Fakta tentang sosok Liora Amara menghantam Eva, kali ini jauh lebih keras dari sebelumnya. Juniornya itu bukan hanya mengejutkan sebagai L. A. Melody—anggota keenam Crimson Sky yang nyaris tak pernah diketahui—melainkan juga sebagai sosok di balik runtuhnya Avaris Construction. Perusahaan raksasa yang dulu ingin Eva jatuhkan, yang sempat ia dekati dengan idealisme dan ambisi, justru berhasil ditumbangkan oleh seseorang yang jauh lebih muda darinya.
Kenyataan itu jatuh tanpa ampun. Seperti palu yang menghantam berkali-kali pada titik yang sama.
Di masa lalu, Eva pernah berada di posisi yang hampir serupa. Ia mencium bau busuk Avaris Construction dan berniat menguaknya. Namun keadaan tidak berpihak padanya. Terpojok, terancam, ia memilih jalan lain—masuk ke dalam lingkaran perusahaan itu, menjadi bagian dari mereka dengan harapan bisa membongkar semuanya dari dalam. Tetapi perjalanan itu tak berjalan seperti rencananya. Sorotan, kekuasaan, dan panggung yang diberikan perusahaan itu perlahan membiusnya. Ia lupa tujuan awalnya. Hingga akhirnya, saat semuanya berakhir, Eva gagal. Ia tidak pernah benar-benar menjatuhkan Avaris Construction. Dan buruknya, bahkan setelah dibuang dengan cara yang kejam, ia sempat berusaha kembali—seolah lupa pada luka yang pernah mereka tinggalkan.
Liora berbeda. Sangat berbeda.
Ia masih muda. Pengalamannya sebagai jurnalis jelas belum sepanjang milik Eva. Namun Liora berhasil melakukan apa yang tak pernah mampu Eva selesaikan. Fakta itu tidak melukai tubuhnya—tetapi menghantam harga dirinya, menghancurkan keyakinan yang selama ini bangun tentang dirinya sendiri.
Sial, gumam Eva. Entah untuk keberapa kalinya hari ini.
Sekali lagi ia berdiri di hadapan tembok besar yang tak bisa ia runtuhkan. Delapan tahun lalu tembok itu bernama Avaris Construction—terlalu besar, terlalu kuat. Kini, tembok itu menjelma menjadi satu orang: seseorang yang berhasil menghimpun para korban, menyatukan luka-luka lama, dan menjadikannya kekuatan.
Jika Liora mampu menjatuhkan Avaris Construction, maka menjatuhkan Eva hanyalah perkara menjentikkan jari—seperti mengusir semut kecil yang kebetulan melintas.
Apa yang harus aku lakukan sekarang?
Untuk pertama kalinya, Eva merasakan keraguan yang nyata. Bayangan manis tentang kembalinya masa kejayaan mendadak runtuh, berubah menjadi bayangan kelam tiga tahun lalu—saat ia jatuh begitu dalam. Kali ini, bayangan itu terasa seperti firasat buruk. Pertanda bahwa langkah apapun setelah ini akan membawa konsekuensi yang jauh lebih berbahaya.
“Hot news petang ini …”
Suara dari televisi memecah lamunannya. Di ruang tengah, layar TV sejak tadi menyala. Eva terus memantau berita, berharap masih ada celah untuk membalik alur, menyelamatkan namanya. Selama Senzo belum sadar, ia merasa publik masih bisa dipengaruhi. Namun jika aktor itu bangun dan berbicara sendiri di depan kamera, maka segalanya akan berakhir.
“Senzo, aktor muda yang menjadi korban runtuhnya Nova Hotel dan sempat koma, telah sadar. Pihak agensi menyebutkan bahwa Senzo sebenarnya telah siuman dua hari lalu, namun demi alasan keamanan, hal itu dirahasiakan. Malam ini, Senzo dijadwalkan menggelar konferensi pers terkait isu miring tentang dirinya—termasuk Crimson Sky dan kematian Kalista Devi.”
“Mbak …” suara Dimas terdengar dari ponsel. “Senzo sudah sadar.”
“Aku tahu,” jawab Eva pelan, getir.
Ia terdiam lama, mencoba menyusun ulang semua kemungkinan. Namun sekeras apapun ia berpikir, tak ada jalan keluar. Ia bisa melanjutkan perang ini—tetapi di ujungnya, dialah yang akan kalah paling telak.
“Maaf, Dimas,” ucapnya akhirnya. “Aku tutup dulu. Aku butuh waktu untuk berpikir.
Sambungan terputus.
Eva duduk terpaku menatap televisi. Semua kanal menayangkan kabar yang sama, berulang tanpa jeda: Senzo telah sadar. Malam ini, sebuah konferensi pers akan digelar.
Ia meraih ponselnya. Dalam hitungan detik, media sosial kembali bergejolak. Nama Senzo melesat ke puncak, tagarnya dipenuhi dukungan dan simpati yang mengalir deras—seolah dunia serempak menarik napas lega bersamanya.
Cih.