CHANTS BENEATH THE CRIMSON SKY

mahes.varaa
Chapter #23

L. A. MELODY PART 1

Tangan Eva bergetar hebat. Ujung-ujung jarinya terasa dingin, seolah darah di sana berhenti mengalir. Ia tak pernah menyangka—tak pernah sekalipun—bahwa nama yang selama ini berputar di benaknya sebagai sosok di balik bayangan, orang yang ia yakini berusaha membalaskan kematian Kalista Devi, ternyata berada begitu dekat dengannya. 

Terlalu dekat. 

Apa yang sebenarnya terjadi? 

Kenapa semuanya bisa berakhir seperti ini? 

Alur ini … sama sekali tidak pernah ia perhitungkan. 

Benak Eva memutar ulang seluruh penyelidikannya, seperti pita rekaman yang dipaksa diputar kembali. Dari runtuhnya Nova Hotel, rangkaian kematian yang mengikutinya, hingga perjalanan panjangnya ke Velantara. Di setiap kepingan itu, ia menemukan satu nama tanpa wajah—satu nama yang terus muncul, tapi tak pernah memiliki bentuk. 

Dugaannya tepat. Pemilik nama itu adalah sosok yang bergerak untuk membalaskan dendam Kalista Devi. 

Tapi Liora … tak pernah terlintas dalam benaknya. Juniornya itu sendiri tercatat sebagai salah satu korban runtuhnya Nova Hotel. Logikanya sederhana: tak masuk akal seseorang menjerumuskan dirinya sendiri ke dalam bahaya jika tujuan akhirnya membalas dendam pada empat anggota Crimson Sky yang lain. 

Logika itu kini runtuh. 

“A-apa yang sebenarnya terjadi?” suara Eva bergetar, nyaris tak terdengar. “Bukannya kamu ingin membalaskan kematian Kalista Devi? Kenapa kamu sendiri justru jadi korban Nova Hotel?” 

“Kenapa senior bisa berpikir aku ingin membalaskan dendam Lili?” suara Liora terdengar dari seberang, tenang, nyaris tanpa riak emosi. 

Eva pun menjelaskan—semuanya. Penyelidikannya di Velantara, potongan-potongan fakta yang ia kumpulkan, pola yang ia rangkai, hingga kesimpulan yang ia yakini kebenarannya. Termasuk runtuhnya Avaris Construction setahun lalu, titik awal yang menurutnya menjadi pemantik seluruh rangkaian tragedi. 

“Kamu jelas ingin membalaskan dendam untuk Kalista Devi,” ucap Eva mantap, seolah mengucapkannya keras-keras bisa membuat keyakinannya kembali utuh. 

“Kenapa  senior yakin, aku hanya ingin membalaskan dendam untuk Lili?” ulang Liora. Nadanya tetap datar, dalam, seperti laut yang menyimpan arus mematikan di bawah permukaannya. “Senior, bisa keluar dari kafe sekarang?” 

Eva menuruti instruksi. Ia melangkah keluar, menuju batas pejalan kaki. Kafe itu berdiri tepat di pinggir jalan utama Antarlina. Seharusnya, di saat seperti ini, amarahnya sudah meledak. Tapi rasa penasaran—yang selama ini menjadi bahan bakar profesinya—mengalahkan segalanya. 

Ia ingin tahu. 

Ingin memahami kenapa dari sekian banyak orang, L. A. Melody adalah Liora—junior yang ia kenal. Dan bagaimana seseorang yang ia yakini sebagai dalam balas dendam justru ikut menjadi korban Nova Hotel. 

“Aku di seberang jalan, senior.” 

Eva mengangkat kepalanya. Di seberang sana, mereka bertemu pandang. 

Liora berdiri di trotoar seberang, tubuhnya tampak rapuh dengan tangan diperban dan tergantung di leher. Namun sorot matanya sama sekali tidak rapuh. Ia menatap Eva dengan senyum tipis yang sulit ditafsirkan—bukan senyum kemenangan, bukan pula senyum simpati. 

Tanpa sedikitpun rasa gentar, Liora membuka suara. 

“Sepertinya senior sudah benar-benar kehilangan instingnya sebagai jurnalis,” katanya ringan. “Pahlawan Mikrofon yang dulu dipuja-puja … sekarang benar-benar kehilangan sinarnya.” 

“Jangan bertele-tele, Liora!” Suara Eva meninggi, kemarahannya akhirnya merembes keluar. “Jelaskan sekarang! Di mana letak kesalahanku? Aku yakin kamu ingin membalaskan kematian Kalista Devi!” 

Liora memiringkan kepalanya sedikit. “Kalau gitu,” katanya pelan, “setelah semua penyelidikan ke Velantara itu, kenapa senior tidak menemukan hal paling penting di balik semua kejadian ini?” 

Eva membeku. 

Lihat selengkapnya