Berkat bom yang Eva lemparkan dengan presisi, nama Senzo kini menggema ke mana-mana—menguasai lini masa media sosial, menjadi bahan bisik-bisik di banyak kalangan. Namanya tak lagi sekadar milik dunia hiburan, melainkan telah menjelma menjadi isu publik yang dibicarakan dengan nada penasaran, simpati, juga kecurigaan.
Dan bersamaan dengan itu, nama Eva ikut terangkat kembali. Ia mulai dianggap hampir menemukan jalannya pulang—menuju posisi lamanya sebagai jurnalis yang dijuluki pahlawan mikrofon. Seorang pembongkar fakta, pengungkap kebenaran. Kali ini, berkat keberhasilannya menyeret jejak masa lalu kelam Senzo ke hadapan publik.
Berita kematian vokalis utama Crimson Sky—Kalista Devi—meledak lebih keras dari yang Eva perkirakan. Apalagi ketika dalam berkas penyelidikan tertulis empat nama sebagai tersangka dalam kasus bunuh diri tersebut. Empat nama yang tak asing: seluruh anggota Crimson Sky, termasuk Senzo.
Rasa penasaran publik pun memuncak.
Netizen berlomba-lomba menggali, menyusun potongan-potongan cerita masa lalu yang selama ini terkubur. Fakta-fakta lama bermunculan—sebagian hanya berupa bisik-bisik, sebagian lain berupa pengakuan dari orang-orang Velantara yang pernah menyaksikan semuanya secara langsung.
Netizen 1:
Aku dulu sekolah di tempat yang sama dengan Senzo. Dulu aku dengar Kalista Devi suka sama Senzo. Tapi Senzo malah suka sama gadis lain. Katanya, dari situlah semuanya bermula. Pertengkaran besar sebelum Kalista Devi meninggal.
Netizen 2:
Aku penggemar Crimson Sky dulu. Lagu-lagu mereka bagus. Tapi menurutku, kematian Kalista Devi itu aneh. Harusnya heboh dari dulu, tapi kok kayak ditutup–tutupi? Aku rasa ada pihak lain yang berusaha menutupinya.
Netizen 3:
Senzo dan Kalista Devi dulu kelihatan serasi. Kalau saja Senzo enggak berpaling, mungkin Crimson Sku masih ada … dan Kalista Devi masih hidup.
Eva mengamati semuanya dengan tenang.
Masyarakat kini bukan lagi penonton pasif. Ia hanya melempar satu bom—sisanya, publik sendiri yang menambahkan bahan bakar. Dugaan, emosi, dan spekulasi bercampur menjadi api besar yang mempercepat kehancuran Senzo. Dan pada saat yang sama, api itu justru mendorong Eva kembali ke tempat yang pernah ia tinggalkan.
“Gimana beritaku?”
Eva berbicara pada Dimas melalui sambungan telepon. Nada suaranya terdengar ringan, nyaris bangga. Beberapa menit sebelumnya, ia baru saja mengirimkan bayaran atas informasi yang diberikan pria itu. Kini, ia ingin memastikan langkah berikutnya.
“Bagus sekali, Mbak,” jawab Dimas cepat, suaranya terdengar tulus. “Aku benar-benar enggak nyangka dampaknya bakal segede ini. Tagar tentang Senzo enggak turun-turun dari puncak. Nama Mbak sebagai jurnalis … sepertinya sebentar lagi bakal setenar dulu.”
Eva tersenyum kecil, meski Dimas tak bisa melihatnya. Senyum puas yang lama ia rindukan.
“Oke,” katanya pelan. “Sekarang kita masuk ke babak selanjutnya.”
“Babak selanjutnya?” Dimas terdengar heran. “Masih ada lagi, Mbak?”
Eva bisa membayangkan ekspresi pria itu di seberang sana—alis terangkat, dahi berkerut.
“Mbak masih belum cukup menjatuhkan Senzo?” tanya Dimas ragu.
Ia lalu menjelaskan kesimpulan yang ia tarik dari semua penyelidikan: tentang Senzo, Crimson Sky, dan kematian Kalista Devi. Semua terlalu rapi untuk disebut kebetulan. Eva yakin, ada seseorang di luar sana—sosok dalam bayangan—yang sengaja menyusun semua ini demi balas dendam.
Setahun lalu, Avaris Construction bangkrut. Perusahaan yang selama ini dikenal licik, yang demi ambisi bisnisnya telah menghancurkan banyak pihak—termasuk ayah dan ibu Kalista Devi.
Tak lama berselang, bencana Nova Hotel terjadi. Dua anggota Crimson Sky tewas. Satu lainnya—Senzo—jatuh koma. Kini, hanya satu nama yang tersisa: Baskara Yudha.
Eva tidak mungkin mengabaikan kemungkinan itu.
Alur yang sudah disiapkan seseorang dari balik layar jelas terlalu berharga untuk dilewatkan. Kesempatan emas seperti ini tidak datang dua kali—dan Eva berniat memanfaatkannya sampai tuntas.
“Apa yang mau Mbak lakukan dengan Baskara Yudha?” tanya Dimas hati-hati.
Eva menjelaskan bahwa beberapa waktu lalu ia kembali menghubungi Agra. Dengan bayaran yang sesuai, pria itu dengan senang hati mengorek informasi dari lingkaran lama. Dari sana, muncul satu fakta tak terduga: di masa lalu, Baskara Yudha diam-diam menyukai Kalista Devi.
Dimas terdiam sejenak.
“Jadi maksud Mbak …” ucapnya pelan. “Mbak mau menjadikan Baskara Yudha sebagai sosok di balik bayangan itu?”
Eva tersenyum tipis. “Iya. Dengan begitu, bukankah aku justru membantu rencana orang itu? Dia membiarkanku ikut menikmati keuntungan dari alur yang ia buat.”
“Tapi … apa ini enggak terlalu gegabah, Mbak?” Suara Dimas terdengar cemas. “Bukannya lebih baik kita selidiki dulu?”