Keesokan harinya.
Malam sebelumnya, berita ketiga tentang Senzo akhirnya dirilis. Kali ini, Eva membuka tabir hubungan Senzo dengan Arka Gading dan Bayu Rendra—sebuah benang masa lalu yang mengarah langsung pada band remaja bernama Crimson Sky.
Berita itu meledak.
Jagat media sosial riuh bukan karena skandal, melainkan karena keterkejutan. Tak seorang pun menduga bahwa aktor muda dengan citra nyaris sempurna itu pernah berdiri di atas panggung kecil sekolah, memainkan tuts keyboard dan mengisi vokal tambahan dalam sebuah band anak sekolah. Kekaguman pun mengalir deras. Banyak yang menyebut Senzo sebagai bintang sejati—rendah hati, berbakat, dan penuh kejutan.
Tagar-tagar bermunculan seperti doa massal: #PrayForSenzo, #Senzo, #MasaLaluSenzo, #CrimsonSky.
Sejak berita itu dirilis, para penggemar mulai menggali lebih dalam. Mereka memburu jejak Crimson Sky—foto-foto lama, cerita sama, potongan kenangan. Namun pencarian itu tak mudah. Masa lalu band tersebut nyaris terkubur. Bahkan lagu-lagu mereka hanya bisa ditemukan lewat rekaman usang yang tersimpan di ponsel teman sekolah.
Dalam semalam, lagu-lagu itu kembali hidup. Diputar di mana-mana. Mengalun seperti doa, seperti harapan agar Senzo segera sadar dan pulih tragedi runtuhnya Nova Hotel.
Eva hanya bisa tersenyum kecil menyaksikan perubahan itu.
Ya … untuk saat ini, Senzo masih dipuja. Masih dipeluk oleh cinta penggemarnya.
Namun Eva tahu betul—ketika berikutnya dirilis malam nanti, semua puja-puji akan berubah arah. Kekaguman akan berganti kecaman. Ia yakin sepenuhnya. Ia sudah terlalu lama hidup di dunia ini untuk salah membaca reaksi netizen. Ia pernah berada di posisi Senzo.
Dan ia tahu, cinta publik tak pernah datang tanpa syarat.
Pagi itu, Eva datang ke kantor Echo Vision. Langkahnya mantap, meski dadanya penuh tekanan. Ia harus melapor—menyerahkan hasil penyelidikannya di Velantara selama beberapa hari terakhir.
“Apa yang kamu dapatkan dari perjalananmu ke Velantara?”
Suara dingin kepala redaksi menyambutnya, seolah ruangan itu sendiri ikut menekan napas Eva.
Ia menyerahkan laporan yang telah disusunnya rapi: fakta dipisahkan dari dugaan, kesaksian disandingkan dengan data. Ia juga melampirkan informasi yang dikumpulkan Dimas tentang Avaris Construction dan Raga Karya Konstruksi.
Wanita paruh baya itu mengenakan kacamatanya, membaca setiap baris dengan saksama. Sudut bibirnya perlahan terangkat—sebuah senyum tipis yang lebih menyerupai kewaspadaan.
“Kamu …” ucapnya dingin. “Lagi-lagi Avaris Construction, Eva? Sepertinya ikatan kalian memang belum pernah benar-benar terputus.”
Eva mengangguk pelan. “Ya, Bu. Sepertinya memang begitu.”
Kenangan lama menyeruak. Dulu, Eva pernah menargetkan Avaris Construction. Langkahnya dihentikan. Demi bertahan hidup, ia justru terseret masuk ke dalam sistem itu—menjadi bagian dari sesuatu yang seharusnya ia bongkar. Ia terlena oleh panggung, oleh sorotan. Dan kini, ia ingin merebut kembali semuanya. Dengan caranya sendiri.
“Kali ini, apa yang akan kamu lakukan?” tanya kepala redaksi. Ia meletakkan laporan itu, bersandar, dan menatap Eva tajam. “Di tanganmu ada pedang dua pedang bermata dua. Keduanya bisa kamu gunakan. Tapi jika salah langkah, keduanya akan melukaimu sekaligus. Kamu mau memakai keduanya, atau memilih satu?”
Eva paham. Di tangannya kini ada dua berita besar. Dan pilihan itu sepenuhnya tanggung jawabnya.
Sejak perjalanan pulang ke Antarlina, Eva sudah menimbang semuanya. Ia tahu mana berita yang menjanjikan pamor, mana yang sekadar mengungkit luka lama. Dan instingnya—yang tak pernah benar-benar mati—menunjuk satu nama.
Ia mengangkat kepalanya. Tatapannya penuh keyakinan.
“Saya hanya akan menggunakan salah satunya saja, Bu.”