Untuk beberapa waktu, hari-hari Liora bersama anggota Crimson Sky berjalan nyaris tanpa cela.
Di sekolah, mereka menjaga jarak. Liora sengaja menempatkan dirinya di pinggir—tak ingin menjadi pusat perhatian, tak ingin menarik tatapan yang bisa memicu bisik-bisik. Namun di luar jam pelajaran, ketika seragam telah berganti dan pagar sekolah di belakang mereka, jarak itu lenyap begitu saja. Tawa, obrolan ringan, dan sesi menulis lagu menjadi rutinitas yang diam-diam menguatkan ikatan mereka.
Keberadaan Yudha sebagai teman sebangku Liora sangat membantu. Jika sesekali Yudha mengajaknya makan di kantin bersama anggota Crimson Sky lainnya, itu terlihat wajar di mata murid-murid lain. Tak ada yang curiga. Tak ada yang mempertanyakan.
“Kenapa sih kamu enggak suka jadi pusat perhatian?” tanya Lili suatu hari, suaranya terdengar santai, seolah itu hanya pertanyaan ringan. “Kamu bahkan sengaja pakai kacamata, padahal matamu baik-baik saja.”
Lili tahu itu bukan dugaan kosong. Suatu kali, ia sempat mencoba memakai kacamata Liora—dan mendapati bahwa lensa itu netral, bukan alat bantu penglihatan.
Liora terdiam. Pertanyaan itu bukan pertanyaan sepele baginya.
Ia enggan menjawab. Bukan karena tak ingin, melainkan karena ia merasa hubungan mereka belum cukup dekat untuk membuka rahasia yang selama ini ia jaga rapat. Namun Lili tidak memaksa. Gadis itu memilih jalan lain—jalan yang perlahan membangun kepercayaan.
“Aku cerita bukan karena aku ingin mengusikmu,” ucap Lili dengan suara lebih rendah dari biasanya. “Tapi karena aku mau kamu tahu … aku nganggep kamu bukan teman biasa, Rara.”
Liora yang saat itu sedang menemani Lili menyusun lagu ketiga Crimson Sky, langsung menoleh. Matanya membesar, napasnya tertahan. Selama bersekolah di tempat baru ini, ia sering mendengar cerita tentang Crimson Sky—tentang betapa kuatnya ikatan mereka, tentang bagaimana banyak murid iri dan mereka tak akan pernah bisa masuk ke lingkaran itu.
Namun sekarang, Lili mengatakan sesuatu yang selama ini hanya menjadi harapan banyak orang.
“Ke-kenapa?” tanya Liora pelan, suaranya bergetar.
Lili tersenyum. Senyum yang sederhana, jujur, tanpa beban. “Seperti yang kamu lihat, aku enggak punya teman perempuan,” katanya. “Sejak kecil, teman-temanku selalu laki-laki. Empat anggota bandku juga laki-laki. Bahkan di rumah, aku hanya punya adik laki-laki.”
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan, lebih pelan. “Sebenarnya … aku ingin punya teman perempuan. Tapi aku selalu kesulitan. Kebanyakan dari mereka melihatku dengan iri. Dan kalaupun mereka mendekat, biasanya cuma karena ingin dekat dengan Sena.”
Liora mengerti. Terlalu mengerti. Nama Sena memang selalu menjadi magnet bagi banyak murid perempuan.
“Sena enggak suka kalau ada anak perempuan yang dekat dengannya cuma karena niat itu,” lanjut Lili. “Jadi aku juga enggak bisa sembarangan dekat dengan perempuan lain.” Ia menatap lurus Liora. “Tapi kamu beda, Rara.”
“Aku?” Liora mengernyit. “Apanya yang beda?”
“Cara kamu memandang kami,” jawab Lili tanpa ragu. “Kamu menganggap kami anak biasa. Kamu enggak tergila-gila, enggak mencari perhatian. Kamu berteman … ya, berteman saja.”
Ucapan itu perlahan menyentuh sesuatu dalam diri Liora. Selama ini, kebersamaannya dengan Crimson Sky ia anggap sebagai pengisi waktu, sebagai ruang aman untuk menyalurkan hobi kecilnya. Ia tak pernah benar-benar merasa menjadi bagian dari mereka—meski Lili menyebutnya anggota keenam.
Ternyata, ia salah.
Sejak lama, Lili sudah menganggapnya teman. Bukan teman singgah, melainkan teman yang posisinya setara dengan empat sahabat lainnya.
“Kalau begitu sebagai bukti aku benar-benar nganggep kamu teman …” Lili mencondongkan tubuhnya. “Dengarkan ini, Rara. Ini rahasiaku.”
Ia mendekat, berbisik meski ruangan itu hanya diisi oleh mereka berdua. “Aku … sudah sejak lama menyukai Sena.”
Di titik itu, semuanya terasa jelas bagi Liora. Lagu kedua Crimson Sky—yang diminta Lili berdasarkan perasaan terdalamnya—ternyata ditujukan untuk Sena. \
***
Eva sebenarnya sudah bisa menebak bagian itu.