Hari ketika Lili mengakhiri hidupnya adalah hari yang anehnya begitu tenang—hari jeda sebelum ujian masuk perguruan tinggi. Sekolah seolah berhenti bernapas. Para murid tahun ketiga tak memiliki jadwal apapun seolah belajar mandiri, menunggu hari penentuan yang akan mengubah masa depan mereka.
Di hari itu pula, Liora tidak berada di Velantara.
Ia mengajukan izin tidak masuk sekolah. ibunya–yang telah lama menikah dengan pria asing–datang berkunjung sejak Jumat, 5 Mei. Kunjungan yang jarang, penuh rasa rindu, dan menyita seluruh perhatiannya. Sejak hari itu hingga Senin siang, 8 Mei, Liora berada di Prema.
Liora memang berbeda dari teman-temannya. Setelah kelulusan, ia akan melanjutkan kuliah di luar negeri. Banyak urusan administratif yang harus diselesaikan lebih awal. Sebagian besar ujian ia jalani secara daring, sembari menunggu kelulusan resmi dari sekolah di Velantara.
Hari-hari itu berlalu cepat dan padat. Liora tenggelam dalam kebersamaan dengan ibunya—melepas rindu yang tertahan bertahun-tahun, mengurus dokumen, membicarakan rencana pindah, dan segala hal kecil yang terasa besar. Ia begitu sibuk hingga nyaris tak menyentuh ponselnya. Sejak minggu siang, baterai ponselnya mati—dan ia tak sempat mengisi daya.
Baru ketika ia berada di perjalanan pulang ke Velantara, ponselnya kembali menyala.
Tiga panggilan tak terjawab. Semuanya dari Lili.
Liora tiba di Velantara sekitar pukul 17.30 WIB. Senja menggantung rendah di langit, warnanya kusam dan muram. Awalnya, ia ingin langsung menemui Lili—menanyakan mengapa gadis itu meneleponnya berulang kali sejak minggu sore.
Namun langkahnya terhenti.
Di sepanjang jalan menuju rumah neneknya, suasana terasa janggal. Orang-orang berkumpul di sudut-sudut jalan, berbisik satu sama lain. Wajah-wajah cemas, tatapan yang menghindar, dan ekspresi yang sulit dijelaskan menyelimuti udara.
Ada sesuatu yang salah.
Liora menghentikan langkahnya dan memberanikan diri bertanya. “Ada ada, Bu? Kenapa sejak tadi banyak orang berkumpul?” tanyanya pelan.
Seorang perempuan setengah baya menatapnya ragu, lalu menjawab dengan suara rendah, seolah takut didengar.
“Itu … Lili. Anak pengusaha kaya di sini yang meninggal beberapa waktu lalu. Yang jadi vokalis band itu. Katanya … lompat bunuh diri dari tebing di sana.”
Kalimat itu menghantam Liora tanpa ampun.
“Yah … gimana enggak,” sahut suara lain. “Orang tuanya meninggal berdekatan. Anak itu pasti selama ini kehilangan sekali.”
Liora tak lagi mendengar kalimat selanjutnya. Suara-suara di sekelilingnya meredup, seolah ditarik menjauh. Di kepalanya, hanya tersisa satu kata—tebing. Ia tahu persis tebing mana yang dimaksud.
Tanpa berpikir panjang, Liora berlari. Napasnya terengah, langkahnya kacau, dan dadanya terasa nyeri oleh satu harapan yang rapuh: semoga semua yang ia dengar keliru.
Namun saat ia tiba, harapan itu runtuh.
Pemandangan di hadapannya menghantam tanpa ampun. Dari kejauhan, sekelompok orang baru datang dari arah laut, menggotong tubuh Lili. Kulit gadis itu pucat keabu-abuan, tubuhnya kaku, tak lagi menyimpan sisa kehidupan apapun.
“Li-Lili … ini enggak mungkin, kan,” bisik Liora dalam hati.
Ia ingin mendekat. Ingin memastikan dengan matanya sendiri. Tapi ia tak sempat. Tubuh Lili segera dimasukkan ke dalam kantong jenazah dan dibawa pergi menuju rumah sakit terdekat, menjauh dari kerumunan dan dari kenyataan yang terlalu kejam untuk diterima.
Kalian di mana?
Apa yang terjadi?
Kenapa Lili bisa …?
Dengan langkah gemetar, Liora berbalik mencari empat sahabat Lili—empat anggota Crimson Sky. Ia butuh penjelasan mengenai apa yang terjadi saat dirinya di Prema.
Namun yang ia temukan justru lebih buruk.
Di rumah Sena, polisi sudah berada di sana. Sena dibawa pergi. Tidak berhenti di situ—saat Liora mencoba menemui Gading, Rendra, dan Yudha, hal yang sama terjadi. Keempatnya ditangkap untuk diinterogasi, dituduh terlibat dalam dugaan kematian Lili.
Di tengah kekacauan itu, Liora mendengar kabar lain: sebelum kematiannya, Lili sempat bertengkar hebat dengan keempat sahabatnya.
Ini enggak mungkin.
Sena, Yudha, Gading, dan Rendra … mereka enggak mungkin jadi alasan kematian Lili. Mereka enggak mungkin …
Malam itu, Liora pulang dalam keadaan linglung. Kepalanya penuh, hatinya kosong. Ia tak mampu mencerna kenyataan bahwa Lili telah pergi—dan empat sahabat mereka kini berada di tangan polisi sebagai tersangka.
Lili … apa yang sebenarnya terjadi?
Kenapa kamu …?
Di kamar sempit berukuran empat kali empat meter itu, ingatan Liora berputar tanpa henti. Tentang pertemuannya dengan Lili. Tentang permintaan menulis lagu Crimson Sky. Tentang waktu-waktu bersama, rahasia-rahasia kecil, dan bagaimana ia menyaksikan Lili jatuh berkali-kali ke dalam kesedihan dan kehilangan.
Lili …
Pandangan Liora berhenti pada buku catatannya. Buku berisi lirik-lirik lagu—termasuk lagu Crimson Sky. Tangannya meraih buku itu dan membuka halaman demi halaman yang terasa sarat kenangan.
Tanda disadari, air mata jatuh membasahi kertas.
Ia merasa bersalah. Bersalah karena tak menyadari betapa hancurnya Lili selama ini. Bersalah karena mungkin—tanpa sengaja—ia menjadi orang ketiga di antara Lili dan Sena.
Maaf, Lili.
Sungguh, aku …
Tangannya terus membuka halaman demi halaman. Beberapa di antaranya masih kosong. Liora membayangkan halaman-halaman itu sebagai masa depan yang seharusnya dimiliki Lili—penuh lirik baru, penuh mimpi yang belum selesai.
Air matanya semakin deras ketika menyadari: selama hari-hari terburuk itu, ia tidak berada di sisi Lili.