CHAINS : Beyond The Mist of Shattered Illusion

Lyneetra
Chapter #66

One More Request

Chapter 3 - Episode 22

Selasa siang, Vio datang ke rumah Selvara dengan rencana mengerjakan tugas selama satu jam.

Dua jam kemudian, buku miliknya masih terbuka pada halaman yang sama.

Ia sudah membantu Selvara merapikan jawaban yang diketik, menjelaskan bagian tugas kepada Lyara melalui panggilan, dan mengirim ulang berkas kepada seorang teman sekelas yang kesulitan membukanya.

Ketika ponselnya kembali berbunyi, tangan Vio langsung meraih benda itu sebelum membaca kalimat terakhir di buku.

Selvara menahan ujung kertas yang sedang dikerjakannya.

“Yang itu nanti dulu.”

“Sebentar. Mungkin berkasnya belum bisa dibuka.”

“Sudah. Dia tadi bilang terima kasih.”

Vio memeriksa layar. Pesan yang masuk ternyata dari percakapan lain, menanyakan cara mengerjakan soal terakhir.

Ia mengetik beberapa kata, lalu berhenti ketika Selvara menggeser buku di hadapannya.

“Kamu sendiri belum sampai situ.”

“Aku sudah tahu caranya.”

“Kalau begitu, kerjakan punyamu dulu.”

Vio meletakkan ponsel, tetapi layarnya dibiarkan menyala. Selvara memperhatikannya sebentar sebelum kembali membaca tugas. Tangan kanannya masih dibalut, meskipun gerakan jemarinya mulai lebih nyaman. Sebagian besar jawaban ia ketik dengan tangan kiri, lambat dan penuh salah tekan.

Vio melirik layar laptop.

“Kalau mau, aku ketikkan bagian panjangnya.”

“Aku sedang mengerjakannya.”

“Biar lebih cepat.”

“Vio.”

Selvara berhenti mengetik dan menghadapnya. “Kamu datang untuk mengerjakan tugas bersama. Dari tadi aku yang maju, punyamu masih di awal.”

Vio menunduk pada buku. Ada satu jawaban yang terputus di tengah karena ia tadi menerima panggilan Lyara. Di sampingnya, sepotong roti sudah dingin dan belum disentuh.

“Aku lanjut sekarang.”

Selvara tidak menambahkan nasihat. Ia hanya menaruh piring lebih dekat, lalu memutar laptop sedikit agar mereka sama-sama memiliki ruang di meja.

Selama beberapa menit, mereka bekerja dalam diam. Suara ketikan Selvara tersendat-sendat, diselingi gesekan penghapus Vio. Dari dapur terdengar Ibu menutup lemari dan menanyakan apakah mereka ingin minum lagi.

“Masih ada, Bu,” jawab Vio.

Ia baru hendak membaca soal berikutnya ketika ponsel bergetar.

Kali ini Selvara tidak mengatakan apa-apa.

Vio melihat layar, membaca nama pengirim, kemudian membalik ponselnya. Ia mencoba melanjutkan hitungan, tetapi angka yang baru ditulisnya ternyata sama dengan angka pada baris sebelumnya.

Selvara melirik.

“Kamu ingin membalas?”

“Sedikit.”

“Balas bahwa kamu sedang mengerjakan tugas.”

Vio mengambil ponsel. Kalimat itu sederhana ketika diucapkan orang lain. Namun, setelah mengetiknya, ia merasa perlu menambahkan penjelasan agar tidak terdengar ketus.

Ia menulis bahwa ia sedang bersama Selvara, lalu menghapus nama temannya. Menambahkan janji akan membantu setelah selesai, lalu berhenti karena belum tahu kapan tugasnya sendiri rampung.

Akhirnya ia mengirim: Aku belum selesai mengerjakan. Coba tanyakan di grup dulu, ya.

Balasannya hanya, Oke.

Vio menatap kata tersebut sebentar, kemudian menyimpan ponsel di dalam tas.

Selvara kembali mengetik. Ia tidak tersenyum puas atau mengomentari keputusan itu, dan Vio merasa bersyukur karenanya.

Menjelang sore, Theo datang membawa salinan jadwal sementara dari wali kelas. Sekolah masih ditutup. Beberapa guru mulai mengatur pertemuan daring, sementara kegiatan klub bergantung pada tempat pengganti yang tersedia.

Theo meletakkan kertas di ujung meja dan melihat buku-buku mereka.

“Kalian sudah selesai?”

“Sebentar lagi,” jawab Vio.

Selvara menoleh. “Aku sudah. Vio tinggal dua soal.”

Theo menarik kursi, lalu membuka ponsel. “Aku tunggu. Ada satu bagian yang ingin kutanyakan setelahnya.”

Vio hampir menyodorkan bukunya. “Bagian yang mana?”

“Setelah kamu selesai.”

Ia terdiam, kemudian mendengus pelan. “Kalian sudah sepakat sebelum datang?”

Theo memandang Selvara, yang mengangkat bahu.

“Aku baru masuk,” katanya.

Vio tertawa meskipun sedikit kesal. Ia menunduk lagi, menyelesaikan dua soal terakhir sambil sesekali meminta Theo memeriksa langkah hitungnya. Ketika jawabannya akhirnya cocok, ia bersandar dan baru menyadari betapa pegal lehernya.

Ponselnya menunjukkan beberapa pesan baru. Salah satunya dari pelatih panahan, memastikan keadaan bahunya setelah latihan kemarin. Vio membalas bahwa bahunya nyaman dan ia ingin mengikuti sesi berikutnya.

“Besok latihan?” tanya Selvara.

“Kalau pelatih mengizinkan. Aku ingin mencoba satu sesi yang benar, bukan cuma datang dan melepaskan empat anak panah.”

Theo menurunkan ponsel. “Empat yang kemarin cukup?”

“Untuk kemarin, iya. Sekarang aku merasa lebih baik.”

Ia mengatakannya sedikit lebih tegas daripada yang diperlukan. Selvara mengangguk, menerima jawaban itu.

“Kalau begitu, tanyakan. Jangan menambah sendiri.”

“Aku tahu.”

Vio memasukkan buku ke tas. Saat membuka halaman terakhir untuk memastikan tidak ada yang tertinggal, ia melihat daftar tugas kecil yang ditulisnya pagi tadi. Hampir semua pekerjaan untuk orang lain sudah dicentang. Tugas sekolahnya sendiri baru selesai sekarang, dan makan siang yang direncanakan sebelum datang berubah menjadi roti yang dimakan sambil membaca.

Ia melipat kertas itu dan menyelipkannya di antara buku.

Theo melihat gerakannya, tetapi tidak bertanya. Ia justru menyodorkan ponsel untuk memperlihatkan soal yang ingin dibahas. Kali ini, Vio menjelaskan setelah pekerjaannya sendiri selesai.

Ketika Ibu mengingatkan hari mulai sore, Vio berkemas lebih cepat daripada biasanya. Ayah sudah menunggu di depan, dan ia ingin pulang sebelum jalan dipenuhi kabut.

Di teras, Selvara menyerahkan kantong kecil berisi roti yang belum habis.

“Untuk di rumah.”

“Kamu tidak mau?”

“Aku masih punya. Yang ini memang punyamu.”

Vio menerimanya, lalu menatap Selvara sebentar.

“Besok kamu mengerjakan tugas dengan siapa?”

“Sendiri dulu. Kalau kesulitan, aku bertanya di grup.”

“Aku bisa datang sebelum latihan.”

“Tidak perlu. Pergi latihan saja.”

Vio membuka mulut, tetapi Selvara sudah melanjutkan dengan nada biasa.

“Aku ingin dengar bagaimana hasilnya. Bukan ingin kamu datang ke sini lalu terburu-buru pergi.”

Dari mobil, Ayah mengangkat tangan untuk mengingatkan bahwa ia sudah siap. Vio mengangguk kepadanya, lalu kembali kepada Selvara.

“Kalau hasilnya jelek, tetap mau dengar?”

“Terutama kalau kamu menyalahkan angin.”

“Kadang memang anginnya.”

Selvara tersenyum. Vio berjalan ke mobil sambil memegang kantong roti. Untuk besok, ia membiarkan waktu sebelum latihan tetap kosong. Rabu sore, Vio berhasil menyelesaikan satu rangkaian tembakan sebelum pelatih memintanya menurunkan busur. Bahunya terasa hangat karena bekerja, tetapi ketegangan yang muncul pada sesi sebelumnya berkurang. Ia mengangkat tangan sebentar, menguji gerakannya, lalu menunggu pelatih mendekat.

“Masih nyaman?”

“Iya, Pak. Saya ingin lanjut setelah istirahat.”

Pelatih melihat sasaran, kemudian kembali memandangnya. “Boleh satu rangkaian lagi. Kalau tarikanmu mulai berubah, kita berhenti.”

Vio mengangguk. Ia berjalan ke bangku dengan perasaan yang lebih ringan. Hasil tembakannya belum kembali seperti sebelum kejadian di sekolah, tetapi beberapa anak panah berkumpul cukup rapat. Ada sesuatu yang menyenangkan dari kesalahan yang bisa dipahami. Pijakan yang kurang mantap, bahu yang terangkat, atau pelepasan yang terlalu cepat. Ia bisa memperbaikinya satu per satu.

Di bangku, seorang anggota lebih muda sedang kesulitan memasang pelindung lengan. Anak itu beberapa kali menarik pengikat, lalu melepasnya lagi.

Vio duduk di sebelahnya.

“Terlalu kencang?”

“Kalau dilonggarkan, bergeser, Kak.”

Vio membantu mengatur letaknya dan meminta anak itu menggerakkan pergelangan. Setelah selesai, ia kembali mengambil botol. Bantuan itu hanya membutuhkan sebentar, dan kali ini ia tidak lupa minum sesudahnya.

Namun, ketika giliran kelompok berikutnya dipanggil, dua peserta lain menghampiri bangku dengan pertanyaan berbeda. Yang satu mencari anak panah cadangan, sementara yang lain belum tahu tempat menyimpan kotak perlengkapan.

Vio menunjuk meja penyimpanan, kemudian berdiri untuk membantu mencari nomor kotak.

Ia baru sadar gilirannya telah dipanggil ketika pelatih menyebut namanya untuk kedua kali.

“Vionna. Kamu ikut rangkaian ini atau istirahat dulu?”

“Saya ikut, Pak.”

Ia berjalan cepat menuju garis tembak. Napasnya belum kembali biasa ketika mengambil posisi, dan pada tarikan pertama bahunya naik.

Vio menurunkan busur.

Pelatih tidak menegur dari jauh. Ia menunggu sampai Vio berpaling, lalu menunjuk bangku.

“Tenangkan dulu napasmu. Giliran berikutnya.”

Beberapa peserta mulai menarik busur. Vio mundur dari garis dengan rahang mengeras. Ia tahu alasan pelatih, tetapi tetap kesal karena kesempatan yang ditunggunya sejak tadi lewat begitu saja.

Di bangku, ia meletakkan busur sedikit lebih keras daripada biasanya.

Anak yang tadi meminta bantuan memasang pelindung lengan menoleh.

“Kak, maaf. Tadi gara-gara saya?”

“Bukan.”

Jawabannya keluar cepat. Vio melihat anak itu menunduk dan segera melembutkan suara.

“Bukan karena kamu. Aku tadi terburu-buru. Pelindungnya sudah enak?”

Anak itu mengangguk, lalu kembali ke kelompoknya. Vio menatap punggungnya, merasa bersalah karena nada pertama tadi mungkin terdengar seperti marah.

Lihat selengkapnya