Menemukan pemilik inisial L. A. ternyata jauh lebih sulit dari yang dibayangkan.
Bersama empat temannya—Sena, Yudha, Gading, dan Rendra—Lili mencoba segala cara yang terpikirkan. Masalahnya, dua lembar kertas itu ditemukan di jalanan. Artinya, pemiliknya bisa siapa saja. Bukan hanya anak sekolah, bukan hanya remaja, melainkan siapapun, dari usia berapa pun, tanpa batasan.
Dan hasilnya tetap sama.
Nihil.
Hari demi hari berlalu. Lili dan keempat temannya mendatangi sekolah-sekolah lain, bertanya ke orang-orang di sekitar lokasi penemuan kertas itu, bahkan meminta siapapun yang mereka temui untuk menulis—sekadar membandingkan bentuk huruf. Namun semua usaha itu berakhir sia-sia.
Lili juga mencoba mencari lewat media sosial. Sayangnya, di kota kecil seperti itu, tak banyak orang yang aktif di dunia maya selain anak-anak muda. Pencarian itu kembali menemui jalan buntu.
Sebulan berlalu.
“Apa kita harus nyerah?” tanya Sena suatu sore, kelelahan jelas terdengar di suaranya.
Lili menggeleng pelan, tapi tegas. “Enggak. Enggak bisa.”
Ia menurunkan pandangannya ke dua lembar kertas yang telah disimpan selama sebulan penuh—kertas yang hampir selalu ia bawa kemana pun. Foto-fotonya sudah ia bagikan ke empat temannya sebagai referensi pencarian, tapi lembaran aslinya tetap terasa paling berharga.
“Penulis ini …” Lili terdiam sejenak, memilih kata. “Penulis ini adalah orang yang kita cari. Lirik dan nada yang tertulis di sini cocok untuk anak seusia kita. Ini bukan kebetulan.”
Ketika keempat temannya mulai kelelahan dan perlahan menerima kegagalan, Lili justru menolak berhenti.
Ia terus mencari, meski tahu usahanya terasa seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Dan ketika usaha manusia menemui batasnya, takdir—dengan caranya sendiri—mulai bergerak.
Selama lebih dari sebulan terakhir, Yudha duduk sebangku dengan seorang anak baru. Ia terlalu sibuk dengan Crimson Sky, terlalu sibuk membantu Lili mencari pemilik inisial L. A., hingga hampir tak pernah benar-benar memperhatikan teman duduknya itu.
Hingga hari itu.
Saat guru membagikan kertas ujian, mata Yudha terpaku pada tulisan di lembar milik teman sebangkunya. Ada sesuatu yang terasa akrab. Terlalu akrab.
Tulisan itu. Sama persis.
Bukan hanya bentuk hurufnya—cara huruf-huruf itu mengalir, jarak antar barisnya, bahkan lengkungan kecil di beberapa aksen. Dan ketika ia menurunkan pandangannya ke nama yang tertulis di sudut atas kertas itu, napasnya tertahan.
Inisial yang sama. L. A.
“Liora, kan?” ucapnya pelan sambil menyerahkan kertas ujian.
Gadis berkacamata dengan rambut dikepang dua itu mengangguk kecil. “Iya, itu aku,” jawabnya lirih. Ia menerima kertas ujiannya tanpa ekspresi berlebihan.
Dengan jantung berdegup lebih cepat, Yudha buru-buru mengambil ponselnya. Ia membuka foto yang dikirim Lili dan menyodorkannya ke hadapan Lioa.
“A-apa ini tulisanmu?” tanyanya, nyaris tak bisa menyembunyikan antusiasme. “Kamu yang nulis ini?”
Liora menatap layar ponsel itu. Matanya di balik kacamata membulat, jelas terkejut. Di sana, terpampang potongan catatannya yang sempat hilang—kini berada di tangan Baskara Yudha, dalam bentuk foto.
“Iya … ini punyaku,” jawabnya jujur. “Tulisan ini, aku yang nulis. Inisial ini buktinya.” Ia mengerutkan kening. “Tapi kenapa ini ada di tanganmu? Gimana kamu bisa punya fotonya?”
Yudha menelan ludah, lalu tersenyum lebar. “Nanti,” katanya cepat. “Pas jam istirahat, kamu mau ke mana?”
Liora menggeleng. “Enggak ke mana-mana. Mungkin ke perpustakaan atau cari tempat tenang buat makan siang. Aku bawa bekal.”
“Kalau gitu …” Yudha tersenyum kecil, penuh arti. “Bisa ikut aku? Sekalian bawa bekalmu. Kita makan siang bareng.”
Dan di titik itulah, tanpa mereka sadari, pencarian panjang itu akhirnya menemukan ujungnya.