CHANTS BENEATH THE CRIMSON SKY

mahes.varaa
Chapter #29

KEMATIAN KALISTA DEVI PART 1

Hidup Lili yang semula penuh warna, rencana-rencana masa depan yang terasa begitu dekat dan menjanjikan, runtuh hanya dalam sekejap. Seperti kain putih yang tiba-tiba disobek tanpa ampun. Kegagalan cinta pertamanya dan kematian kedua orang tuanya memaksanya menyadari satu hal yang selama ini luput dari perhatiannya: hidup tak selalu ramah, dan tak selalu memberi apa yang diinginkan. 

Selama ini, Lili sering melihat nasib teman-temannya yang tak seberuntung dirinya. Ia mengasihani mereka, mendoakan diam-diam agar mereka kuat, berharap suatu hari hidup mereka akan menjadi lebih baik. Ia tak pernah menyangka, giliran dirinya yang akan diuji dengan cara yang begitu kejam. Saat kemalangan itu datang, dunianya seolah runtuh dalam satu tarikan napas.  Semua yang ia anggap penting—cinta, keluarga, rasa aman, lenyap begitu saja, semudah membalik telapak tangan. 

Dan seakan semua itu belum cukup, Lili kini harus berhadapan dengan kemarahan Sena. 

Untuk pertama kalinya sepanjang hidupnya, ia melihat teman kecilnya itu begitu murka. Bukan marah biasa, melainkan amarah yang dingin dan tertahan—amarah yang tak pernah Lili lihat selama Sena berdiri di sisinya. 

“Kamu marah karena aku pergi begitu saja, Sena?” tanya Lili dengan bibir bergetar. Suaranya nyaris pecah. Mata Sena menyala terang, seolah ada bara api yang membakar di dalamnya.  “A-aku punya alasan. Aku harus mengurus sesuatu … dan aku terpaksa hanya meminta Rara buat nemenin aku.” 

“Bukan itu alasanku marah,” bantah Sena. Suaranya meninggi satu oktaf. Otot rahangnya mengeras, jelas ia sedang berusaha menahan sesuatu yang ingin meledak. 

“Terus … kalau bukan itu, karena apa?” Lili melembutkan nadanya, berharap kemarahan itu mereda. 

Sena menatapnya tajam. “Aku dengar …” katanya pelan, tapi penuh tekanan. “Kamu ternyata suka sama aku selama ini, Lili. Itu benar?” 

Pertanyaan itu menghantam Lili tanpa peringatan. 

Jantungnya berdetak keras, memekakkan telinga. Dahulu, pertanyaan itu adalah hal yang paling ia tunggu-tunggu. Tapi sekarang—di saat hidupnya berantakan—itu justru menjadi pertanyaan yang paling tak ingin ia dengar. 

“Kalau itu benar,” Lili balik bertanya, suaranya tertahan, “apa itu bakal mengubah sesuatu, Sena?” 

Di titik ini, Lili tak ingin mengaku apapun. Pengakuan Sena pada Liora waktu itu sudah cukup melukai hatinya. Ia tak sanggup membuka luka yang sama untuk kedua kalinya, apalagi ketika masih ada hal lain yang harus ia perjuangkan. 

“Aku tanya, apa itu benar?” ulang Sena. Kali ini suaranya lebih dingin, lebih serius, tanpa ruang untuk menghindar. 

Kesabaran Lili menipis. Nada suaranya ikut menurun, mengeras. “Kalau aku jawab, apa ada yang berubah, Sena?” 

“Ya,” jawab Sena singkat. Dingin. “Kalau kamu suka aku, dan Rara tahu itu. Maka itu bisa jadi alasan kenapa dia menolakku.” 

Di detik itu juga, Lili merasakan sesuatu di dalam dirinya runtuh. Ikatan persahabatannya dengan Sena hancur tanpa sisa. Ia selalu mengira ia mengenal anak laki-laki itu—tapi ternyata tidak sepenuhnya. Ia tak pernah menyangka Sena akan melampiaskan kekecewaannya padanya, hanya karena Liora menolak perasaannya. 

“Kamu marah sama aku … cuma karena Rara nolak kamu?” ulang Lili. Air matanya jatuh tanpa bisa ia cegah. 

Sena terdiam. Enggan menjawab. 

Lihat selengkapnya