Sebuah kejadian dari yang terjadi pada suatu malam ketika Theo menghilang dan terpisah dari Selvara dan grup selama tiga menit… meski sesuatu di dalam distorsi itu terasa berlangsung jauh lebih lama yang mana Theo awalnya yakin jika dirinya hanya terpisah beberapa langkah dari yang lain saat lampu tangga darurat mati mendadak.
Beberapa detik sebelumnya suara Vio masih terdengar ribut di belakang sambil terus mengeluh karena lorong sekolah terasa makin dingin, sementara Selvara meminta semuanya tetap bergerak dan jangan berhenti terlalu lama di tengah kabut yang mulai menebal.
Namun setelah Theo berlari melewati satu belokan tangga dalam gelap, semua suara itu perlahan menghilang.
Bukan menghilang secara tiba-tiba, melainkan seperti ditarik menjauh sedikit demi sedikit sampai akhirnya hanya tersisa gema samar yang tidak lagi terdengar seperti suara manusia.
Theo sempat berhenti sambil mengatur nafas. Tangannya refleks menyentuh pagar besi dingin di sisi tangga sebelum akhirnya ia mencoba memanggil nama Selvara.
“Sel?”
Tidak ada jawaban.
Ia kembali menoleh ke bawah tangga yang gelap.
“Vio?”
Tetap sunyi.
Hanya suara air yang terdengar menetes pelan dari kejauhan.
Perasaan tidak nyaman perlahan mulai muncul di dadanya, meski Theo masih mencoba meyakinkan dirinya kalau mereka mungkin hanya terpisah lantai. Distorsi Mist memang sudah cukup kacau sejak tadi. Lorong berubah arah, cahaya sekolah beberapa kali mati sendiri, bahkan pintu kelas yang mereka lewati sempat berpindah posisi tanpa ada yang sadar kapan itu terjadi.
Namun tetap saja, suasana di tempat itu sekarang terasa berbeda.
Terlalu sepi.
Theo akhirnya mengeluarkan ponselnya lalu menyalakan senter meski layar ponselnya terus berkedip tidak stabil sejak mereka masuk ke area sekolah lama. Cahaya putih redup akhirnya muncul beberapa detik kemudian dan langsung menyapu sekitar tangga darurat.
Dan saat itulah langkah Theo perlahan berhenti.
Karena tempat itu sudah berubah.
Tangga sempit yang tadi mereka lewati kini terasa jauh lebih luas, sementara lorong di depannya tidak lagi terlihat seperti akses antar lantai sekolah. Dinding beton kusam berubah menjadi koridor panjang dengan papan pengumuman olahraga di sisi kiri, sedangkan lantainya dipenuhi bekas jejak sepatu samar seperti baru saja dilewati banyak orang.
Theo langsung mengernyit kecil.
“…serius?”
Ia mengenali tempat itu.
Lorong menuju gym basket indoor lama sekolah mereka.
Namun itu tidak masuk akal.
Beberapa menit lalu ia masih berada di tangga darurat bersama yang lain.
Perasaan dingin perlahan naik ke tengkuknya, tetapi Theo tetap memaksa dirinya berjalan pelan sambil memperhatikan sekitar. Suasana lorong itu terlalu sunyi. Tidak ada suara hujan, suara listrik, ataupun suara angin dari luar.
Dan justru karena terlalu sunyi, suara kecil yang muncul beberapa detik kemudian langsung terdengar sangat jelas.
Duk.
Theo langsung berhenti.
Suara bola basket.
Duk… Duk… Duk…
Pelan dan teratur, seperti seseorang sedang melakukan dribble santai di dalam gym.
Refleks Theo langsung menoleh ke arah pintu besar lapangan basket yang berdiri beberapa meter di ujung lorong. Lampu di atas pintu berkedip samar dan bayangan tipis terlihat bergerak di balik kaca kecilnya.
Untuk beberapa detik Theo hanya diam sambil mencoba berpikir logis.
Mungkin ada siswa lain.
Mungkin ada orang yang terjebak juga.
Atau mungkin…
Ia langsung memotong pikirannya sendiri sebelum terlalu jauh.
Karena setelah semua yang baru saja mereka alami, Theo sadar tempat ini sudah tidak bisa dijelaskan dengan logika biasa.
Namun anehnya, rasa penasaran perlahan mulai muncul di kepalanya.
Dan rasa penasaran itu terasa jauh lebih besar dibanding takut.
Duk… Duk…
Suara bola basket kembali terdengar.
Kali ini sedikit lebih cepat.
Theo akhirnya berjalan mendekat ke pintu gym sambil menggenggam ponselnya lebih erat. Cahaya senter kecil di tangannya terus bergerak menyapu lorong yang terasa semakin dingin setiap langkah.
Dan tepat saat ia sampai di depan pintu gym, suara dribble itu mendadak berhenti.
Sunyi.
Theo menarik nafas kecil sebelum akhirnya mendorong pintu tersebut perlahan.
Krieeet.
Suara engsel tua langsung menggema panjang di seluruh ruangan gym.
Langkah Theo langsung berhenti.
Lapangan basket indoor itu kosong.
Lampu di atas lapangan hanya menyala sebagian sehingga seluruh ruangan terlihat redup dengan bayangan panjang di berbagai sisi tribun. Pantulan cahaya samar dari luar membuat lantai kayu lapangan terlihat sedikit basah seperti habis terkena hujan.
Namun yang paling membuat Theo tidak nyaman adalah bola basket yang terus memantul sendiri di tengah lapangan.
Duk… Duk… Duk…
Tidak cepat dan tidak lambat.
Hanya memantul pelan tanpa ada siapa pun di dekatnya.
Theo berdiri diam beberapa detik sambil menatap bola tersebut.
“…oke. Aku resmi males.”
Biasanya dalam situasi aneh apa pun Theo masih bisa bercanda kecil untuk menenangkan kepalanya sendiri. Namun kali ini bahkan suaranya terdengar asing di dalam gym yang terlalu sunyi itu.
Ia akhirnya melangkah masuk perlahan ke dalam lapangan.
Dan tepat saat itu, suara peluit pertandingan terdengar nyaring dari sisi tribun.
Piiiiiit!
Theo langsung menoleh cepat.
Kosong.
Tidak ada siapa-siapa.
Namun beberapa detik kemudian, suara langkah sepatu basket mulai terdengar samar mengelilingi lapangan.
Tak. Tak. Tak.
Cepat.
Seperti ada banyak pemain sedang berlari di sekitar dirinya.
Bulu kuduk Theo langsung berdiri.
Karena suara itu terdengar sangat nyata.
Namun lapangan di depannya tetap kosong.
Tidak ada pemain.
Tidak ada penonton.
Tidak ada siapa-siapa.
Hanya suara pertandingan yang terus menggema di gym gelap tersebut.
Dan di tengah semua suara itu, Theo perlahan menyadari ada seseorang duduk di tribun paling atas.
Siluet hitam samar yang hampir menyatu dengan gelap.
Namun cukup jelas untuk membuat tubuh Theo langsung menegang.