Saat itu juga, Lili berbalik pergi. Ia tak berani tinggal lebih lama—tak ingin ketahuan oleh ayah dan ibu Sena. Dengan tangan gemetar, ia menaiki sepedanya dan mengayuh sekuat tenaga. Rantai sepeda berdecit pelan, roda-rodanya menghantam aspal yang mulai lembab oleh embun sore. Angin pantai menerpa wajahnya tanpa ampun, menusuk kulit, membawa aroma asin laut yang membuat dadanya semakin sesak.
Air mata menggenang di pelupuk matanya. Ia memaksa untuk tidak menangis. Menangis di sini berarti kalah. Berhenti berarti runtuh.
Di dalam kepalanya, jeritan bergema tanpa suara. Kenapa orang tuanya harus mati? Siapa yang begitu kejam hingga tega merenggut nyawa orang lain hanya demi keuntungan?
Ia membelokkan sepedanya ke jalur pantai yang jarang dilewati orang. Jalanan itu sempit, diapit semak liar dan pasir yang terbawa angin. Suara ombak terdengar jauh di bawah—berirama, konstan, seolah dunia tetap berjalan normal meski hidupnya baru saja retak. Lili menunduk, membiarkan rambutnya terhempas ke wajah, menyembunyikan ekspresi yang hampir runtuh.
Ia tahu, cukup satu orang saja yang melihatnya dalam keadaan seperti ini, maka semua usahanya menahan air mata akan sia-sia. Karena itu, ia terus mengayuh. Kakinya mulai pegal, napasnya memburu, tenggorokannya perih oleh tangis yang ditahan terlalu lama.
Hingga akhirnya, di kejauhan, ia melihat satu sosok yang dikenalnya.
Liora berjalan santai di tepi pantai, langkahnya ringan, earset terpasang di telinga. Rambut gadis itu bergoyang pelan tertiup angin sore. Ia tampak tenang—terlalu tenang bagi seseorang yang berjalan di dunia yang sama dengan Lili saat ini. Melihat itu, dada Lili kembali berdenyut nyeri.
Ia seharusnya menghindar. Seharusnya memutar arah, berpura-pura tak melihat siapapun. Namun entah apa yang merasuki pikirannya, keinginannya mendadak berubah.
Ia ingin bicara. Ia ingin didengar.
Mungkin karena Liora adalah satu-satunya teman perempuan yang ia miliki. Mungkin juga karena Liora pernah berdiri di tempat yang sama—kehilangan ayah, kehilangan pijakan hidup, lalu memaksa diri untuk tetap berjalan.
“Rara …”
Panggilan itu keluar serak, hampir tak terdengar. Angin membawa suaranya, dan bersamaan dengan itu, pertahanan terakhir Lili runtuh. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah, jatuh hangat di pipinya, satu demi satu, tak lagi bisa dibendung.
Liora seharusnya tak mendengar. Musik dari ponselnya memenuhi telinga. Namun langkahnya melambat. Ada sesuatu di udara—sesuatu yang membuat tengkuknya merinding. Ia menoleh ke belakang dan mendapati Lili berdiri beberapa meter darinya, tangan masih masih mencengkeram setang sepeda. Bahu gadis itu bergetar, wajahnya basah oleh air mata yang mengilap tertimpa cahaya matahari senja.
“Lili,” seru Liora refleks.
Ia mencabut earset di telinganya, membiarkannya tergantung di lehernya, lalu berlari menghampiri. Pasir tipis berderak di bawah sandalnya. “Kenapa kamu? Kok nangis?”
“Rara …” suara Lili pecah. Dadanya naik turun tak beraturan, seolah napas pun ikut memberontak.
Liora hanya butuh satu detik untuk menyadari bahwa Lili tak akan bisa bicara di tempat ini. Tanpa banyak tanya, ia menggenggam pergelangan tangan Lili—dingin, gemetar—dan menariknya menjauh dari jalan utama. Ia menuntunnya melewati jalan setapak yang dipenuhi rumput liar dan batu kecil, menuju tebing curam di sisi pantai Velantara.
Tebing itu tinggi dan sunyi. Dari sana, laut terbentang luas, berkilau diterpa cahaya senja. Angin bertiup lebih kencang, membawa suara ombak yang menghantam karang di bawah—keras, berulang, seperti detak jantung yang tak pernah berhenti. Tempat itu indah, tapi juga terasa sepi, jauh dari kehidupan manusia.
Lili terus menangis sepanjang perjalanan. Isaknya tak juga mereda bahkan setelah mereka duduk berdampingan di atas batu besar di puncak tebing. Bahunya bergetar hebat, jemarinya mencengkeram kain pakaiannya sendiri. Liora tak bisa berkata apa-apa. Ia hanya duduk di sampingnya, cukup dekat untuk memberi rasa aman, cukup jauh untuk memberi ruang.
Waktu berjalan pelan.
Setengah jam berlalu, diiringi suara angin dan laut.
Liora tetap di sana. Tak bergerak. Tak memaksa.
“Sudah?” tanya Liora akhirnya. Suaranya nyaris tenggelam oleh angin, namun tetap terdengar lembut.
Lili mengusap wajahnya dengan lengan baju. Kulitnya terasa perih oleh air mata dan angin asin. ia menghirup napas panjang, mencoba mengisi kembali paru-parunya yang terasa kosong. “Su-dah,” jawabnya pelan.
Liora mengamatinya dengan saksama. Ia tahu, Lili bukan tipe gadis yang mudah menangis. Bahkan saat Sena menolaknya, Lili tetap berdiri tegak, tersenyum seolah tak terjadi apa-apa. Namun tangisan kali ini terdengar berbeda—terlalu dalam, terlalu mentah.
Tangisan orang yang baru saja kehilangan pegangan hidup.
Tangisan yang mengingatkannya pada dirinya sendiri, pada hari ketika ayahnya pergi dan dunia terasa hampa.
“Mau cerita kenapa kamu bisa nangis?” tanya Liora lembut.
Lili mengangguk. Dadanya masih terasa berat, tapi kini napasnya sedikit lebih teratur. Namun sebelum membuka suara, ia menatap Liora dengan serius—tatapan rapuh yang penuh permohonan.
“Aku mau kamu janji satu hal.”
Liora menatap balik, lalu mengangguk mantap. Angin mengibaskan rambutnya. “Janji apa?”
“Kalau gitu …” Lili menarik napas panjang, menatap laut di kejauhan. “Tolong jaga janji ini, Rara.”
Dan di tepi tebing yang dingin itu, dengan angin yang terus berembus dan senja yang perlahan tenggelam, Lili bersiap membuka rahasia yang baru saja ia temukan.