CHANTS BENEATH THE CRIMSON SKY

mahes.varaa
Chapter #20

ALUR PART 1

Setelah membayar biaya tambahan pada Agra, tidak sampai dua jam kemudian travel yang menjemput akhirnya tiba. Eva naik dengan langkah cepat, seolah tak ingin membuang satu menit pun. Begitu kendaraan itu melaju meninggalkan Velantara, ia langsung membuka laptopnya. Sejak saat itu. Layar di hadapannya menjadi satu-satunya dunia yang ia perhatikan. 

Sepanjang perjalanan, jari-jarinya nyaris tak berhenti bergerak. Eva mulai menyusu laporan penyelidikannya—laporan yang kini terasa jauh dari harapan awal. Dengan hasil yang tak sepenuhnya memuaskan, ia tahu satu hal: cerita ini butuh “bumbu” yang tepat agar tetap hidup. Ia harus merangkai ulang fakta tentang Senzo, Crimson Sky, dan kematian kalista Devi menjadi sesuatu yang tetap bernyawa, meski kebenarannya pahit dan tak lengkap. 

Ia kembali menghubungi Dimas, meminta bantuan untuk melacak adik laki-laki Kalista Devi, sekaligus menyelidiki identitas di balik nama L. A. Melody. 

Pencarian itu bukan tanpa tujuan. Dari cara Pak Joko bercerita, Eva merasa ada seseorang yang lebih dulu mengorek rahasia kelam di balik kematian keluarga Kalista Devi. Sebuah kemungkinan kecil—bahkan terdengar tak masuk akal—mulai terbentuk di kepalanya: barangkali ada yang membalas dendam atas kematian Kalista Devi. 

 Ucapan Pak Joko kembali menggema di benaknya. 

“Bagaimana dengan fakta bahwa empat teman Kalista Devi dijadikan tersangka karena kesaksian beberapa orang?” Eva ingat betul pertanyaannya. “Apa orang itu tahu soal itu, Pak? Dalam laporan kepolisian, hal itu tidak tertulis.” 

“Tidak,” jawab Joko saat itu. “Beberapa di antara mereka tahu, beberapa tidak.” 

Fakta lain ikut menempel di pikirannya: setahun lalu, Avaris Construction dinyatakan bangkrut. Jika benar ada seseorang yang berniat membalas dendam atas kematian Kalista Devi, mungkin arah dendam itu kemudian dialihkan—bukan lagi pada perusahaan, melainkan pada empat sahabat gadis itu. 

Sepanjang perjalanan, Eva terus berkutat dengan laptopnya, menumpahkan seluruh hasil penyelidikan ke dalam catatan yang semakin panjang. Ia memulainya dari dugaan awal, sebelum ia datang ke Velantara. 

  1. Apakah kehadiran tiga sahabat Kalista Devi di Nova Hotel hanyalah kebetulan? Ataukah sesuatu yang direncanakan? Lalu, bagaimana dengan Baskara Yudha?” 
  2. Apakah runtuhnya Nova Hotel murni disebabkan gempa dan kesalahan struktur bangunan? Atau ada faktor lain yang sengaja disembunyikan? 
  3. Apakah Avaris Construction juga melakukan kecurangan dalam pembangunan Nova Hotel? 
  4. Apakah ada seseorang yang berniat membalas dendam pada sahabat-sahabat Kalista Devi? Siapa dia? 

Sebelum merangkum kejanggalan yang ia miliki sebelum datang ke Velantara, Eva melanjutkan dengan hasil penyelidikan yang ia peroleh selama berada di kota itu. 

  1. Kematian Kalista Devi dipastikan sebagai bunuh diri. Empat sahabatnya sempat menjadi tersangka karena sebelumnya terlibat pertengkaran dengannya. 
  2. Kematian kedua orang tua Kalista Devi diduga berkaitan dengan saingan perusahaan, yaitu Avaris Construction. 
  3. Crimson Sky memiliki anggota keenam: L. A. Melody. Identitas di balik nama tersebut masih belum diketahui. 
  4. Pertikaian dalam Crimson Sky diduga dipicu oleh perasaan cinta. Kalista Devi menyukai Sena, tetapi laki-laki itu justru menyukai gadis lain—sosok yang hingga kini tak diketahui. 
  5. Motif bunuh diri Kalista Devi: tekanan berlapis  akibat konflik dalam band, kematian kedua orang tuanya, serta kehilangan adik laki-lakinya yang diambil oleh paman dan bibinya.
  6. Ada seseorang yang mengetahui kebenaran di balik kematian kedua orang Kalista Devi. Kemungkinan besar adik laki-lakinya, namun keberadaannya hingga jini tak diketahui. 

Tanpa terasa, perjalanan hampir delapan jam itu berlalu begitu saja. Rasa penasaran dan ketegangan membuat Eva sama sekali tak bisa bersantai, apalagi memejamkan mata. Terlalu banyak pertanyaan berputar di kepalanya—dan ia tahu, jawaban-jawaban itu tak akan mudah ditemukan. 

Drrt! 

Eva baru saja melangkah keluar dari Bandara Antarlina ketika dunia seolah menghantamnya sekaligus. Udara pengap bercampur bau keringat dan asap kendaraan langsung menyergap paru-parunya. Kebisingan—suara klakson, teriakan petugas, dan langkah kaki yang berkejaran—membentuk dengung konstan yang menyesakkan. Begitu telapak kakinya menapak aspal, Eva tahu: ia telah kembali. 

Kembali ke dunia yang tak pernah memberinya ruang bernapas. Dunia yang penuh tekanan, tuntutan, dan ketidakpastian. Dunia yang merenggut segalanya darinya—kejayaan, keluarga, dan putrinya. 

Dan ia sadar, dengan getir yang mengeras di dadanya, bahwa ia harus melakukan sesuatu. Apapun caranya. Apapun resikonya. Untuk merebut kembali semua yang pernah ia miliki. 

Getaran ponsel di tangannya memotong lamunan itu. 

Nama Dimas muncul di layar. 

Detik itu juga, rasa sesak di dadanya berubah menjadi ketegangan yang tajam. Jika Dimas menelepon, berarti ada sesuatu yang ditemukan. 

“Ya, Dimas,” jawab Eva cepat, nyaris tanpa jeda. 

“Aku baru saja kirim semua data kasus yang berhubungan dengan Avaris Construction,” jelas Dimas dari seberang. Suaranya terdengar lelah—lelah yang jujur, hasil dari malam-malam panjang tanpa jeda. “Aku juga sudah kelompokkan berdasarkan pola kasus yang serupa, Mbak.” 

“Bagaimana dengan adik laki-laki Kalista Devi?” potong Eva tak sabar. “Ketemu?” 

Di seberang, Dimas terdiam. 

Hening itu terlalu panjang untuk diabaikan. 

“Soal itu …” napas Dimas terdengar berat, seolah ia sendiri enggan melanjutkan. “Datanya juga sudah aku kirimkan, Mbak. Singkatnya, adik Kalista Devi mengganti nama tak lama setelah kakaknya meninggal. Dia diangkat anak oleh paman dan bibinya yang membawanya pergi.” 

Lihat selengkapnya