CHANTS BENEATH THE CRIMSON SKY

mahes.varaa
Chapter #32

KEYAKINAN TERAKHIR PART 2

Sepanjang perjalanan pulang, Eva seperti dikejar bayang-bayang namanya sendiri. Wajahnya terpampang di mana-mana: di papan billboard yang menyala di persimpangan jalan, di layar-layar ponsel orang asing yang duduk bersebelahan dengannya, hingga di linimasa media sosial yang bergerak tanpa henti. 

Berita tentang dirinya menyebar tanpa ampun—tentang bagaimana namanya disebut-sebut sebagai penyebab tak langsung kecelakaan dan penghambat jalannya pasukan pemadam kebakaran menuju Nova Hotel—telah menyebar jutaan kali. Tagar EvaNaura meroket, berdampingan dengan tagar Senzo, membentuk satu arus opini yang tak lagi bisa dibendung. 

Nama Eva Naura, yang sebelumnya dielu-elukan sebagai jurnalis berani yang berhasil menguak kebusukan masa lalu Senzo, kini kehilangan maknanya. Pujian itu luruh, berubah menjadi cercaan. Ia memang ingin merebut kembali panggungnya, sorot lampu yang pernah mengarah penuh kekaguman padanya, tetapi bukan dengan cara seperti ini. 

Sekarang, di mata publik, ia bukan lagi pembawa kebenaran. Ia adalah pembawa petaka. 

Petaka bagi bara korban Nova Hotel. Petaka bagi Senzo. 

Sial, gumamnya pelan. 

Eva pulang dengan taksi. Masker menutupi setengah wajahnya, seolah kain tipis itu mampu melindunginya dari tatapan dan penghakiman dunia. Sepanjang perjalanan, matanya tak lepas dari ponsel. Ia membaca semuanya. Kali ini, tak ada satupun komentar yang membelanya. 

Netizen 1:

Pahlawan Mikrofon? Julukan itu sama sekali enggak pantas disandang Eva Naura. Setelah ditelusuri, dia ternyata cuma boneka Avaris Construction. 

Netizen 2: 

Senzo-ku pasti menderita. Nama baiknya dihancurkan oleh berita setengah-setengah dari Eva Naura dan Echo Vision. Di seenaknya membongkar masa lalu orang lain, padahal perbuatannya sendiri ikut menewaskan banyak orang. 

Netizen 3: 

Eva Naura sepertinya sudah kehilangan urat malu. Mudah sekali membuka aib orang lain tanpa pernah bercermin. Apa di rumahnya enggak ada cermin? 


Sial. Sial, gumamnya lagi. 

Di balik masker, Eva menggigit bibir hingga terasa perih. Ia hampir sampai. Hampir kembali ke posisinya. Hampir meraih lagi panggung, sorotan, dan semua yang pernah direnggut darinya. Namun semuanya runtuh—-sekali lagi—hanya karena satu berita yang dilemparkan Liora. 

Liora sialan, batinnya bergetar oleh amarah. Kali ini … aku enggak akan diam. Aku akan balas ini. Apapun risikonya. 

Sepanjang perjalanan, pikirannya bekerja tanpa henti, menyusun balasan demi balasan. Dan di tengah kekacauan itu, satu kenyataan membuat sudut bibirnya menegang. Ia beruntung. Saat Liora menceritakan masa lalu Crimson Sky dan kematian Kalista Devi, Eva merekam percakapan itu. 

Dari rekaman itu, ia mendapatkan satu celah—satu kunci yang bisa meruntuhkan nama baik Liora. 

Hanya dengan itu saja, Eva bisa membalikkan keadaan. Menjatuhkan Liora. Mengubah arah arus berita yang kini menyeretnya menuju jurang. 

Dan kali ini, ia tak berniat gagal. 

***

Sejak siang hingga senja merayap masuk melalui celah jendela, Eva tak beranjak dari kursinya. Cahaya layar laptop menjadi satu-satunya penerang di ruang itu, memantul di wajahnya yang tegang. Jarinya menari cepat di atas papan ketik, merangkai kalimat demi kalimat—sebuah berita yang ia harapkan mampu menjatuhkan Liora dan Senzo sekaligus membersihkan namanya sendiri. 

Ia membutuhkan alur baru. Sebuah narasi yang bisa membalik keadaan, menyeret semua sorotan kembali ke arah yang ia inginkan. Selama berjam-jam ia mengetik tanpa henti. Kali ini, Eva tak lagi menaruh kepercayaan pada Echo Vision. Tempat itu sudah menutup pintu baginya. 

Berita ini tak akan ia kirim ke redaksi besar. Tidak. Ia memilih jalur lain. Redaksi-redaksi kecil berbasis daring—media yang lebih haus sensasi ketimbang kebenaran. Dengan mereka, ia yakin pukulannya akan lebih cepat, lebih brutal. Dan dengan itu pula, ia bisa membalas Liora. 

Namun tepat ketika jarinya hendak menekan tombol kirim, ponsel di samping laptopnya bergetar. Nama Dimas menyala di layar. 

Pas sekali, gumam Eva. 

Ia segera mengangkat panggilan itu, harapan menyusup cepat ke dadanya. Ia ingat, Dimas tetap menyelidiki Liora meski ia sempat melarangnya—mengikuti instingnya sendiri yang sejak awal menangkap kejanggalan pada sang junior. 

Lihat selengkapnya