CHAINS : The Fragments of Another Story

Lyneetra
Chapter #4

Vol 4 : Closing Time!

Lonceng kecil di atas pintu berbunyi ketika Selvara masuk ke Avenoirs. Sore itu toko hampir siap tutup. Beberapa bungkus roti sudah disusun di dekat kasir, sementara Meganne sedang merapikan nampan terakhir sebelum membawanya ke belakang. Ia mengangkat wajah, lalu melihat Vio, Theo, dan Lyara mengikuti Selvara masuk.

“Kali ini ramai,” kata Meganne.

Selvara berhenti di depan meja kasir. “Mereka temanku.”

“Aku bisa lihat.”

Meganne meletakkan nampan. Biasanya Selvara datang sendiri, membeli roti, lalu berbincang sebentar sebelum pulang. Kali ini ada sesuatu pada cara mereka berdiri, pada tatapan yang bergantian tertuju kepada Selvara dan rak-rak toko, yang membuat Meganne tahu kunjungan ini tidak akan berlangsung seperti biasanya.

Tatapannya jatuh ke tangan Selvara. Cincin itu masih melingkar di jarinya.

Selvara mengikuti arah pandangnya. “Kamu akhirnya mulai bertanya.”

Selvara terdiam. Vio berhenti beberapa langkah di belakangnya, sedangkan Theo yang tadi memperhatikan rak roti langsung menoleh. Lyara tetap berdiri dekat pintu, memperhatikan Meganne tanpa mendesak.

Meganne membersihkan tepung yang menempel di jemarinya. Ia punya beberapa pertanyaan sendiri, tetapi tidak semuanya perlu disampaikan sekarang. Ada hal-hal yang lebih baik dibiarkan muncul setelah orang-orang di hadapannya memahami apa yang sedang mereka cari.

Sebelum Selvara sempat menjawab, Meganne berjalan ke pintu dan membalik papan bertuliskan BUKA menjadi TUTUP. Ia memutar kunci, lalu kembali ke sisi meja. Avenoir mendadak terasa lebih sunyi, meski tak ada apa pun di dalam toko yang berubah.

“Kalau kalian datang untuk bertanya soal gedung sekolah,” kata Meganne, “jawaban yang kalian cari bukan ada di gedung itu.”

Selvara menahan napas. Meganne melihatnya melirik cincin di tangannya, seolah benda itu mungkin bisa memberikan petunjuk lebih jelas daripada orang-orang dewasa yang selama ini memilih bicara setengah-setengah.

“Dan kalau kalian ingin tahu kenapa dunia mulai memberikan versi yang berbeda dari apa yang kalian lihat sendiri,” lanjut Meganne, “kalian harus berhenti menganggap semua ini baru dimulai minggu lalu.”

Theo menatap Selvara, sementara Vio melangkah mendekat. Selvara sendiri tidak mengalihkan pandangan dari Meganne.

“Sejak kapan?” tanya Selvara.

Meganne diam sejenak. Pertanyaan itu lebih besar daripada yang mungkin Selvara sadari. Ada perbedaan antara mengetahui bahwa sesuatu pernah terjadi dan memahami bagaimana bekasnya bertahan setelah semua orang berhenti membicarakannya.

“Jauh sebelum kalian lahir,” jawab Meganne.

Ia berjalan ke pintu di belakang meja, pintu yang selama ini hanya membawa Selvara membayangkan dapur dan gudang penyimpanan. Tangannya berhenti sesaat di gagang. Ada alasan ia menyimpan beberapa catatan lama di bawah toko, tetapi alasan itu tidak menjadikan Avenoir tempat rahasia atau membuat Meganne punya jawaban untuk setiap hal yang akan mereka tanyakan. Meganne membuka pintu. Tangga sempit menurun ke ruang bawah.

“Kalian mau tahu kenapa beberapa orang menghilang dari ingatan?” tanyanya.

“Karena mereka tidak pernah dihapus,” kata Meganne. “Mereka dipindahkan.”

Di bawah sana, kotak-kotak lama masih tersusun di rak. Beberapa berisi kliping berita dan catatan yang Meganne kumpulkan dari tahun ke tahun. Salah satunya menyimpan foto seorang laki-laki bernama Erian Volst, foto yang pernah dibawa seseorang ke Avenoir. Meganne belum tahu bagaimana kisah orang itu berkaitan dengan apa yang sedang dialami Selvara. Ia juga belum tahu apakah orang yang membawa foto itu berhubungan dengan seseorang yang pernah menolongnya dahulu.

Untuk sekarang, kedua kenangan itu tetap terpisah.

Meganne mulai menuruni tangga. “Ikutlah. Tapi jangan menarik kesimpulan sebelum kalian melihat semuanya.”

Tangga itu berakhir di ruangan penyimpanan yang sederhana. Rak-rak kayu memenuhi salah satu sisi, beberapa kotak karton diberi tanggal, dan sebuah meja kecil berdiri di bawah lampu yang cahayanya terasa lebih hangat daripada lorong tadi. Meganne menyalakan lampu kedua, lalu membuka tirai kain yang menutupi rak paling belakang.

“Sebelum kalian membuat kesimpulan sendiri, aku tidak bilang orang-orang itu dipindahkan ke sini,” kata Meganne.

Theo berhenti di dekat meja. “Bagus. Tadi sempat terdengar seperti Kak Meganne menyimpan ruang bawah tanah penuh siswa hilang.”

Vio menoleh kepadanya. “Kamu bisa memilih kalimat yang lebih baik.”

“Aku sedang memastikan.”

Meganne mengeluarkan satu kotak dari rak dan meletakkannya di atas meja. “Yang berpindah bukan selalu tubuhnya. Kadang jejaknya. Kadang ingatan orang tentang mereka. Kadang keduanya berhenti berada di tempat yang sama.”

Selvara berdiri di seberang meja. “Apa bedanya?”

“Kalau seseorang benar-benar hilang, orang lain masih tahu dia pernah ada. Mereka mencari, membuat laporan, menyimpan fotonya, dan menyebut namanya. Tapi kalau sesuatu menggeser keberadaannya dari satu lapisan ke lapisan lain, dunia di sekitarnya mulai mencari cara agar kekosongan itu terasa masuk akal.”

Lyara mendekat beberapa langkah. “Seperti siswa yang awalnya dianggap sakit, lalu orang-orang mulai bilang dia pindah sekolah?”

“Kurang lebih,” jawab Meganne.

Theo memandang kotak di meja. “Kak Meganne pernah melihat kejadian seperti ini sebelumnya?”

“Aku pernah melihat sisa-sisanya.”

“Berapa kali?”

Meganne tidak menjawab dengan angka. Ia membuka kotak dan mengeluarkan beberapa map tipis berisi kliping koran, salinan laporan, serta catatan tangan dari tahun yang berbeda. “Cukup untuk tahu kalian sebaiknya berhenti menggunakan berita sebagai satu-satunya pembanding.”

Vio menyilangkan tangan. “Kami sudah tahu bagian itu setelah hari ini.”

“Aku bukan bilang jangan percaya berita,” kata Meganne. “Kalau kalian langsung memutuskan semua informasi publik salah, kalian cuma pindah dari satu kesalahan ke kesalahan lain. Perhatikan kapan informasi berubah, bagian mana yang berubah, dan apa yang tetap sama.”

Selvara teringat beberapa versi kejadian di sekolah yang mereka temukan dalam satu hari. Gangguan listrik, ruang penyimpanan, pipa bocor, gedung kosong. Masing-masing terdengar masuk akal jika berdiri sendiri, tetapi ketika disusun berdekatan, perbedaannya terasa seperti sesuatu yang bergerak di antara celah.

Meganne memilih satu kliping dan meletakkannya di tengah meja. Berita itu membahas kecelakaan di sebuah terminal lama Asterveil. Artikel pertama menyebut dua orang terluka karena papan reklame jatuh. Salinan dari surat kabar lain, dengan tanggal dan lokasi yang sama, menyebut tiga korban.

“Bisa jadi salah laporan,” kata Theo.

“Tentu,” jawab Meganne.

Ia meletakkan kliping berikutnya. Seminggu kemudian, berita itu menyebut satu orang mengalami luka ringan. Satu artikel lain, terbit setahun setelah kejadian, menulis bahwa papan reklame tersebut jatuh tanpa menimbulkan korban.

Lyara membaca tanggalnya sekali lagi. “Versinya terus berubah.”

“Berita bisa salah. Arsip bisa diperbaiki. Orang bisa keliru mengingat,” kata Meganne. “Itu sebabnya orang yang terlalu cepat ingin menemukan misteri biasanya paling mudah ditipu olehnya.”

Selvara menatap kliping-kliping itu. “Lalu kenapa Kak Meganne menyimpannya?”

“Karena ada satu hal yang tidak ikut berubah.”

Meganne membalik kliping pertama. Di belakangnya tertulis satu nama dengan tinta yang mulai pudar: Erian Volst.

Meganne mengambil sebuah foto kecil dari map lain. Seorang laki-laki muda berdiri bersama dua orang di depan terminal yang sama. Selvara memandangi wajahnya, sementara Meganne menahan foto itu sejenak sebelum menyerahkannya.

“Dia orang ketiga yang muncul dalam laporan awal,” kata Meganne.

Selvara menerima foto itu dengan hati-hati. “Apa yang terjadi padanya?”

“Orang yang dulu menyimpan foto ini datang ke Avenoir,” jawab Meganne. “Tiga hari setelah kejadian, keluarganya masih mencari Erian. Dua minggu kemudian, tetangganya mulai mengatakan keluarga itu tidak pernah punya anak bernama Erian. Sebulan setelahnya, alamat mereka berubah dalam arsip kota.”

Theo menatap Meganne. “Orang yang membawa foto itu masih ingat Erian?”

“Waktu itu, iya.”

“Sekarang?”

Meganne merapikan beberapa kliping agar tidak bergeser. “Aku tidak tahu.”

Jawaban itu tidak memberi mereka kepastian. Namun Meganne tahu ia tidak berhak mengisi bagian yang tidak ia ketahui, apalagi menghubungkan orang yang membawa foto tersebut dengan seseorang lain dari masa lalunya.

Selvara mengembalikan foto ke meja. “Kasus itu sama dengan yang terjadi di sekolah?”

“Aku bilang mirip,” jawab Meganne. “Bukan sama.”

“Apa yang membedakannya?” tanya Selvara.

Meganne mengambil kembali foto Erian, lalu menaruhnya di atas kliping yang menyebut kecelakaan terminal. Ia tidak ingin Selvara menyamakan semua kejadian hanya karena ada bagian yang terasa serupa. Kemiripan bisa menjadi petunjuk, tetapi juga bisa membuat orang melewatkan perbedaan yang justru paling penting.

“Kecepatannya,” jawab Meganne. “Kasus seperti ini biasanya berlangsung perlahan. Beberapa hari, kadang berminggu-minggu. Orang mulai lupa sedikit demi sedikit, lalu arsip berubah setelahnya. Cerita tentang orang yang hilang baru bergeser ketika cukup banyak waktu berlalu.”

Theo merapatkan kedua tangannya di atas meja. “Yang di sekolah berubah dalam hitungan hari.”

“Mungkin lebih cepat dari itu,” kata Meganne.

Vio memandang kliping-kliping di hadapannya. “Berita tentang gedung sekolah berubah beberapa kali dalam satu pagi.”

Meganne menutup map tentang Erian. “Itulah sebabnya aku bilang kasus kalian mirip, bukan sama. Kalau kalian mengabaikan perbedaan itu, kalian bisa saja mengambil jawaban dari kejadian lama lalu menggunakannya untuk menjelaskan sesuatu yang belum dipahami.”

Selvara melihat foto Erian sekali lagi sebelum Meganne menyimpannya. “Jadi, dulu keluarga Erian sempat mencarinya, tetapi lama-lama orang-orang lupa bahwa dia pernah ada?”

“Setidaknya itu yang tertulis di catatan yang pernah kubaca,” jawab Meganne. “Aku tidak mengenal keluarganya. Aku juga tidak tahu apa yang terjadi setelah orang yang menyimpan foto itu datang ke Avenoir.”

Selvara menangkap jeda dalam jawaban tersebut. “Orang itu pernah membawa foto Erian ke sini?”

“Iya.”

“Dia masih ingat Erian waktu itu?”

“Waktu itu, iya.”

“Dan sekarang?”

Meganne menatap Selvara sebentar sebelum menjawab. “Aku tidak tahu.”

Ia tidak menambahkan dugaan. Foto itu pernah berada di toko, dan seseorang pernah menceritakan bagian kisahnya. Hanya itu yang bisa ia pastikan. Ingatan Meganne tentang orang lain dari masa lalu tetap berada di tempat terpisah, tersimpan bersama pertanyaan yang belum pernah mendapat jawaban. Ia tidak punya alasan untuk menyatukan dua kenangan itu hanya karena keduanya sama-sama belum selesai.

Lyara mengamati map yang sudah tertutup. “Kalau yang di sekolah berbeda, bagaimana kita tahu bagian mana yang masih bisa dibandingkan?”

“Catat apa yang kalian lihat sebelum ada orang yang memberi kalian versi lain,” jawab Meganne. “Simpan tanggal, nama, dan urutannya. Kalau ada yang berubah, jangan buru-buru menganggap catatan pertama salah. Tapi jangan langsung menganggap versi kedua sebagai kebohongan juga.”

Theo mengangguk perlahan. “Jadi kita perlu membandingkan semuanya.”

“Dan menerima bahwa kalian mungkin belum tahu jawabannya,” kata Meganne.

Selvara menunduk ke tangannya. Cincin di jarinya tampak sama seperti biasanya. Meganne memperhatikan cara Selvara memandangnya, lalu teringat bahwa benda itu telah menarik perhatiannya sejak kunjungan pertama gadis itu ke Avenoirs.

Selvara mengangkat wajah. “Kak Meganne tahu sesuatu soal cincin ini?”

Meganne tidak segera menjawab. Pertanyaan itu tidak bisa dibereskan hanya dengan membuka satu map lama. Ia memandang cincin tersebut beberapa saat, berusaha memisahkan apa yang benar-benar ia ketahui dari kesan yang selama ini hanya ia simpan sendiri.

“Aku tahu cincin seperti itu tidak seharusnya terasa biasa di tempat yang sedang mengalami distorsi,” kata Meganne.

Selvara mengernyit. “Maksudnya?”

“Kamu pernah bilang Avenoir terasa normal.”

“Iya.”

“Cincinnya juga tetap terasa biasa selama kamu di sini?”

Selvara memandangi cincin itu. “Sejauh yang aku tahu.”

Meganne mengangguk kecil. Ia belum memiliki penjelasan yang bisa diberikan kepada Selvara, tetapi jawaban itu cukup untuk menunjukkan bahwa ada satu hal yang belum mereka periksa dengan benar.

Lihat selengkapnya