CHAINS : Beyond The Mist of Shattered Illusion

Lyneetra
Chapter #63

Voices Under The Stairs

Chapter 3 - Episode 19

“Hanya Haris,” ulang Pak Surya. “Saya sendiri yang menunggu di atas.”

 

Di layar ponsel, Selvara melihat Mariel meminta orang-orang menjauh dari teras. Guru pendamping memindahkan laptop ke meja dekat jendela, tetapi sudutnya terlalu rendah. Kini sebagian halaman tertutup kusen.

 

“Bu, suaranya masih terdengar?” tanya Vio.

 

“Sebentar. Ibu buka sedikit jendelanya.”

 

Engsel berderit, lalu suara dari halaman masuk lebih jelas.

 

“Haris, siapa yang masih di bawah?” Mariel menunggu sebelum melanjutkan. “Bisa sebutkan namanya?”

 

Tidak ada jawaban. Kepala kamera masih tersangkut pada bingkai lubang. Kabelnya menjulur melintasi tanah, sesekali bergeser ketika kabut mengalir di bawahnya.

 

Pak Surya kembali mengangkat mikrofon. “Ris, ini saya. Kalau kamu bisa dengar, jangan turun lagi. Tunggu di tangga.”

 

Dengung rendah menyusul perkataannya.

 

Selvara mendekat ke layar. Suara itu tersendat dua kali sebelum menjadi panjang, persis seperti bagian rekaman yang tadi diminta Pak Surya putar ulang. Di halaman, mandor tersebut memalingkan wajah ke arah kepala bagian sarana.

 

“Masih ada mesin yang menyala?”

 

“Tidak ada, Pak. Sejak kemarin sudah diputus.”

 

Dengungnya semakin berat. Air menyembur dari lubang, menghantam bagian bawah tenda hingga kainnya menggelembung. Seorang petugas yang berdiri dekat tiang mundur tergesa-gesa. Kakinya tersangkut kabel.

 

“Lepaskan!” seru Mariel.

 

Petugas itu jatuh bertumpu pada siku. Kabel menegang di sekitar sepatunya dan menyeret tumitnya melewati kaki pembatas. Rekannya segera meraih bagian belakang jaketnya, tetapi tarikan berikutnya membuat keduanya tergelincir.

 

Selvara spontan mengulurkan tangan kanan ke meja. Nyeri menusuk sampai pergelangan; ia menarik napas tajam.

 

Ibu memegang lengannya. “Sel, kamu di rumah.”

 

Selvara mendengarnya, tetapi belum sanggup mengalihkan pandangan.

 

Di halaman, Mariel berlutut di samping petugas yang jatuh. Ia menarik tumit sepatu lelaki itu sementara rekannya menahan tubuhnya. Sepatunya lepas sesaat sebelum kabel menyentak lagi.

 

Kabel beserta sepatu itu meluncur ke dalam kabut.

 

“Mundur ke pintu! Jangan ambil apa-apa!”

 

Gambar berguncang ketika guru pendamping menjauhkan laptop dari jendela. Selvara hanya sempat melihat Mariel membantu petugas berdiri. Setelah itu layar menampilkan langit-langit ruangan.

 

Vio memanggil namanya dari sambungan lain.

 

“Aku masih di sini,” jawab Selvara, meskipun pertanyaan itu belum terucap.

 

“Aku tahu. Tanganmu tadi kenapa?”

 

“Terbentur sedikit.”

 

Ibu meliriknya. Selvara menunduk, membiarkan tangannya diperiksa tanpa membantah.

 

Dari sekolah terdengar suara pintu ditutup. Beberapa orang berbicara bersamaan, disusul pertanyaan tentang luka dan kotak pertolongan pertama. Mariel akhirnya kembali ke depan kamera. Rambut di dekat pelipisnya basah.

 

“Petugasnya sudah masuk. Siku dan kakinya sedang diperiksa.”

 

“Bu, tadi suara pompanya..”

 

“Aku dengar, Selvara.”

 

“Bukan cuma itu.” Selvara mencari kata-kata yang tepat. “Pak Surya bilang dulu air masuk lagi setelah pompanya dinyalakan. Tadi juga begitu. Bunyinya muncul dulu, baru airnya.”

 

Mariel menoleh kepada Pak Surya, yang baru masuk sambil memegangi mikrofon.

 

Lelaki itu menggeleng sebelum ditanya.

 

“Dulu airnya naik pelan. Kami masih sempat menarik selangnya.” Ia memandang pintu yang tertutup. “Yang barusan… tidak seperti itu.”

Mariel meminta Pak Surya duduk. Lelaki itu mencoba meletakkan mikrofon di meja, tetapi kabelnya tersangkut pada lengannya. Guru pendamping membantu melepaskannya, lalu menyodorkan segelas air.

 

“Waktu Bapak bilang jangan turun lagi,” kata Mariel, “apa Haris pernah naik sebelum hilang?”

 

Pak Surya tidak segera menjawab. Ia memegang gelas dengan kedua tangan.

 

“Sampai belokan tangga. Saya bisa lihat kepalanya.”

 

Selvara merapatkan ponsel tanpa mengangkatnya dari penyangga.

 

“Lalu kenapa dia turun lagi, Pak?”

 

“Katanya ada orang memanggil.” Pak Surya mengusap bibirnya. “Saya pikir pekerja dari sisi belakang. Hujannya deras, orang-orang berpencar menyelamatkan alat. Saya tidak langsung tahu semuanya ada di mana.”

 

“Bapak mendengar panggilannya juga?” tanya Mariel.

 

“Saya dengar suara. Kata-katanya tidak jelas.” Ia berhenti sebentar. “Haris malah menyuruh saya berhenti memanggil. Padahal waktu itu saya sedang menarik selang.”

 

Selvara merasakan tangan Ibu mengendur di lengannya.

 

Dari layar kecil di sudut panggilan, Vio menatap lurus ke depan.

 

“Sel,” katanya pelan, “suara ibumu.”

 

Selvara mengangguk. Malam itu ia mengenali suara Ibu di tempat yang mustahil, cukup dekat hingga sesaat ia ingin menoleh dan mencarinya. Haris berada di sana, tetapi ia tidak pernah benar-benar melihat mulut laki-laki itu mengucapkan panggilan tersebut.

 

“Bu Mariel, waktu itu saya dengar suara Ibu,” katanya. “Tapi saya tidak tahu suara itu datang dari Pak Haris atau dari belakangnya.”

 

“Dan tangannya tetap menarikku,” tambah Vio. “Aku juga belum tahu dia mau melakukan apa. Waktu itu aku cuma ingin lepas.”

 

Pak Surya menatap layar ketika mendengar mereka.

 

“Kalian sampai bertemu dia?”

 

“Sebentar, Pak,” jawab Selvara. “Kami berhasil keluar.”

 

Lelaki itu menunduk. Mariel menggeser kursinya mendekat, lalu memintanya menceritakan bagian yang masih ia ingat tanpa terburu-buru.

 

Tidak ada penemuan besar setelah itu. Pak Surya lupa berapa lama listrik padam. Ia juga tidak yakin siapa yang pertama kali mengambil senter. Namun, ketika sampai pada pegangan tangga yang patah, ia berhenti untuk menggambar bentuknya di belakang salinan denah.

 

Selvara mengenali bagian yang menjorok tersebut.

 

“Yang ini,” katanya. “Saya lewat di sebelahnya.”

 

Mariel mengangkat kertas ke kamera. Selvara menunjukkan letaknya sekali lagi, kemudian panggilan diakhiri agar Pak Surya bisa melanjutkan keterangannya.

 

Beberapa detik setelah layar padam, Vio menelepon.

 

“Aku tadi sudah berdiri,” katanya tanpa pembukaan. “Ayah sampai tanya aku mau ke mana.”

 

Selvara memandang kursinya sendiri, yang bergeser jauh dari meja. “Aku juga.”

 

“Padahal mau apa? Datang ke sana juga belum tentu bisa bantu.”

 

Vio mengatakannya dengan kesal. Selvara membiarkan hening sesaat sebelum menjawab.

 

“Aku benci cuma bisa lihat.”

 

“Iya. Aku juga.”

 

Ibu meletakkan bantal kecil di bawah lengan Selvara, lalu membawa gelas kosong ke dapur. Selvara mengikuti gerakannya sampai menghilang di balik pintu.

 

“Aku takut salah dengar lagi,” akunya.

 

Suara Vio melembut. “Kalau begitu, jangan dipikirkan sendirian. Telepon aku dulu.”

 

“Kamu juga.”

 

“Iya. Termasuk kalau kepikiran pergi ke sekolah.”

 

Selvara hampir membantah, tetapi mengurungkannya. “Termasuk itu.”

 

Ponselnya bergetar menjelang mereka menutup percakapan. Mariel mengirim foto gambar Pak Surya. Belokan tangga itu ditandai dengan sebuah lingkaran.

 

Di bawahnya ada pesan singkat.

 

Pak Surya ingat pintu di sebelah pegangan yang patah. Katanya, Haris turun lagi setelah mendengar panggilan dari balik pintu itu. Selvara memperbesar foto, lalu mengirimkannya kepada Vio. 

Pada malam mereka melarikan diri, pintu itulah yang mereka lewati.

“Vio, lihat belokannya. Pintu itu yang kita lewati waktu keluar.”

Selvara menunggu sambil memperbesar gambar Pak Surya. Ujung jarinya berhenti pada garis pendek di samping tangga. Ketika berada di sana, ia terlalu sibuk menjaga Vio tetap bergerak untuk memperhatikan ke mana lorong itu seharusnya mengarah.

“Sepertinya iya,” jawab Vio. “Tapi aku ingat dari tempat kita berdiri. Kalau gambarnya dari sisi lain, aku bisa salah.” 

Selvara menggeser foto, mencoba membayangkannya dari arah berlawanan. Semakin lama dilihat, semakin sulit ia memisahkan bentuk tangga yang diingat dari garis-garis di layar. 

“Aku kirim ke Bu Mariel dulu. Biar Pak Surya jelaskan arahnya.” 

Ia mengetik pesan, lalu meletakkan ponsel ketika Ibu memanggil dari meja makan. Vio juga diminta ayahnya beristirahat. Mereka menutup percakapan setelah berjanji saling memberi kabar jika Mariel membalas. 

Sup di mangkuk Selvara sudah tidak terlalu panas. Ia mencoba mengambil sendok dengan tangan kiri, menumpahkan sedikit kuah di tepinya, lalu menghela napas. 

“Sini, mangkuknya Ibu dekatkan.” 

“Bisa, Bu. Cuma belum biasa.” 

“Ibu cuma menggeser mangkuk.” 

Selvara melonggarkan bahunya. “Iya. Maaf.” 

Ibu duduk di seberang setelah mengambil kain untuk mengelap meja. Beberapa saat mereka makan tanpa membicarakan sekolah. Dari jendela, cahaya siang mulai meredup. Hujan turun ketika Selvara baru menghabiskan separuh supnya. 

Ponselnya bergetar di dekat gelas. 

Mariel mengirim pesan suara. Selvara meminta izin kepada Ibu sebelum memutarnya. 

“Pak Surya menggambar dari arah atas tangga. Pintu yang kamu maksud memang ada di sana. Menurut beliau, pintu itu menuju lorong servis, lalu ke halaman belakang. Aku sedang meminta bagian sarana mencocokkannya dengan bangunan sekarang.” 

Selvara menelan suapannya sebelum merekam jawaban. 

“Kalau kami keluar lewat sana, harusnya sampai di halaman belakang, Bu. Tapi waktu itu kami kembali ke dalam gedung.” 

Ia memutar ulang pesannya sekali, memastikan keterangannya tidak tertukar, lalu mengirimkannya. 

Ibu meletakkan sendok. “Waktu keluar, kamu langsung tahu ada di mana?” 

“Tidak. Saya baru mengenali tempatnya setelah agak jauh dari pintu.” 

“Bagian itu sampaikan juga. Jangan sampai mereka mengira kamu sempat melihat seluruh jalannya.” 

Selvara menambahkan satu pesan lagi. Setelah itu, ia membalik ponsel dan kembali makan. Ia masih ingin memeriksa gambar, tetapi kepalanya mulai sakit karena terus berusaha mengingat bagian yang hanya dilihat beberapa detik.

 

Di sekolah, Mariel berdiri di balik kaca pintu belakang bersama kepala bagian sarana. Hujan membasahi jalur sempit di antara gedung lama dan tembok pembatas. Kabut mulai memenuhi bagian yang terlindung dari angin.

 

“Itu bekas pintunya,” kata lelaki tersebut, menunjuk bidang dinding di bawah selasar. “Sudah ditutup sebelum saya bekerja di sini.”

 

Lapisan catnya berbeda sedikit dari dinding sekitar. Di bagian bawah, air mengalir melalui celah antara semen dan paving.

 

Mariel menyandingkan foto dinding itu dengan gambar Pak Surya di ponselnya.

 

Tiga ketukan terdengar dari balik tembok.

 

Kepala bagian sarana langsung menurunkan tangannya. Mereka menunggu. Hujan terus memukul atap, tetapi ketukan berikutnya terdengar lebih keras, cukup kuat untuk menjatuhkan serpihan cat.

 

“Jangan didekati,” kata Mariel ketika lelaki itu meraih gagang pintu kaca.

 

“Saya mau mengunci.”

 

Ia memutar kuncinya, lalu mundur bersama Mariel.

 

Dari balik bekas pintu itu, seseorang terbatuk. Sesudahnya terdengar suara Haris, terputus oleh napas yang berat.

 

“Pak Surya… saya sudah naik.”

Mariel menahan kepala bagian sarana sebelum ia sempat menjauh dari pintu kaca.

“Panggil Pak Surya lewat radio. Minta beliau tetap di ruang kepala sekolah dulu.”

Lelaki itu mengangguk, lalu berjalan beberapa langkah ke arah koridor. Mariel tetap menghadap dinding di seberang jalur sempit. Bekas pintunya masih terlihat jelas, tertutup semen dan cat yang mulai mengelupas. Tidak ada celah yang cukup besar untuk dilewati seseorang.

“Haris, saya Mariel. Pak Surya masih di sini.”

Dari balik dinding terdengar gesekan. Sesuatu diseret perlahan, berhenti, kemudian bergerak lagi.

“Tadi beliau di atas.”

“Iya. Sekarang beliau ada di bagian depan sekolah. Saya akan memanggilnya.”

Mariel menunggu jawaban sambil memperhatikan air di bawah tembok. Alirannya membawa butiran pasir, tetapi belum ada bagian dinding yang runtuh. Hujan semakin rapat, membuat ujung selasar tampak seperti terpotong oleh tirai putih.

“Pintunya macet.”

Lihat selengkapnya