CHANTS BENEATH THE CRIMSON SKY

mahes.varaa
Chapter #34

JAWABAN PART 2

“Gimana kabarnya, senior?” tanya Liora.

Eva sedang duduk di salah satu bangku taman kota—dekat rumah—yang cat hitamnya mulai memudar dimakan usia. Tak jauh darinya, Jelita—putrinya—asyik bermain bersama anak-anak lain. Kadang gadis kecil itu meluncur di perosotan dengan tawa riang, kadang berjongkok di kotak pasir, tangannya kotor, wajahnya penuh konsentrasi. Dunia kecil yang sederhana, bersih dari intrik dan dendam. 

“Seperti yang kamu lihat,” jawab Eva pelan, bibirnya melengkung tipis. “Tenang. Dan cukup damai.” 

Liora yang baru tiba langsung duduk di bangku yang sama. Ia menatap posisinya dengan santai, lalu menoleh ke arah taman bermain. Senyum tipis terbit di wajahnya saat melihat anak-anak yang tertawa lepas, seolah dunia tak pernah mengenal kekacauan. 

“Senior sengaja ngajak ketemu di sini,” ujarnya, “sekalian nemenin anak bermain?” 

Eva mengangguk pelan. Ia menunjuk ke arah Jelita yang sedang bermain perosotan, tak sabar menunggu gilirannya. “Itu putriku. Namanya Jelita. Umurnya lima tahun.” 

Pandangan Liora mengikuti arah jari Eva. Ia memperhatikan anak perempuan itu beberapa detik, lalu mengangguk kecil. “Wajahnya mirip senior.” 

“Kata orang begitu,” balas Eva, senyumnya sedikit menghangat. “Katanya, Jelita lebih mirip aku daripada ayahnya.” 

Liora meletakkan tas bahunya di samping bangku—gerakan kecil, tapi bermakna. Isyarat bahwa ia menurunkan kewaspadaan. Selama sebulan terakhir, ia terus mengamati Eva, menunggu kemungkinan balasan. Namun setelah tiga puluh hari berlalu tanpa apapun, ia akhirnya yakin: Eva telah menyerah. Bukan menemukan sesuatu yang lebih berharga daripada panggung dan ketenaran. 

“Kadang,” ucap Liora lirih, “melihat anak-anak bermain begini bikin lupa sebentar kalau dunia makin hari makin kacau.” 

Ada getir di suaranya. Pemandangan itu menyeretnya pada ingatan lama—masa SMA, tawa bersama Lili, musik Crimson Sky, hari-hari ketika segalanya terasa lebih ringan. 

Eva mengangguk. “Iya. Damai sekali rasanya.” 

Liora menoleh ke arah Eva. Ia menopang dagunya dengan telapak tangan. Tatapannya berubah—lebih tajam, lebih serius. “Sekarang …” katanya pelan, “kenapa senior ingin ketemu aku? Apa yang ingin senior bicarakan.” 

“Ada yang perlu aku pastikan,” jawab Eva. 

“Apa itu, senior?” 

“Kenapa kamu baru membalasku sekarang?” Eva tak berputar-putar. “Avaris Construction sudah kamu jatuhkan setahun lalu. Kenapa balas dendam padaku baru di lakukan sekarang?”

Sepanjang berbicara, mata Eva tak pernah benar-benar lepas dari Jelita. Ia mengikuti setiap langkah kecil putrinya, memastikan gadis itu aman. 

“Kamu punya banyak waktu, Liora,” ujar Eva pelan. “Sejak tiga tahun lalu. Kalau kamu melakukannya saat itu, kamu bisa menghancurkanku sepenuhnya dan aku mungkin bahkan tak akan pernah bisa jadi jurnalis lagi.” Ia menarik napas sejenak sebelum melanjutkan, suaranya semakin berat. “Atau setahun yang lalu. Kalau kamu memilih bergerak saat itu, mungkin berita tentang Senzo tidak akan keluar.”  

“Apa aku harus beritahu alasannya?” Liora balik bertanya. 

“Harus,” jawab Eva tanpa ragu, nadanya mantap. 

“Jangan menyesal saat mendengarnya, senior,” balas Liora. 

Eva menganggukkan pelan. 

Liora kembali mengalihkan pandangannya kembali ke anak-anak. Tawa mereka polos, tanpa beban, tanpa maksud tersembunyi—jauh berbeda dari senyum orang dewasa yang sering menyimpan niat lain di baliknya. 

“Ada dua alasan,” ujar Liora akhirnya, suaranya tenang. “Kenapa aku enggak membalas senior sejak tiga tahun lalu.” 

Eva menunggu. jantungnya berdegup tak beraturan, seolah bersiap menerima hantaman yang belum ia ketahui bentuknya. 

“Alasan pertama,” lanjut Liora, “aku enggak bisa menjatuhkan senior sebelum Avaris Construction runtuh. Kalau aku menyerang senior lebih dulu, perusahaan itu akan waspada. Gerak-gerakku bisa terbaca. Dan semua rencana menjatuhkan mereka bisa gagal.” 

Eva mengangguk pelan. Alasan itu masuk akal. 

Avaris Construction adalah raksasa. Berdiri lebih dari satu dekade, dengan akar yang banyak mencengkeram banyak lini. Menjatuhkannya butuh kesabaran yang luar biasa. Sejak kematian Kalista Devi hingga perusahaan itu runtuh, Liora menghabiskan waktu tujuh tahun penuh—waktu yang panjang, dan hanya orang dengan keteguhan ekstrem yang sanggup bertahan sejauh itu. 

“Alasan keduanya?” tanya Eva. 

“Senior masih ingat ucapanku sebulan lalu, waktu kita bicara lewat telepon?” tanya Liora datar. 

Lihat selengkapnya