Jurnalis yang dimaksud oleh Lili adalah seorang wanita bernama Eva Naura.
Ia bukan nama besar—belum. Namun di mata Lili, Eva Naura adalah sosok yang berbeda. Seorang jurnalis yang dikenal gigih, keras kepala dalam arti terbaik, dan tak segan menembus batas aman demi sebuah kebenaran. Lili kerap mengikuti liputannya: laporan-laporan yang ditulis dengan rapi, sudut pandang yang tajam, serta keberanian Eva terjun langsung ke lapangan—ke daerah konflik, ke lokasi bencana, ke tempat-tempat yang sering dihindari jurnalis lain.
Meski dunia belum sepenuhnya mengenalnya, Lili yakin satu hal: kelak, nama Eva Naura akan besar.
Keyakinan itu bukan sekadar kekaguman buta. Lili melihat potensi yang nyata—kegigihan yang konsisten, kualitas tulisan yang terus meningkat, dan keberanian yang tak dibangun dari sensasi murahan, melainkan dari keyakinan akan nilai sebuah kebenaran. Semua itu, menurut Lili, adalah fondasi seorang jurnalis hebat.
Dan diam-diam, Lili berharap … suatu hari nanti, ia pun akan memiliki keyakinan dan keberanian sebesar itu.
“Dari mana datangnya keyakinanmu itu, Lili?” tanya Liora akhirnya.
“Kenapa?” Lili balik bertanya sambil menoleh. Alisnya terangkat tipis. “Kamu enggak percaya sama penilaianku, Rara?”
Liora menggeleng pelan. Bukan berarti ia tak percaya. Hanya saja, pengalaman mengajarkannya sesuatu yang pahit: banyak orang yang, setelah bersentuhan dengan kekuasaan dan uang, perlahan melupakan hal-hal yang dulu mereka perjuangkan. Liora mengenal seseorang yang pernah begitu—dan ingatan itu masih membekas.
“Hanya saja …” ucapnya hati-hati. “Aku dan kamu enggak ada yang memprediksi masa depan. Kenapa kamu begitu yakin pada jurnalis ini?”
“Usaha enggak akan pernah mengkhianati hasil,” jawab Lili tanpa ragu. Suaranya mantap. “Aku suka kalimat itu, Rara. Dari dulu sampai sekarang, aku selalu percaya.”
Baginya, Eva Naura adalah bukti hidup dari kalimat itu.
Lili meyakini satu hal sederhana: jika ia bisa berdiri langsung di hadapan jurnalis itu—menceritakan semuanya tanpa ditutup-tutupi—maka Eva Naura akan membantunya. Ia hanya butuh satu kesempatan.
Kesempatan itu tampak nyata ketika Lili mengetahui bahwa Eva Naura sedang berada di Kota Prema. Ia melihatnya dalam sebuah siaran langsung—nama Eva tertera jelas di sudut layar. Kota Prema tak terlalu jauh dari Velantara.
Makan pada hari MInggu pagi, sebelum matahari sepenuhnya terbit, Lili dan Liora berangkat dengan bus menuju Prema.
Di dalam tasnya, Lili membawa beberapa bukti kecil: potongan berita lama, dan catatan-catatan sederhana yang ia kumpulkan sendiri. Sementara itu, Liora berangkat tanpa membawa apapun selain kegelisahan.
Jauh di lubuk hatinya, Liora masih setuju dengan ucapan kedua orang tua Sena—bahwa untuk sementara Lili seharusnya hidup seperti biasa seolah tak pernah mengetahui apapun. Ia percaya, mereka bukan sedang menghindar, melainkan berusaha melindungi.
Baginya, kematian ibu Lili sudah cukup menjadi peringatan: menggali kebenaran di waktu yang salah hanya akan mengundang malapetaka.
Setelah perjalanan hampir empat jam, bus akhirnya memasuki Prema.
Kota itu langsung menyergap mereka dengan kebisingan. Deru kendaraan, asap knalpot, dan bangunan-bangunan tinggi yang berdiri rapat—semuanya terasa kontras dengan Velantara yang sunyi dan lapang. Prema hidup dengan ritmenya sendiri, cepat dan tanpa kompromi.
“Kamu tahu di mana jurnalis itu tinggal?” tanya Liora sambil memandang sekitar. Ada perasaan familiar ketika setelah hampir setahun meninggalkan kota di mana ia pernah tinggal bersama dengan sang ayah.
Lili tersenyum kecil. Ia mengangkat ponselnya. “Tentu saja.”
Velantara mungkin tertinggal, nyaris terisolasi dari kota-kota lain. Tapi dengan ponsel di tangan, jarak dan informasi bukan lagi masalah.
“Aku sudah dapat informasi hotel tempat Eva tinggal,” lanjutnya yakin.
Mereka naik taksi menuju hotel tersebut. Namun sesampainya di sana, harapan Lili runtuh dalam satu kalimat singkat dari petugas resepsionis.
Eva Naura telah pergi. Tengah malam tadi, ia sudah keluar dari hotel dan mungkin sudah kembali ke Antarlina.
Kekecewaan jelas tergambar di wajah Lili. Bahunya merosot, napasnya tertahan. Tapi hanya sesaat.
Ia tidak menyerah.
Lili segera mengambil ponselnya, memotret semua bukti kecil yang ia bawa. Ia berniat mengirimkannya melalui surel, lengkap dengan cerita tentang orang tuanya. Jemarinya sudah berada di atas tombol kirim. Namun tepat sebelum ia menekannya—
Layar televisi di lobi hotel menampilkan sebuah berita. Nama Eva Naura muncul besar di layar. Jurnalis yang selama ini dikenal gigih dan selalu menggali kebenaran … kini berdiri sebagai juru bicara Avaris Construction. Perusahaan konstruksi besar yang selama ini disinyalir menjadi alasan di balik kematian kedua orang tua Lili.