CHAINS : The Fragments

Lyneetra
Chapter #3

Vol. 3 : The Girl Who Wasn't Missing Yet

Namaku Mireya Valen. Aku berumur tujuh belas tahun, kelas dua, dan kalau ada yang bertanya seperti apa hidupku sebelum semua ini terjadi, mungkin jawabannya akan terdengar mengecewakan. Tidak ada hal besar yang bisa diceritakan. Aku bukan murid terkenal, bukan ketua klub, bukan juga seseorang yang sering dipanggil guru karena prestasi luar biasa.

Aku hanya salah satu dari sekian banyak murid yang datang pagi-pagi sambil mengantuk, duduk di kelas sampai sore, lalu pulang sambil memikirkan tugas yang belum selesai.

Dan aku menyukai hidup seperti itu. Aku biasa bangun pukul enam lewat sepuluh karena alarm pertama hampir selalu kumatikan tanpa sadar. Ibuku akan mengetuk pintu sekitar sepuluh menit kemudian sambil mengingatkan kalau aku bakal terlambat lagi, lalu aku turun dengan rambut yang belum benar-benar rapi dan sepotong roti yang biasanya baru habis ketika sudah sampai dekat halte. Setiap pagi hampir selalu sama. Aku naik bus yang sama, turun dua blok dari sekolah, lalu membeli kopi susu dari Vending Machine di depan minimarket karena rasanya lebih murah daripada membeli kopi sungguhan. Kadang aku bertemu Hana di persimpangan. Kalau dia datang lebih dulu, dia akan menungguku sambil bermain ponsel. Kalau aku datang lebih dulu, aku biasanya tetap berjalan karena dia selalu berhasil menyusul.

Hana sudah mengenalku sejak tahun pertama. Dia orang yang gampang bicara dengan siapa saja, sementara aku membutuhkan waktu cukup lama untuk nyaman dengan orang baru. Entah bagaimana, kombinasi itu justru membuat kami cocok.

Pagi itu dia menyusul ketika aku baru melewati gerbang.

“Mireya!”

Aku menoleh dan melihatnya berlari kecil dari belakang sambil memegang tas yang resleting depannya masih terbuka. “Pelan-pelan. Barang-barangmu nanti jatuh.”

Hana langsung melihat tasnya sendiri dan buru-buru menutup resleting. “Pantes dari tadi rasanya ringan.”

“Kalau dompetmu hilang lagi, aku nggak mau ikut nyari.”

“Yang kemarin bukan hilang. Aku lupa naruh.”

“Di toilet lantai tiga.”

“Makanya ketemu.”

Aku tertawa kecil sambil melanjutkan tujuan. Hana segera berjalan di sampingku dan mulai bercerita tentang tugas sejarah yang baru dia kerjakan setengah sebelum tidur. Aku mendengarkan sambil sesekali menanggapi, meski pikiranku sebenarnya masih tertinggal pada presentasi kelompok yang harus dikumpulkan siang nanti.

Lorong sekolah ramai seperti biasanya. Beberapa siswa berlari karena bel hampir berbunyi, suara kursi bergeser terdengar dari kelas-kelas yang kami lewati, dan seorang guru berdiri dekat tangga sambil menyuruh dua anak kelas satu memasukkan ponsel mereka ke tas.

Aku masuk ke kelas bersama Hana beberapa menit sebelum pelajaran dimulai.

Mejaku berada di baris dekat jendela, dua kursi dari belakang.

Aku suka tempat itu karena bisa melihat halaman samping sekolah tanpa harus memutar badan. Ada beberapa pohon tua di luar sana, lalu pagar besi dan gedung lain yang bagian atapnya terlihat di antara cabang. Kalau pelajaran terlalu membosankan, biasanya aku akan melihat orang-orang lewat di bawah sambil menebak mereka sedang menuju mana.

Hari itu hujan mulai turun sekitar jam kedua.

Awalnya hanya gerimis kecil yang membuat kaca jendela dipenuhi titik air. Menjelang istirahat, langit sudah berubah kelabu dan halaman sekolah mulai kosong karena hampir semua orang memilih berada di dalam gedung.

Aku sedang menyalin sesuatu dari papan ketika pulpenku jatuh.

Benda itu menggelinding ke bawah meja Hana.

“Hana, ambilin.”

Hana yang sedang membuka bungkus permen menunduk sebentar. “Apa?”

“Pulpennya. Dekat kakimu.”

Dia melihat ke bawah, menemukan pulpen itu, lalu mengambilnya.

“Astaga. Ambil sendiri, Nona.”

“Jauh.”

“Setengah meter.”

“Makanya aku minta tolong.”

Hana meletakkan pulpen itu di mejaku sambil mendecakkan lidah, tetapi senyumnya muncul beberapa detik kemudian. Aku kembali menulis dan melupakan percakapan itu begitu saja.

Sekarang, kalau kupikir lagi, mungkin itulah terakhir kalinya semuanya benar-benar terasa normal.

Perubahan pertama terjadi saat makan siang.

Aku dan Hana biasanya makan di ujung kantin dekat jendela karena meja di sana sedikit lebih sepi. Hari itu aku datang lebih dulu setelah membeli mi kuah, kemudian meletakkan tasku di kursi sebelah untuk menandai tempat Hana.

Aku baru makan beberapa suap ketika melihatnya masuk bersama dua teman sekelas kami.

“Hana!”

Aku mengangkat tangan.

Dia terus berjalan.

Kupikir dia tidak mendengar karena kantin memang ramai, jadi aku memanggil sekali lagi.

“Hana, sini!”

Kali ini salah satu temannya sempat melihat ke arahku.

Tatapan kami bertemu.

Namun ekspresinya aneh.

Bukan seperti orang yang mengenaliku.

Dia hanya melihat beberapa detik, kemudian kembali berbicara dengan Hana.

Mereka memilih meja lain.

Aku menatap mereka cukup lama sambil memegang sendok di atas mangkuk. Perasaan kesal sempat muncul karena kukira Hana sengaja mengabaikanku. Aku bahkan sudah mengambil ponsel untuk mengirim pesan ketika seseorang berhenti di samping meja.

“Ini kosong?”

Aku mendongak.

Seorang siswi kelas lain menunjuk kursi tempat tasku berada.

“Ada temanku.”

“Oh.”

Dia pergi tanpa mempermasalahkannya.

Aku membuka percakapan dengan Hana.

Aku di tempat biasa.

Pesan terkirim.

Tidak dibaca.

Aku menunggu sekitar dua menit sebelum mengirim lagi.

Han?

Masih tidak dibaca.

Akhirnya aku membawa mangkukku ke meja mereka.

Hana sedang tertawa ketika aku sampai.

Aku menarik kursi kosong di sebelahnya.

“Kamu kenapa?”

Hana berhenti tertawa.

Dua orang lain ikut melihatku.

“Apa?”

“Kupanggil dari tadi.”

Wajah Hana berubah bingung. “Kamu manggil aku?”

Aku menatapnya beberapa detik, mencoba memastikan dia sedang bercanda. “Dua kali.”

“Oh.”

Dia mengerutkan dahi kecil.

“Maaf. Aku nggak dengar.”

Jawaban itu sebenarnya masuk akal. Kantin ramai, hujan semakin deras di luar, dan suara puluhan orang bercampur menjadi satu.

Jadi aku duduk dan mulai makan bersama mereka.

Lima menit kemudian aku sudah melupakannya.

Sampai sesuatu yang hampir sama terjadi lagi di kelas.

Guru matematika sedang mengembalikan hasil kuis minggu sebelumnya. Namaku biasanya berada di bagian tengah karena kertas dibagikan berdasarkan nomor absen.

Satu demi satu nama dipanggil.

Ketika hampir sampai pada nomorku, aku sudah menutup buku.

“Hanako Moriyama.”

Hana maju.

“Ilven Rossa.”

Nomor setelahku.

Aku menunggu.

Guru terus memanggil nama berikutnya.

Aku mengangkat tangan. “Pak, punya saya belum.”

Guru berhenti dan melihat tumpukan kertasnya.

“Namamu?”

Aku sempat mengira dia bercanda.

“Mireya.”

Dia masih menunggu.

“Mireya Valen, Pak.”

Guru melihat daftar di meja.

Jarinya bergerak turun perlahan.

Kemudian naik lagi.

“Valen?”

“Iya.”

Dia memeriksa daftar sekali lagi sebelum melihatku. “Kamu kelas ini?”

Beberapa anak tertawa.

Aku ikut tersenyum karena pertanyaannya terdengar terlalu absurd untuk dianggap serius.

“Sejak tahun lalu, Pak.”

Tawa kecil kembali terdengar.

Guru itu tampak semakin bingung.

Hana yang duduk di sebelahku akhirnya ikut bicara. “Pak, Mireya nomor absen empat belas.”

Guru kembali melihat daftar.

Ekspresinya berubah.

“Nomor empat belas Ilven.”

Kali ini tidak ada yang tertawa.

Aku menoleh ke Hana.

Dia ikut mengernyit.

“Bentar.”

Hana mengambil ponselnya dan membuka foto daftar kelompok yang pernah kami simpan beberapa minggu sebelumnya. Aku mendekat untuk melihat layar.

Nomor tiga belas.

Hana Moriyama.

Di bawahnya langsung tertulis:

Nomor empat belas.

Ilven Rossa.

Aku membaca daftar itu dua kali.

“Ini foto kapan?”

“Bulan lalu.”

“Nggak mungkin.”

“Aku juga ingat nomor kamu empat belas.”

Guru matematika akhirnya menemukan selembar kertas terselip di antara hasil kuis lain.

Namaku tertulis jelas di bagian atas.

Mireya Valen.

Nilai 82.

Dia memandang kertas itu, kemudian kembali melihat daftar absensi.

“Mungkin ada kesalahan data.”

Aku menerima kertas tersebut sambil tertawa kecil karena tidak tahu harus bereaksi bagaimana.

“Bisa nama orang hilang dari daftar gitu aja?”

“Besok coba cek administrasi.”

Pelajaran kembali berjalan.

Aku mencoba melakukan hal yang sama.

Namun selama hampir setengah jam berikutnya, pandanganku terus kembali pada nama yang kutulis sendiri di sudut buku.

Mireya Valen.

Tulisan itu tetap ada.

Aku menyentuhnya dengan ujung jari, merasa sedikit bodoh karena melakukan hal tersebut.

Hanya kesalahan data.

Mungkin sistem sekolah sedang bermasalah.

Mungkin seseorang salah mengubah daftar.

Ada banyak penjelasan sederhana.

Ketika bel pulang berbunyi, aku bahkan sudah berhasil meyakinkan diri kalau besok semuanya pasti selesai setelah bicara dengan bagian administrasi.

Hujan masih turun saat aku dan Hana berjalan menuju gerbang.

“Aku ikut besok kalau mau ke admin,” katanya.

“Buat apa?”

“Biar ada saksi kalau kamu memang manusia.”

Aku tertawa. “Makasih banget.”

“Kalau ternyata kamu hantu, kabarin dulu. Aku belum siap punya teman hantu.”

“Kalau aku hantu, orang pertama yang kuganggu kamu.”

“Kenapa aku?”

“Karena kamu berisik.”

Kami berpisah di persimpangan seperti biasa.

Aku berjalan sendiri menuju halte.

Hujan membuat jalanan lebih gelap dari seharusnya meski hari belum terlalu sore. Lampu toko mulai menyala satu per satu, kendaraan bergerak pelan melewati genangan, dan suara air dari talang bangunan bercampur dengan deru mesin.

Bus datang beberapa menit kemudian.

Aku naik, membayar seperti biasa, lalu memilih kursi dekat tengah.

Perjalanan pulang memakan waktu sekitar dua puluh menit.

Aku menghabiskannya dengan membaca pesan.

Hana akhirnya membalas pesan makan siangku.

Sumpah tadi aku beneran nggak denger.

Aku mengetik:

udah santai aja

Lalu menambahkan:

besok jangan lupa admin

Pesanku terkirim.

Aku memasukkan ponsel ke saku.

Beberapa halte kemudian, aku turun.

Rumahku hanya sekitar lima menit berjalan kaki dari sana. Lingkungan sudah cukup sepi karena hujan semakin deras. Aku berlari kecil melewati dua rumah tetangga, membuka pagar, lalu langsung menuju teras.

Lampu ruang tamu menyala.

Aku mengeluarkan kunci.

Sebelum sempat memasukkannya ke lubang pintu, pintu terbuka dari dalam.

Ibuku berdiri di sana.

Aku tersenyum.

“Hujannya makin deres.”

Namun Ibu tidak menjawab.

Dia hanya berdiri sambil memegang gagang pintu.

Aku memperhatikan wajahnya.

“Ibu?”

Tatapannya berhenti tepat padaku.

Untuk beberapa detik, aku merasa lega.

Lalu perlahan alisnya mengernyit.

Dan sesuatu di dalam dadaku langsung terasa salah.

“Maaf…”

Suara Ibu terdengar hati-hati.

Tangannya masih memegang pintu.

“Kamu cari siapa?”

Aku tertawa kecil karena refleks.

“Ibu apaan, sih?”

Ekspresinya tidak berubah.

Aku berhenti tersenyum.

“Ibu?”

Dia memandang seragam sekolahku, wajahku, kemudian tas di pundakku seperti sedang mencoba mencari sesuatu yang dikenalnya.

Aku tidak tahu berapa lama kami berdiri seperti itu.

Mungkin hanya beberapa detik.

Namun rasanya jauh lebih lama.

“Ibu, ini aku.”

Mulutku mulai terasa kering.

“Mireya.”

Tatapan Ibu berubah sedikit.

Namaku seolah menyentuh sesuatu di dalam ingatannya.

“Mireya…?”

“Iya.”

Aku segera tersenyum lagi, meski kali ini rasanya sulit.

“Mireya. Anak Ibu.”

Wajahnya memucat.

Aku melihat matanya bergerak cepat, seakan sedang berusaha mengingat sesuatu yang seharusnya tidak perlu diingat.

Kemudian terdengar suara dari ruang tengah.

“Ada siapa?”

Suara Ayah.

Ibu masih menatapku.

Bibirnya terbuka, tetapi tidak langsung menjawab.

Aku berdiri di bawah hujan yang mulai membasahi bagian belakang seragamku.

Dan untuk pertama kalinya hari itu, aku benar-benar merasa takut.

Melainkan karena perempuan yang sudah mengenalku sejak aku lahir sedang berdiri kurang dari satu meter di depanku sambil berusaha keras mengingat apakah dia pernah mempunyai anak bernama Mireya.

Ibu masih berdiri di ambang pintu ketika Ayah muncul dari ruang tengah. Ia berjalan mendekat sambil membawa cangkir, lalu berhenti beberapa langkah di belakang Ibu setelah melihatku berdiri di teras dalam keadaan basah.

“Ada apa?”

Ibu menggeleng kecil. “Aku nggak tahu. Katanya dia…”

Tatapannya kembali kepadaku.

“Mireya.”

Aku hampir menjawab untuknya. Namaku terasa aneh ketika keluar dari mulut Ibu dengan nada seperti itu, seolah ia baru saja membaca nama tersebut dari sebuah kertas dan sedang mencoba memastikan cara mengucapkannya.

Ayah melihatku lebih lama. Aku menunggu sesuatu muncul di wajahnya, sedikit saja tanda kalau keadaan ini hanya salah paham yang kelewat jauh. Namun yang kutemukan justru kebingungan yang sama.

“Teman sekolah siapa?” tanyanya.

Dadaku terasa semakin sesak.

“Ayah.”

Ia sedikit mengernyit.

Aku melangkah mendekat, tetapi Ibu refleks menarik pintu beberapa sentimeter. Gerakan kecil itu langsung menghentikanku.

Aku mengenal rumah ini. Aku tahu lantai dekat pintu masuk akan berbunyi kalau diinjak terlalu keras. Aku tahu sakelar lampu dapur kadang harus ditekan dua kali. Aku tahu Ayah selalu meninggalkan cangkir di meja ruang tengah meski Ibu berkali-kali menyuruhnya membawa sendiri ke wastafel. Bahkan cangkir yang sedang dipegangnya sekarang adalah cangkir biru tua yang kubelikan saat ulang tahunnya tahun lalu.

Aku tahu semuanya.

Mereka justru tidak tahu siapa aku.

“Aku tinggal di sini,” kataku akhirnya.

Ayah dan Ibu saling memandang.

Aku menunjuk ke lantai atas yang terlihat dari balik bahu mereka. “Kamarku di atas. Sebelah kanan setelah tangga. Pintunya putih, ada bekas stiker bintang dekat gagang karena dulu aku tempel waktu SMP. Meja belajarku di bawah jendela. Lemari sebelah kiri pintu. Aku tinggal di sini sejak kecil.”

“Mireya…”

Suara Ibu terdengar lebih pelan sekarang.

Ada perubahan kecil pada ekspresinya. Aku melihatnya jelas. Kebingungan itu sempat tergantikan oleh sesuatu yang menyerupai rasa takut, bukan kepadaku, melainkan pada kemungkinan bahwa perkataanku benar.

Aku segera membuka dompet.

Tanganku gemetar ketika menarik kartu pelajar dari dalamnya.

“Nih.”

Aku menyerahkannya kepada Ibu.

Dia ragu sebelum mengambil.

Nama lengkapku masih tercetak di sana.

MIREYA VALEN.

Foto wajahku berada tepat di sebelahnya.

Aku menunjuk nama belakang itu. “Valen. Sama kayak Ayah.”

Ayah mengambil kartu tersebut dari tangan Ibu. Ia membacanya beberapa kali, lalu memeriksa foto dan kembali melihat wajahku.

“Aneh,” gumamnya.

“Apa yang aneh?”

“Alamatnya.”

Aku langsung menatap bagian bawah kartu.

Alamat rumah ini masih tercetak dengan jelas.

Nomor rumah.

Nama jalan.

Distrik.

Semuanya benar.

“Ya karena aku tinggal di sini.”

Ayah tidak menjawab. Ia mengambil ponsel dari saku dan mulai melakukan sesuatu. Aku sudah tahu apa yang mungkin sedang ia cari sebelum layar itu akhirnya diarahkan kepadaku.

Foto keluarga.

Foto lama saat kami pergi ke pantai dua tahun lalu.

Aku mengenali tempatnya. Mengenali pakaian Ibu. Mengenali jaket Ayah. Bahkan aku ingat hari itu karena kami sempat bertengkar kecil gara-gara aku lupa membawa charger.

Namun dalam foto tersebut hanya ada dua orang.

Ayah dan Ibu.

Ruang tempat aku seharusnya berdiri di antara mereka kosong.

Aku mengambil ponsel itu begitu cepat sampai Ayah hampir menjatuhkan cangkirnya.

“Bukan ini.”

Aku menggeser layar.

Foto berikutnya.

Makan malam ulang tahun Ibu.

Hanya mereka berdua.

Foto tahun baru.

Mereka berdua.

Foto depan rumah.

Mereka berdua.

Aku terus menggeser sampai jari-jariku mulai terasa dingin.

“Mana aku?”

Tidak ada yang menjawab.

“Mana fotoku?”

Aku membuka galeri lebih jauh. Ratusan foto tersimpan di sana, termasuk beberapa yang kuingat pernah kuambil sendiri. Namun setiap gambar yang seharusnya memuat diriku telah berubah menjadi versi yang tidak pernah kuingat.

Kadang ruang tempatku berdiri kosong. Kadang komposisinya berbeda sepenuhnya, seolah sejak awal hanya ada dua orang yang berpose.

Aku berhenti pada satu foto ulang tahunku yang ketujuh belas.

Setidaknya seharusnya begitu.

Aku ingat kuenya. Cokelat dengan hiasan stroberi karena Ibu salah memesan rasa dan aku menggodanya hampir seminggu.

Foto yang kulihat sekarang memperlihatkan kue yang sama di atas meja.

Tidak ada lilin angka tujuh belas.

Tidak ada aku.

Ayah dan Ibu duduk di belakangnya sambil tersenyum.

Aku menyerahkan ponsel itu kembali tanpa berkata apa-apa.

Ibu masih memegang kartu pelajarku.

“Mungkin kita sebaiknya telepon sekolahmu,” katanya.

Aku menatapnya.

Ada jarak dalam satu kata sederhana itu yang membuatku akhirnya memahami bahwa aku tidak bisa terus berdiri di teras dan berharap ingatan mereka tiba-tiba kembali.

“Aku boleh masuk?”

Pertanyaanku membuat keduanya terdiam.

Aku hampir tertawa karena absurditasnya. Selama tujuh belas tahun aku tidak pernah meminta izin untuk masuk ke rumah sendiri.

Ibu akhirnya membuka pintu lebih lebar.

“Masuk dulu. Kamu basah.”

Aku melewati mereka dan langsung disambut aroma rumah yang sangat kukenal. Sabun lantai, masakan dari dapur, sedikit aroma kopi dari cangkir Ayah. Sepatuku bahkan masih berada di rak bawah, pasangan putih yang jarang kupakai karena bagian belakangnya membuat kakiku lecet.

Aku menunjuknya.

“Itu punyaku.”

Ibu melihat rak tersebut.

“Sepatu itu…”

Dia terdiam.

“Aku nggak ingat beli itu.”

Aku berjongkok dan mengambilnya. Ukurannya pas dengan kakiku.

Ayah mulai terlihat semakin tidak nyaman.

Aku langsung menuju tangga.

“Mireya, tunggu.”

Aku tidak berhenti.

Aku menaiki anak tangga dua sekaligus sampai mencapai lantai atas, berbelok ke kanan, lalu berhenti.

Ada pintu putih di sana.

Bekas stiker bintang masih terlihat dekat gagangnya.

Aku membukanya.

Kamarku masih ada.

Tempat tidur.

Meja.

Rak buku.

Lampu kecil berbentuk bulan yang kubeli saat kelas satu.

Tas lama.

Kotak berisi tiket bioskop.

Semua berada di tempatnya.

Aku masuk dan membuka lemari.

Seragam.

Jaket.

Pakaian.

Semuanya masih ada.

“Mireya…”

Ibu berdiri di pintu.

Aku mengambil sebuah sweater dan memperlihatkannya.

“Ini punya siapa?”

Ibu tidak menjawab.

Aku membuka laci meja dan mengeluarkan buku catatan lama. Namaku tertulis di halaman pertama.

Mireya Valen.

Aku membuka halaman lain.

Tulisan tanganku.

Catatan pelajaran.

Daftar hal yang harus kubeli.

Coretan bodoh yang kubuat ketika bosan.

Semuanya masih ada.

“Kalau aku nggak tinggal di sini, semua ini punya siapa?”

Ibu memandang seluruh kamar seperti baru pertama kali melihatnya.

“Aku…”

Dia memegang pelipis.

“Aku nggak tahu.”

Ayah menyusul dan berhenti di belakangnya.

“Kamar ini selama ini…”

Kalimatnya terputus.

Aku menunggu.

“Kamar ini apa?”

Ayah melihat tempat tidurku.

“Kupikir kosong.”

Aku tertawa kecil, tetapi suaranya langsung pecah sebelum benar-benar terdengar seperti tawa.

“Kosong gimana? Kalian tiap hari lewat sini.”

“Aku tahu.”

“Terus?”

“Aku nggak tahu.”

Aku mulai marah.

Bukan kepada mereka. Aku tahu dari wajah mereka kalau mereka tidak sedang berpura-pura. Namun justru itu yang membuat semuanya semakin sulit diterima.

“Kemarin aku makan malam sama kalian.”

Ibu menatapku.

“Kemarin kita makan sup. Ayah bilang terlalu asin, terus Ibu marah karena katanya kalau nggak suka masak sendiri. Aku duduk di sana sampai hampir jam sembilan karena kita nonton acara kuis yang Ayah suka.”

Ayah terlihat terguncang.

Ia menatap Ibu.

“Kita memang makan sup.”

“Nah.”

“Tapi…”

Ayah memejamkan mata sejenak.

“Aku cuma ingat kita berdua.”

Aku ingin membantah lagi, tetapi sesuatu di luar jendela menarik perhatianku.

Hujan masih turun.

Titik-titik air bergerak sepanjang kaca, membentuk aliran tipis yang membelok ketika bertemu satu sama lain.

Pantulanku terlihat di sana.

Aku berdiri di tengah kamar dengan seragam basah dan rambut menempel di sisi wajah.

Ibu ada di belakangku.

Ayah di sebelahnya.

Aku memandang pantulan kami bertiga.

Lalu Ibu bergerak.

Pantulannya ikut bergerak.

Ayah mengangkat tangan untuk menyentuh bahu Ibu.

Pantulannya melakukan hal yang sama.

Aku mengangkat tangan.

Pantulanku diam.

Napas tertahan di tenggorokanku.

Tanganku masih terangkat ketika aku melihat gadis di dalam kaca tetap berdiri dengan kedua tangan di sisi tubuh.

“Mireya?”

Aku mendengar Ibu memanggil dari belakang.

Pantulan itu akhirnya mengangkat tangannya.

Terlambat.

Mungkin satu detik.

Mungkin kurang.

Namun aku melihatnya.

Aku mundur dari jendela.

“Ada apa?” tanya Ayah.

Aku tidak menjawab.

Pantulanku kembali mengikuti gerakanku dengan sempurna.

Aku mengambil ponsel dan langsung membuka percakapan dengan Hana.

Han.

Terkirim.

tolong jawab

Terkirim.

Aku menunggu sambil memandangi layar.

Beberapa detik kemudian tanda dibaca muncul.

Dadaku sedikit lega.

Kemudian Hana membalas.

siapa ya?

Aku membaca pesan itu berkali-kali.

Nama kontak di bagian atas percakapan masih Hana.

Riwayat percakapan kami masih ada. Pesan tentang tugas, foto makanan, keluhan sekolah, candaan tidak penting selama hampir dua tahun.

Aku mengetik cepat.

ini mireya

Tiga titik muncul.

Menghilang.

Muncul lagi.

mireya siapa?

Aku menekan tombol panggilan.

Hana mengangkat setelah beberapa detik.

“Halo?”

“Han.”

Sunyi sejenak.

“Ini siapa?”

“Hana, jangan bercanda sekarang.”

“Aku nggak bercanda.”

Suaranya terdengar waspada.

Aku berjalan ke meja dan memegang tepinya agar tanganku berhenti gemetar.

“Kita tadi pulang bareng.”

“Maaf?”

“Kamu bilang besok mau nemenin aku ke administrasi karena namaku hilang dari daftar.”

Hana terdiam.

Aku bisa mendengar suara televisi dari tempatnya.

“Kamu tahu namaku dari mana?”

Aku tidak mampu menjawab.

“Halo?”

Aku menutup telepon.

Ada sesuatu yang berubah.

Bukan orang-orangnya.

Bukan ingatan satu orang.

Sesuatu sedang menghapus keberadaanku dari tempat-tempat yang seharusnya membuktikan aku pernah ada, tetapi prosesnya belum selesai.

Kamarku masih ada.

Pakaianku masih ada.

Kartu pelajarku masih ada.

Pesan-pesanku masih ada.

Mereka hanya kehilangan hubungan antara semua benda itu dan diriku.

Seperti seseorang sedang mencabut namaku dari dunia sedikit demi sedikit.

Aku kembali melihat jendela.

Hujan di luar semakin deras.

Pantulanku masih ada.

Kali ini aku tidak bergerak.

Aku hanya menatapnya.

Gadis di dalam kaca juga menatapku.

Kami berdiri saling berhadapan cukup lama sampai aku mulai merasa bodoh karena menunggu sesuatu terjadi.

Kemudian terdengar suara Ibu dari belakang.

“Kita bisa cari bantuan. Besok kita ke sekolah bersama.”

Aku menoleh kepadanya.

Saat itulah sesuatu yang jauh lebih buruk terjadi.

Ekspresi Ibu berubah.

Aku melihat kebingungan kembali memenuhi wajahnya, tetapi kali ini lebih cepat daripada sebelumnya.

Tatapannya turun ke seragamku, lalu kembali ke wajahku.

Ia mundur setengah langkah.

“Maaf…”

Aku sudah tahu apa yang akan keluar dari mulutnya.

Namun tetap saja aku berharap salah.

Ibu menatap Ayah.

Kemudian menunjuk ke arahku.

“Dia siapa?”

Ayah tidak menjawab.

Wajahnya menunjukkan kebingungan yang sama.

Kartu pelajarku masih berada di tangan Ibu.

Ia melihat kartu itu.

Melihat namaku.

Kemudian kembali melihatku seolah kedua hal tersebut sama sekali tidak berhubungan.

Aku tidak mengatakan apa-apa lagi.

Aku hanya berdiri di kamar yang penuh dengan bukti bahwa aku pernah hidup di sana, sementara kedua orang tuaku melupakanku untuk kedua kalinya dalam waktu kurang dari sepuluh menit.

Dan di belakang mereka, pantulanku pada kaca jendela perlahan tersenyum.

Aku tetap berdiri di dekat meja sambil memperhatikan kedua orang tuaku yang kini kembali memandangku sebagai orang asing. Perbedaannya kali ini jauh lebih menyakitkan karena aku baru saja melihat Ibu mengingatku beberapa menit sebelumnya. Ingatan itu sempat kembali, cukup lama untuk membuatnya mengucapkan namaku dengan benar dan menawarkan bantuan, lalu menghilang begitu saja seolah seseorang baru saja menarik sesuatu dari kepalanya.

Ibu menunduk pada kartu pelajar yang masih berada di tangannya. “Mireya Valen,” bacanya pelan sebelum melihat Ayah. “Alamatnya rumah kita.”

Ayah mendekat dan mengambil kartu tersebut. Wajahnya masih menunjukkan kebingungan, tetapi sekarang ada kewaspadaan yang sebelumnya belum terlihat. “Dan kamar ini penuh barang yang sepertinya punya dia.”

“Sepertinya?” Aku menahan suaraku agar tidak meninggi. “Semua ini memang punyaku. Kalian baru saja percaya beberapa menit lalu.”

Keduanya menatapku.

“Beberapa menit lalu?” tanya Ayah.

Aku hampir menjawab dengan marah, tetapi kata-kataku tertahan ketika menyadari mereka benar-benar tidak ingat. Menjelaskan semuanya dari awal mungkin hanya akan membawa kami kembali ke tempat yang sama. Aku akhirnya mengambil buku catatan dari meja, membuka halaman pertama, lalu memperlihatkan namaku yang tertulis di sana. “Aku sudah tinggal di rumah ini tujuh belas tahun. Kamar ini kamarku. Baju di lemari ukuranku. Foto-foto di meja itu kuambil sendiri. Kalau kalian lupa lagi setelah aku jelasin, aku bahkan nggak tahu harus mulai dari mana.”

Ibu memandangku cukup lama. Tatapannya masih asing, tetapi ada rasa iba yang perlahan muncul di sana. Entah kenapa, itu terasa lebih buruk daripada kebingungannya. Aku tidak ingin dikasihani oleh ibuku sendiri.

Aku memalingkan wajah ke jendela.

Pantulan di sana sudah kembali normal. Gadis yang beberapa saat lalu tersenyum sendiri kini hanya mengikuti gerakanku seperti pantulan seharusnya. Aku mencoba menggerakkan tangan, memiringkan kepala, kemudian melangkah sedikit ke samping. Semuanya tepat.

Mungkin aku salah lihat.

Pikiran itu hanya bertahan sampai aku menyadari sesuatu di dalam pantulan.

Pintu kamar terlihat terbuka di belakangku. Ibu dan Ayah berdiri di sana, persis seperti keadaan sebenarnya. Lorong lantai dua terlihat melewati bahu mereka.

Namun di ujung lorong dalam pantulan kaca, ada seseorang berdiri.

Aku langsung menoleh.

Lorong kosong.

Ketika aku kembali melihat kaca, sosok itu masih ada.

Tubuhnya tampak seperti seorang siswi dengan seragam yang sama denganku. Rambut panjang menutupi sebagian wajahnya, sementara kepalanya sedikit menunduk. Jaraknya cukup jauh sehingga aku tidak bisa mengenali siapa dia.

“Ibu,” panggilku sambil tetap menatap kaca. “Di belakang kalian ada siapa?”

Ibu refleks menoleh ke lorong. “Nggak ada siapa-siapa.”

Aku sudah tahu.

Sosok dalam pantulan mulai mengangkat kepala.

Aku mundur satu langkah.

Ayah memperhatikan reaksiku. “Kamu lihat sesuatu?”

Pertanyaannya membuatku menoleh kepadanya, tetapi sebelum sempat menjawab, lampu kamar berkedip. Hanya sekali. Ketika pandanganku kembali ke jendela, lorong dalam pantulan sudah kosong.

Aku segera menutup tirai.

“Kamu baik-baik saja?” Ibu bertanya.

Aku ingin mengatakan tidak. Rasanya menjadi jawaban paling mudah untuk semua yang terjadi hari ini. Namun ada ketakutan lain yang sekarang lebih besar daripada sosok di kaca. Aku takut kalau percakapan kami berlangsung terlalu lama, mereka akan melupakanku lagi. Aku takut setiap kali melihat wajah mereka karena aku tidak tahu apakah orang yang sedang menatapku masih mengingat percakapan lima menit sebelumnya.

“Aku mau lihat sesuatu.”

Aku mengambil ponsel dan membuka kamera.

“Apa?”

“Bentar.”

Aku mengarahkan kamera kepada diriku sendiri dan mengambil satu foto. Wajahku muncul normal di layar. Setelah itu aku meminta Ibu berdiri di sebelahku.

Ia terlihat ragu. “Untuk apa?”

“Kalau nanti Ibu lupa lagi, aku mau tahu fotonya ikut berubah atau nggak.”

Kalimat itu membuatnya terdiam. Mungkin ia tidak mengerti sepenuhnya, tetapi akhirnya tetap berdiri di sampingku. Aku mengambil foto kami berdua, lalu satu lagi bersama Ayah. Ketiganya muncul normal di galeri.

Aku menyimpan tangkapan layar.

Kemudian mengirim semuanya kepada Hana.

Pesannya masuk.

Aku juga mengirim foto itu ke emailku sendiri, menyimpannya ke penyimpanan daring, kemudian membuat salinan lain di folder berbeda. Aku tidak tahu apakah itu akan membantu. Aku hanya ingin sesuatu tetap bertahan jika dunia memang sedang menghapus jejakku.

Ayah mengamati semua yang kulakukan. “Kamu bilang tadi kami sudah lupa sekali?”

“Dua kali.”

“Dan temanmu juga?”

Aku mengangguk. “Pagi tadi dia masih kenal aku. Siang tadi sempat nggak dengar waktu kupanggil. Sore ini dia sudah nggak tahu aku siapa.”

Ayah mulai terlihat serius. “Sekolah?”

“Namaku hilang dari daftar absen.”

Ia menatap kartu pelajarku sekali lagi. “Tapi kartu ini masih ada.”

“Makanya aku nggak ngerti.”

Aku membuka percakapan Hana lagi. Pesan foto yang baru kukirim sudah terbaca.

Balasannya muncul beberapa detik kemudian.

ini kamu?

Lihat selengkapnya