CHAINS : Beyond The Mist of Shattered Illusion

Lyneetra
Chapter #64

Door That Moving

Chapter 3 - Episode 20

Di ruang tunggu dekat gerbang, Selvara kesulitan membuka tutup botol minumnya.

Tangan kiri yang tadi dipakai membentuk es masih gemetar, sementara tangan kanannya mulai berdenyut di balik balutan. Setelah percobaan kedua, ia meletakkan botol itu di antara lutut.

Lyara mengambilnya sebelum Selvara mencoba lagi.

“Bilang saja kalau perlu dibukakan.”

“Aku pikir sudah agak longgar.”

“Belum. Aku juga harus pakai dua tangan.”

Lyara mengembalikan botol yang sudah terbuka, lalu duduk di kursi sebelahnya.

Ia tidak langsung menanyakan kejadian di koridor. Tatapannya sempat turun ke ujung rok Selvara yang terkena air kotor, kemudian beralih kepada Vio.

“Kalian sudah menghubungi orang rumah?”

“Ayah sedang ke sini,” jawab Vio. “Ibu Selvara juga sudah tahu.”

Di luar, siswa dipulangkan bergiliran melalui gerbang utama. Hujan masih deras, membuat kendaraan penjemput bergerak lambat. Beberapa anak mengeluh karena tas mereka tertinggal di kelas, tetapi guru hanya mengizinkan pengambilan barang dari gedung depan. Seorang siswa yang memaksa ingin mengambil sepatu olahraga akhirnya disuruh menunggu bersama wali kelasnya.

Selvara meneguk air sedikit. Tepi botol menyentuh giginya karena tangannya belum stabil.

Lyara mengulurkan tangan, tetapi berhenti sebelum ikut memegang.

“Perlu?”

Selvara mengangguk.

Mereka memegang botol itu bersama sampai ia selesai minum. Setelahnya, Selvara menatap telapak kiri sendiri. Ganjal es yang dibentuknya hanya bertahan beberapa detik. Ia tahu tubuhnya belum pulih, tetapi tetap merasa kesal melihat akibat dari pekerjaan sekecil itu.

Vio menyandarkan punggung pada kursi. Wajahnya tampak lelah, meskipun ketika Mariel memeriksanya tadi ia mengatakan kepalanya tidak pusing.

“Kamu dari tadi melihat tanganmu terus,” kata Vio.

“Masih kesemutan.”

“Sudah bilang Bu Mariel?”

“Sudah. Katanya jangan dipakai lagi dulu.”

Lyara menarik tas Selvara dari pangkuannya dan menaruhnya di lantai. “Kalau begitu, biarkan di sini. Kamu tadi mau mengangkat ini juga, kan?”

Selvara mengembuskan napas. “Aku baru mau menggesernya.”

“Iya. Sudah kugeser.”

Vio tersenyum kecil, lalu merapatkan kedua tangannya di atas lutut. Selvara memperhatikan jemarinya.

“Tadi waktu kamu memegang lenganku, terasa hangat.”

Senyum Vio menghilang sedikit. “Aku juga merasa begitu.”

Lyara memandang mereka bergantian, tetapi menunggu sampai Vio melanjutkan.

“Aku cuma ingin kamu ikut pergi. Waktu kamu berhenti karena suara itu, aku takut kalau kulepas, kamu malah kembali.”

“Aku tidak tahu kalau aku berhenti selama itu.”

“Tidak lama. Tapi aku ada di sampingmu.”

Selvara mengingat suara Ibu dari balik pintu. Ia masih bisa mendengarnya dengan jelas, termasuk nada tidak sabar yang membuatnya merasa bersalah karena belum menjawab. Tangannya meremas kain rok.

Lyara meletakkan botol di kursi kosong. “Suara siapa?”

“Ibu,” jawab Selvara. “Lalu suara Vio.”

Wajah Lyara berubah. Ia melirik Vio, yang sedang duduk begitu dekat hingga siku mereka hampir bersentuhan.

“Padahal Vio ada di situ?”

Selvara mengangguk.

Lyara terdiam beberapa saat. Dari arah gerbang, seorang guru memanggil nama siswa yang jemputannya sudah tiba. Bunyi itu membuat Selvara mengangkat kepala terlalu cepat.

Vio menyentuh lututnya dengan punggung tangan.

“Itu dari gerbang.”

“Aku tahu.”

Jawabannya lebih tajam daripada yang dimaksudkan. Selvara menoleh dan segera menambahkan, “Maaf. Aku cuma masih gampang kaget.”

Vio tidak menarik tangannya dengan tersinggung. Ia hanya mengangguk, memberi Selvara waktu menenangkan napas.

Theo datang bersama pegawai administrasi yang tadi terjatuh. Celana lelaki itu masih robek di dekat mata kaki, dan bagian sikunya sudah ditutup kasa. Ia berhenti di depan mereka sambil memegang tas kecil milik sendiri.

“Saya belum sempat berterima kasih.”

Selvara hendak berdiri, tetapi lelaki itu segera meminta ia tetap duduk.

“Tidak usah. Tadi kalian sudah repot.”

“Kakinya bagaimana, Pak?” tanya Vio.

“Bisa dipakai jalan. Tadi lebih banyak kagetnya.” Ia memandang Selvara, kemudian tangannya. “Kamu juga diperiksa, ya. Jangan karena merasa berhasil membantu, lukanya dibiarkan.”

Selvara menunduk sedikit. “Sudah, Pak.”

Theo menarik sebuah kursi agar lelaki itu bisa duduk sambil menunggu jemputan. Setelah beberapa saat, pegawai tersebut mengusap wajahnya.

“Saya melihat tangga,” katanya pelan. “Di belakang orang itu. Padahal saya tiap hari lewat situ.”

Theo duduk pada tepi kursi di seberangnya. “Pintunya sudah ada waktu Bapak mulai mendorong troli?”

“Belum. Saya keluar dari ruang administrasi, belok ke sini. Dindingnya masih biasa.” Ia menatap lantai, mencoba mengingat. “Saya bahkan hampir menyandarkan satu kotak di situ. Untung tidak jadi.”

Selvara mengangkat wajah.

“Kenapa tidak jadi, Pak?”

“Rodanya macet. Saya pikir sekalian saja dibawa ke depan.” Lelaki itu menoleh ke arah koridor yang kini dijaga. “Lalu ada yang batuk.”

Urutannya begitu sederhana. Troli tersangkut, kotak hampir jatuh, kemudian Haris sudah berdiri di dekat dinding. Selvara baru menyadari bahwa tidak seorang pun dari mereka melihat pintu itu terbentuk.

Theo mengeluarkan ponsel. “Nanti saya sampaikan ke Bu Mariel. Bapak tidak perlu kembali ke sana untuk menjelaskan.”

“Jangan sekarang juga disuruh kembali. Saya belum sanggup.”

“Tidak, Pak. Saya juga tidak.”

Lelaki itu tertawa pendek, lebih menyerupai embusan napas. Bahunya turun sedikit setelah mendengar jawaban Theo.

Mobil Ibu tiba beberapa menit kemudian. Selvara melihatnya berhenti di dekat atap gerbang, lalu melihat Ibu turun sambil membuka payung. Untuk sesaat ia hanya duduk, memastikan sosok itu benar-benar berjalan menghampirinya.

Ibu berhenti di depannya.

“Selvara.”

Kali ini suara itu datang bersama wajah yang dikenalnya, tangan yang menyentuh bahunya, dan ujung lengan baju yang basah oleh hujan.

Selvara berdiri dan mendekat sebelum sempat mengatakan apa-apa. Ibu merangkulnya dengan hati-hati, menghindari tangan yang dibalut.

“Kita pulang,” katanya.

Selvara mengangguk pada bahu Ibu. Ia baru melepaskan pelukan setelah napasnya terasa lebih tenang.

Mariel meminta waktu sebentar sebelum Selvara dibawa pulang. Mereka berbicara di ruang kecil dekat pos keamanan, cukup jauh dari siswa yang masih menunggu. Ibu tetap berdiri di samping kursi Selvara, sementara Vio ikut masuk setelah meminta izin kepada ayahnya melalui telepon.

“Aku sudah mendengar keterangan Pak Damar,” kata Mariel, menyebut pegawai administrasi yang tadi mereka bantu. “Theo juga menjelaskan urutannya. Sekarang aku perlu memastikan satu hal tentang Haris.”

Selvara menegakkan punggung.

“Waktu dia muncul, apakah tangannya sempat terulur kepada kalian?”

“Tidak, Bu. Dia menekan pintu dengan bahunya.”

“Dia menyuruh kami pergi,” tambah Vio. “Setelah tahu masih ada siswa.”

Mariel mengangguk, lalu menuliskan beberapa kata. Kali ini ia tidak membawa denah. Hanya buku kecil dan ponsel yang sesekali bergetar karena pesan masuk.

“Jadi perilakunya berbeda dari saat kalian bertemu di tangga.”

“Berbeda,” jawab Selvara. “Tapi saya tidak tahu kenapa.”

“Aku juga belum tahu.”

Ibu menarik kursi dan duduk. “Apakah sekolah masih akan dibuka besok?”

“Seluruh kegiatan di dalam bangunan dihentikan sementara. Kepala sekolah akan mengirim pemberitahuan setelah pengaturan penjagaan selesai.”

“Termasuk gedung depan?”

“Termasuk gedung depan. Kami tadi mengira pemisahan jalur sudah cukup. Ternyata pintunya muncul di sisi yang masih digunakan.”

Mariel menutup bukunya sebentar. Ia tampak lebih letih ketika mengucapkan kalimat itu.

“Saya minta maaf. Pagi ini saya mengatakan Selvara boleh mengikuti pelajaran.”

Ibu memandangnya cukup lama sebelum menjawab.

“Saya mengizinkan karena diberi tahu kelasnya aman. Jadi setelah ini, saya perlu diberi tahu kalau memang belum bisa dipastikan.”

“Iya, Bu. Saya mengerti.”

Selvara memperhatikan tangan Ibu yang bertumpu pada tas. Jemarinya menekan tali begitu erat hingga buku-bukunya memutih. Ia sempat ingin mengatakan bahwa gurunya sudah berusaha, tetapi mengurungkannya. Ibu berhak marah, dan Mariel tidak sedang mencari pembelaan.

Dari luar terdengar ketukan. Theo masuk setelah dipersilakan, membawa selembar kertas dari bagian sarana.

“Ini yang diminta, Bu. Denah lantai satu sebelum renovasi.”

Mariel membukanya di meja. Selvara mengenali bentuk halaman belakang dan selasar, tetapi beberapa ruang masih memiliki nama lama. Di tempat Haris muncul tadi, gambar tersebut memperlihatkan dinding lurus.

“Memang tidak ada pintu di situ,” kata Theo. “Saya sudah tanya Pak Damar. Sejak beliau bekerja, ruangan sebelahnya juga tidak pernah diperluas.”

Mariel menelusuri gambar dengan ujung pena, berhenti pada akses bawah selasar yang sudah pernah mereka periksa.

“Berarti kita tidak bisa menandai satu pintu lalu menganggap tempat lain cukup jauh darinya.”

Vio mendekat sedikit. “Kalau begitu, semua pintu bisa jadi jalan masuk?”

“Belum tentu semua. Tapi aku belum punya cara untuk membedakannya.”

Selvara memandang dua lokasi yang ditunjuk Mariel. Akses lama itu memang ada dalam denah. Pintu dekat tangga depan tidak. Ia teringat wajah Haris yang menoleh ketika mendengar suara siswa dari lantai atas.

“Bu, mungkin Pak Haris sendiri tidak tahu pintunya akan terbuka di sebelah mana.”

Mariel mengangkat wajah. “Apa yang membuatmu berpikir begitu?”

“Dia bertanya masih ada anak-anak atau tidak. Setelah itu baru menyuruh kami pergi.” Selvara berhenti sebentar, memilih kata-kata yang tidak melebihkan apa yang dilihatnya. “Saya merasa dia juga baru melihat kami.”

Theo memandang denah. “Kalau benar, dia menahan pintu setelah tahu di seberangnya ada orang.”

“Bisa jadi,” kata Mariel. “Tapi di pertemuan sebelumnya, dia juga menarik Vio. Bagian itu masih perlu kita pahami.”

Vio merapatkan lengan ke tubuh. Selvara melihat gerakan tersebut dan menggeser duduknya, memberi ruang agar temannya tidak perlu mencondongkan badan ke meja.

“Saya tidak ingin mendekatinya lagi sekarang,” kata Vio.

Mariel langsung mengangguk. “Kamu tidak diminta mendekat.”

“Saya tahu. Cuma… tadi dia membantu. Saya tetap takut.”

“Keduanya bisa kamu rasakan sekaligus.”

Vio menatapnya, lalu mengembuskan napas perlahan. Selvara merasa ada sesuatu dalam dirinya yang ikut mengendur. Sejak melihat Haris terseret bersama pintu, ia terus memikirkan kemungkinan bahwa mereka telah meninggalkan seseorang yang berusaha melindungi mereka. Mendengar Vio mengakui ketakutannya membuat Selvara bisa mengakui hal yang sama tanpa harus menyangkal apa yang dilakukan Haris.

Radio di pinggang petugas luar ruangan berbunyi. Mariel meminta mereka menunggu sebentar, kemudian keluar untuk mendengarkan laporan. Theo tetap di dalam sambil melipat bagian denah yang melewati tepi meja.

“Yang tadi di lantai,” katanya kepada Selvara, “itu es darimu?”

Selvara mengangguk.

“Aku sempat mengira ada benda dari bawah troli. Baru sadar waktu retak.”

“Awalnya malah melebar. Aku takut kamu terpeleset.”

“Aku hampir menginjaknya.” Theo mengatakannya tanpa menyalahkan. “Lain kali bilang juga sisi mana yang bisa diinjak. Aku tadi cuma tahu harus mengangkat.”

Selvara memandangnya. Permintaan itu begitu praktis sehingga ia bisa membayangkan apa yang perlu diperbaiki, bukan sekadar mengingat bagaimana tangannya gemetar setelahnya.

“Iya. Aku akan bilang.”

“Dan kalau sudah tidak kuat, bilang.” Theo melirik tangan kirinya. “Aku lebih suka memindahkan troli dua kali daripada harus menangkapmu juga.”

Vio menyahut sebelum Selvara menjawab. “Tadi aku yang menangkap.”

“Aku tahu. Makanya aku bicara sekarang.”

Selvara menunduk dengan senyum lelah. Untuk beberapa detik, mereka terdengar seperti sedang membahas pekerjaan kelas yang berantakan.

Mariel kembali sebelum percakapan berlanjut. Ia mengambil ponsel dari meja, lalu memandang Ibu.

“Selvara sudah bisa dibawa pulang. Kalau kesemutannya bertambah atau jemarinya terasa sulit digerakkan, kabari saya.”

Ibu berdiri dan membantu Selvara mengenakan tas pada bahu kiri. Vio juga bangkit setelah mendapat pesan bahwa ayahnya sudah tiba.

Di ambang pintu, Selvara berhenti.

“Bu, tadi laporan dari belakang?”

Mariel tidak langsung menjawab. Ia melihat ponselnya sekali, kemudian kembali menatap Selvara.

“Petugas memeriksa lantai setelah kabut menipis. Ada bekas seretan dari tempat Haris berdiri. Ujungnya berhenti di dinding.”

“Bekas kakinya?”

“Mereka belum yakin. Aku akan melihat fotonya dulu.”

Selvara mengangguk dan mengikuti Ibu keluar. Kali ini ia tidak meminta diperlihatkan gambar saat itu juga.

Setelah mereka pergi, Mariel membuka foto kiriman petugas. Di antara kertas basah dan jejak roda troli, ada dua garis panjang pada lantai. Salah satunya meninggalkan noda kemerahan di dekat dinding.

Ia memperbesar bagian tersebut, lalu menelepon Pak Surya.

“Pak, saya perlu menanyakan keadaan Haris sebelum dia turun hari itu. Apakah salah satu kakinya sudah terluka?”

Di seberang, Pak Surya terdiam sebentar.

“Tidak. Dia turun biasa.” Suaranya berubah cemas. “Kenapa, Bu? Dia muncul lagi?”

Mariel memandang garis seretan itu.

“Iya, Pak. Tadi dia membantu kami menutup pintu.”

Selvara terbangun karena mendengar pagar depan dibuka. Cahaya dari jendela sudah bergeser ke ujung tempat tidur, dan tangan kirinya terasa kaku setelah terlalu lama terlipat di bawah bantal. Ia mencoba menggerakkan jemari satu per satu. Getarannya berkurang, meskipun kesemutan masih tertinggal di ujung telunjuk.

Dari luar kamar, Ibu mengetuk.

“Vio dan Lyara datang. Kamu mau menemui mereka sekarang?”

Selvara mengusap wajah dengan punggung tangan kiri. “Boleh, Bu. Saya keluar sebentar lagi.”

“Tidak perlu buru-buru. Ibu suruh mereka duduk dulu.”

Di ruang tengah, Lyara sedang mengeluarkan dua wadah makanan dari tas kain. Vio duduk di sofa dengan bantal pada pangkuan. Ia menoleh ketika Selvara muncul, lalu mengangkat sebuah kantong kecil.

“Bajumu yang kemarin kupinjam. Sudah dicuci.”

“Kamu datang untuk mengembalikan baju?”

“Sekalian melihatmu. Tapi kalau kubilang begitu, nanti kamu merasa harus menjamu.”

Lyara menutup tas kainnya. “Padahal yang menjamu sudah ibunya. Kami baru duduk langsung ditawari makan.”

Ibu keluar dari dapur membawa gelas. “Kalian datang tepat waktu. Selvara belum makan sejak tidur.”

Selvara hampir mengatakan bahwa ia belum lapar, tetapi aroma lauk dari wadah yang dibuka Lyara membuatnya berubah pikiran. Ia duduk di antara kedua temannya dan membiarkan Ibu menyiapkan piring kecil. Setelah memastikan makanan cukup dekat untuk diraih dengan tangan kiri, Ibu kembali ke dapur.

Beberapa menit pertama berlalu dengan pembicaraan tentang sekolah. Pengumuman resmi sudah dikirim. Kegiatan di dalam bangunan dihentikan sampai pemeriksaan berikutnya selesai, sementara tugas akan disampaikan melalui wali kelas. Lyara memperlihatkan pesan dari pembina klub musik yang meminta anggota tidak datang mengambil alat.

“Keyboard-ku ada di rumah. Untung minggu lalu kubawa pulang,” katanya.

Vio menatap layar ponsel sendiri. “Busurku masih di sekolah.”

“Pelatihmu sudah mengabari?”

“Sudah. Katanya disimpan di lemari dan belum boleh diambil.” Vio meletakkan ponsel. “Aku tahu barangnya aman. Cuma tetap kepikiran.”

Selvara mengaduk nasi dengan sendok. Buku catatan Lyara juga masih berada dalam tasnya, terbawa pulang bersama beberapa barang yang sempat diselamatkan dari kelas. Sejak pagi, hal-hal kecil seperti itu terasa berbeda. Barang yang biasanya bisa diambil besok kini harus menunggu orang memastikan lorong sekolah tidak berubah lagi.

Lyara memperhatikan sendok yang berhenti di tangan Selvara.

“Kalau lelah, makan dulu. Kami tidak sedang menunggu kamu cerita.”

Selvara mengangkat wajah. “Kalian tidak mau tanya?”

“Mau,” jawab Lyara. “Tapi tadi kamu baru bangun.”

Jawaban sederhana itu membuat Selvara kembali menyuap. Ia menghabiskan beberapa sendok sebelum akhirnya meletakkan piring di meja.

“Aku masih mendengar suaranya kalau sedang diam.”

Vio menurunkan bantal dari pangkuan.

“Suara ibumu?”

Selvara mengangguk. “Bukan benar-benar terdengar dari luar. Aku mengingatnya. Tapi jelas sekali.”

Lyara merapatkan kedua tangannya. Kali ini ia tidak segera menjawab. Ia menunggu Selvara melanjutkan dengan kalimatnya sendiri.

“Waktu kamu memanggilku, aku tahu kamu ada di sebelahku,” kata Selvara kepada Vio. “Tapi saat suara Ibu terdengar, aku seperti harus memastikan dulu. Padahal seharusnya sudah jelas.”

“Aku juga menoleh waktu suara itu menirukan aku,” jawab Vio. “Aku tahu bukan aku. Tetap saja kaget.”

Selvara memandangnya.

“Kamu tidak bilang tadi.”

“Tadi kita sibuk keluar. Setelah duduk, aku baru kepikiran. Kalau suaraku bisa terdengar dari sana, kamu akan percaya yang mana?”

“Kamu yang memegang lenganku.”

“Iya. Tapi lain kali mungkin aku tidak sedekat itu.”

Lyara menggeser gelas agar tidak tersenggol ketika ia mencondongkan badan. “Kalau begitu, jangan hanya saling panggil dari tempat yang tidak kelihatan. Tunggu sampai benar-benar bertemu.”

Vio mengangguk. “Itu bisa.”

“Bukan jaminan,” kata Selvara perlahan. “Tapi setidaknya kita tidak langsung mengikuti suara.”

Mereka membiarkan pembicaraan berhenti di sana. Tidak ada yang mencoba membuat aturan lebih panjang. Lyara mengambil piring Selvara untuk menambahkan lauk setelah temannya mengangguk, sementara Vio bersandar dan memijat telapak tangannya sendiri.

Selvara memperhatikan gerakan itu.

Lihat selengkapnya