Hingga usia delapan belas tahun, hidup Kalista Devi berjalan dalam garis yang rapi dan tenang. Ia tumbuh di lingkungan yang nyaman, dikelilingi hal-hal yang membuatnya merasa aman. Kesulitan yang pernah ia hadapi pun hanyalah kesulitan wajah seorang gadis yang perlahan melangkah dari masa remaja menuju dewasa—tugas sekolah yang menumpuk, pertemanan yang kadang melelahkan, serta mimpi-mimpi tentang masa depan yang masih samar.
Percintaan pun mulai mengetuk di usia itu. Dan justru dari sanalah, tragedi kelam hidup Kalista Devi bermula.
Gadis yang selama ini merasa memiliki segalanya, tanpa sadar jatuh cinta pada sahabatnya sendiri. Ia mengira kebersamaan yang mereka jalani selama ini adalah tanda bahwa perasaannya akan berbalas. Namun kenyataan berjalan ke arah berlawanan. Sena—teman kecil yang selalu ada di sisinya—justru menyukai gadis lain.
Dan gadis itu adalah satu-satunya perempuan yang selama ini Kalista Devi anggap sebagai sahabat baiknya.
Untuk pertama kalinya, Kalista Devi berdiri di penyimpangan hidup yang benar-benar menyakitkan. Ia harus memilih di antara dua hal terpenting dalam hidupnya: mengejar cinta yang ia simpan diam-diam, atau merelakannya demi menjaga persahabatan. Jika ia memilih satu, maka luka itu akan jatuh pada dirinya. Jika memilih yang lain, luka itu akan tertinggal pada orang yang ia sayangi.
“Apa yang kamu mau dengar dari aku, Lili?” tanya balik Liora. Nadanya datar, tetapi ada tekanan yang jelas terasa.
Lili menatapnya lekat. Wajah Liora memang jarang menunjukkan ekspresi. Senyum hampir tak pernah bertahan lama di bibirnya. Kalaupun muncul, hanya senyum tipis—jauh berbeda dengan senyum lebar milik Lili. Liora bukan tipe orang yang banyak bicara atau banyak bertanya. Ia berbicara seperlunya, bertanya jika benar-benar perlu, dan menjawab tanpa bertele-tele.
Semakin lama mengenalnya, Lili sadar bahwa sahabatnya itu adalah kebalikan dari dirinya.
Namun justru karena itu, saat Liora sedang serius, auranya terasa berbeda. Ada ketenangan yang membuatnya terlihat dewasa. Terutama ketika ia memainkan musik—wajahnya tampak hidup, seolah dunia di sekitarnya menghilang dan hanya nada-nada yang tersisa.
Jika harus diringkas, Lili menilai Liora adalah anak paling dewasa di antara dirinya dan empat anggota Crimson Sky lainnya.
“Yang ingin aku dengar adalah perasaanmu, Rara,” jawab Lili setelah terdiam beberapa detik. “Kalau kamu juga suka Sena, kita bisa bersaing secara adil. Itu maksudku.”
Liora terdiam sejenak. Lalu, bibirnya membentuk senyum tipis—senyum yang jarang sekali ia perlihatkan. “Tenang saja,” ujarnya ringan. Nada suaranya berubah lebih santai. “Aku mungkin kagum pada Sena. Dia memang cakep, hebat, dan kelihatan keren, apalagi waktu di atas panggung. Tapi cuma sebatas itu.”
Ia berhenti sejenak, lalu menggeleng pelan. “Perasaan seperti suka … sama sekali enggak pernah muncul di kepalaku, Lili. Kamu bisa mengejarnya.”
Mendengar itu, awan muram di wajah Lili seketika menghilang. Ia kembali ceria. Hatinya terasa jauh lebih ringan. Setidaknya, ia tak lagi terjebak di antara dua pilihan yang sama-sama menyakitkan.
Lili pun berniat mengejar Sena dan mengungkapkan perasaannya pada teman kecilnya itu. Sayangnya, niat itu tak pernah berakhir seperti yang ia bayangkan. Pengakuan itu justru ditolak oleh Sena. Dan anak laki-laki itu dengan jelas menyebutkan siapa gadis yang ia sukai ketika Lili bertanya.
“Sena …” panggil Lili sepulang sekolah.
Hari itu, Lili sengaja merusak ban sepedanya agar bisa berangkat dan pulang bersama Sena. Ia sudah merencanakan segalanya. Saat dibonceng pulang, ia akan mengungkapkan perasaannya. Bahkan ia meminta bantuan Yudha, Gading, Liora, dan Rendra agar pulang di waktu berbeda.
Rencana itu berjalan mulus. Akhirnya, Lili dan Sena pulang berdua.
“Ehm,” gumam Sena sambil fokus mengayuh sepedanya. Ia tak sedikitpun menoleh ke belakang. “Mood kamu sudah mendingan? Rara bilang moodmu buruk belakangan ini.”