Chapter 4 - Episode 01
Selvara sedang mengeringkan rambut ketika pesan suara Vio masuk. Ia meletakkan handuk di bahu, menyandarkan ponsel pada tumpukan buku, lalu mendengarkan cerita tentang latihan sore tadi. Suara Vio terdengar lebih bersemangat ketika menjelaskan bahwa menahan bidikan terlalu lama justru membuat tangannya lelah. Di tengah penjelasan, terdengar bunyi sendok jatuh dan keluhan singkat karena ia menyenggol wadah camilan.
Selvara menekan tombol rekam sambil tersenyum. “Besok ceritakan lagi sambil tunjukkan gerakannya. Kalau cuma dijelaskan lewat suara, aku malah membayangkan kamu berdiri memegang busur sampai semua orang pulang.”
Ia baru meletakkan ponsel ketika notifikasi dari grup kelas muncul di laptop. Wali kelas membagikan petunjuk pengambilan buku dan barang pribadi yang tertinggal di sekolah. Kegiatan belajar masih dilakukan dari rumah, tetapi siswa diperbolehkan datang secara bergiliran mulai Jumat pagi. Setiap kelompok mendapat waktu singkat, dengan akses terbatas pada ruangan yang sudah diperiksa.
Selvara menarik kursi mendekat. Beberapa bukunya masih berada di laci kelas, termasuk buku catatan yang belakangan ia perlukan untuk mengerjakan tugas. Ia membuka lampiran, memperbesar daftar, lalu mencari nama kelasnya. Jadwal mereka pukul sepuluh tiga puluh, melalui pintu samping dekat pos petugas.
Dari ambang pintu, Ibu melihatnya membungkuk di depan laptop. “Masih ada tugas yang belum selesai?” tanya Ibu.
“Sudah selesai, Bu. Besok boleh mengambil buku di sekolah,” jawab Selvara sambil menggeser layar agar bisa dilihat dari pintu. “Sebentar saja. Harus sesuai jadwal.”
Ibu mendekat untuk membaca pengumuman itu. “Tanganmu cukup nyaman untuk membawa tas?” tanyanya.
“Saya bawa yang perlu saja. Kalau berat, saya tinggal dulu,” kata Selvara. Ia melirik balutan di tangannya sebelum menambahkan, “Buku yang besar bisa ditaruh di mobil.”
“Ibu bisa mengantar setelah belanja,” jawab Ibu. “Pastikan dulu jamnya, lalu besok pagi ingatkan Ibu.”
Setelah Ibu keluar, Selvara mengambil tangkapan layar bagian jadwal agar mudah ditemukan. Ia mengirimkannya kepada Vio bersama pertanyaan apakah temannya juga akan datang. Selagi menunggu balasan, ia mulai menulis daftar barang yang tertinggal: dua buku pelajaran, catatan, dan tempat pensil kecil yang sempat ia cari di rumah.
Balasan Vio membuatnya berhenti menulis.
Bukannya pukul sebelas? Aku sudah bilang Ayah jam sebelas.
Selvara membuka lampiran lagi. Angka di baris kelas mereka masih sama. Ia mengirim potongan gambar yang lebih dekat, lalu menerima tangkapan layar milik Vio. Nama kelas dan tanggalnya cocok, tetapi waktu kedatangannya berbeda setengah jam.
Selvara memilih menelepon daripada mengetik panjang dengan tangan kiri. Setelah panggilan tersambung, ia bertanya, “Kamu mengambil yang dari wali kelas atau kiriman ulang?”
“Dari wali kelas,” jawab Vio. “Aku baru membukanya setelah makan. Mungkin punyamu yang lama?”
“Aku membukanya barusan,” kata Selvara. Ia kembali ke percakapan kelas dan memeriksa pesan sebelum lampiran. “Belum ada keterangan revisi.”
Vio terdiam sejenak; terdengar gesekan kain sebelum ia berbicara lagi. “Coba lihat pintu masuknya. Punyaku gerbang utama.”
Selvara membaca ulang petunjuk di bawah daftar. Perbedaan itu lebih merepotkan daripada selisih waktu. Pintu samping dan gerbang utama berada di sisi yang berbeda, sementara sekolah meminta siswa datang hanya beberapa menit sebelum giliran.
“Punyaku pintu samping,” kata Selvara. “Aku tanyakan dulu di grup. Jangan ubah rencana berangkatmu sekarang.”
Ia menuliskan pertanyaan singkat, menyertakan kedua tangkapan layar, lalu meletakkan ponsel di meja dengan pengeras suara tetap menyala. Vio masih berada di seberang, sesekali mengunyah sesuatu sambil menunggu. Beberapa teman mulai membalas bahwa mereka juga memperoleh versi yang berbeda. Seorang siswa mengaku sudah mencetak pengumumannya untuk diberikan kepada orang tua.
“Mungkin sekolah mengunggah dua berkas,” ujar Vio. “Yang penting besok jangan sampai kita disuruh memutar.”
Selvara mengangguk meskipun Vio tidak bisa melihatnya. “Aku lebih khawatir datang terlalu pagi lalu diminta pulang,” katanya.
Wali kelas akhirnya membalas bahwa jadwal sedang dikonfirmasi kepada pihak sekolah. Siswa diminta menunggu pengumuman berikutnya dan menyimpan pertanyaan lain untuk pagi hari. Selvara mencoret waktu pada daftar barangnya, menyisakan ruang kosong di samping tanggal. Ia belum menutup lampiran ketika Vio kembali berbicara.
“Kalau jadi datang, ingatkan aku mengambil jaket,” kata Vio. “Kalau lupa lagi, aku mungkin baru ingat setelah sekolah dibuka.”
Selvara menambahkan satu baris di bawah daftar miliknya. “Sudah kutulis,” jawabnya. “Tapi besok kamu sendiri yang cari.”
Konfirmasi baru datang Jumat pagi ketika Selvara sedang sarapan. Sekolah menetapkan kedatangan kelas mereka pukul sebelas melalui gerbang utama. Ada permintaan maaf atas perbedaan informasi yang beredar, disertai pengingat agar siswa membawa kartu pelajar dan tas seperlunya. Selvara meneruskan pesan itu kepada Ibu, lalu menghabiskan sarapannya sebelum memeriksa isi tas.
Hujan semalam menyisakan genangan di beberapa ruas jalan. Menjelang sekolah, kendaraan bergerak lambat melewati petugas yang mengarahkan orang tua ke tempat menurunkan penumpang. Kabut tipis masih bertahan di bawah pepohonan dekat pagar, meskipun halaman depan sudah cukup terang. Selvara melihat beberapa siswa menunggu di bawah atap pos, sebagian membawa tas kosong yang dilipat di tangan.
“Ibu tunggu di seberang setelah selesai belanja,” kata Ibu ketika mobil berhenti. “Kalau belum boleh masuk, kabari Ibu.”
“Baik, Bu,” jawab Selvara. Ia mengangkat tas dengan tangan kiri dan menutup pintu setelah memastikan talinya tidak terjepit.
Vio sudah berada di dekat pos bersama Theo. Ia mengangkat tangan ketika melihat Selvara, kemudian menunjuk selembar pengumuman yang ditempel pada kaca. Bagian jadwalnya tertutup kertas putih baru, dengan waktu kedatangan ditulis lebih besar agar mudah terbaca.
“Yang ini akhirnya sama,” kata Vio saat Selvara mendekat. “Tadi ada yang datang ke pintu samping. Disuruh jalan memutar.”
“Ada yang menunggu di sana?” tanya Selvara kepada Theo.
“Petugas sudah ke sana,” jawab Theo. Ia memasukkan kartu pelajar ke saku yang mudah dijangkau. “Kita tunggu dipanggil. Kelompok sebelumnya belum keluar semua.”
Dari gerbang, sekolah terlihat hampir seperti pagi biasa yang terlambat dimulai. Ada petugas kebersihan mendorong tempat sampah melewati halaman, pintu kantor terbuka, dan beberapa guru berbicara di dekat tangga. Namun, jalur menuju bangunan lain dibatasi, sementara papan petunjuk sementara mengarahkan siswa melalui koridor depan. Selvara terbiasa memotong lewat sisi halaman; melihat jalur itu tertutup membuatnya sempat menghitung rute lain sebelum menyadari bahwa hari ini ia hanya perlu mengikuti petugas.
Vio merapatkan tali tasnya sambil memandang bangunan kelas. “Rasanya aneh datang cuma untuk mengambil barang,” katanya. “Aku tadi hampir membawa tugas yang sudah selesai.”
“Kalau dibawa, sekalian bisa dikumpulkan,” jawab Theo.
“Lalu gurunya menyuruhku mengirim lewat aplikasi juga,” balas Vio. Ia menoleh kepada Selvara ketika melihat temannya tersenyum. “Kamu pasti tetap akan memotretnya untuk jaga-jaga.”
“Kalau sudah pernah diminta kirim ulang, kamu juga akan begitu,” kata Selvara.
Percakapan mereka terhenti ketika seorang petugas memanggil kelas berikutnya. Mereka memperlihatkan kartu pelajar, lalu berjalan bersama beberapa siswa lain menuju koridor. Di dalam, bau lantai yang baru dibersihkan terasa kuat. Sejumlah pintu dibiarkan terbuka, tetapi petugas meminta mereka langsung menuju kelas masing-masing dan menghindari ruangan yang belum digunakan.
Selvara memperlambat langkah saat melewati papan pengumuman. Di antara lembar petunjuk keselamatan dan jadwal pengambilan barang, masih terpasang pengumuman yang ia buka tadi malam. Ia mengenali susunan tabelnya sebelum membaca tanggal di sudut atas. Jadwal kelas mereka tercetak pukul sepuluh tiga puluh melalui pintu samping.
Theo mengikuti arah pandangnya. “Belum semuanya diganti rupanya,” katanya.