CHAINS : Beyond The Mist of Shattered Illusion

Lyneetra
Chapter #62

Beneath the Old Building

Chapter 3 - Episode 18

Kabut di sisi gedung lama menebal sampai pembatas halaman nyaris tertutup. Petugas segera memindahkan batas aman lebih jauh, lalu meminta ruang pertemuan dikosongkan karena jendelanya menghadap langsung ke lokasi pemeriksaan. Selvara mengambil buku dengan tangan kiri, sementara Ibu memasukkan sisanya ke tas. Di seberang meja, ayah Vio sudah berdiri dan membantu putrinya mengenakan jaket yang dibawa dari mobil.

Mariel mengantar mereka ke koridor depan. Dari sana, Selvara melihat dua pekerja mundur sambil membawa gulungan kabel. Salah seorang terus memandang lubang drainase, memastikan rekannya berjalan bersamanya. Kabut berhenti mengikuti ketika mereka mencapai bagian halaman yang terkena matahari, tetapi lapisan di bawah gedung tetap bergerak keluar.

“Bu, salurannya tersambung ke ruang penyimpanan?” tanya Selvara.

“Itu yang sedang diperiksa bagian sarana. Mereka punya gambar jalur pembuangan, tapi beberapa sambungannya berubah saat renovasi.”

Selvara hendak menjelaskan lagi letak tangga yang dilihat semalam. Mariel mengeluarkan denah dari map, memperlihatkan tanda yang sudah dibuat berdasarkan keterangannya. Jalur tersebut berdekatan dengan ruang kecil di bawah selasar lama. Pada gambar terbaru, ruangan itu tercoret dan diberi keterangan bahwa aksesnya ditutup.

“Kalau kami menemukan bagian yang cocok dengan kesaksianmu, aku akan memberi tahu,” kata Mariel. “Hari ini tanganmu perlu diistirahatkan.”

Selvara mengangguk. Ia masih ingin tinggal, tetapi jemarinya mulai berdenyut hanya karena menahan buku terlalu lama. Vio mengambil buku tersebut dan menyerahkannya kepada Ibu Selvara sebelum mereka melanjutkan perjalanan ke lobi.

Suara logam jatuh terdengar dari halaman.

Seorang pekerja berlari menjauh dari lubang pemeriksaan. Rekannya menarik ujung kabel yang membentang di tanah, tetapi kabel itu tertahan. Kepala bagian sarana langsung menyuruh mereka melepaskan peralatan dan mundur. Selvara berhenti di belakang kaca lobi bersama Vio. Dari jarak itu, ia melihat kabel menegang, lalu terseret masuk beberapa sentimeter ke bawah penutup saluran.

Mariel meminta guru di lobi membawa kedua keluarga menuju gerbang. Ia sendiri kembali ke ruang staf untuk menghubungi petugas di halaman. Selvara mengikuti Ibu, menoleh sekali ketika melewati pintu depan. Kabut masih terkumpul di bawah selasar, dan kabel yang ditinggalkan pekerja bergerak pendek seperti ditarik dari ujung lain.

Di mobil, Ibu meletakkan tas di kursi belakang sebelum duduk di sampingnya. “Kamu boleh meminta kabar. Sekarang pemeriksaannya ditangani mereka.”

“Saya tahu.” Selvara menatap tangan yang dibalut, lalu meraih sabuk pengaman dengan tangan kiri. “Saya cuma ingat orang semalam masih ada di bawah sana.”

Ibu membantu menarik sabuk sampai pengaitnya terpasang. Selvara mengirim pesan singkat kepada Mariel, menyebut bahwa gerakan kabel datang dari arah saluran, bukan dari sisi pekerja. Setelah mobil keluar dari gerbang, ia menyimpan ponsel dan membiarkan Ibu membawanya pulang.

Di belakang mereka, kepala bagian sarana menghentikan penggunaan seluruh peralatan listrik di sisi gedung lama. Pemeriksaan berikutnya akan dilakukan melalui lubang akses di halaman, dengan kamera dan penerangan yang dayanya terpisah dari instalasi sekolah.

Menjelang tengah hari, Mariel berdiri bersama kepala bagian sarana di bawah tenda pemeriksaan. Sebagian besar kabut pagi sudah menipis, menyisakan lapisan rapat di sekitar lubang akses. Dua petugas teknis yang dipanggil sekolah sedang menyiapkan kamera berkabel. Mereka akan menurunkannya dari halaman, cukup jauh dari bangunan agar siapa pun yang mengoperasikan alat tetap berada di tanah terbuka.

“Kedalaman normalnya kurang dari dua meter,” kata kepala bagian sarana sambil menunjukkan gambar saluran. “Setelah itu jalurnya mendatar. Kalau kameranya masuk lebih jauh, kita hentikan.”

Mariel mengangguk dan meminta seorang petugas sekolah mencatat waktu setiap perubahan. Ia masih membawa kesaksian ketiga siswa, tetapi menyimpannya di dalam map agar hujan yang mulai merintik kembali gagal membasahi kertas. Udara di bawah tenda terasa lebih dingin setiap kali angin datang dari lubang.

Kamera melewati dinding beton, pipa kecil, dan endapan tanah. Pada layar terlihat pantulan air dangkal. Seorang teknisi mengatur sudut kepala kamera, lalu menghentikan gulungan kabel ketika penanda kedalaman mencapai batas yang disepakati.

Di bawahnya masih ada ruang.

Sorot lampu memperlihatkan permukaan yang menurun, dengan garis-garis melintang seperti anak tangga. Kepala bagian sarana membungkuk mendekati layar. Ia memeriksa gambar di tangannya, kemudian menunjuk sambungan pipa yang terlihat di sudut atas.

“Pipanya benar. Bagian bawah itu seharusnya lantai.”

Mariel meminta teknisi mempertahankan posisi kamera. Melalui pengeras suara kecil terdengar tetesan air, disusul gesekan panjang. Sesuatu bergerak melewati bagian bawah gambar. Teknisi mengangkat kamera sedikit, memperluas pandangan sampai terlihat sepotong kain basah dan tangan yang bertumpu pada tangga.

“Tarik perlahan,” kata Mariel.

Kabel mulai digulung. Kepala kamera bergeser, lalu berhenti mendadak. Pada layar, jari-jari gelap menutup bagian tepinya. Gambar berputar ke arah wajah laki-laki yang dilihat Selvara semalam. Mulutnya bergerak, tetapi suara pertama yang keluar hanya berupa napas kasar.

“Airnya naik.”

Teknisi berhenti menarik. Mariel mendekatkan mikrofon ke mulutnya. “Bapak berada di mana?”

Lihat selengkapnya