Chapter 3 - Episode 21
Minggu siang, Selvara dan Vio menunggu di depan ruang perawatan bersama Mariel.
Kunjungan mereka sudah mendapat persetujuan keluarga Haris, tetapi hanya sebentar.
Ibu Selvara dan ayah Vio memilih menunggu di deretan kursi dekat lift setelah memastikan keduanya tahu ke mana harus kembali.
Selvara membawa kartu yang ditulis bersama teman-temannya.
Lyara menghias tepinya, Theo memastikan nama mereka tidak tertinggal, dan Rikuya mengirim pesan yang akhirnya disalin paling bawah karena datang setelah kartunya hampir dimasukkan ke amplop.
Vio merapikan sudut amplop itu untuk ketiga kalinya.
“Kamu mau memegangnya?” tanya Selvara.
“Tidak. Nanti malah terlipat.”
“Kamu dari tadi merapikannya.”
Vio menarik tangan dan menyelipkannya ke saku jaket. “Aku tidak tahu nanti harus bilang apa.”
Selvara juga belum tahu. Sejak menerima kabar bahwa Haris sudah bisa dijenguk, ia membayangkan banyak kalimat. Sekarang, berdiri beberapa langkah dari tempat lelaki itu dirawat, semuanya terasa terlalu panjang.
Mariel memperhatikan mereka dari samping pintu.
“Kalian boleh masuk sebentar saja. Kalau belum nyaman, menunggu di sini juga tidak apa-apa.”
Vio menggeleng. “Saya mau masuk, Bu.”
Pintu dibuka dari dalam oleh seorang perempuan yang memperkenalkan diri sebagai adik Haris.
Ia mempersilakan mereka mendekat, lalu mengambil kursi yang semula terletak di dekat jendela.
Haris sedang bersandar dengan selimut menutup tubuh sampai pinggang. Rambutnya sudah bersih.
Luka di dekat alis yang dulu sulit dibedakan dari lumpur kini tampak sebagai garis pucat.
Kaki kirinya ditopang, dan tangan yang berada di atas selimut masih memperlihatkan lecet pada buku-buku jarinya.
Selvara berhenti sesaat.
Wajah itu sama, tetapi ia belum pernah melihatnya dalam ruangan yang cukup terang untuk memperhatikan ke mana matanya memandang.
“Ini Selvara dan Vionna,” kata Mariel. “Dua siswa yang sempat bertemu Bapak.”
Haris mengalihkan pandangan kepada mereka. Matanya berhenti pada balutan tangan Selvara, lalu turun ke amplop yang dipegangnya.
“Kalian yang di tangga?”
“Iya, Pak,” jawab Selvara.
Vio berdiri sedikit di belakang kursi. Selvara bisa merasakan jarak itu tanpa perlu menoleh.
“Kami membawa kartu,” lanjutnya. “Teman-teman juga titip salam.”
Adik Haris menerima amplop tersebut dan mengeluarkan isinya. Ia membantu memegang kartu agar kakaknya bisa membaca. Haris mengikuti tulisan di tengah cukup lama sebelum mengembuskan napas.
“Banyak sekali yang menulis.”
“Awalnya mau satu pesan saja,” kata Vio. “Tapi yang lain ingin menambahkan sendiri.”
Sudut mulut Haris terangkat sedikit. Adiknya meletakkan kartu di meja samping, menghadap ke tempat tidur.
Selvara duduk setelah dipersilakan. Ia sudah berniat mengucapkan terima kasih sejak di lorong, tetapi ketika melihat lecet pada tangan Haris, kalimat itu tertahan sebentar.
“Terima kasih karena Bapak menahan pintunya,” katanya akhirnya. “Waktu di sekolah.”
Haris menatap selimut. Jemarinya bergeser, kemudian berhenti.
“Saya dengar anak-anak.”
“Masih ada siswa di lantai atas. Mereka berhasil dijauhkan.”
Haris mengangguk perlahan. Ia tampak ingin mengatakan sesuatu lagi, tetapi pandangannya berpindah kepada Vio yang belum duduk.
“Tanganmu…”
Vio menegakkan bahu.
Haris mengangkat tangannya sedikit, lalu menurunkannya kembali. “Saya ingat memegang seseorang.”
Ruangan menjadi sunyi. Mariel tidak menyela. Adik Haris menatap kakaknya, kemudian Vio, menunggu.
“Bapak memegang saya,” jawab Vio. Suaranya cukup jelas, meskipun kedua tangannya masih berada di saku. “Saya sulit melepaskan diri.”
Haris memejamkan mata sebentar.
“Maaf.”
Vio melihat ke arah kursi kosong. Ia menariknya mendekat, tetapi memilih duduk di sisi yang masih memberinya jarak dari ranjang.
“Saya takut waktu itu, Pak.”
“Iya.” Haris menelan ludah. “Saya tidak ingat semuanya. Tapi itu bukan alasan.”
Vio mengangguk. Selvara menunggu, tidak mencoba menjawab untuknya.
“Sekarang Bapak istirahat dulu,” kata Vio setelah beberapa saat. “Kami juga masih berusaha tenang.”
Haris memandangnya dan mengangguk sekali lagi. Bahunya tampak turun, seolah ia semula menunggu sesuatu yang lebih berat daripada jawaban tersebut.