CHAINS : The Fragments

Lyneetra
Chapter #1

Vol 1 : Lyara and the Soundless Rain Extended

Hai… nama aku Lyara.

Kalau dipikir sekarang, semuanya sebenarnya berubah terlalu pelan sampai aku sendiri nggak sadar kapan tepatnya rasa normal mulai hilang dari hidupku.

Awalnya biasa saja.

Aku masih sekolah seperti anak lain. Masih latihan vokal hampir setiap sore, masih ribut soal tugas, dan masih punya kebiasaan bikin catatan lirik random di ponsel tiap kepikiran melodi baru. Aku suka musik karena musik selalu terasa jujur. Kadang orang bisa bohong lewat kata-kata, tapi nada hampir selalu menyimpan sesuatu yang nggak sempat mereka ucapkan.

Waktu itu aku pikir hidupku bakal tetap sederhana seperti itu.

Lulus sekolah.

Masuk jurusan musik.

Lalu pelan-pelan mengejar mimpi yang bahkan belum punya bentuk jelas.

Impian biasa untuk anak seusiaku.

Dan mungkin karena itu… aku nggak pernah siap waktu semuanya mulai berubah.

Sebelum pindah ke Asterveil, aku tinggal di kota yang jauh lebih ramai dari sini. Lampunya terang bahkan tengah malam, jalanan hampir nggak pernah sepi, dan hujan selalu datang bersama suara kendaraan yang terus bergerak tanpa henti.

Aku cukup dikenal di sekolah lama.

Bukan karena populer atau apa.

Orang-orang cuma tahu kalau aku sering nyanyi.

Kadang tampil di festival sekolah.

Kadang diminta isi acara kecil.

Kadang cuma duduk di ruang musik sampai sore sambil mencoba menyusun lagu yang nggak pernah selesai.

Dan jujur aja…

aku suka hidupku waktu itu.

Sampai malam itu datang.

Hujan turun cukup deras malam itu. Aku pulang latihan lebih telat dari biasanya dan akhirnya memutuskan naik kereta karena jalanan macet total. Gerbong malam tidak terlalu penuh, jadi aku duduk dekat jendela sambil memasang earphone dan memutar draft lagu yang belum selesai.

Aku masih ingat suasananya.

Lampu gerbong redup.

Kaca jendela dipenuhi garis air hujan.

Orang-orang terlihat sibuk dengan dunia mereka sendiri.

Ada yang tidur sambil menyender ke kaca. Ada yang main ponsel tanpa ekspresi. Ada juga yang cuma melamun melihat keluar dengan tatapan kosong seperti lupa harus turun di mana.

Semuanya terasa biasa.

Sampai suara hujan tiba-tiba menghilang.

Bukan berhenti.

Hujannya masih turun di luar.

Aku bisa melihat air bergerak di kaca.

Tapi suaranya…

hilang.

Aku langsung sadar karena perubahan itu terlalu mendadak. Bahkan musik di earphone-ku mendadak terasa aneh karena suasana di sekitar berubah terlalu sunyi.

Aku melepas salah satu earphone pelan.

Tetap tidak ada suara hujan.

Tidak ada suara roda kereta.

Tidak ada suara percakapan.

Dan anehnya, tidak ada satu pun orang di gerbong yang terlihat sadar.

Mereka tetap diam.

Tetap bergerak seperti biasa.

Seolah cuma aku yang menyadari ada sesuatu berubah.

Aku mulai merasa nggak nyaman waktu itu.

Bukan takut.

Lebih seperti perasaan kalau ada sesuatu yang salah… tapi aku belum tahu apa.

Lalu aku melihat ke jendela.

Dan di situlah semuanya dimulai.

Pantulanku di kaca bergerak terlambat.

Kecil sekali.

Hampir nggak kelihatan.

Tapi aku lihat.

Aku yakin.

Lihat selengkapnya