggilan dari bawah tangga terdengar sekali lagi, semakin dekat.

Selvara menerima telepon dengan tangan yang mulai licin oleh keringat. Ibu berbicara dari pos keamanan, menanyakan mengapa mereka belum sampai. Di belakang suaranya terdengar percakapan para orang tua dan bunyi wiper kendaraan. Selvara menjelaskan bahwa lorong berubah, lalu meminta Ibu tetap di sana bersama petugas. Ketika suara dari bawah tangga memanggil lagi, ia menutup mulut dengan punggung tangan agar napasnya lebih tenang.

“Ibu masih di pos,” katanya kepada Mariel setelah mengakhiri panggilan.

Mariel mengangguk dan meminta petugas menyampaikan keadaan mereka melalui radio. Pak Hadi mengajak ketiga siswa mundur sampai ke sudut koridor yang lebih lebar. Dari tempat itu, mereka masih bisa melihat pintu menuju tangga. Vio mengarahkan lampu ponselnya ke lantai, membantu Mika melewati bagian ubin yang tertutup air.

Langkah di bawah tangga berhenti. Beberapa saat kemudian, terdengar sesuatu diseret menaiki anak tangga pertama.

Petugas mendekat ke pintu dengan batang besi yang diambilnya dari pengait jendela darurat. Ia hendak menutup daun pintu ketika jari-jari gelap muncul di tepinya. Sorot lampu memperlihatkan lengan kurus berselubung kain basah. Sosok di balik pintu menarik tubuhnya naik, tetapi kepalanya tetap berada di bawah batas cahaya.

Pak Hadi meletakkan tas-tas di lantai dan membantu petugas mendorong pintu. Besi pengait menghantam kusen. Sosok itu menahan dari sisi lain, membuat engsel berderit dan pintu kembali terbuka selebar bahu.

Mariel menarik Selvara menjauh. “Tetap dekat Vio. Biar mereka menutup jalurnya.”

Namun, lengan gelap itu memanjang melewati celah dan menyapu lantai menuju tas-tas. Mika mundur terlalu cepat. Lututnya membentur bangku koridor, dan ia terduduk dengan napas tertahan. Vio segera meraih kerah belakang bajunya, menariknya lebih jauh dari tangan yang merayap.

Selvara melihat ujung jemari sosok tersebut hanya berjarak satu ubin dari kaki Mika. Ia menekan telapak kanan pada dinding, berusaha membentuk es di lantai dekat celah pintu. Rasa perih menyambar pergelangannya. Bentuk yang muncul hanya berupa tonjolan kecil, tetapi cukup untuk menghambat lengan itu ketika jemarinya menekuk.

“Pak, sekarang!” serunya.

Petugas menekan batang besi melintang pada lengan yang tertahan. Pak Hadi mendorong daun pintu dengan bahu. Terdengar bunyi gesekan kasar, lalu lengan tersebut tersentak kembali ke dalam. Pintu menutup keras. Keduanya segera menggeser bangku panjang ke depannya sebelum kait pengunci yang berkarat sempat terlepas.

Selvara membuka tangan dan menghentikan pembentukan es. Mariel memeriksa balutannya, kemudian menyuruhnya duduk di samping Mika. Vio masih memegang lampu ponsel, menyorot pintu yang bergetar karena dorongan dari luar.

Radio petugas kembali berbunyi. Guru di lobi mengatakan mereka mendengar benturan melalui dinding dekat ruang penyimpanan, meskipun koridor penghubung tampak kosong. Petugas meminta mereka mengetuk dinding itu tiga kali.

Ketukan terdengar dari sisi kiri Selvara.

Mariel segera mendekat. Ia menempelkan telapak pada dinding, lalu memanggil guru di seberangnya. Jawaban terdengar samar tetapi sesuai dengan percakapan di radio. Selvara memandang pintu yang mengarah ke tangga lama, kemudian dinding tempat suara guru berasal. Jalan menuju lobi rupanya masih dekat, tertutup oleh susunan ruang yang berbeda.

Di belakang mereka, kait pintu mulai terangkat. Pak Hadi menahan bangku dengan kedua tangan, sementara Mariel meminta petugas di lobi terus mengetuk agar mereka dapat mencari batas jalurnya.

Lihat selengkapnya