CHANTS BENEATH THE CRIMSON SKY

mahes.varaa
Chapter #31

KEYAKINAN TERAKHIR PART 1

Begitu tiba di gedung Echo Vision, Eva tak membuang waktu. Langkahnya cepat, nyaris berlari menyusuri lorong redaksi yang dipenuhi bisik-bisik dan tatapan curiga. Ia langsung menuju ke ruang kepala redaksi, membawa satu keyakinan: situasi ini masih bisa dibalik. Ia hanya perlu kesempatan untuk menjelaskan—untuk membuktikan bahwa ia masih memegang kendali. 

Namun begitu pintu itu terbuka, keyakinan itu runtuh. 

Wajah yang menunggunya bukanlah wajah yang mengharap penjelasan, melainkan wajah yang telah mengambil keputusan. Di detik itu juga, Eva tahu—ia tak akan pernah diberi kesempatan. Tidak untuk menjelaskan, apalagi membalas. 

“Senzo mungkin belum bangun dari komanya,” ucap kepala redaksi dengan suara datar, dingin, dan tajam, seperti sebilah pedang yang telah menempel di leher Eva. “Tapi baru saja pihak agensinya mengirimkan surat gugatan ke kantor kita. Karena beritamu, Eva. Dan kalau kamu ingin gugatan itu dihentikan, mereka menuntut satu hal: kamu harus meminta maaf di depan publik.”

Kalimat itu saja sudah cukup membuat darah Eva terasa membeku. Namun kepala redaksi masih belum selesai. 

“Dan yang paling buruk,” lanjutnya, menatap tanpa kedip, “komentar buruk membanjiri situs dan media sosial perusahaan ini. Karena ulahmu, netizen yang tadinya mendukung kita … sekarang berbalik menyerang.”

“Tapi, Bu—” Eva mencoba menyela, suaranya terdengar lebih rapuh dari yang ia kira. “Kesalahan saya tidak berhubungan langsung dengan runtuhnya Nova Hotel.” 

“Apa gunanya kamu menjelaskan?” potong kepala redaksi dingin. “Alurnya sudah diubah. Persepsi publik sudah terbentuk. Kamu tahu betul, Eva, sekali netizen berada di titik itu, tak ada penjelasan yang benar-benar didengar.” 

“Saya … punya cara untuk membalik keadaan ini.” 

“Cukup!” bentaknya tajam. “Hanya karena Liora adalah juniormu, bukan berarti dia kalah pengalaman darimu. Dia punya banyak orang yang memihaknya di bidang ini. Entah apa yang sudah dia lakukan, tapi kekuatan dan pengaruhnya jauh lebih besar dari yang kamu bayangkan. Dan dari semua orang yang seharusnya kamu jaga jarak… kamu justru memilih untuk menyinggungnya.” 

Ia menarik napas, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih mengerikan karena terdengar tenang. 

“Masih untung dia hanya menghancurkanmu. Bukan perusahaan ini. Kalau tidak … kita semua bisa ikut tenggelam karena beritamu.” 

Taruhan itu gagal total. 

Eva yang tadinya merasa berada di atas angin, kini dijatuhkan ke bumi dengan hentakan brutal. Tapi bayangan masa kejayaan—nama besarnya, kekuasaannya, sorotan yang dulu tak pernah lepas darinya—masih menggenggam pikirannya terlalu erat untuk dilepaskan. 

Ia belum bisa menyerah. 

Ia yakin … masih ada satu cara terakhir. 

Dan di titik terendah itu, satu nama muncul dalam benaknya. 

Priyoko. 

Eva menemui seniornya itu tanpa menunda. Tatapan yang menyambutnya adalah tatapan yang sulit diartikan—campuran iba dan pengakuan sunyi bahwa semua peringatan yang dulu pernah diucapkan, kini terbukti nyata. 

“Tolong aku, senior,” pinta Eva, suaranya nyaris pecah. Untuk pertama kalinya, ia menanggalkan harga dirinya. “Tolong bantu aku membalas Liora. Tolong bujuk kepala redaksi.” 

Ia menelan ludah, menahan gemetar di tangannya. 

“Setelah semua yang aku bangun … setelah semua perjuangan itu … aku enggak bisa kehilangan semuanya hanya karena satu berita.” Ia menatap Priyoko penuh harap. “Hanya kali ini saja, senior. Hanya kali ini. Tolong aku, senior.” 

Priyoko tersenyum getir, senyum yang lebih mirip pantulan kelelahan daripada ejekan. Tatapannya jatuh penuh iba pada junior di hadapannya—seseorang yang telah jatuh berkali-kali, namun tetap menolak belajar dari setiap luka. 

“Miris, kan?” ucapnya pelan. “Satu berita saja … bisa menghancurkan perjuangan besar seseorang.” 

“Senior!” Eva meninggikan suaranya. Ucapannya itu terasa seperti sindiran tajam yang menampar harga dirinya. “Aku datang ke sini membuang harga diriku, memohon bantuan. Tapi kenapa senior malah—” 

Kalimat itu terputus. 

Eva membeku ketika melihat wajah Priyoko berubah dingin. Tak ada lagi kelembutan, tak ada lagi ruang tawar-menawar. Tatapan itu berkata jelas: ia tidak akan ditolong. 

“Berhenti saja, Eva,” ujar Priyoko pelan, nyaris seperti bisikan. “Berhenti sekarang sebelum Liora membalasmu berkali-kali lipat.” 

“Kenapa?” Eva mendongak. Segala upaya menahan emosi runtuh seketika. Amarah yang tadi berusaha ia tekan, kini meledak tanpa sisa. “Kenapa senior malah memihak Liora?” 

Matanya menyala, merah oleh kemarahan dan keputusasaan. 

Lihat selengkapnya